
...Bagaimana aku bisa melupakanmu?...
...Sedang bayanganmu selalu menghantui...
...Tapi jika suatu saat aku tidak mengingatmu...
...Akankah kau akan tetap mengingatku?...
...🌷🌷🌷...
Black memutuskan untuk tidak membawa seluruh anggota timnya untuk pergi ke Rio. Hanya Agli, Caesar, David dan Gilbert saja yang ikut serta. Tak ketinggalan Rose juga terpilih sebagai anggota tim wanita. Dan sisa anggotanya, Black menyuruh Carlos agar memimpin pengawasan terhadap perusahaan Evany dan juga Amigo.
Black memerintahkan untuk mengawasi pergerakan orang kepercayaan Eric yaitu Enrique. Bila perlu masukkan penyusup ke perusahaan agar bisa mengambil data-data perusahaan. Melakukan hal licik seperti halnya yang dilakukan Enrique.
Meski sedikit kecewa karena Black tidak memilih Santa untuk ikut pergi ke Rio, namun ternyata Luiz memiliki rencana yang harus dilakukan Santa sebagai anggota wanita disini.
"Gunakan kecantikanmu untuk menyusup masuk kedalam perusahaan, Santa. Lalu setelah kau masuk, Bernard masuk untuk meretas beberapa sistem disana. Bagaimana?" usul Luiz.
"Agak beresiko, Luiz. Tapi tidak ada salahnya di coba. Kita memang harus bergerak cepat. Aku dan Elbo juga Frans akan melindungimu." Carlos menepuk bahu Santa.
Ada rasa tak biasa ketika mendapatkan perhatian dari Carlos. Hati Santa berbunga-bunga.
"Keamanan di Evany Company sangatlah ketat. Karena mereka bukanlah perusahaan biasa seperti dulu. Sepertinya Eric banyak mengubahnya," terang Bernard dengan menunjukkan hasil temuannya.
"Kau dulu bekerja disana, Carlos. Kau pasti sangat hapal dengan seluk beluk perusahaan," sahut Luiz.
Carlos mengambil alih benda pipih yang dipegang Bernard. Ia sedikit mengernyitkan dahi.
"Semuanya telah berubah, Luiz. Eric telah menyiapkan semuanya jauh-jauh hari. Dia memang licik!" Tangan Carlos terkepal.
"Apa kau bisa meretas kamera pengawas disana?" tanya Carlos.
"Tidak bisa. Kecuali kita memasang alat secara rahasia agar pertahanan mereka runtuh," jelas Bernard.
"Sudah kubilang, Carlos. Kita harus memasukkan penyusup kesana," timpal Luiz.
"Aku akan mencari tahu dimana letak server milik Evany, jadi kita bisa langsung menuju kesana begitu berhasil masuk. Beruntung saat ini Eric sedang tidak ada disini. Sepertinya dia benar ada di Rio."
"Bagus, Bernard. Kau memang bisa diandalkan." Carlos menepuk bahu Bernard.
"Thanks, Carlos."
...🌷🌷🌷...
Setibanya di Rio, Black memerintahkan Caesar untuk melakukan peretasan terhadap semua kamera pengawas yang ada di jalan raya. Ia mendapat informasi dari Carlos jika Eric ada di kota yang sama dengannya saat ini.
"Kau hapal plat mobil Eric, Sar?" tanya Agli.
"Iya. Kita bisa mengetahuinya saat kita melihatnya keluar dari bandara." Caesar mengotak-atik alat andalannya dan mencari tahu kapan Eric tiba di kota ini.
"Itu dia! Dia memakai mobil Mercedes Benz berwarna hitam. Plat nomernya..." Jari-jari lentik Caesar sangat lincah bermain di keyboard.
"Mobil itu menuju ke sebuah rumah dekat kota. Rumah yang cukup besar. Agli, cepat kita menuju kesana."
"Oke! Siap!" Agli yang diberi tugas untuk membawa mobil langsung tancap gas menuju rumah yang di maksud Caesar.
