
Dharma mengajak Ilena berkeliling ke pasar tradisional di dekat rumahnya. Ilena berbinar senang melakukan hal yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.
Mereka mendatangi sebuah toko barang-barang antik. Ilena menyukai sesuatu yang klasik. Matanya tertuju pada sebuah buku harian yang terbuat dari serat serat kayu.
"Wah, aku mau ini!" seru Ilena.
"Kau suka menulis, Nona?" tanya Dharma.
Ilena mengangguk.
"Aku tidak memiliki teman untuk berbagi, makanya aku menuliskan kisahku di buku harian. Terlalu kuno ya?"
Dharma tertawa kecil.
"Tidak. Itu adalah hal yang bagus. Sama sepertiku yang menuangkan isi hatimu diatas sebuah canvas."
Ilena manggut-manggut.
"Oh ya, berapa usiamu?" tanya Ilena.
"28 tahun."
Mata Ilena membola. Usia yang sama dengan Red. Entah kenapa tiba-tiba Ilena ingat dengan pria itu. Pria yang sudah menorehkan luka yang dalam di hatinya.
"Nona! Kau baik-baik saja?"
"Ha? Iya, aku baik baik saja."
"Kau jadi beli buku hariannya?"
"Hmm, iya."
Ilena membawa buku harian itu ke meja kasir dan membayarnya.
Usai lelah berjalan, Ilena meminta Dharma untuk berhenti di sebuah kedai dan membeli sebuah kelapa muda yang akan menyegarkan tenggorokan mereka.
"Kulihat kau juga bukan asli orang sini," ucap Ilena sambil menyeruput es kelapa di depannya.
"Bukan! Aku juga pendatang sama sepertimu," jawab Dharma.
"Sudah berapa lama tinggal disini? Dan bagaimana kau mengenal bibi Lidia?"
Dharma terkekeh.
"Kau seperti wartawan saja, Nona."
"Maaf..." ringis Ilena.
"Baiklah, aku tidak akan banyak bertanya lagi." Ilena kembali menyeruput es kelapa muda yang sangat menyegarkan dahaganya.
"Maafkan aku, Ilena. Aku tidak bisa mengatakan apapun padamu. Jika aku jujur, kau pasti akan membenciku. Tidak mungkin juga aku katakan jika aku adalah kawan lama White dan Red. Kami sama-sama berkecimpung di dunia hitam." batin Dharma dengan menatap Ilena.
#
#
#
Di sisi lain, Lidia terbang jauh ke kota Rio hanya untuk mendapatkan jawaban pasti mengenai kecurigaannya. Begitu mendengar nama White, hatinya langsung tergetar dan mengingat masa lalu yang selama ini ia sembunyikan.
Bertahun-tahun mencoba menutupi semuanya, namun tetap tak bisa. Ada hubungan darah yang tak bisa ia abaikan.
"Kau yakin dengan informasi ini?" tanya Lidia.
"Iya, Nyonya. Andrew White adalah putra Nyonya yang Nyonya tinggalkan 28 tahun yang lalu."
Tubuh Lidia luruh ke tanah. Orang kepercayaannya ini tak mungkin berbohong. Ia memegangi dadanya yang terasa sesak.
Lidia menguatkan dirinya. Ia harus bertemu dengan White. Ia ingin bertemu dengan putranya.
Lidia menuju ke rumah sakit tempat White bekerja. Meski sudah kembali ke perusahaan keluarganya, White tidak bisa meninggalkan profesinya sebagai seorang dokter. Pengabdian yang tulus dari hatinya adalah menjadi penolong untuk orang lain.
__ADS_1
"Dokter, ada yang ingin bertemu dengan Anda?" Asisten White memberitahunya.
"Siapa?" tanya White.
"Seorang wanita bernama Lidia."
DEG
White terdiam sejenak. Ia tahu siapa wanita ini. Karena tak ada janji temu lagi dengan pasien, White segera menemui Lidia.
Lidia menunggu dengan harap harap cemas. Selama ini ia juga tak pernah melihat seperti apa sosok Andrew yang selalu bertukar informasi dengannya tentang Ilena. Ia tak menyangka jika takdir akan mempermainkannya seperti ini.
"Untuk apa Anda datang kemari?" Suara dingin itu membuat hati Lidia tercubit.
"Andrew..." lirih Lidia.
"Kau meninggalkan Ilena?" tanya White.
"Ada Dharma yang menjaganya."
"Mau apa Anda datang kemari?" Kalimat White masih dingin.
"Dengar dulu penjelasanku, Nak!"
White memejamkan mata. Saat ia mencari tahu soal keluarga Ilena, akhirnya ia juga menemukan keluarganya sendiri yaitu ibu kandungnya yang di kiranya sudah meninggal. Menurut kakeknya ibunya meninggalkan ia saat bayi dan menyerahkannya pada keluarga White untuk bisa mereka asuh.
"Kau menjualku! Kau dan kakakmu sama saja! Kau hanya memikirkan tentang dirimu sendiri saja! Aku dan Ilena menderita karena perbuatan kalian!" sarkas White.
Lidia menggeleng pelan.
"Tidak, Nak. Tidak begitu. Aku..."
"Cukup! Jangan pernah temui aku lagi! Aku cukup tahu jika Ilena adalah saudariku. Makanya aku bisa merasakan ikatan batin yang kuat dengannya. Sekarang kau cukup urus Ilena! Seumur hidupnya ia selalu menderita. Kau tebus kesalahanmu padanya dan tidak perlu padaku!"
