Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
13. Kau Bukan Dia!


__ADS_3

Black mengatur napasnya usai melakukan ciuman panas dan kasar bersama Eryn. Ia mengusap wajahnya. Ia tahu ia telah melukai wanita cantik itu. Namun sekali lagi, ia tidak akan menyesali atau bahkan meminta maaf.


Carlos melihat ada gelagat aneh yang terjadi pada tuannya. Sebelumnya tadi ia melihat Black bersama dengan Eryn.


"Pasti terjadi sesuatu dengan mereka," batin Carlos.


Karena merasa harus segera melakukan pekerjaannya, Carlos pun menegur Black.


"Tuan, klien kita sudah menunggu. Sebaiknya kita langsung menemui mereka," ucap Carlos yang membuat Black segera tersadar dan mengangguk sebagai tanda jawaban.


"Mari Tuan!"


Black merapikan penampilannya kemudian berjalan lebih dulu dari Carlos.


Sementara itu, Eryn yang masih memukuli dadanya kini mulai sadar. Ia menyeka air matanya. Tak ada gunanya ia menangis. Untuk apa menangisi orang yang sudah bukan lagi miliknya.


Eryn bangun dan menuju ke kamar mandi. Ia membasuh wajahnya agar kembali segar dan tidak terlihat sembab. Dilihatnya bibirnya yang sedikit lecet karena ulah Black.


"Kau harus kuat, Eryn! Jangan mengalah padanya!" Eryn menyemangati dirinya sendiri.


Eryn kembali ke ballroom dimana timnya berada. Santa yang melihat Eryn kembali segera menghampirinya.


"Nyonya! Nyonya dari mana saja? Semua baik-baik saja kan?"


"I-iya, Santa. Aku baru menelpon Noah," jawab Eryn berusaha tegar.


"Oh, begitu. Kenapa bibir Nyonya? Apa Nyonya terluka?"


"Eh? Ah, ini ... tidak apa-apa. Hanya luka kecil saja. Jangan khawatir. Ayo kembali bekerja!" Eryn segera berjalan melewati Santa.


Santa menatap bosnya dengan heran. "Apa yang sebenarnya terjadi? Apa memang yang dikatakan Agli itu benar? Jika ada sesuatu antara Nyonya Eryn dan Mr. Black," gumam Santa dalam hati.


......***......


Malam harinya, Eryn baru saja selesai melakukan pekerjaannya. Semua karyawannya telah lebih dulu kembali ke mansion Black. Eryn tertinggal sendiri karena ia ingin menilai hasil kerja keras timnya selama seharian ini.


"Huft! Sepertinya semua sudah sempurna. Kuharap pria itu akan menyukainya." Eryn berdecak kagum dengan pekerjaannya dan timnya.


"Tinggal menunggu besok. Akan seperti apa pesta yang akan dibuat oleh si Tuan Hitam itu."


Eryn mematikan lampu ballroom kemudian keluar dari sana. Tiba di lobi, ia menghubungi David yang katanya akan menjemputnya.


"Kemana dia? Kenapa dia tidak menjawab teleponnya?" Eryn celingak-celinguk mencari keberadaan David.


Tiba-tiba sebuah mobil sport hitam berhenti di depannya. Pintu mobil terbuka dan menampakkan seseorang yang sangat ia benci.


"Cepat masuk!" titah orang itu. Siapa lagi kalau bukan Black, si pemaksa.


"Maaf, aku menunggu David menjemputku."


"Cepat masuk!" ucapnya lagi dengan sedikit penekanan.


Eryn masih bergeming. Ia tak ingin meladeni pria itu.


"Masuk! Atau aku akan menyeretmu!" tegasnya lagi.


Dengan terpaksa Eryn masuk kedalam mobil dan duduk dengan wajah yang cemberut. Ia memasang seatbelt dengan menghentakkannya.

__ADS_1


"Bagus! Harus diancam dulu baru kau menurut, huh!" ucap Black menyeringai kemudian langsung tancap gas meninggalkan area hotel miliknya.


Eryn hanya diam selama mereka mengukur jalan menuju mansion. Black yang tak tahan dengan sikap Eryn akhirnya menambah kecepatan laju kendaraannya hingga membuat Eryn terlonjak kaget.


"Apa yang kau lakukan? Pelankan mobilnya!" serunya.


Black makin menginjak pedal gasnya. Eryn berpegangan erat pada sabuk pengaman.


"Kau sudah gila! Kita bisa celaka!" teriak Eryn menutup matanya.


Bayangan akan kejadian di masa lampau kembali hadir. Keringat mulai membasahi pelipis Eryn.


"Tidak! Tidak, El!" gumam Eryn berkali-kali.


Black melirik kearah wanita disampingnya yang tubuhnya bergetar menahan trauma di masa lalunya. Hingga akhirnya mobil memasuki halaman mansion Black dan berhenti di halaman depan mansion.


Eryn perlahan membuka matanya. Air matanya hampir saja jatuh lagi. Tapi sekuat tenaga ia menahannya. Ia tidak mau terlihat lemah didepan Black.


"Kenapa? Menyenangkan bukan?" tanya Black.


Eryn mengatur napasnya. Ia menatap Black dengan tajam.


"Hanya karena kau pernah selamat dari sebuah kecelakaan, kau ingin melakukannya lagi?" ucapnya.


Black tersenyum tipis. "Bukankah ini membangkitkan kenangan kita, Eryn? Kau dan aku!"


