
Red mengepalkan tangannya ketika melihat adegan yang tidak seharusnya ia lihat. Entah apa yang ia rasakan. Apakah ia cemburu ketika melihat Ilena berciuman dengan adiknya sendiri? Atau ia hanya ingin menguasai Ilena sebagai alat balas dendamnya? Ya, setelah ini Red memastikan jika ia akan mulai. melancarkan aksi balas dendamnya.
Red memilih pergi dan menuju ke ruangannya. Masih terlalu pagi untuk minum, tapi karena hatinya sedang dongkol, maka lebih baik ia meminum alkohol sebagai pengobat rasa cemburunya.
Di tempat berbeda, Selena terbangun dan melihat White masih terlelap diatas ranjangnya. Entah berapa kali semalam mereka melakukannya hingga sama sama terpuaskan.
Selena tak menyesal sudah mengkhianati Red, karena ini adalah salah satu taktiknya untuk menggapai Red. Ia harus tahu siapa musuh yang harus disingkirkan. Dan ketika tahu jika musuhnya adalah adik tirinya sendiri, Selena tidak akan mundur. Sejak dulu Selena tak pernah kalah. Jadi, sekarangpun ia tidak akan pernah kalah.
"Selamat pagi, Selena..." sapa White yang sudah membuka mata.
"Eh, kau sudah bangun?" Selena membelai wajah White.
"Kita melewati malam yang panjang, Selena," ucap White bangun dari tidurnya dan duduk bersandar.
Selena tersenyum getir.
"Berapa banyak pria yang naik ke atas ranjangmu ini, hem?" tanya White tanpa jeda.
Selena menatap White tajam. "Kau pikir aku wanita yang...." Selena tak mampu melanjutkan kalimatnya.
"Sudahlah! Percuma saja menjelaskannya padamu." Selena turun dari tempat tidurnya. Ia hendak menuju ke kamar mandi.
White menarik tangan Selena hingga kembali jatuh ke ranjang. Ia mencium singkat bibir Selena.
"Terima kasih," ucap White.
"Sama-sama. Kita akan jadi partner yang saling menguntungkan mulai saat ini. Bagaimana?" tawar Selena.
White menyilangkan tangannya. Membuat otot bisepnya tercetak jelas di mata Selena.
"Kau sedang memberiku penawaran, Nona Selena?" tanya White yang masih terlihat tampan meski baru bangun tidur.
__ADS_1
Selena menelan ludahnya kasar. Sungguh tingkah White saat ini sangat menggoda dirinya. Mereka masih sama sama polos dengan mata yang saling beradu.
"Iya, Tuan White. Aku memberimu sebuah penawaran. Aku akan jadi partner diatas ranjangmu. Tapi kau harus berikan semua informasi mengenai Red. Kau mengerti?"
White tersenyum seringai. "Tentu saja. Kita saling menguntungkan, bukan? Bahkan saat ini, kau terlihat masih menginginkan diriku. Semalam kau memberiku obat perangsang tapi malah sekarang kau sendiri yang ter@ngsang, hahaha." White tertawa renyah.
"Kau!" Selena mengarahkan jari telunjuknya. Namun sedetik kemudian ia turunkan.
"Baik! Aku akui kau memang sangat hebat dibanding pria yang pernah tidur bersamaku. Jadi aku..."
Selena terhenti karena White kembali menyerangnya. Memberikan ciuman panas yang membuat mereka kembali ON untuk melakukan apa yang mereka lakukan semalaman tadi.
Selena tersenyum karena kembali mendapatkan tubuh White yang menyatu dengan dirinya. Pria ini sangat pintar memainkan perannya.
Namun ketika semua mulai memanas ... tiba-tiba White menghentikan permainannya.
"Kenapa?" tanya Selena.
White menuju ke kamar mandi. Lalu berbalik dan berkata, "Jika kau butuh aku, malam ini aku bisa menemanimu..."
White menghilang di balik pintu kamar mandi. Selena tersenyum karena baru kali ini ada seorang pria yang begitu memperhatikan kebutuhan biologisnya.
#
#
#
Setelah mendapat lamaran dari Blue, Ilena masih belum bisa memberikan jawaban pada pria itu. Rasanya masih tidak bisa dipercaya jika Blue akan serius menikahi dirinya yang hanya seorang pekerja klub malam.
Ilena kembali ke ruang latihan dan menyapa kawan-kawannya.
__ADS_1
"Apa yang Blue katakan padamu?" tanya Sweety penasaran.
"Tidak ada," jawab Ilena berbohong. Mana mungkin dia bercerita jika Blue baru saja melamarnya. Itu sangat tidak bisa dipercaya.
"Baby, sangat terlihat jika Blue sangat peduli padamu. Dia tidak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya," timpal Barbie.
Ilena menggeleng. "Sudahlah! Jangan berpikir macam-macam. Ayo kita latihan lagi!" ajak Ilena.
"Eh eh, kau tahu, malam ini Pak Walikota akan datang untuk menemuiku. Setelah sekian lama akhirnya dia kembali datang," cerita Darla.
"Wah, benarkah?" tanya Barbie antusias.
"Iya. Aku mendapat pesan dari orang suruhannya. Dia bilang dia ingin membawaku pergi dari sini," ucap Darla berbinar namun masih dengan suara pelan. Ia tak ingin Madam Jane mendengar obrolan mereka.
"Memangnya kita bisa keluar dari tempat ini?" tanya Ilena yang membuat ketiga gadis itu menatap kearahnya.
"Apa ada yang salah dengan pertanyaanku?" tanya Ilena lagi.
Darla tersenyum begitu juga dengan Sweety dan Barbie. Blondy datang menghampiri mereka.
"Baby, kita bisa keluar dari sini jika ada orang yang bersedia membebaskan kita. Contohnya Darla. Dia akan jadi istri simpanan walikota," jelas Blondy.
"Hah?!" Ilena melongo tak percaya.
"Dari pada aku harus bekerja disini sepanjang hidupku, Baby. Lebih baik aku jadi istri simpanan saja," sahut Darla.
Semua kata-kata Darla mulai terngiang di telinga Ilena. Sungguh ia juga ingin keluar dari tempat ini. Tapi kemana tempatnya berlabuh? Apakah dengan menerima lamaran Blue dia bisa bebas dari tempat ini? Lalu bagaimana dengan hutang Johan?"
Ilena mulai frustasi. Ia mengacak memegangi kepalanya seraya berpikir.
"Apa aku harus menerima lamaran Blue? Lalu memintanya untuk membawaku pergi dari sini. Begitukah?" gumam Ilena.
__ADS_1