Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
67. Carlos And Rose


__ADS_3

Rose membuka matanya di pagi hari. Setelah semalam untuk pertama kalinya ia menyerahkan hal yang berharga pada orang tercintanya, Carlos. Ia menatap Carlos yang masih terpejam. Pastinya kegiatan semalam membuatnya cukup kelelahan.


Rose memandangi cincin yang melingkar di jari manisnya. Ia tersenyum karena sebentar lagi hubungannya dengan Carlos akan menuju ke tingkat yang lebih serius.


Rose mengulang memori ketika Dixon menyampaikan fakta tentang Eldric.


"Kakak, dimanapun kau berada, aku berdoa yang terbaik untukmu," batin Rose.


Carlos yang ternyata sudah membuka mata memperhatikan raut wajah sendu Rose.


"Ada apa? Apa kau memikirkan sesuatu? Atau kau menyesal sudah melakukannya denganku?"


Rose terkejut dan menatap Carlos.


"Tidak! Aku tidak menyesali yang semalam." Wajah Rose memerah mengingat malam panas yang mereka lakukan semalam.


"Lalu ada apa? Kau bisa bicara padaku."


"Carlos, apa kau tahu jika kakakku masih hidup?"


Carlos terdiam.


"Aku sudah tahu semuanya, Carlos. Apa kalian sengaja melakukan ini? Kenapa kalian menutupinya dariku?"


"Bukan begitu, Rose. Hanya saja semakin sedikit orang yang mengetahuinya maka posisi Black juga akan aman. Sebisa mungkin kita harus meredam semua isu agar Black terbebas dari jerat penjara."


"Apa kakak akan dihukum mati juga seperti Eric?" Rose merasa cemas.


"Entahlah. Bisa saja hal itu terjadi."


Rose terdiam. Mungkin semua ini memang keinginan Black agar tidak dikejar oleh penegak hukum.


"Tapi apa tindakan seperti ini dibenarkan?" tanya Rose.


"Tentu saja tidak. Tapi Black tidak melakukan banyak kejahatan seperti yang Eric lakukan. Mungkin saja hukumannya lebih ringan. Sudahlah, kau jangan memikirkan soal itu. Aku yakin Black baik-baik saja hidup di suatu tempat."


Rose makin merapatkan tubuhnya ke tubuh Carlos.


"Aku ingin bicara dengan Eryn. Bisakah kau carikan informasi tentang keluarganya?" pinta Rose.


Carlos memeluk Rose erat. "Entahlah. Tapi akan kuusahakan. Grup JK sepertinya sangat berpengaruh di negaranya."


Rose mengangguk paham. Tak ada percakapan yang terjadi lagi di kamar itu.


#


#


#


Carlos meminta Santa untuk merancang acara pernikahannya dengan Rose. Meski awalnya ia ragu karena Santa pernah memiliki rasa padanya, namun sebisa mungkin ia bersikap profesional. Dan sudah menjadi pekerjaan Santa sebagai perancang acara menerima klien dengan baik.


"Konsep seperti apa yang kalian inginkan?" tanya Santa.


"Kau bisa bicara dengan Rose nanti," balas Carlos.


"Oke, baiklah. Terima kasih sudah percaya padaku."


"Jangan sungkan, Santa. Kita adalah teman, bukan?"


"Yeah, kita adalah teman." Santa tersenyum tipis.


"Kalau begitu aku permisi dulu. Aku harus kembali bekerja."


Santa hanya menjawab dengan sebuah anggukan. Carlos berlalu dari ruangan Santa.


Gadis itu menghela napas. Hal ini cepat atau lambat pasti akan terjadi.


"Jangan terlalu sedih, Santa."


Sebuah suara memasuki ruang kerja Santa.


"Kau?" Santa membulatkan mata.


"Apa kau mendengar semuanya?" lanjutnya.


"Pembicaraanmu dan Carlos bukan suatu hal yang besar, Santa."

__ADS_1


Santa terdiam.


"Apa kau masih mencintainya?" tanya David.


Santa masih diam.


