
Beberapa bulan kemudian,
Seorang gadis cantik nampak menuruni anak tangga dan menyapa dua orang anggota keluarganya. Gadis itu berdendang ria sambil menenteng tas slempangnya.
Dua orang yang menunggunya untuk sarapan bersama rasanya sudah tak sabar menunggu kedatangan si gadis.
"Pagi, Kak. Pagi, Mom." sapa gadis itu dengan mencium pipi ibunya.
"Hei, kau curang! Kenapa pipi kakak tidak kau cium juga?" protes sang kakak.
"No! Nanti kekasihmu marah. Aku tahu kekasih kakak itu sangat posesif." balas si gadis.
"Sudah sudah! Jangan bertengkar! Makan sarapanmu, Lena. Setelah itu kau harus berangkat ke kampus kan?"
Gadis bernama Lena itu menepuk jidatnya. "Untung Mom mengingatkan aku! Laporanku ketinggalan di kamar. Aku ambil dulu ya!" Lena langsung berlari dan meninggalkan sarapannya.
"Astaga! Gadis itu! Kapan dia tidak ceroboh?" Ibunya menggeleng pelan.
"Dia akan beranjak dewasa seiring berjalannya waktu, Mom." timpal sang kakak.
"Kau benar, Drew. Sudah beberapa bulan berlalu. Semoga saja ini adalah awal yang baik untuknya."
Tak lama Lena kembali duduk di meja makan. Ia menyantap masakan sang ibu dengan lahap.
Lena berangkat ke kampus diantar oleh sang kakak. Ia berpamitan dan segera keluar menemui teman-teman kampusnya.
"Hai, semua!" sapa Lena.
"Lena, cepat kemari!" seru seorang temannya bernama Myra.
"Ada apa?" tanya Lena penasaran.
"Apa kau sudah dengar, jika ada dosen baru di kampus kita!" seru Mona.
Dua orang sahabat Lena ini memang tidak pernah melewatkan gosip-gosip hangat yang sedang hits di kampus mereka.
"Dosen baru? Aku baru dengar setelah kalian cerita. Lagipula, itu tidak penting! Semua dosen kan sama saja," timpal Lena.
"Ish, ini berbeda, Lena! Dosen baru kita adalah pria muda dan tampan. Kudengar dia dikenal sebagai dosen killer!" sahut Myra.
"Uuuh, rasanya tidak sabar menantinya datang! Aku bahkan rela mati di tangannya." ucap Mona.
"Dia bukan pembunuh, Mon. Dosen killer artinya dia sangat tegas dan menakutkan!" jelas Myra.
"Terserah kalian saja! Aku mau masuk ke kelas!" jawab Lena dan berjalan menuju ke kelasnya.
Di lain tempat, seorang gadis cantik sedang menunggu kedatangan kekasihnya di depan lobi apartemennya. Gadis itu sudah mengerucutkan bibirnya karena terlalu lama menunggu sang kekasih datang.
Hingga akhirnya sebuah mobil berhenti di depan si gadis dan seorang pria muncul dari dalam mobil.
"Hai, sayang. Kau sudah menunggu lama?" sapa pria itu dengan mengecup bibir merah kekasihnya sekilas.
"Kau ini! Apa kau baru saja mengantar Ilena ke kampus?" tanya si gadis yang adalah Selena.
"Iya, aku mengantarnya dulu. Ayo masuk!"
Mobilpun kembali melaju. Si gadis bergelayut manja di lengan sang kekasih.
"Aku cemburu kau selalu bersama Ilena!"
Pria yang adalah Andrew White tertawa renyah mendengar penuturan Selena.
"Kau ini! Kau tidak perlu cemburu pada Ilena. Dia bahkan tidak mengingatmu. Kau jangan bersikap kejam padanya." nasihat White.
"Bagaimana kondisinya setelah kau dan ibumu menciptakan dunia baru untuk Ilena?" tanya Selena.
"Dia baik-baik saja. Bahkan lebih baik dari sebelumnya."
"Dia masih tidak mengingat apapun?"
White mengangguk. "Iya! Dan aku lebih nyaman dengan kondisinya yang begini."
"Jadi, kau tidak berniat untuk menyembuhkannya?" tanya Selena kaget.
"Sayang, kau jangan kaget begitu. Jika begini lebih baik untuk Ilena, untuk apa harus mengingat masa lalu yang menyakitkan?"
__ADS_1
Selena diam. Apa yang dikatakan White ada benarnya juga.
