Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
51. Penangkapan Black


__ADS_3

*Flashback*


"Kau?" Eryn terkejut menatap tamu yang baru saja datang ke rumah suaminya.


"Hai, Eryn. Apa kabar? Sudah lama tak bertemu."


Eryn menatap jengah orang yang ada didepannya. Santa ikut penasaran karena Eryn tak kunjung kembali.


"Siapa yang datang?" tanya Santa dengan mata membulat ketika melihat siapa yang ada diambang pintu.


"Santa, aku akan pergi sebentar. Kau jaga Rose di rumah," ucap Eryn.


"Ba-baik." Santa kembali masuk ke dalam rumah.


Eryn menatap tamunya dan berkata, "Kita bicara di luar saja."


Eryn membawa tamunya menuju ke sebuah kafe. Mereka duduk berhadapan.


"Dari mana kau tahu aku tinggal disini, Lolita?" tanya Eryn dengan bersedekap.


Ya, tamu yang datang ke rumahnya adalah Lolita, kawan lama Eryn.


"Aku ... hanya mengetahuinya saja."


"Jika kau sudah tahu, untuk apa kau datang?"


"Ada yang ingin kubicarakan denganmu. Aku baru tahu jika selama ini Eldric masih hidup. Selamat ya! Akhirnya kau bisa bersatu dengannya."


"Cukup basa basinya. Apa yang kau inginkan?" Eryn mulai jengah meladeni Lolita.


"Aku ingin membantumu dan juga Eldric."


Eryn memicingkan matanya. "Apa maksudmu dengan membantu?"


"Ini..." Lolita menyerahkan sebuah kotak pada Eryn.


Eryn menatap kotak itu tanpa mengambilnya.


"Aku tahu Eric sudah merebut semua aset milik suamimu. Dia melakukannya dengan cara licik, Eryn," terang Lolita.


"Lalu?"


"Itu adalah bukti-bukti kejahatan Eric selama ini."


Eryn tersenyum getir. "Kenapa kau harus membantuku? Kau adalah istri Eric."


"Aku tahu. Aku hanya ingin menebus kesalahanku padamu."


Eryn menghela napas. Ia tak tahu apakah ia harus percaya pada Lolita atau tidak.


...*...


...*...


...*...


Black dan timnya tiba di markas mereka. Luiz menyambut kedatangan mereka. Black sedikit terluka karena tergores timah panas ketika adu tembak dengan Eric.


"Kau tidak apa?" tanya Luiz. Ia segera mengambil kotak obat.


Bernard dan Caesar telah menyelesaikan tugas mereka. David dan Frans juga telah tiba sedari tadi.


"Apa kalian tidak merasa jika tugas ini terlalu mudah? Bahkan anak buah Eric tidak mengejar kita," celetuk Frans.


"Kita harus tetap waspada. Aku tahu apa yang ada di pikiran Eric," ucap Black.


"Jangan-jangan ini adalah jebakan, Black," ucap David.


"Jebakan atau bukan, aku sudah siap untuk menghadapinya," jawab Black.


"Sebaiknya kalian beristirahat saja. Terima kasih atas kerja keras kalian hari ini," tutup Black kemudian masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


Semua orang saling pandang. Mereka merasa ada yang aneh dengan Black. Tapi, mengingat mereka juga lelah, akhirnya mereka lebih memilih mengistirahatkan tubuh lelah mereka terlebih dahulu.


Di dalam kamar, Black menatap jauh ke depan. Terkadang ia tak habis pikir jika hubungannya dengan Eric akan jadi seperti ini. Hanya karena wanita.


Ya, harta, tahta dan wanita. Mungkin benar jika itu adalah seorang pria. Ketika dihadapkan dengan keinginan bergelimang harta, maka kekuasaan pun ingin dia dapatkan. Lalu ketika sudah berkuasa dan kaya, seorang pria harus mendapatkan wanita yang dia inginkan. Tak peduli jika harus menggunakan cara licik.


Black meraih ponselnya dan menghubungi Carlos.


"Halo, Carlos."


"Black? Bagaimana? Apa misi kalian berhasil?"


"Iya, tentu saja berhasil."


"Syukurlah. Jadi, kapan kau akan kembali?"


"Carlos, aku ingin meminta sesuatu padamu..."


"Apa itu? Aku akan melakukannya jika aku memang sanggup."


"Tolong jaga Eryn dan Rose..."


"Apa maksudmu?"


Black tidak menjawab dan menutup sambungan telepon.


...*...


...*...


...*...


Eric menggeram kesal karena lagi-lagi ia kalah dari Black. Dengan anak buah amatirannya Black berhasil memporak-porandakan kantor milik Eric. Ia tak terima akan hal itu.


"Ini adalah penyerangan! Aku harus memberi pelajaran padanya!" seringai Eric.


"Hubungi pengacaraku! Kita akan membuat perhitungan dengan Eldric," perintah Eric pada Santoz.


Santoz menganggukkan kepala. Beruntung tadi dia sedang tidak ada di kantor. Kini yang terbaring lemah di rumah sakit adalah Enrique.


"Kau istirahat dulu saja. Jangan khawatir! Aku akan membalas apa yang sudah ia lakukan padamu." Eric menepuk bahu Enrique kemudian keluar.


Ponsel Eric berdering. Sebuah panggilan masuk.


"Halo!" jawab Eric ketus.


"........"


"Apa katamu?!" Eric menaikkan suaranya.


"........."


"Baiklah. Terima kasih." Eric mematikan sambungan telepon.


