Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
33. Amarah Black


__ADS_3

Mobil yang dikemudikan Carlos berhenti tepat di depan lobi hotel. Sebelum turun Eryn mengucapkan terima kasih pada pria itu.


"Terima kasih karena sudah menemaniku seharian ini," ucap Eryn.


"Iya, Nona. Turun dan beristirahat! Aku akan memarkirkan mobilnya."


"Baiklah. Sampai jumpa."


Eryn turun dari mobil dan memasuki hotel. Ia berjalan menuju lift untuk naik ke lantai tempatnya menginap. Ia menghubungi Black dan menanyakan keberadaan pria itu.


"Dia masih rapat bersama Luiz. Apa ada hal yang terjadi ya?" gumam Eryn setelah telepon berakhir.


Eryn keluar dari lift dan berjalan menuju kamarnya. Di perjalanan lagi-lagi Eryn melihat Enrique sedang mengendap-endapΒ  sambil menelepon.


"Sebenarnya apa yang dia lakukan? Kenapa dia tidak ikut rapat dengan El dan Luiz? Bukankah dia adalah orang kepercayaan El?" batin Eryn bertanya-tanya.


Namun karena cukup lelah, akhirnya Eryn memutuskan melanjutkan langkahnya ke kamar. Eryn membersihkan diri kemudian merebahkan diri sejenak sebelum menempuh perjalanan selanjutnya bersama Black.


...πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹...


Satu jam perjalanan telah berlalu dari Milan menuju pulau Sisilia di selatan Italia. Pulau ini dikenal sebagai pulau yang banyak melahirkan para mafia di masa lalu.


Di tempat ini bisnis Black sangat subur. Bahkan disini Black memiliki klub malam yang terbesar.


Tiba di sebuah hotel, Black dan Eryn beristirahat sejenak sebelum pergi ke meeting bisnis Black.


"Sayang, pakailah dress ini." Black memilihkan satu gaun malam untuk Eryn.


"Apa aku harus ikut? Memang kita mau kemana?" tanya Eryn cemberut.


"Tentu saja. Kita akan ke klub malam milikku. Disinilah semua kekuasaan aku dapatkan," jawab Black dengan mencoel hidung Eryn.


"Kau kenapa? Apa ada hal yang kau sembunyikan?" tanya Eryn dengan mengelus rahang kokoh Black.


"Kau jangan menggodaku, sayang. Kita bisa terlambat nanti." Black menarik pinggang Eryn mendekat.


"El, kau bilang nanti terlambat. Kalau begitu ayo kita bersiap." Eryn berusaha melepaskan diri dari dekapan Black tapi ternyata sia-sia saja.


"Masih ada waktu satu jam sebelum kita berangkat." Black mengerling dan langsung meraup bibir ranum kekasihnya.


"El..." Eryn mendorong tubuh Black.


"Jangan terus menggodaku."


"Aku tidak menggodamu!"


"Suaramu menggodaku, sayang..."


Black menuntun tubuh Eryn hingga jatuh diatas ranjang dengan masih saling bertukar rasa. Black melepas jasnya dan Eryn pun membantu Black membuka kancing kemeja yang melekat ditubuh pria itu.


Eryn menatap pria yang sudah bertelanjang dada itu. Ia membelai tubuh liat itu juga bekas luka yang tertera disana.


"Aku menginginkanmu." Suara Black mulai parau.

__ADS_1


"Apa pun untukmu, El..." Eryn menarik tengkuk Black dan mencium bibir pria itu. Mereka berada dalam gairah yang sama.



Hingga akhirnya Black berhasil melepas seluruh kain di tubuh Eryn dan mulai bergerilya ditubuh indah itu.


"El..." lirih Eryn ketika merasakan bibir Black menyentuh titik-titik sensitifnya.


Seperti biasa, pria itu tidak melewatkan satu inci pun tubuh Eryn yang menjadi candu baginya. Ketika mata mereka telah berkabut, Black melakukan penyatuannya.


Kali ini gerakan Black sedikit lebih kasar. Entah apa yang sedang dipikirkannya.


"El! Kau menyakitiku!" ucap Eryn yang merasa jika kekasihnya tak seperti biasa.


"Maafkan aku." Black menurunkan kecepatan dan kembali memulai dengan irama yang lembut.


Kegiatan menyenangkan itu membuat peluh membasahi tubuh kedua insan yang saling mendamba. Hingga akhirnya mereka berdua sama-sama terpuaskan dan terkulai lemas.


...πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹...


Malam mulai memasuki puncaknya. Gemuruh musik makin menggema di sebuah klub malam terbesar disana. Black masuk dengan menggandeng tangan Eryn diikuti oleh Carlos, Luiz dan Enrique.


Beberapa orang menyambut kedatangan Black. Mereka menuju ke sebuah tempat VIP yang akan dijadikan sebagai tempat meeting.


