
Ilena mengikuti langkah Red menuju ke kamar pribadinya. Ilena agak sedikit bingung karena untuk pertama kalinya Red bersikap begitu hangat padanya dan malah membawanya ke tempat pribadinya.
Kamar itu cukup luas menurut Ilena. Kamar dengan nuansa ungu yang menurutnya sangat aneh. Apa ada pria yang juga menyukai warna ungu seperti dirinya?
Ilena sempat berpikir apakah Selena juga pernah datang kemari? Secara Selena adalah tunangan Red.
"Tidak ada satu gadis pun yang pernah datang kemari. Hanya kau saja," ucap Red yang membuat Ilena tertegun.
"Itu kan yang kau pikirkan?" tanya Red dengan menarik tangan Ilena lembut dan membawanya duduk di sofa.
Red sendiri juga bingung kenapa dia malah memilih kamar yang tidak pernah tersentuh oleh siapapun itu untuk melancarkan aksinya. Padahal rencananya kamar itu sengaja ia siapkan untuk menjadi saksi cinta antara dirinya dan Selena setelah mereka menikah nanti. Tapi nyatanya hati Red menuntun Ilena yang datang kesana.
"Aku suka interior dan warnanya. Apa kau menyukai warna ungu?" tanya Ilena.
"Secara teknis tidak. Tapi ada seseorang yang membuatnya aku menginginkan warna ungu."
Ilena tercengang. "Apa maksudnya berkata begitu? Apa dia tahu jika aku menyukai warna ungu?" batin Ilena.
"Kau haus kan? Aku akan ambilkan minum dulu."
Red beranjak dari duduknya. Ilena mengangguk. Ilena merasa sangat canggung saat ini. Banyak sekali pertanyaan yang ingin dia tanyakan kepada Red. Ilena tak ingin menyimpulkan jika Red menyukainya. Namun dari semua tingkah dan perubahan sikap Red membuatnya berasumsi begitu. Ataukah ini hanya perasaan Ilena saja? Apa dia terlalu percaya diri menyimpulkan seperti itu?
"Ini minumlah!" Red menyodorkan segelas jus jeruk untuk Ilena.
"Terima kasih." Ilena mengulas senyumnya lalu meminum jus jeruk tersebut.
"Bagaimana hubunganmu dengan Blue?"
Ilena tersedak. Ia terbatuk kecil dan Red menepuk punggung Ilena pelan.
"Maaf! Apa pertanyaanku terlampau aneh?" tanya Red dengan mengusap tengkuk Ilena.
"Ti-tidak! Aku hanya kaget saja. Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?" Ilena mengelap bekas mulutnya.
"Aku lihat kau begitu dekat dengan adikku. Aku cemburu melihatmu dengannya."
"Eh? A-apa?!" Ilena menatap Red namun sedetik kemudian ia menunduk.
__ADS_1
"Blue memang sangat baik padaku. Dia selalu menolongku. Tapi..." ucapan Ilena terhenti.
"Tapi kau menyukaiku. Begitukah?" sahut Red.
Ilena kembali mendongak dan menatap Red.
"Katakan saja!" tegas Red.
Ilena bimbang. Hatinya memang memanggil Red. Namun hubungan Red dengan Selena juga bukan hal sembarangan. Mereka sudah bertunangan.
"Kau sudah bertunangan, Red! Aku tahu siapa diriku!" ucap Ilena menatap ke depan.
Red mulai memainkan perasaan Ilena. "Kami belum menikah, Baby! Semuanya masih bisa terjadi. Benar kan?"
Ilena terdiam. Entah kenapa ia merasakan hal aneh mulai menyerang tubuhnya. Ia mengibas tangannya di depan wajah.
"Kenapa ruangan ini jadi terasa panas ya? Ada apa denganku?" batin Ilena.
"Kau kenapa, Baby?" tanya Red menyeringai.
"Ti-tidak apa. Aku hanya..." Ilena mulai merasakan reaksi aneh di tubuhnya.
"Red, apa yang terjadi denganku?" tanya Ilena terbata.
Red tersenyum manis penuh arti.
"Apa kau merasa kepanasan?" tanyanya.
Ilena mengangguk. Ia benar-benar tidak nyaman dengan yang ia rasakan saat ini.
"Red, a-aku akan ke kamar mandi dulu. Dimana kamar mandinya?" tanya Ilena.
"Disebelah sana!" tunjuk Red.
Ilena berjalan sempoyongan menuju ke kamar mandi. Sementara Red tersenyum puas karena obatnya sudah mulai bekerja. Dan kali ini rencana Red harus berhasil.
"Gadis sepertimu tak pantas menjadi bagian keluarga Albana. Akan kupastikan Blue mencampakkanmu dan membencimu. Ibumu sudah merenggut nyawa ibuku! Maka aku akan merenggut semuanya darimu!" batin Red menggebu-gebu.
__ADS_1
Red menghampiri Ilena yang ada di kamar mandi. Ia mengetuk pintu berkali-kali. Ia meminta Ilena keluar karena ia akan membantunya.
Ilena membuka pintu dengan wajah yang menahan sesuatu.
"Red! Tolong aku! Apa yang terjadi denganku?"
"A-apa maksudmu? Minta tolong apa?" tanya Red pura-pura tak mengerti.
Ilena memegang dada bidang Red.
"Sentuh aku, Red. Tubuhku menginginkan sebuah sentuhan, Red!" pinta Ilena dengan wajah memerah.
"Kau jangan gila! Aku tidak mungkin melakukannya!" elak Red.
"Lakukanlah! Aku bersedia melakukan apapun, Red. Rasanya sakit, Red!" Ilena memegangi lengan Red.
Red berpura bingung. "Kau adalah kekasih Blue, adikku. Bagaimana bisa kau mengatakan ini padaku?" Akting Red benar-benar bagus.
"Terserah saja lah!" Ilena yang tidak bisa lagi menahan gejolak dalam dirinya segera menarik tubuh Red mendekat dan mencium bibir Red dengan rakus.
Ilena sangat bergairah malam ini. Red tersenyum seringai di tengah ciuman mereka.
"Kau sudah masuk perangkap, Ilena!" batin Red merasakan kemenangan.
Mereka terus berciuman hingga hingga tubuh mereka jatuh diatas tempat tidur. Red sudah menyiapkan semuanya.
"Tidak, Baby. Blue akan marah padaku jika kita..."
Ilena menarik tubuh Red dan kembali berciuman. Suara desaahan Ilena semakin merdu memenuhi ruangan itu.
Red berpura menarik diri. Namun lagi-lagi Ilena menariknya.
"Jangan pergi, Red! Kumohon sentuh aku!" pinta Ilena dengan mata berkabut.
"Aku akan bilang apa pada Blue jika kita..." Red terus memancing Ilena.
"Aku tidak mencintai Blue! Aku mencintaimu, Red!" seru Ilena.
__ADS_1
Mata Red membulat sempurna.
"Wow! Gadis ini memang diluar ekspektasiku! Bagus sekali! Dengan begini kau akan hancur berkeping, Ilena Adams!" batin Red dengan seringai kemenangan.