"Jika kau tidak sanggup melakukannya maka jangan lakukan."


Santa menghela napas. "Tidak, Dave. Aku seorang profesional, aku tidak akan membawa masalah hati kedalam pekerjaanku."


"Baguslah. Kalau begitu ayo kita makan siang."


Santa menatap David sejenak kemudian mengiyakan. Ia merasa ada sesuatu dengan David. Apapun itu ia berterimakasih karena pria ini selalu menemaninya saat dirinya merasa sedih dan terluka.


"Terima kasih, Dave..."


"Untuk apa?"


"Semuanya."


Langkah David terhenti.


"Iya. Semoga suatu saat kau akan mengerti, Santa. Ayo!"


Mereka berdua berjalan bersama keluar dari ruang kerja Santa yang masih satu lantai dengan cassino yang dipegang oleh David.


#


#


#


Hari ini Rose mengajak Santa untuk bertemu berdua. Selain untuk membicarakan pernikahannya dengan Carlos, Rose juga ingin bicara dengan Santa mengenai hal lainnya.


Rose menyiapkan sebuah jamuan makan siang di rumahnya. Ya, Rose ingin menikah di rumah saja. Di mansion milik Black. Karena ia ingin meski kakaknya tidak bisa menyaksikan pernikahannya secara langsung, namun Rose merasa jika Eldric pasti akan ikut merasakan kebahagiaan dirinya dan Carlos.


"Selamat siang, Nona..." sapa Santa.


"Santa, kau sudah datang?" Rose masih menata meja makan ketika Santa datang.


"Nona menyiapkan semua ini sendiri?" Santa tercengang.


Santa menatap menu makanan yang cukup banyak itu.


"Aku punya beberapa konsep yang akan kutawarkan pada Nona," ucap Santa.


"Kita makan terlebih dahulu, lalu setelahnya kita baru bicarakan soal pernikahan."


Santa mengangguk setuju. Perutnya juga sudah meronta-ronta minta diisi melihat makanan lezat di depannya.


Dua wanita ini makan dalam diam. Mereka sama-sama memikirkan kalimat yang tepat untuk diucapkan.


Hingga akhirnya makanan di piring mereka telah tandas. Rose mengusap bibirnya dan mulai bicara.


"Aku berterimakasih karena kau bersedia merancang pesta pernikahanku dan Carlos," buka Rose.


Santa hanya menjawab dengan anggukan.


"Aku tahu apa yang terjadi denganmu dan Carlos. Maksudku ... aku tidak ingin membebanimu."


"Tidak, Nona. Sama sekali tidak. Aku seorang profesional."


Rose tersenyum. "Kalau begitu aku percaya padamu, Santa. Aku menyerahkan konsep pernikahan impianku padamu."


Santa terdiam menatap Rose.


"Pasti, Nona. Aku dan Carlos tidak memiliki hubungan apapun. Dia selalu mencintai Nona. Mari kita lihat konsep mana yang sesuai dengan keinginan Nona." Santa memperlihatkan beberapa konsep pernikahan dengan ide yang ia punya.


#


#


#


Hari pernikahan itu pun akhirnya tiba. Hari dimana seorang pria dan wanita akan mengikat janjinya di hadapan Tuhan untuk selalu saling mencintai dan menjaga hingga maut memisahkan mereka.


Santa terlihat sibuk untuk menata dekorasi yang memang sudah terlihay sempurna itu. Ia hanya memastikannya saja.

__ADS_1


Pernikahan Carlos dan Rose diadakan di taman mansion Black. Halamannya lumayan luas dan cukup untuk mengundang beberapa tamu undangan.


Musik mulai mengalun. Rose keluar didampingi oleh Luiz, sahabat kakaknya. Ia berjalan menuju Carlos yang sudah menunggunya di depan altar.


Semua orang menatap kagum pada kecantikan Rose.


"Tersenyumlah, Rose. Aku yakin pasti kakakmu bisa menyaksikan pernikahanmu," bisik Luiz.


"Iya, Luiz. Terima kasih."


