
Perhatian: akan ada sedikit hareudang scene dalam part ini. Harap pembaca bijak menyikapi. Terima kasih
...***...
...Ada pertemuan,...
...Maka ada perpisahan...
...Manakah yang akan lebih dulu menyapa?...
...Tunggu saja dan siapkan hatimu...
...***...
Eryn tak menyangka jika ayahnya akan memberinya izin untuk kembali ke negara dimana ia tinggal selama ini. Bukan salah Eryn jika dia memilih tinggal disana. Banyak hal yang ia tinggalkan ketika memilih untuk ikut bersama ayahnya saat itu.
Perjuangan hidupnya dimulai di kota itu. Saat dia memutuskan untuk memulai hidup baru tanpa adanya keluarga yang mendampinginya. Hanya ada Eric yang saat itu ia pikir adalah dewa penolongnya.
Malam ini, Eryn masih terjaga dan sedang menikmati malam dari balkon kamarnya. Sebenarnya ia mulai menyukai tinggal di negara ini. Tapi entah kenapa hatinya terpanggil untuk kembali ke Meksiko.
"Sayang... Kau belum tidur?" Eldric ikut bergabung usai meninabobokan Noah di kamarnya. Pria itu langsung melingkarkan tangannya ke pinggang Eryn. Diciuminya setiap bagian belakang tubuh Eryn yang amat ia sukai.
"Noah sudah tidur?" tanya Eryn dengan memejamkan mata. Ia selalu menyukai sentuhan prianya ini.
"Sudah. Dia tidak mengenal kata lelah saat sudah bermain." Eldric menyusuri tengkuk Eryn dengan bibirnya.
"Euummhh... Bukankah dia mirip denganmu, El..."
"Yeah. Dia adalah anakku, tentu saja mirip denganku." Tangan Eldric mulai menelusup masuk ke piyama tidur yang dipakai Eryn.
"Hmmm, kau bahkan tidak lelah saat kita bermain semalaman, El..." Suara Eryn mulai berat. Ia menahan gejolak dalam dirinya. Sudah lama ia tak merasakan sentuhan Eldric yang membuatnya tergila-gila.
"Iya, karena bermain denganmu itu sangat menyenangkan, sayang. Untuk apa aku harus lelah?"
Eryn menahan tangan Eldric yang mulai menjelajah kemana-mana. Bahkan seluruh kancing piyamanya sudah terlepas. Entah kapan pria itu melucuti semua kancing-kancing itu.
Eldric membalik tubuh Eryn hingga berhadapan dengannya. Mata mereka saling beradu dan berkabut.
Eryn menarik tengkuk Eldric untuk meraih benda kenyal milik pria itu. Suara decapan mulai terdengar kala mereka mulai memperliar gerakan sambil saling melepaskan helaian kain yang menempel di tubuh mereka.
Eldric membawa tubuh Eryn masuk ke dalam kamar dan menutup pintu balkon. Direbahkannya dengan hati-hati tubuh wanitanya tanpa memutus pertautan bibir mereka. Di hempaskan seluruh sisa-sisa kain yang menempel pada tubuh Eryn dan juga tubuhnya. Ia kembali naik dan bergerak pelan diatas Eryn dengan kembali meraih dua lembaran kenyal dan saling bertukar rasa.
Ery menggeliat pelan ketika Eldric mulai melakukan gerakan mereemas pada dua benda kenyal miliknya. Kembali meraih bibir merah delima Eryn lalu turun ke leher jenjang milik istrinya.
"El..."
Eryn terkejut karena Eldric memberi sebuah tanda kepemilikannya disana. Kembali turun dan menciumi dua bukit kembar milik Eryn yang selalu menggoda untuk dihisap ujungnya.
Eryn membusungkan dadanya ketika bibir dan lidah lincah Eldric mulai turun ke pusat tubuhnya. Ia memejamkan mata merasakan sensasi yang berbeda.
__ADS_1
"You're ready to play, baby..." ucap Eldric dengan suara seraknya ketika melihat hal yang luar biasa di bagian selatan tubuh Eryn.
Dengan gerakan pelan, ia melipat kedua kaki Eryn dan membuka aksesnya dengan lebar agar dirinya bebas bermain disana. Ia tenggelamkan wajahnya di sana dan memainkan lidahnya keluar masuk lalu menyesapnya kuat hingga Eryn mendesah cukup keras karena ulahnya. Ia tersenyum karena berhasil membuat Eryn melayang.
Napas Eryn memburu hanya dengan permainan kecil Eldric di pusat tubuhnya. Eryn menggeleng pelan ketika Eldric akan kembali ke pusat tubuhnya. Meski menggeleng tentu saja ia tak bisa menolak. Gelenyar aneh menguar disana. Dan itu membuatnya makin melayang. Ditekannya kepala Eldric agar lebih dalam memainkan lidah lincahnya. Setelah beberapa saat, Eryn terkulai lemas dan terengah.
Eldric kembali naik ke atas tubuh Eryn dan menciumi seluruh wajah istrinya itu.
"Kau siap, sayang?" Entah kenapa Eldric merasa ia harus bertanya lebih dulu pada wanitanya.
Eryn hanya mengangguk pasrah. Napasnya masih memburu. "Lakukan perlahan saja, El..."
