
"Eryn!" Suara bariton seorang pria membuat Eryn terbelalak.
"Kakak?!" Eryn masih tak percaya jika Eldric datang menjemputnya.
"Kakak, apa yang kakak lakukan disini?" tanya gadis itu bingung.
"Tentu saja untuk menjemputmu," jawab Eldric santai.
"Tapi aku sudah bilang pada ayah jika hari ini aku akan pulang bersama teman-temanku!"
"Tidak bisa! Kau akan pulang denganku!" tegas Eldric.
"Tidak mau! Aku akan tetap pulang bersama teman-temanku!" kukuh Eryn.
"Kubilang tidak bisa ya tidak bisa!" Eldric memegangi tangan Eryn dan menyeretnya pergi dari sekumpulan teman-temannya.
"Kakak! Lepaskan! Aku tidak mau pulang dengan kakak! Aku sudah 17 tahun dan aku ingin bersenang-senang dengan teman-temanku!" Eryn berontak. Namun semakin gadis itu meronta, Eldric makin mengeratkan genggamannya hingga membuat gadis itu meringis kesakitan.
"Aw! Sakit! Kakak menyakitiku!" teriak Eryn dengan air mata yang hampir terjatuh.
Eldric menghempaskan gadis itu masuk kedalam mobilnya.
"Duduk tenang disana atau aku akan berbuat kasar padamu!" ancam Eldric.
Mobil mulai melaju meninggalkan sebuah kafe dimana Eryn dan kawan-kawannya sedang menghabiskan waktu usai pulang sekolah.
"Apa yang kakak lakukan? Kakak benar-benar menyebalkan!" sungut Eryn.
"Aku tidak suka kau bermain dengan teman-temanmu. Apalagi jika kau bersama dengan teman priamu!" jujur Eldric.
"Memangnya kenapa?!" tanya Eryn ketus.
Eldric segera menepikan mobilnya. Ia menatap Eryn yang dibesarkan sebagai adiknya.
"Aku tidak suka kau melihat pria lain selain diriku."
"Eh? Apa maksud kakak?"
"Aku tidak ingin kau dekat dengan pria manapun. Hanya aku! Hanya aku yang boleh dekat denganmu!"
"Kenapa kakak bersikap seperti ini? Kakak sendiri selalu pergi dengan teman wanita kakak. Dan aku tidak melarangnya!" Eryn mulai berkaca-kaca.
"Maafkan aku! Mulai sekarang aku tidak akan menemui wanita manapun selain dirimu."
"Kakak..."
"Jangan memanggilku kakak. Aku bukan kakakmu!"
Eryn menatap pria yang 3 tahun lebih tua darinya. "Apa maksud kakak?"
Jantung Eryn berdetak lebih kencang dari biasanya. Saat bersama Eldric, jantungnya selalu berdebar tak beraturan.
"Aku mencintaimu, Eryn. Bukan sebagai adikku, tapi sebagai seorang wanita."
"A-apa?" Eryn membulatkan matanya.
"Aku tahu kau juga merasakan hal yang sama denganku, bukan?"
Eryn menunduk dan malu. Sungguh saat ini ia tak bisa menatap Eldric.
Pria itu mengangkat dagu Eryn agar mata bulat gadis itu bisa ia lihat.
"Aku tahu matamu mengatakan itu, Eryn. Kau juga mencintaiku."
__ADS_1
Eldric menghapus air mata yang mulai mengalir dari mata indah Eryn. Kemudian ia mulai mengikis jarak diantara mereka.
Eryn memejamkan mata saat merasakan bibir miliknya bersentuhan dengan milik Eldric. Itu adalah ciuman pertama mereka.
Eryn memegangi dadanya. Sesak. Itulah yang ia rasakan saat ini. Ia tak pernah menyangka harus melihat pria yang dicintainya mencium wanita lain tepat di depannya.
Eryn menyandarkan tubuhnya pada dinding. Ia bersembunyi disana untuk menetralkan rasa sesak dalam hatinya.
"Apa yang kau lakukan disini, Nyonya?"
Suara itu sangat Eryn kenali. Ia segera memposisikan dirinya setenang mungkin.
"Pestanya masih belum usai, Nyonya. Ayo kembali!"
"Tu-tunggu sebentar, Tuan! Aku sedang mencari udara segar," kilah Eryn.
"Apa kau cemburu melihat adegan tadi?"
"Eh? Ce-cemburu? Kenapa aku harus cemburu, Tuan? Aku permisi. Mungkin timku membutuhkanku." Eryn melewati tubuh pria itu yang tak lain adalah Black.
Namun secepat kilat Black memegang lengan Eryn dan menariknya hingga menabrak dinding.
"Auh!" Eryn mengaduh kesakitan.
"Lancang sekali kau pergi tanpa seizin dariku?" Black mencengkeram kedua bahu Eryn.
"Ma-maaf, Tuan. Aku tidak bermaksud untuk...."
Black mencengkeram kedua pipi Eryn dengan satu tangannya. "Apa kau ingin dicium juga seperti tadi?"
Eryn menggeleng. Air matanya sudah tak bisa lagi ia tahan. Rasa sakit di wajah dan tubuhnya tak sebanding dengan sakit hati yang dirasakannya.
Black melepaskan tangannya dan menghempaskan tubuh Eryn ke tanah. Wanita itu hanya terisak dalam diam. Pria itu kemudian meninggalkannya tanpa sepatah kata lagi.
......***......
"Apa yang terjadi dengannya? Kenapa dia membenciku? Aku harus menanyakan kebenarannya. Tapi kepada siapa? Rose? Carlos?"