"Bagaimana persiapan pernikahan kita?" tanya White mengalihkan pembicaraan.
"Ehm, sudah hampir selesai. Aku tidak menyangka jika aku akan menikah denganmu!" Selena memeluk White.
"Jangan menggodaku! Aku sedang menyetir!"
"Ish, kau ini selalu saja bilang aku menggoda! Padahal aku tidak melakukan apapun..." ucap Selena dengan mengusap paha White dengan gerakan sensual.
"Sayang, aku harus ke rumah sakit. Pasienku sudah menunggu!"
Selena sangat suka mengerjai kekasihnya. Ia menundukkan tubuhnya dan membuka perlahan resleting celana milik White.
"No, honey! Aku sedang menyetir!" tolak White.
"Ouch! Lihatlah dia! Dia sudah mulai menegang! Sepertinya dia ... akan meledak!"
"Jangan Selena!" tolak White. Namun semua penolakan itu tak di gubris oleh Selena.
White mengerjapkan mata ketika bibir Selena sudah memainkan senjatanya dengan lembut. Tangannya mencengkeram kemudi dengan erat. Ia mulai berkeringat dingin.
"Sial! Kenapa Selena selalu bisa membuatku kalang kabut? Dia ... pandai memainkan ritmenya." gumam White dalam hati.
White mengerang setelah Selena menuntaskan aksinya. Gadis itu tersenyum penuh kemenangan. Ia tidak akan pernah melepaskan White barang sedetikpun.
White menepikan mobilnya dan melepas seatbeltnya. Ia berpindah posisi ke jok belakang mobil dan menarik Selena kesana.
"It's my turn, Baby..." ucap White yang tak sabar memakan Selena.
White merebahkan tubuh Selena dan menyingkap dress milik kekasihnya. Di lucutinya pengaman bagian bawah milik Selena dan White membenamkan\=\= wajahnya disana.
"Andrew!" pekik Selena yang merasakan denyut merdu di area intinya.
Dadanya membusung mengeluarkan l@har pan@s dalam dirinya. Dan setelahnya giliran Andrew memainkan perannya lebih jauh.
Pagi itu benar-benar hangat untuk kedua insan yang tak pernah bosan menuju nirwana.
#
#
#
Suara riuh para mahasiswi mulai memenuhi ruang kelas ketika seorang pria muda memasuki ruangan itu. Pria itu memindai satu persatu mahasiswa yang ada di kelasnya.
Pria muda itu menarik sudut bibirnya melihat seorang gadis yang tidak histeris dan hanya menatap buku-bukunya.
"Selamat pagi semuanya!" sapa pria muda itu.
Sontak Lena mendongak karena mendengar suara yang berbeda dari biasanya.
"Perkenalkan, saya adalah dosen baru disini. Saya menggantikan Sir Arlen untuk mengajar mata kuliah Poetry. Nama saya Noah Albana. Usia saya 29 tahun. Demikian perkenalan dari saya. Mari kita langsung memulai pelajaran kita hari ini." ucap Noah.
Seorang gadis masih menatap Noah dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Dia ... kenapa rasanya tidak asing?" batin Lena.
Ya, gadis yang sedang menatap Noah adalah Lena. Ia merasakan sebuah dejavu ketika menatap sosok Noah.
"Sir, apakah Anda single?" tanya Myra tanpa malu yang mendapat sorak sorai dari teman-teman sekelasnya.
"Maaf, saya tidak menjawab pertanyaan yang bersifat pribadi. Terima kasih." tegas Noah.
Sontak ruang kelas menjadi sunyi karena aura yang ditampilkan Noah kini sungguh berbeda. Julukan sebagai dosen killer sepertinya memang cocok untuknya.
Lena memalingkan wajahnya. "Sombong sekali dia!" gumam gadis itu.
Dua jam pelajaran akhirnya usai juga. Lena beserta kedua temannya berencana untuk pergi ke kantin. Namun ternyata, Lena lebih memilih pergi ke perpustakaan untuk mencari buku referensi tugas yang diberikan oleh si dosen baru.
"Astaga, Lena! Tugasnya kan untuk minggu depan. Kenapa kau harus mengerjakannya sekarang?" tanya Mona.
"Mona sayang, aku tidak suka jika harus menunda pekerjaan. Lagipula aku masih agak kenyang. Kalian ke kantin dulu saja. Nanti aku menyusul."
