Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
27. The Dark Side


__ADS_3

Pagi itu, Eryn sengaja bangun lebih pagi agar bisa memasak untuk Black. Hatinya diliputi rasa bersalah dan ingin meminta maaf pada pria itu.


Eryn bertemu dengan Marco, chef pribadi Black yang sudah bertahun-tahun bekerja untuk pria itu.


"Nona, sebaiknya biar aku saja yang memasak, jika tidak..."


"Tidak apa, Chef. Hari ini biarkan aku yang memasak ya. Aku ingin membuat makanan kesukaan Tuan Black." Eryn masih mengembangkan senyumnya sedangkan Marco hanya tersenyum kecut.


Marco tahu perangai tuannya itu. Namun ia juga tak bisa menolak permintaan Eryn. Bagaimanapun wanita ini memiliki posisi yang tinggi di hati Black.


Black datang ke meja makan dengan sudah rapi memakai setelan berwarna hitam khas dirinya. Ia mengernyit heran melihat Eryn sedang menyajikan makanan diatas meja makan.


"Ada apa ini?" tanya Black dingin seperti biasa.


Eryn tersenyum menyambut kedatangan Black.


"Tuan, aku membuatkan makanan kesukaanmu. Silakan duduk!" ucap Eryn.


Eryn mengira ia akan mendapat sambutan hangat dari Black, namun nyatanya pria itu terlihat menatap tajam kearah Eryn.


"Kau! Berani sekali kau menyentuh dapurku!" teriak Black.


Ia membanting piring berisi makanan yang dibuat oleh Eryn.


PRANG!


"Aaaaa!" teriak Eryn mendengar suara pecahan piring dilantai.


"Apa maumu, hah?! Hanya Marco saja yang berhak membuatkan makanan untukku! Siapa kau hingga seberani ini di rumahku?!"


Black memegangi kedua bahu Eryn dan mengguncangnya. Wanita itu memejamkan mata tak ingin melihat kemarahan Black.


"Marco! Singkirkan makanan ini dan buat lagi untukku!" perintah Black.


"Baik, Tuan," jawab Marco.


Black berbalik badan dan meninggalkan Eryn yang sedang membereskan pecahan piring tadi. Air matanya tak dapat lagi ia tahan. Ia menangis dengan memunguti satu persatu pecahan itu.


"Aw!" ringisnya yang tak sengaja terkena pecahan piring.


"Nona, kau baik-baik saja?" Marco menghampiri Eryn karena mendengar rintihan Eryn.


Eryn hanya mengangguk. "Kembalilah memasak, Chef. Aku baik-baik saja."


Eryn juga membersihkan sisa makanan yang tercecer di lantai. Hatinya begitu teriris mendapat perlakuan buruk dari Black. Namun sebisa mungkin ia berusaha untuk kuat dan tegar menghadapi semua ini.


"Bersabarlah, Eryn. Kau harus bisa kembali merebut hatinya. Kau pasti bisa!" Eryn menyeka air matanya dan menyemangati dirinya sendiri.


...🍀🍀🍀...


Sudah dua minggu Eryn tinggal di mansion mewah milik Black. Tak banyak hal yang bisa ia lakukan di rumah itu. Ia mulai merasa bosan dan akhirnya memilih bicara dengan Carlos.

__ADS_1


"Carlos, dimana kau menempatkan Santa untuk bekerja? Bukankah Tuan Black bilang dia ingin memberi Santa pekerjaan?" tanya Eryn.


"Ah, iya. Dia kutempatkan di klub malam Black Devil. Ia bekerja sebagai pramusaji disana," jawab Carlos.


"Hah?! Bagaimana bisa? Bukankah Tuan Black bilang akan mempekerjakannya di perusahaan?"


Carlos tersenyum kecil. "Nona, dengan kualifikasi pendidikan yang kurang, aku tidak bisa menempatkan dia di perusahaan. Lagipula menjadi pramusaji di klub malam juga memiliki gaji yang lumayan."


"Benarkah? Berarti aku juga tidak bisa bekerja di perusahaan. Aku sendiri tidak melanjutkan studiku." Eryn mendesah pelan.


"Ada apa, Nona?"


"Umm, tidak Carlos. Aku hanya merasa bosan saja. Aku juga ingin bekerja," ucap Eryn meringis.


"Apa yang bisa Nona kerjakan? Kurasa Tuan Black tidak akan mengizinkan Nona untuk bekerja."


Eryn menghela napas. "Benar juga ya."


"Dan mengenai ke tujuh pria yang dulu bekerja pada Nona, aku masih mencari keberadaan mereka," lanjut Carlos.


"Eh?" Eryn terkejut. "Jadi, kau mencari mereka?"


"Iya, Tuan Black memintaku untuk mencari mereka dan memberikan pekerjaan yang layak pada mereka."


Eryn terdiam. Terkadang pria yang tinggal bersamanya ini menunjukkan sisi yang baik. Namun, terkadang ia menunjukkan sisi kelamnya yang menutupi sisi baiknya.