"Dasar wanita j4lang! Berani sekali dia mengkhianatiku! Kita lihat apa yang bisa aku lakukan padamu!" Eric mengepalkan tangannya kemudian berjalan cepat keluar rumah sakit. Sementara Santoz sudah pergi sedari tadi karena harus menemui pengacara Eric.


Malam telah larut ketika Eric pulang ke rumahnya. Langkah kakinya yang lebar menuntunnya hingga ke kamar tidur miliknya dan Lolita. Terlihat istrinya itu sudah terlelap.


Eric menatap Lolita yang tengah tertidur di tempat tidurnya. Eric naik ke atas ranjang dan membuat Lolita terbangun.


"Hah?! Kau sudah pulang?" Lolita terkejut karena Eric langsung menindihnya. Ia pikir Eric tidak akan pulang seperti malam-malam sebelumnya.


"Kau pikir kau siapa, hah? Berani sekali kau melakukan ini padaku?"


"Eric, apa maksudmu?" Wajah Lolita sudah ketakutan karena mata Eric yang memerah. Ia tahu jika Eric sedang dikuasai oleh amarah.


"Kau pikir kau bisa lepas dariku setelah mengkhianatiku?" Eric mencekik leher Lolita hingga napas wanita itu tercekat.


"Aak! E...ric... Le...pas...kan!" pinta Lolita dengan air mata yang mengalir. Ia pikir sekaranglah akhir hidupnya di tangan Eric.


"Aku akan membunuhmu, dasar jal4ng!"

__ADS_1


Lolita memegangi tangan Eric yang melingkar erat di lehernya. Ia masih tetap memohon untuk dilepaskan.


Hingga akhirnya, dering ponsel membuat Eric terhenti. Ia pun melepaskan Lolita. Wanita itu duduk dan mengatur napasnya. Ia terbatuk dengan memegangi lehernya yang berbekas merah.


Eric menjawab panggilan di ponselnya dan segera keluar dari kamar. Langkahnya kembali tergesa dan segera menaiki mobilnya menuju ke suatu tempat.


Eric menghubungi beberapa anak buahnya untuk segera menuju tempat yang sudah ia tentukan. Berkali-kali ia memukul kemudi karena emosinya sudah mencapai puncak.


Tiba di sebuah rumah bergaya minimalis, Eric menggedor pintu rumah itu. Seorang pria berkacamata membukakan pintu untuk Eric.


"Tu-tuan Eric?" Pria itu amat terkejut dengan kedatangan Eric pada dini hari.


Beberapa orang masuk melewati pria itu dan menuju kamar.


"Apa yang kalian lakukan? Tuan, ada apa ini?"


Suara teriakan seorang wanita membuat pria itu menghampiri sumber suara. Namun belum sempat melangkah, wanita itu di seret keluar oleh pria berbadan besar atas perintah Eric.


"Kau tahu apa hukuman untuk seorang pengkhianat, Santoz?" tanya Eric lalu mengambil pistol dari dalam jasnya.


Ya, rumah yang didatangi Eric adalah rumah Santoz.


"Tidak, Tuan. Ampuni aku!" Santoz memohon.


"Bukan kau yang harus mati, Santoz. Tapi dia!" Eric mengarahkan pistolnya kearah wanita yang sedang hamil besar itu.


"Jangan, Tuan! Kau bisa menghukumku tapi jangan hukum istriku!" pinta Santoz.


Eric menggeleng. "Kau harus merasakan kehilangan sesuatu yang berharga baru kau bisa memahaminya, Santoz."


"Jangan, Tuan!" teriak Santoz.


Terlambat. Eric sudah menembak istri Santoz. Wanita yang tengah hamil itu beringsut ke lantai dengan bersimbah darah.


Santoz berlari kearahnya dan memeluk tubuh istrinya.


"Tidak! Kumohon bertahanlah!"


Eric tersenyum puas menatap Santoz meratapi kepergian istrinya.


Di tempat berbeda, Black terbangun dari tidurnya. Napasnya memburu. Ia mengusap wajahnya kasar. Perasaan dalam hatinya merasa sesak.


Akhirnya ia memilih untuk bangun dan berolahraga sejenak. Masih pukul empat pagi dan dia sudah menuju ke klub malam miliknya. Masih ada beberapa orang pengunjung klub yang masih setia menunggu pagi.


Hingga pagi telah benar-benar menyapa. Black memutuskan untuk tetap di klub sambil menyiapkan sarapan pagi disana.


Pukul tujuh pagi, Luiz menghampiri Black dan duduk bersama dengannya.


"Makanlah! Aku membuat pancake," ucap Black.


"Wow! Apa kau tidak bisa tidur hingga sepagi ini kau sudah disini?"


"Yeah, begitulah."


"Kau pasti merindukan istrimu."


Bayangan wajah Eryn melintas dalam benaknya bersamaan dengan datangnya beberapa petugas polisi yang masuk ke dalam klub.


"Selamat pagi! Maaf sudah mengganggu waktu tuan-tuan sekalian."


"Ada apa ini, Petugas?" tanya Luiz yang merasa tak memiliki masalah dengan polisi atau pihak berwenang manapun.


"Kami datang dengan surat perintah penangkapan atas nama Tuan Eldric Albana."


"Itu aku!" jawab Black.


"Mari ikut kami! Anda dituduh bersalah atas kasus penyerangan yang terjadi di Evans Grup. Anda bisa menghubungi pengacara ketika tiba di kantor."


Black menatap petugas polisi itu.


"Baiklah, aku akan ikut dengan kalian."

__ADS_1


Black dibawa pergi oleh beberapa petugas polisi bersamaan dengan datangnya anggota tim Amigo Black yang hanya menatap dengan penuh tanya.


#tobecontinued


__ADS_2