Eldric mengangguk paham. Tentu saja ia tak ingin menyakiti istrinya itu. Dengan hentakan pelan akhirnya Eldric berhasil menerobos masuk.
Eryn memekik lirih. Ia tak ingin merusak momen kebersamaan mereka. Ia melingkarkan tangannya di tubuh liat Eldric yang sedang bergerak diatasnya. Seperti janjinya, Eldric melakukannya dengan sangat hati-hati.
Ketika Eryn mulai merasa nyaman, barulah Eldric mempercepat gerakannya. Tubuh mereka berdua berguncang bersamaan dan juga diiringi suara yang bersahutan pula.
"El..."
"Iya, sayang... Apa temponya terlalu cepat?" Bisa-bisanya Eldric bertanya dengan masih bergerak cepat.
Eryn memukul lengan Eldric. Tak ada waktu untuk protes, karena Eldric segera membungkam bibirnya. Yeah, kini Eryn hanya bisa menikmati gerakan yang diciptakan Eldric.
Hingga satu jam berlalu dan mereka kini sedang mengatur napas masing-masing. Eldric berbaring di samping tubuh istrinya. Ia sangat bahagia bisa kembali merasakan kenikmatan duniawi bersama Eryn.
"Terima kasih, sayang. Sekarang istirahatlah dulu! Kita akan mengulangnya lagi nanti," ucap Eldric lalu mencium bibir Eryn sekilas.
"Bukankah ayahmu meminta kita agar memberikan adik untuk Noah? Kita harus mewujudkan keinginan ayahmu, sayang."
"Kau ini!"
#
#
#
Tiga hari kemudian, Eryn dan keluarga kecilnya akan bersiap kembali ke Meksiko. Untuk menghormati para karyawan dan timnya, Eryn mengadakan pesta kecil-kecilan yang diadakan di kantor itu.
Beberapa bulan bersama mereka rasanya sangat menyenangkan. Mereka adalah orang-orang yang baik. Eryn berterimakasih karena sudah membantunya selama ini.
Usai berpesta, Eryn menemui Se Naa. Sahabat barunya itu kini sibuk dengan mengurus perusahaan yang ditinggalkan oleh kakaknya.
Ia juga ikut berbela sungkawa atas kematian Se Hoon. Eryn sendiri tak menyangka jika Se Hoon memilih mengakhiri hidupnya sama seperti Sully.
Kini, Se Naa menjalin hubungan dengan Kim Beom. Pria itu sudah lama menyimpan rasa untuk Se Naa. Tentu saja Se Naa menerimanya. Karena ia butuh seseorang yang mengerti dirinya seperti Kim Beom.
Terakhir, Eryn ingin meminta maaf pada Kang Joon. Pria itu memang sudah tidak menyalahkan Eryn lagi. Ia sudah pasrah dengan pernikahannya dengan Ga Eun.
__ADS_1
"Semoga kalian selalu bahagia," ucap Eryn untuk Kang Joon.
"Iya. Walau aku belum sepenuhnya mencintai Ga Eun, tapi dia sudah mulai berubah. Dia juga mengurangi jadwal keartisannya dan lebih fokus dengan rumah tangga kami."
"Syukurlah. Dia sangat mencintaimu, Joon. Jadi kurasa dia akan melakukan apapun untukmu."
"Sekali lagi maafkan aku karena aku sempat menuduhmu."
Eryn tersenyum. "Tidak apa. Semua sudah berlalu. Kalau begitu aku pamit ya."
"Iya, jangan lupa kabari kami disini."
"Pasti!"
Eryn melambaikan tangannya dan masuk ke dalam mobil. Secepat kilat mobil itu melesat pergi.
Meski masih ada perasaan tak rela karena Eryn memilih kembali ke Meksiko, tapi ia juga tak punya hak atas Eryn.
"Semoga kau selalu bahagia, Eryn. Dimanapun kau berada, aku selalu berdoa untuk kebahagiaanmu..."
#
#
#
Tuan Kim dan Hyun Woo mengantarkan Eryn, Eldric dan Noah ke bandara. Pria tua itu memang sedih harus melepas putri dan cucunya. Tapi ini adalah keputusan Eryn.
"Berjanjilah ayah akan hidup dengan baik disini. Aku akan memantau ayah!" ucap Eryn diiringi tawa renyahnya.
"Iya, Nak. Kau jangan khawatir. Jika ada waktu ayah akan berkunjung kesana."
Tuan Kim beralih menatap Eldric. Ia menepuk bahu pria itu.
"Jaga putriku dan juga cucuku!"
"Iya, Ayah. Aku akan menjaganya dengan nyawaku."
Tuan Kim berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Noah.
"Dengar, Nak. Turuti semua perintah Mommy dan Daddy mu ya! Belajarlah yang rajin agar kau bisa jadi orang hebat seperti Daddymu."
"Iya, Kakek. Aku akan selalu ingat nasihat Kakek."
"Masuklah, Nak! Pesawatmu akan berangkat sebentar lagi."
"Iya, Ayah. Sampai jumpa!" Eryn memeluk Tuan Kim dengan erat. "Hyun Woo, aku titipkan ayahku padamu ya!"
"Tenang saja, Nona."
__ADS_1
Eryn melangkah meninggalkan negara yang banyak memberinya pelajaran. Mungkin suatu saat ia akan kembali lagi kemari. Tapi itu, entah kapan...
#tobecontinued