Merasa kurang cocok dengan suasana klub, Eryn meminta izin pada Black untuk berkeliling. Black mengizinkannya. Meski di tempat seperti ini, Black yakin tidak akan ada yang berani mengganggu wanitanya.


Eryn berjalan ke sisi klub yang agak sepi pengunjung. Ia memperhatikan banyak orang yang ada disana.


Bahkan selama rapat, ia terus memegangi ponselnya.


"Apa jangan-jangan orang yang menusuk El dari belakang adalah Enrique? Tapi bagaimana bisa? Apa sebaiknya kuberitahu saja pada El?" gumam Eryn.


Eryn terbelalak karena tiba-tiba ada dua pria yang duduk di sebelah kanan dan kirinya.


"Hai, Nona. Sepertinya kau hanya sendirian. Boleh kami temani?" tanya seorang pria yang duduk di sebelah kanan Eryn.


"Siapa kalian?" Tanya Eryn ketus.


"Wah, ternyata dia cukup galak juga," sahut pria yang duduk di sebelah kiri.


"Dengar, Nona. Wanita sepertimu jangan sok jual mahal pada kami. Berapa banyak uang yang Black berikan padamu, huh?!" Pria itu mencolek dagu Eryn.


"Benar. Kami bisa membayarmu lebih mahal dari pada pria itu."


"Pergi kalian!" usir Eryn.


Namun kedua pria itu malah tertawa.


"Aku tidak percaya jika Black kini membawa wanita bayaran kemanapun dia pergi. Bukankah selama ini dia anti terhadap wanita bayaran. Lalu lihat ini? Malah dia membawa wanita ras Asia."


"Kau benar, Kawan. Sepertinya Black memiliki selera yang bagus."


Dua pria itu kembali tertawa. Namun sialnya, saat sedang tertawa terbahak, salah satu pria menjerit karena mendapat satu tembakan di kakinya.

__ADS_1


Eryn terbelalak melihat Black menembak pria itu. Suasana mendadak riuh karena terdengar suara tembakan. Satu lagi tembakan meluncur untuk pria yang lainnya.


"Brengsek kalian! Berani sekali bermain-main denganku!" teriak Black.


"Kalian harus mati!" Black mengarahkan pistolnya dan bersiap menembak. Namun tiba-tiba Eryn berdiri dan berlari memeluk Black.


"Tidak, El! Jangan lakukan!" ucap Eryn sambil mendekap Black.


"Mereka pantas mati karena sudah menggoda dan merendahkanmu!"


"Tidak, El. Jangan bunuh mereka! Biarkan mereka pergi, El." Eryn makin mengeratkan pelukannya di tubuh Black. Sementara pria itu masih mengarahkan senjata kearah dua pria yang sedang kesakitan.


Mendapat sebuah pelukan membuat hati Black menghangat. Ia pun menurunkan senjatanya dan meminta dua pria itu pergi.


"Kalian cepat pergi dan jangan tampakkan lagi muka kalian disini!" seru Black.


Eryn mengurai pelukannya dan menatap Black. Pria itu memasukkan pistolnya dan balik menatap Eryn.


"Kau baik-baik saja?" tanya Black.


"Iya. Aku tidak apa-apa. Kumohon jangan membunuh lagi, El. Aku tidak bisa melihatmu membunuh. Kumohon!" pinta Eryn dengan berkaca-kaca.


"Oke! Sebaiknya kita kembali ke hotel." Black memeluk Eryn dan membawanya keluar dari klub.


Mereka menuju kembali ke hotel dan beristirahat.


"Maafkan aku karena sudah mengajakmu. Aku hanya ingin selalu melihatmu karena itu membuatku bersemangat," ucap Black dengan membelai lembut puncak kepala Eryn.


Mereka sudah berada di tempat tidur dan saling berpelukan.


"It's okay. Aku hanya terkejut mereka tiba-tiba datang. Kau tidak perlu sampai menembak mereka."


"Itu hanya sebuah pelajaran kecil dariku. Kau jangan cemas, hanya luka kecil."


Eryn makin mendekatkan tubuhnya menempel pada Black. Sudah sekian lama sejak mereka tidur bersama.


"Menikahlah denganku!"


"Heh?!"


"Aku serius! Mari kita menikah! Besok aku tidak ada pekerjaan penting. Kita akan menikah besok."


"El!"


"Jangan menolaknya!"


"Tentu saja tidak! Baik, aku akan menikah denganmu," balas Eryn dengan tersenyum.


"Tidurlah! Besok aku akan menyiapkan segalanya."


Eryn mengangguk. Niatnya ingin mengatakan soal Enrique akhirnya ia gagalkan. Rasanya tidak mungkin bicara di saat seperti ini. Pikirnya.


...B e r s a m b u n g...

__ADS_1


__ADS_2