"Ah! Aku tidak mengerti!" rutuk Eryn dalam kesendiriannya.


Pasalnya, Eryn kini tinggal sendiri di mansion sebesar itu bersama dengan beberapa penjaga dan pelayan. Sudah seminggu Rose kembali ke Italia karena ayahnya sakit. Lalu, Black pergi ke luar kota mengurus bisnisnya.


"Kenapa belum ada kabar dengan pencarian Noah?" Eryn mendesah kasar.


Malam itu, ia memutuskan untuk pergi ke dapur dan memasak makanan kesukaan Noah. Ia amat rindu dengan putranya itu.


"Noah sangat menyukai sup kacang. Dimanapun kau berada, Mommy harap kau hidup dengan baik, Nak."


Eryn mengaduk sup dengan tubuh yang bergetar karena menangis.


"Disini kau rupanya!" Dua buah tangan melingkar di pinggang Eryn.


Matanya membulat mendengar bisikan dari orang yang memeluknya.


"Tu-tuan? Ka-kau sudah pulang?" tanya Eryn takut karena dirinya berani menyentuh dapur milik Black. Eryn mencium bau alkohol yang amat menyengat.


"Tuan? Anda kenapa?" tanya Eryn yang masih diam ditempatnya. Ia pun mematikan kompor.


Sekuat tenaga ia membalikkan badan agar berhadapan dengan Black.


"Tu-tuan, ma-maafkan aku karena aku memakai dapurmu," ucap Eryn tertunduk.


Black mengangkat dagu Eryn agar mata mereka bisa beradu. Mata Black sudah memerah.

__ADS_1


"Tu-tuan? Anda mabuk?" tanya Eryn memberanikan diri.


"Tidak! Aku tidak mabuk. Ada jamuan makan malam tadi setelah aku mendarat. Sialnya mereka memintaku untuk minum," racau Black.


Tak ingin terjadi sesuatu pada pria itu, Eryn memapah tubuh besar Black menuju kamarnya. Tiba didalam kamar, Eryn segera merebahkan tubuh pria itu ke ranjang.


Eryn mengatur napasnya. Ia akan segera pergi dari kamar itu, namun tangannya ditarik oleh Black hingga tubuhnya menimpa tubuh Black.


"Hah!" Eryn terkejut. "Tu-tuan, lepaskan aku!"


Black mengunci tubuh Eryn yang berada diatasnya. Kemudian ia membalikkan posisi dan membuat Eryn berada dalam kungkungannya.


"Tuan!" Eryn berusaha berontak.


"Bukankah sudah kubilang jika kau hanya milikku! Sekarang kau benar-benar akan menjadi milikku!"


Mata Eryn berkaca-kaca mendengar kalimat itu meluncur dari bibir Black. Mata Black telah berkabut. Ia seakan menahan hasratnya selama ini.


"Jadilah milikku, Eryn."


Black tak ingin menunggu lama lagi. Ia mendaratkan sebuah ciuman hangat untuk Eryn. Wanita itu pun membalas setiap pagutan yang dilakukan Black.


Tanpa ia sadari, Black mulai membuka satu persatu kancing piyama yang dipakai Eryn. Pria itu menjelajah ke leher jenjang Eryn dan membuatnya memejamkan mata merasakan sensasi yang berbeda dari perlakuan Black selama ini.


Black kembali mencumbu bibir ranum kesukaannya hingga akhirnya ia berhasil melepas seluruh kancing piyama Eryn. Ia menyibak pelan dan membelai lembut perut Eryn yang terekspos oleh matanya.


Ciumannya turun ke bagian perut Eryn dan membuat wanita itu merasa kegelian. Itu adalah bagian favorit Eldric saat menyentuh Eryn.


Sadar ia akan semakin terbuai, Eryn segera membuka mata dan bangkit dari posisi terlentangnya. Ia membuat Black mengernyit heran.


Eryn membenahi pakaiannya dan segera turun dari ranjang.


"Maaf..." ucap Eryn sebelum akhirnya ia keluar dari kamar Black.


Eryn memegangi dadanya. Perasaan bersalah kepada Rose kini tengah ia rasakan.


...🍀🍀🍀...


"Bagaimana?" tanya Eric pada pria dihadapannya.


"Dia akan melakukan perjalanan bisnis setelah ini," jawab pria itu.


"Lalu, apa kau sudah tahu dimana keberadaan Eryn?"


"Nona Eryn tinggal di mansion milik tuan Black."


Eric menggeram kesal. Matanya menggelap menandakan sebuah kilatan amarah disana.


"Kau terus kabari aku, dan lakukan seperti yang sudah kita sepakati, Enrique. Aku pastikan aku akan merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milikku!" tegas Eric.


"Baik, Tuan!" Enrique memberi hormat kemudian keluar dari private room sebuah resto mewah.

__ADS_1


...B e r s a m b u n g...


*Duh, gimana sih Eryn, katanya mau membuat Black kembali padanya, giliran udah mau dimiliki, malah dia galau 😑😑😑


__ADS_2