Hingga malam menjelang, baik Eric ataupun orang yang ada di rumah itu sama sekali tidak keluar rumah.
"Black, sebaiknya kita cari hotel terdekat untuk beristirahat. Kasihan mereka!" usul Rose.
"Baiklah," balas Black lesu. Ia sudah berharap jika bisa melihat Eryn sebentar saja.
__ADS_1
"Besok kita lanjutkan lagi." Rose menepuk bahu Black.
.
.
.
Pagi harinya, Agli, David dan Caesar ditugaskan untuk mengawasi rumah milik Eric. Dengan teropong khusus yang sudah di modifikasi, Agli bisa melihat dengan jelas apa-apa saja yang ada di rumah itu.
"Rumah itu dijaga ketat. Ada beberapa penjaga berjaga di depan rumah. Mobil milik Eric masih berada di dalam," ucap Agli.
Tak lama Agli melihat seorang wanita dan seorang pria keluar dari dalam rumah. Agli berseru gembira.
"Itu nona Eryn! Dia keluar bersama dengan wanita tua dan juga Eric. Cepat hubungi Black!" seru Agli.
David segera menghubungi Black. Black beserta Rose dan juga Gilbert segera bersiap. Mobil yang dikemudikan Agli juga segera mengikuti kemana perginya mobil Eric.
Ternyata mereka pergi ke sebuah pusat pertokoan atau lebih seperti pasar. David kembali menghubungi Black.
Black dengan kecepatan penuh mengendarai mobil menuju tempat yang di beritahukan oleh David. Hatinya sudah bergemuruh ingin bertemu dengan Eryn.
Eric memarkirkan mobilnya. Eryn turun bersama Matilda. Hari ini ia ingin berbelanja bahan makanan kebutuhan dapur. Eric menggenggam tangan Eryn. Pria itu tidak ingin Eryn tersesat karena pasar sangat ramai di hari libur.
Caesar meretas kamera pengawas yang ada di pasar dan mencari keberadaan Eryn serta Eric. Tak berapa lama, Caesar berhasil menemukannya. Ia melihat Eryn sedang ada di konter sayuran.
Black segera berjalan cepat membelah lautan manusia yang ada disana. Ia segera memakai topi hitam dan masker agar tidak dikenali. Ya, meskipun di pasar, Black harus tetap berhati-hati.
Black menatap dari kejauhan seorang wanita yang telah lama dirindunya, Istrinya, kekasih hatinya, hembusan napas dalam setiap jantungnya berdetak.
"Eryn..." lirih Black. Sejenak ia terlihat emosional dengan mata berkaca-kaca.
Tanpa bisa di duga, Eric mendapatkan telepon darurat dari anak buahnya yang ada di Sao Paulo, yang mengharuskan dirinya harus segera pergi kesana dan menyelesaikan masalah. Akhirnya ia berpamitan pada Eryn dan meminta Matilda menjaga Eryn. Ia akan mengirimkan supir untuk menjemput mereka nanti. Sebelum pergi, tak lupa Eric mencium kening Eryn lama dan membuat Black naik pitam.
Namun sebelumnya, Black ingin menyapa Matilda terlebih dahulu. Wanita paruh baya itu belum tahu jika Eldric masih hidup.
Black menyapa Matilda dengan menepuk bahunya. Wanita itu terlihat bingung karena tak mengenali siapa orang yang menepuknya.
Lalu Black melepas topi dan masker di wajahnya. Matilda terlonjak kaget melihat sosok yang dikiranya telah meninggal itu.
"Tuan Eldric?" Rasa haru Matilda tak bisa lagi ia tutupi. Ia merangkum wajah Black dan menangis.
"Tuan masih hidup? Bagaimana bisa?"
Rose segera menghampiri mereka berdua dan meminta Black untuk bergegas mendekati Eryn. Rose membawa Matilda ke tempat yang lebih aman.