"Kau bukanlah dia. Dan tidak akan pernah menjadi dia!" tutup Eryn sebelum akhirnya ia keluar dari mobil.


Eryn berjalan cepat meninggalkan Black. Namun lagi-lagi pria itu dengan langkah panjangnya menyusul Eryn dan menariknya cepat. Tubuh Eryn terhuyung dan jatuh kedalam pelukan Black dan mengunci tubuh wanita itu.


Black makin mengeratkan pelukannya.


"Lepaskan! Sakit! Kau menyakitiku!" rontanya lagi.


"Sakit? Kau sakit?" Black melepas pelukannya dan mencengkeram kedua bahu Eryn.


"Jika apa yang kau rasakan belum sebanding dengan apa yang kurasakan, aku tidak akan berhenti! Jika kau bisa berubah maka aku juga bisa berubah. Camkan itu!" Black menghempaskan tubuh Eryn hingga jatuh tersungkur kemudian berjalan masuk ke dalam mansion.


Eryn terdiam sejenak kemudian ia bangkit. Ia mengatur napas dan membenahi penampilannya. Sekali lagi, ia tidak akan begitu mudah kembali menangis.


Rose melihat semua kejadian tadi dari dalam mansion. Ia hanya diam. Namun pikirannya beradu dengan hatinya.


"Jelas terlihat mereka berdua masih saling mencintai. Sampai kapan semua ini akan terus berlanjut?" batin Rose.


......***......


Keesokan harinya, Eryn sedari pagi sudah berada di dapur untuk memasak. Ia ingin melupakan kejadian yang terjadi beberapa hari ini. Tinggal satu hari lagi sebelum ia kembali ke kota asalnya.


"Nyonya!" Suara David mengejutkan Eryn.


"Nyonya, maafkan aku. Semalam aku ketiduran. Mungkin aku terlalu lelah. Maaf tidak menjawab panggilan darimu," ucap David dengan penuh penyesalan.


"Sudah, tidak apa-apa. Duduklah! Kita sarapan dulu. Hari ini kita akan sibuk hingga malam nanti."


"Terima kasih, Nyonya. Lalu, semalam Nyonya pulang dengan siapa?"


Pertanyaan David membuat semua orang menunggu jawaban dari Eryn. Ternyata Santa dan ke tujuh tim Eryn sudah berada di meja makan.

__ADS_1


Eryn berpikir sejenak. "Naik taksi. Sudah jangan dipikirkan. Ayo makan!" Eryn menepuk bahu David.


.


.


.


Hari begitu cepat berlalu, tak terasa puncak acara pesta ulang tahun EB Company akan segera dimulai. Dua jam lagi acara akan berlangsung. Masing-masing tim Eryn diberikan satu kamar hotel untuk beristirahat sebelum memulai acara.


Eryn pun juga beristirahat di kamar hotel yang sudah disediakan.


"Ah, lelahnya! Tinggal beberapa jam lagi lalu setelahnya besok aku akan kembali ke Meksiko. Aku sudah sangat merindukan Noah."


Eryn merebahkan tubuhnya ke ranjang hotel. Baru saja ingin melepas penat, bel kamarnya berbunyi.


"Siapa yang datang? Atau jangan-jangan pria pemaksa itu?"


Eryn berjalan mendekati pintu dan melihat dari lubang pintu terlebih dahulu sebelum membukanya. Setelah dipastikan jika itu bukanlah Black, maka ia membuka pintunya.


"Selamat malam, Nyonya. Ini ada paket untuk Nyonya," ucap seorang pria yang adalah pelayan hotel.


"Eh? Aku tidak memesan paket apapun." Eryn mengernyitkan dahinya.


"Mohon diterima, Nyonya. Ini dari Mr. Black. Jika Nyonya tidak menerimanya, maka aku akan berada dalam masalah, Nyonya."


Eryn menghela napas. "Huft! Baiklah. Kemarikan paketnya."


Eryn menerima sebuah kotak. Ia berjalan masuk dan duduk di tepi ranjang.


"Sebenarnya apa sih maunya? Paket apa ini?"


Eryn membuka kotak dan melihat sebuah gaun malam disana. Ada sebuah kartu ucapan di dalam kotak itu.


"Pakailah gaun ini untuk acara nanti malam. Ingat! Aku tidak menerima penolakan!"


Eryn mendengus kesal. "Dasar gila! Untuk apa aku memakai gaun? Aku bukan tamu disini!" Eryn membuang gaun itu keatas ranjang.


Namun secara tiba-tiba telepon di atas nakas berdering dan membuat Eryn terlonjak kaget.


"Astaga! Siapa yang menelepon!" Eryn tak ingin menjawab telepon itu namun benda itu terus berdering hingga membuat Eryn kesal dan akhirnya menjawab telepon itu.


"Halo!" ketus Eryn.


"Wow! Jangan marah-marah, Nyonya Evans. Kau bisa kehilangan kecantikanmu."


"Apa maumu?" Eryn mencoba bersabar.


"Aku yakin kau pasti menolak untuk memakai gaun yang kukirimkan padamu. Tapi, kau harus ingat, Nyonya. Aku tidak menerima penolakan! Pakailah di acara nanti, atau aku yang akan memakaikannya sendiri di tubuhmu!"


Eryn memejamkan matanya dan akhirnya mengalah.


"Baiklah, Tuan Pemaksa," jawab Eryn dengan mendesah pelan.


...B e r s a m b u n g...


*Hmm, sebenarnya apa rencana Black ya? 😌😌

__ADS_1


__ADS_2