Tanpa berlama-lama lagi, Lena segera melenggang pergi meninggalkan kedua sahabatnya yang masih tertegun.
__ADS_1
Lena memasuki ruang perpustakaan dan mencari buku-buku sastra. Ia mengambil jurusan sastra. Entah kenapa ia suka menulis dan menyukai hal-hal berbau karya sastra.
Lena mengambil satu buku lalu membawanya ke meja yang kosong. Ia duduk disana dan mulai membuka lembar demi lembar isi buku itu.
"Kenapa kau memilih buku itu?"
Sebuah suara yang tidak asing membuat Lena terkejut.
"Sir Noah?" gumamnya.
Lena segera menundukkan wajahnya. Rasanya ia tak sanggup untuk menatap tatapan tajam dari seorang Noah Albana.
"Saya memintamu membaca karya sastra berbobot. Bukan karya romansa seperti itu!" tegas Noah.
Lena menggeram kesal. Ia beranjak dari duduknya dan meninggalkan Noah.
Noah hanya mengulas senyumnya.
"Lama tidak bertemu, Ilena Adams. Mungkin lebih tepatnya kau kini adalah Ilena Matthews." gumam Noah.
#
#
#
Jam perkuliahan telah usai. Lena dan kawan-kawannya menuju ke parkiran mobil. Lena celingukan mencari keberadaan kakaknya yang biasanya datang. Atau jika kakaknya lupa, seorang supir akan menjemput Lena.
"Lena, kau ikut saja dengan kami! Kami akan pergi berbelanja!"
Lena memutar bola matanya malas. "Maaf, tapi sepertinya aku tidak ikut dengan kalian. Mungkin lain kali. Oke?"
Mona dan Myra sedikit kecewa. Tapi mereka berdua mencoba memahami jika Lena memang kurang menyukai tempat ramai.
"Baiklah. Jadi kau akan langsung pulang?" tanya Myra.
Lena mengangguk. Ia melambaikan tangan pada kedua temannya yang kian menjauh. Myra dan Mona memakai mobil Myra. Gadis itu berasal dari kalangan yang cukup terpandang di kota ini. Sehingga membuatnya tumbuh menjadi gadis manja. Tapi di balik sikap manjanya, ia adalah teman yang baik dan solid.
Lena menunggu bus di halte. Sepertinya kakaknya itu sedang sibuk dengan pekerjaannya. Lena melirik jam tangannya.
"Sudah jam segini, kenapa busnya tidak lewat juga?"
Lena celingukan mencari bus yang harusnya sudah tiba sejak tadi.
Sebuah mobil melintas dan berhenti tepat di depan Lena.
"Kau mau pulang?" Seorang pria membuka kaca mobilnya dan berseru kearah Lena.
Lena berpura-pura tak mendengar. Ia terus menanti kedatangan bus namun masih juga tak muncul.
"Busnya tidak akan muncul. Apa kau tidak lihat berita? Supir bus sedang melakukan demo ke kantor gubernur." jelas pria yang tak lain dosen baru Lena, Sir Noah.
Lena membulatkan matanya. "Benarkah begitu? Jika benar maka..."
"Naiklah! Saya akan mengantarmu pulang ke rumah!" ucap Noah.
Lena masih bersikap cuek. Pria di depannya adalah dosen baru di kampusnya. Dan mereka tak sedekat itu untuk pulang bersama. Ditambah lagi jika ada teman yang melihatnya, akan terjadi kehebohan pastinya di kampus.
"Tidak, Sir. Terima kasih." ucap Lena sopan.
"Oke! Baiklah! Tapi jangan salahkan saya jika kau tidak menemukan bus dimanapun."
Lena membuka ponselnya. Ia mencari berita yang dikatakan oleh Noah tadi. Dan ternyata memang benar. Lena menelan ludahnya. Ia sudah menolak tawaran Noah dan kini ia harus menelan kekecewaan.
Mobil Noah mulai melaju pelan. Lena menggigit bibir bawahnya. Ia bimbang.
"Tunggu! Saya ikut denganmu, Sir." putus Lena.
Noah tersenyum simpul penuh kemenangan. Perjuangannya masih panjang. Namun semua itu ia jalani dengan sebuah ketulusan hati. Ia berharap Ilena bisa mengingatnya kembali secara perlahan.
#
#
#
__ADS_1
*Wah, jadi semakin bersemangat nih! Mungkin kisah mereka kita lanjut saja ya genks?
Next? 🔜🔜🔜🔜