White berbalik badan dan segera pergi.
"Tunggu!" Lidia menahan tangan White.
"Maafkan ibu, Nak..." lirih Lidia diiringi isakan tangis.
"Aku sudah memaafkanmu. Jadi, jangan datang lagi ke hadapanku!"
White menepis tangan Lidia dan membuat wanita itu bersimpuh di lantai. Tangisan sang ibu tidak membuatnya luluh. White melanjutkan langkah kakinya.
#
#
#
Satu minggu telah berlalu sejak Lidia pergi mengurus bisnisnya. Begitulah yang Ilena tahu dari jawaban yang diberikan oleh Dharma.
Selama itu juga Ilena tinggal bersama dengan Dharma dan harus berpura pura menjadi istri Dharma. Di negara ini kita tidak bisa bebas tinggal bersama bila belum memiliki dokumen pernikahan yang sah.
Dan Ilena sendiri juga bingung karena ternyata ia dan Dharma memiliki surat nikah yang menandakan mereka telah menikah.
Entah apa yang terjadi namun Ilena tak bertanya lebih lanjut pada Dharma. Ia pikir semua akan berakhir ketika Lidia kembali nanti.
Sebenarnya Ilena tak keberatan dengan pernikahan palsu ini, namun yang membuatnya risih adalah tatapan dari para gadis pesaingnya yang seakan membenci dirinya.
Ternyata Dharma cukup populer di komplek rumahnya. Ya tentu saja siapa yang tidak tertarik dengannya. Ia baik, hangat dan sopan. Ia juga suka membantu orang-orang di sekelilingnya.
"Huft! Entah sampai kapan aku bisa bertahan dengan tatapan sengit mereka. Aku memang sudah terbiasa dibenci, tapi bukan karena hal seperti ini juga!" Ilena cemberut saat bercerita pada Dharma.
Pria itu tersenyum.
"Nona, abaikan saja mereka. Jangan dipikirkan!"
"Kau juga aneh. Katanya kita ini suami istri, tapi kau memanggilku nona."
Dharma menggeleng pelan.
__ADS_1
"Itu karena aku sangat menghormatimu, Nona Lena."
"Maksudnya kau menghormati istrimu?" tanya Ilena tak paham.
"Iya."
Sejenak mata mereka saling beradu. Tatapan mata hangat Dharma yang begitu menyejukkan. Ilena seakan terhipnotis. Ia buru buru menundukkan wajahnya.
"Ada temanku yang akan datang berkunjung," ucap Dharma yang membuat Ilena kembali mendongak.
"Siapa?"
"Teman lamaku. Dia bilang dia ingin mengunjungi Indonesia."
Ilena manggut manggut tanda mengerti.
"Aku harus masak apa untuk menyambutnya?" tanya Ilena.
"Hmm, masak seadanya saja. Jangan terlalu memaksakan dirimu!" Dharma mengacak rambut Ilena pelan.
"Oh ya, apa kau memiliki impian, Nona?" lanjut Dharma.
"Hmm?"
"Mungkin saja ada hal yang ingin kau capai dalam hidupmu. Kau masih muda dan pastinya masa depanmu masih panjang."
Ilena terdiam.
"Katakan saja, Nona!"
"Aku ... aku ingin melanjutkan sekolahku," ucap Ilena tertunduk.
Dharma tersenyum
"Kalau begitu ayo lanjutkan!"
"Heh?!"
"Iya! Kau harus lanjutkan pendidikanmu! Nyonya Lidia bilang kau boleh melakukan apapun yang kau inginkan."
Ilena menutup mulutnya tidak percaya.
"Kau serius?"
Dharma mengangguk. "Iya!"
Ilena berteriak girang. Refleks dirinya memeluk tubuh Dharma sambil meloncat senang.
Dharma tertegun mendapat pelukan dari Ilena. Menyadari akan terjadi kecanggungan, Ilena segera melepas pelukannya.
"Ma-maaf... Aku hanya terlalu senang." Ilena menarik tubuhnya menjauh dari Dharma namun pria itu malah menarik tubuh Ilena mendekat.
"Dharma..." Ilena kaget karena kini posisi mereka begitu dekat.
"Mulai sekarang, berbagilah kebahagiaanmu denganku, Ilena Adams."
Ilena menelan ludahnya. Jantungnya berdebar kencang dengan tempo tak beraturan.
Satu tangan Dharma mengusap tengkuk Ilena dan membawanya mendekat. Tangan satunya menahan pinggang Ilena agar tidak menjauh.
Dharma menempelkan bibirnya di bibir Ilena. Gadis itu memejamkan mata ketika merasakan sesuatu yang sudah lama ia lupakan.
Dharma menciumnya dengan lembut karena ini adalah ciuman pertama mereka. Ilena melingkarkan tangannya ke leher Dharma dan tak lama ciuman mereka berubah menjadi lebih panas.
Seakan mendapat lampu hijau, tangan Dharma mulai menyusup masuk ke kaus milik Ilena. Usapan hangat tangan Dharma begitu membuat Ilena terbuai.
Namun tiba tiba kenangan buruk itu kembali hadir. Napas Ilena sesak. Ia segera mendorong tubuh Dharma menjauh.
"Tidak!" ucap Ilena dengan menggeleng pelan.
"Maaf, aku tidak bisa!"
__ADS_1
Ilena berlari pergi meninggalkan Dharma yang kini mematung. Dharma merutuki dirinya sendiri karena bertindak terlalu terburu buru.
#bersambung