Eryn menggeleng cepat. "Tidak, Eryn! Kau adalah wanita bersuami. Untuk apa kau memikirkan pria lain? Lupakan, Eryn! Dia bahkan tidak ingat padamu. Dia sudah berubah!"
Eryn segera masuk kedalam kamar mandi dan membersihkan dirinya.
Di kamar berbeda, Black sedang terdiam duduk di kursi kebesarannya sedangkan Rose duduk di sofa.
"Apa yang kau pikirkan, El?"
"Aku minta maaf, Rose," lirih Black.
"Untuk?"
"Untuk menciummu. Itu tidak ada dalam perjanjian kita, bukan? Aku minta maaf."
Rose terkekeh. "Untuk apa kau minta maaf tentang hal itu? It's just a kiss, El."
"Yeah, tapi tetap saja..."
"Apa karena ada dia? Kau melakukannya karena dia dan kau meminta maaf karena dia juga!"
"Rose..."
"Hentikan, El. Aku tidak ingin kau menyesalinya. Itu ciuman pertama kita, bukan? Sebagai sahabat. Sebaiknya kau beristirahat, El. Kau pasti lelah. Selamat malam." Rose meninggalkan Black yang masih terdiam.
Sepeninggal Rose, Black membersihkan dirinya dibawah guyuran shower. Raut kesedihan di wajah Eryn kembali terngiang dalam pikirannya. Black memutuskan menyudahi mandinya dan bergegas menuju kamar Eryn dengan hanya memakai bathrobe.
__ADS_1
Black terkejut karena ternyata pintu kamar Eryn telah dihalangi oleh sebuah lemari dan membuat ia tak bisa masuk.
"Sial! Berani sekali wanita itu!" geram Black. Dengan berat hati ia urungkan niatnya untuk menemui Eryn.
......***......
Keesokan harinya, Eryn telah berada di sebuah hotel mewah tempat acara pesta kedua akan diadakan. Sedari pagi ia telah sibuk mondar mandir memeriksa dekorasi dan juga mengatur hidangan menu untuk besok malam.
Eryn sedikit merasa lega karena tidak akan ada lagi kue tart seperti pesta sebelumnya. Ia hanya memastikan jika minuman yang terhidang adalah anggur dengan kualitas terbaik.
Eryn memilih warna keemasan sebagai warna yang mendominasi ballroom hotel itu. Eryn yakin Mr. Black akan menyukainya. Setelah berdiskusi dengan timnya, Eryn keluar ballroom karena ingin menghubungi Noah.
Eryn memilih tempat yang agak sepi agar dirinya bisa leluasa melepas rindu dengan buah hatinya. Ia gembira melihat Noah yang berceloteh ria menceritakan hari-harinya tanpa hadirnya Eryn disisinya.
"Mommy juga mencintaimu, Nak. Bye!"
Eryn mengakhiri panggilan video bersama Noah.
"Apa dia putramu?"
"Hah?!" Eryn terkejut saat berbalik badan dan melihat Black ada disana.
"Tu-tuan Black?" Eryn membulatkan mata.
"Aku bertanya padamu, apa dia putramu?"
"I-iya, dia putraku," jawab Eryn gugup.
"Apa dia anak Eric?" tanya Black lagi.
Eryn mulai jengah dengan sikap Black yang mencampuri urusan pribadinya.
"Bukan urusan Anda, Tuan!" ketus Eryn kemudian berlalu dari hadapan Black.
Siapa sangka pria itu tidak membiarkan Eryn pergi begitu saja. Ditariknya lagi lengan Eryn hingga menabrak dada bidangnya.
Eryn terkejut dan segera melepaskan diri. Namun lagi-lagi Black mendorong tubuh Eryn hingga membentur dinding.
Eryn merasakan sakit pada punggungnya. Tapi ia tak bisa berbuat apa pun.
"Lepaskan aku! Aku harus kembali bekerja!" ucap Eryn berani.
Black tertawa sinis. "Siapa kau beraninya melawanku, huh! Kau bahkan menutup pintu rahasia menuju kamarmu!"
"Anda sudah sangat tidak sopan dengan mengganggu privasiku. Aku berhak untuk melawan!"
"Kau!" Black yang sudah dikuasai amarah segera mencengkeram wajah Eryn lalu mendaratkan sebuah ciuman yang kasar di bibirnya.
"Hmmpphh!" Eryn berusaha berontak namun usahanya sia-sia saja.
Black menghimpitnya ke dinding dan menekan tengkuknya dalam. Ia meraup bibir manis Eryn tanpa ampun hingga menggigitnya agar wanita itu membuka mulutnya.
Eryn masih berusaha mendorong tubuh Black menjauh namun semakin didorong, semakin kuat Black menghimpitnya. Eryn pasrah. Air matanya telah mengalir ke pipi mulusnya. Hatinya makin hancur mendapat perlakuan kasar dari Black.
Setelah puas menyesap bibir Eryn, Black melepaskannya. Ditatapnya bibir Eryn yang bengkak karena ulahnya. Black menghapus air mata Eryn.
"Jangan menangis! Mulai detik ini aku rela menjadi selingkuhanmu, Nyonya Evans. Jangan pernah menolakku atau kau akan tahu akibatnya!" Black mencium kening Eryn sebelum akhirnya ia meninggalkan wanita cantik itu terisak sendirian.
Tubuh Eryn beringsut luruh ke lantai. Tangisnya makin pilu dengan memukuli dadanya.
...B e r s a m b u n g...
*Astaga, Black! Kau sungguh kejam!
__ADS_1