Black segera mencari keberadaan Eryn yang ternyata sedang ada di konter buah. Dengan rasa penuh suka cita Black berdiri di samping Eryn. Wanita cantik itu masih belum menyadari kehadiran Black.
Hingga akhirnya Eryn menghadap samping dan menabrak tubuh Black. Sejenak mata mereka beradu. Black memegangi lengan Eryn agar tidak terjatuh.
Eryn mulai merasakan sakit pada lengannya karena Black memegangi erat.
"Permisi, Tuan! Bisakah Tuan lepaskan aku?" ucap Eryn.
Black masih bergeming di tempatnya.
"Tuan!" Eryn agak meninggikan suaranya.
"Eh, iya. Maaf!" Black segera melepaskan tangannya.
Eryn kembali memilih beberapa buah dan memberikannya pada si penjual.
__ADS_1
"Jadi, kau menyukai buah, Nona?" tanya Black berbasi-basi. Ia melihat ada sesuatu yang aneh dengan diri Eryn.
Eryn tak menjawab dan melanjutkan belanjanya. Setelah memberi beberapa buah, Eryn berjalan mencari Matilda. Black masih membuntutinya dari belakang.
"Nona, tunggu!"
"Kau siapa? Aku tidak mengenalmu jadi jangan sok akrab!" Eryn berjalan cepat mencari Matilda. Ia sedikit berteriak agar Matilda bisa mendengarnya.
Tak lama Matilda datang. Eryn segera meminta Matilda memanggil taksi tanpa menunggu jemputan supir dari rumah.
Black menatap kepergian Eryn dengan nanar. Rose menghampiri Black.
"Dia tidak mengingatku, Rose..."
"Dia kehilangan ingatannya, Black."
Black menoleh menatap Rose.
"Bibi Matilda sudah menceritakan semuanya padaku. Eric memanfaatkan situasi ini untuk membuat Eryn berada di sisinya. Tapi, kau tenang saja. Aku sudah punya rencana untuk bisa mengembalikan ingatan Eryn."
Black berjalan gontai meninggalkan area pasar. Rose menghela napas melihat Black yang terlihat putus asa.
"Aku pasti akan mengembalikan ingatan Eryn, Black. Aku berjanji padamu," batin Rose.
...🌷🌷🌷...
Eryn tiba di rumah dan masih memikirkan pertemuannya dengan pria asing itu. Tatapan matanya seperti seseorang yang ia kenal. Tapi siapa? Itulah yang masih menjadi pertanyaan di benak Eryn.
"Nona? Nona baik-baik saja?" tanya Matilda yang melihat Eryn terus diam setelah pulang dari pasar.
Eryn hanya memberi jawaban dengan sebuah anggukan. Ia menuju kamarnya untuk beristirahat.
Eryn menatap foto besar yang ada di kamarnya.
"Jika memang aku dan Eric sedekat itu... Kenapa aku tidak bisa mengingatnya? Lalu, siapa pria tadi? Apa dia mengenaliku?"
Eryn mengambil foto besar itu meletakkannya di bawah. Berulang kali dilihat pun, Eryn tak ingat kapan ia membuat foto itu bersama Eric.
Di dalam foto itu, Eryn memakai sebuah kalung. Kalung dengan liontin bulat.
"Kalung? Kalung itu? Dimana kalung itu?"
Eryn memegangi kepalanya yang terasa berdenyut.
"Akh!" Kepala Eryn terasa sakit.
Beberapa kepingan memori tiba-tiba hadir.
"Aaaa!" Eryn berteriak.
Matilda panik dan segera menghampiri Eryn.
"Nona! Apa yang terjadi?"
"Kepalaku sakit sekali, Bi..." Sedetik kemudian tubuh Eryn jatuh tak sadarkan diri.
Matilda memanggil beberapa penjaga untuk mengangkat tubuh Eryn keatas ranjang.
#tobecontinued
*Akankah Eryn bisa mengingat masa lalunya? Lalu, apa rencana Rose untuk mengembalikan ingatan Eryn?
__ADS_1
*Happy weekend all 😘😘