Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
118. Kissing in The Dark


__ADS_3

Blue duduk sendiri dengan menyesap anggur yang kini menemani malamnya setelah kepergian Ilena. White yang juga duduk sendiri akhirnya menghampiri Blue dan minum bersama.


White ingin bertanya banyak hal pada Blue. Namun sepertinya mood Blue sedang tidak bagus.


Tidak seperti Blue yang biasa ia kenal. Ia tak akan kalah hanya karena seorang gadis mencampakkannya. Justru biasanya Blue lah yang mencampakkan para gadis.


Ini sangat aneh. Sungguh aneh. Begitulah pikir White. Ia semakin tertantang untuk mencari tahu siapa gadis yang bisa memporak porandakan hati seorang Blue.


"Apa perlu kutemani hingga kau mabuk?" tanya White.


"Tidak perlu. Kau pergilah saja! Aku sedang ingin sendiri," usir Blue kepada White.


"Oke! Baiklah!" White beranjak dari duduknya dan mencari keberadaan Grey.


Orang kepercayaan Red itu pasti tahu tentang seluk beluk gadis yang membuat Red dan Blue berada dalam mode bersitegang.


White menyapa Grey yang sedang bekerja dan menyalami beberapa tamu. Grey terkenal dengan sikapnya yang ramah. Wajahnya juga tidak sangar seperti kedua bosnya.


Tanpa berbasa basi lagi, White segera menanyakan tentang Babydoll alias Ilena. Grey bingung karena White menanyakan hal itu.


"Ayolah, katakan saja! Mungkin saja dia memang gadis yang istimewa. Iya kan?" bujuk White agar Grey mau bicara.


"Dia bukan siapa-siapa. Dia hanya gadis yang terlilit hutang dan dia digunakan sebagai penebus hutang. Itu saja!" jelas Grey.


White mengernyit bingung. "Jika hanya sebagai penebus hutang kenapa dua orang itu seperti sangat menginginkan gadis itu?"


Batin White masih tak bisa mencerna alasan yang di berikan oleh Grey. Pasti ada sesuatu yang di tutup-tutupi. Begitulah pikir White.


#


#


#


Ilena masih berhadapan dengan Red dalam lorong gelap tanpa cahaya. Suara deru napas semakin terdengar merdu dan bersahutan.


Ilena dengan sangat berani menatap manik milik Red. Pria itu heran kenapa ada wanita yang berani menatap mata setajam elang miliknya.

__ADS_1


"Bisakah kita mengulanginya lagi?" tanya Red yang membuat mata Ilena membola sempurna.


Ilena masih mencerna apa maksud kalimat Red saat ini. Apakah mereka harus...?


Tidak! Otak Ilena masih waras. Pria di depannya ini adalah kekasih Selena, kakak tirinya. Pria di depannya ini adalah tunangan kakaknya, calon suami kakaknya. Meski Ilena mengakui jika pesona Red sangat memikat dirinya. Bahkan kelembutan hati Blue telah kalah dengan dinginnya sikap Red yang membuatnya berani mendekat.


Ilena segera memutus kontak mata dengan Red. Ia mendorong pelan tubuh Red yang menghimpitnya.


"Permisi, Red. Kurasa aku harus pergi." Ilena mulai berani mendorong tubuh Red dan berusaha pergi dari lorong gelap itu.


Red tersenyum seringai. "Kau pikir kau bisa pergi begitu saja dariku? Dasar gadis j4lang!" batin Red menyeringai dan menarik kasar lengan Ilena lalu menghimpitkan tubuhnya kembali ke dinding.


Mata mereka kembali beradu. Sorot mata Ilena menandakan jika dirinya meminta pengampunan dari Red.


"Kau sudah bertunangan, Red!" Akhirnya Ilena berani bersuara.


Red menarik sudut bibirnya. Mungkin otaknya sudah tak bisa bekerja lagi. Dikalahkan oleh Blue hanya karena gadis penghibur seperti Ilena membuat harga dirinya menjadi taruhan.


Red menarik kedua tangan Ilena keatas dan ditahannya dengan satu tangannya. Secepat kilat Red mencumbu Ilena agar tak lagi banyak bicara.


"Oh, tidak! Kau tidak boleh melakukan ini, Ilena. Jangan mengikuti permainannya," batin Ilena berontak namun tidak dengan tubuhnya.


Sentuhan Red sungguh berbeda dengan Blue. Red memiliki hasrat yang menggebu dan itu membuat Ilena luluh.