Ketika telah tiba dihadapan Carlos, Luiz memberikan tangan Rose pada pria itu.


"Kutitipkan Rose padamu agar kau bisa menjaganya. Itu adalah pesan Black," ucap Luiz.


Sejenak mata Rose menghangat mengingat tentang kakaknya itu. Rose menahan air matanya karena ini adalah hari bahagia untuknya.


"Pasti, Luiz. Aku akan menjaganya seperti aku menjaga nyawaku sendiri," jawab Carlos.


"Baiklah, mari kita mulai penikahannya.. Saudara Carlos Abraham, apakah saudara menerima Rosalinda Albana untuk menjadi istri saudara? Berjanji akan mencintai dan menjaganya, dalam sehat maupun sakit, kaya maupun miskin, senang maupun susah."


"Aku bersedia," jawab Carlos lantang.


Rose melirik Carlos dengan mata yang sudah menghangat.


"Saudari Rosalinda Albana, apakah saudari menerima Carlos Abraham sebagai suami saudari? Akan saling mencintai dan menjaga hingga mau memisahkan."


"Aku bersedia," jawab Rose dengan menatap Carlos.


Setelahnya, Carlos memakaikan cincin pernikahan di jari manis Rose. Begitupun sebaliknya. Carlos mencium bibir Rose yang kini sudah sah menjadi istrinya.


Semua orang bertepuk tangan dengan bahagia. Santa juga ikut larut dalam kebahagiaan yang diciptakan kedua mempelai.


Pesta pun dimulai. Semua orang berdansa dengan gembira. Begitu juga dengan kedua mempelai.


Santa meregangkan otot-ototnya yang kaku karena kesibukan beberapa hari ini.


"Menikahlah denganku, Santa."


Sebuah suara membuat Santa membulatkan mata.


"Apa katamu?!" Santa membalas dengan ketus.


"Aku serius. Menikahlah denganku!"


Santa tertawa kecil. "Dave, jangan bercanda!"


Ya, pria itu adalah David.


"Aku tidak bercanda. Aku memang mencintaimu, Santa. Apa kau tidak pernah merasakannya?"


"Eh?" Santa terdiam. Hatinya masih belum sepenuhnya melupakan Carlos.


"Baiklah. Kita lakukan perlahan saja. Aku tidak akan memaksamu. Tapi izinkan aku untuk membuktikan keseriusanku."


Hati Santa menghangat mendengar ada seseorang yang benar-benar mencintainya. Ia pun mengangguk.


David segera memeluk Santa. "Terima kasih, Santa. Terima kasih."


Luiz menuang wine di gelasnya. Ia ingin minum sepuasnya hari ini.


"Semua orang sudah mendapatkan pasangannya masing-masing. Dan aku masih terus sendiri disini," racau Luiz.


"Kau pasti akan menemukan cintamu. Atau mungkin juga kau bisa menunggunya," timpal Dixon.


"Apa kau pernah menikah, Dixon?"


"Ya, aku pernah menikah. Tapi kami sudah berpisah. Dia tidak suka dengan pekerjaan yang aku jalani."


Luiz terkekeh. "Wanita macam itu sebaiknya kau tinggalkan saja. Tenang saja, kawan. Kau pasti akan menemukan wanita baik lainnya." Luiz menepuk bahu Dixon.


Di belahan bumi yang berbeda, seorang pria berseru bahagia melihat kebahagiaan adik tercintanya yang telah menikah.


"Selamat untuk pernikahan kalian. Aku selalu berdoa untukmu. Doakan juga aku lekas menyelesaikan misiku dan segera berkumpul dengan orang yang kucintai," gumamnya dengan menatap sebuah foto pernikahan yang dikirim ke ponselnya.


#tobecontinued


*Wah, selamat utk Rose dan Carlos. Setelah ini, akan masuk part Eryn yang menemui bos dari Se-Kang Grup.

__ADS_1


Hmm, kira2 orang seperti apa ya bosnya? Tunggu next chapter ya genkz.


Terima kasih atas dukungannya 😘😘


__ADS_2