Red melepaskan tangan Ilena dan membiarkan tangan itu bebas kemanapun ia mau. Red menyesap, melumaat, menggigit kecil dan merasai semua rasa yang ada di bibir Ilena.


"Kau gila, Red! Bagaimana bisa kau kecanduan dengan bibir wanita penghibur seperti dia! Tapi dia ... berbeda. Dia nampak masih polos dan suci. Bahkan yang pertama saja dia masih kaku. Sekarang bahkan lebih kaku."


Red menarik tubuh Ilena makin mendekat, dan Ilena melingkarkan tangannya ke leher Red.


"Astaga, Ilena! Kau pasti sudah tidak waras! Jika Selena tahu kau berciuman dengan kekasihnya, ia pasti akan membunuhmu. Namun rasanya ... aku tak ingin melepaskan momen ini. Aku sangat suka sentuhannya."


Red mengangkat tubuh Ilena dalam gendongannya dengan bibir yang masih saling bertautan.


"Akh! Kau benar-benar sudah gila, Red. Apa yang harus kulakukan? Apa aku harus membawanya ke ranjangku? Tidak! Kau bodoh jika melakukannya!" batin Red mulai menggila dengan bibir dan lidah yang menjelajahi rongga mulut Ilena.


Kaki Ilena melingkar kuat di pinggang Red. Mereka benar-benar menikmati semua rasa yang terjadi.

__ADS_1


"Aku memang j4lang! Aku sudah menjadi j4lang sejak memutuskan untuk datang kemari. Cumbu aku terus, Red! Aku tidak peduli lagi dengan Selena. Kau lihat ini, Kak! Kekasihmu sedang mencumbuku. Dan mungkin saja dia akan membawaku kekamarnya suatu hari nanti..."


Red melepas pagutannya. Di turunkannya tubuh Ilena perlahan. Napas mereka memburu. Mereka mengatur napas dan kembali saling tatap.


"Jika kau harus memilih, kau akan memilihku atau Blue?"


Pertanyaan Red membuat Ilena mematung. Kenapa tiba-tiba bertanya seperti ini? Pikir Ilena.


Red mengusap bibir Ilena yang pastinya sedikit bengkak karena ulahnya. "Baiklah! Kau pikirkan saja dulu. Lalu kau putuskan!"


Red berlalu dari lorong gelap itu dan meninggalkan Ilena sendiri. Ilena memegangi dadanya yang terasa berdebar hebat.


"Tidak! Aku tidak boleh begini!" Ilena merapikan penampilannya kemudian ia kembali berjalan menuju kamarnya.


Tiba di kamarnya, Ilena terkejut karena teman-temannya sudah berada di dalam kamar.


"Baby! Dari mana saja kau?" tanya Sweety.


Ilena bingung harus menjawab apa.


"Baby, kenapa dengan bibirmu? Terlihat sedikit bengkak. Ouch, jangan-jangan Blue yang membuatnya bengkak ya?" goda Barbie.


"Ti-tidak ada apa-apa. Aku hanya..." Ilena tak bisa menjawab. Ia memilih mengambil baju ganti dan membersihkan diri terlebih dahulu. Ia tak ingin teman-temannya terlalu banyak bertanya padanya.


Sepeninggal Ilena, Blondy berdecih. "Lihatlah dia! Terlihat polos diluar tapi ternyata dia lebih liar dari kita!"


Sweety merasa malas mendengar ocehan kakaknya. Ia memilih untuk mengistirahatkan tubuh lelahnya. Sebenarnya ia juga agak sedikit curiga dengan Ilena yang terlihat polos tapi ternyata pandai bermain api juga.


Di sisi lain, Red memandangi dirinya di depan cermin. Ia merutuki dirinya sendiri saat mengingat ciuman panasnya tadi bersama Ilena.


"Siapa dia? Kenapa aku begitu menginginkan dia? Tidak mungkin jika diriku terobsesi dengan gadis penghibur di klubku sendiri, bukan?"


Red mengusap wajahnya. Bayangan tatapan teduh Ilena kembali mengusik. Semua tentang gadis itu membuat Red mulai mabuk kepayang.


Tingkat kewarasan Red sudah tak bisa lagi dikontrol. Matanya menatap nyalang ke depan seolah ingin menghabisi semua orang yang menghalangi jalannya.


#bersambung...

__ADS_1


__ADS_2