
Eryn melangkah gontai kembali ke kantornya. Air matanya sudah mengering. Mulai saat ini, ia ingin menjadi kuat dan tidak lemah lagi di depan Black.
"Dia sudah gila! Dia tidak waras!" gumam Eryn berkali-kali.
Eryn masuk ke ruangannya dan duduk di sofa. Ia memegangi liontin kalungnya yang berbentuk bulat. Ia membuka liontin itu lalu mengambil sebuah cincin yang ia sembunyikan disana. Sengaja ia menaruh cincin itu didalam liontin yang memang di desain khusus olehnya.
Itu adalah cincin pemberian Eldric sebelum kecelakaan terjadi. Hatinya berbunga saat menerima cincin itu dari Eldric. Namun kini semua telah berubah dan hilang. Cincin bermata berlian itu kembali ia sembunyikan kedalam liontin ketika mendengar suara pintu ruangannya diketuk.
Lolita masuk dengan secangkir teh di tangannya.
"Kau baik-baik saja? Ini minumlah teh dulu supaya kau lebih tenang." Lolita melihat gelagat aneh saat Eryn kembali tadi.
"Aku baik-baik saja, Lol. Terima kasih." Eryn menyeruput teh buatan sahabatnya ini.
"Umm, siapa pria tadi? Apa kau mengenalnya dekat?" tanya Lolita.
"Eh? Dia adalah..." Eryn bingung harus menjawab apa.
"Sudahlah. Tidak perlu menjawabnya. Kalau begitu aku permisi."
Eryn mengangguk. "Thanks for the tea," ucap Eryn.
Eryn menutup wajahnya dengan kedua tangan berusaha menetralkan rasa yang ada di hatinya. Ia tak ingin orang lain tahu soal kegundahan hatinya ini.
Tiba-tiba ponsel Eryn bergetar. Sebuah panggilan dari Elza, adik iparnya.
"Halo, Elza..."
"Kakak! Cepat pulang ke rumah!" Suara Elza terdengar panik.
"Ada apa?"
"Ada sekelompok orang datang ke rumah. Mereka bilang mereka dari kantor kejaksaan. Mereka menggeledah ruang kerja Kak Eric. Kakak, tolong cepat kemari! Ponsel kak Eric tidak bisa di hubungi."
"I-iya, aku akan segera pulang. Kau tenang ya! Tunggu aku di rumah!"
Eryn mematikan sambungan telepon dan segera membereskan barang-barangnya lalu mengambil tas dan segera pergi. Ia meminta Lolita untuk mengurus semua pekerjaan hari ini.
...🌿🌿🌿...
Eryn tiba di rumah dan langsung mencari keberadaan orang-orang disana. Ia berlari menuju ruang kerja Eric. Dilihatnya tempat itu sudah berantakan.
"Siapa kalian? Kenapa menggeledah ruang kerja suamiku?" tanya Eryn.
Salah satu pria mendekati Eryn. "Kau Nyonya Eryn Evans?"
"Iya. Ada apa ini sebenarnya?" tanya Eryn berusaha tetap tenang.
"Kami dari kantor kejaksaan. Ini surat perintah penggeledahan atas terdakwa Eric Evans." Pria itu memberikan selembar kertas kepada Eryn.
"Hah?! Terdakwa?" Eryn melongo tak percaya. Ia membaca surat itu dengan seksama.
"Korupsi?" Eryn menggeleng pelan.
"Suamiku tidak mungkin melakukan ini!" tegas Eryn dengan mengibaskan surat perintah itu.
__ADS_1
"Semuanya masih diselidiki, Nyonya. Sebaiknya kalian bekerja sama." Pria itu meninggalkan Eryn dan kembali memberi perintah pada anak buahnya.
"Cari dengan teliti! Segala hal mencurigakan kalian bawa saja sebagai bukti!" teriak pria itu.
Eryn hanya bisa membeku melihat situasi kacau ini. Iapun keluar dari ruangan itu dan mencari Elza.
"Kakak!" Tak disangka Elza menghampiri Eryn dan memeluknya.
"Apa yang terjadi, Kak?" tangis Elza pecah.
"Kau tenang dulu ya! Aku yakin semua pasti akan baik-baik saja." Eryn berusaha menenangkan Elza.
"Mana bisa aku tenang, Kak. Mereka menahan Kak Eric."
"A-apa?!" Eryn terbelalak. Ia masih menggabungkan peristiwa hari ini dengan yang lainnya.
"Ini pasti ulah Black!" pikir Eryn.
Lalu terdengar suara Eleanor yang berteriak. Eryn dan Elza saling tatap kemudian berjalan cepat menghampiri Eleanor.
Wanita paruh baya itu sedang menghalau orang-orang yang masuk ke dalam kamarnya.
"Keluar kalian dari kamarku!" teriak Eleanor.
Eryn hanya tertegun melihat kekacauan di rumah keluarga Evans. Matanya lalu tertuju pada Noah yang terus didekap oleh Matilda. Eryn menatap wanita itu seakan memberitahu jika ia meminta untuk menjaga putranya selama kekacauan ini terjadi.
"Ibu!" Elza menghampiri Eleanor dan memintanya untuk tenang.
Tiga jam telah berlalu dan akhirnya orang-orang itu selesai menggeledah seluruh rumah.
Eryn hanya mengangguk dan mengikuti prosedur yang ada. Ia berpamitan pada Elza.
"Jaga ibu dan bibi ya! Jangan berpikir macam-macam. Kita pasti bisa melalui ini," ucap Eryn.
"Iya, Kak. Kakak hati-hati ya!"
Eryn mengangguk kemudian masuk kedalam mobil milik kantor kejaksaan.
...🌿🌿🌿...
-Kantor Kejaksaan-
Mobil yang ditumpangi Eryn berhenti tepat di depan kantor kejaksaan kota. Eryn terkejut karena ternyata sudah banyak pencari berita yang hadir disana.
Eryn berjalan dengan pengawalan ketat menuju masuk ke dalam gedung. Para wartawan itu berteriak dengan menanyakan apakah benar suaminya terlibat dalam kasus korupsi.
Eryn tak habis pikir bagaimana bisa Eric terjerat dalam kasus ini? Ia tahu jika Eric tidak akan melakukan hal seperti ini.
Saat akan memasuki sebuah ruangan, Eryn melihat sosok yang tak asing baginya. Eryn menatap tajam kearah orang itu.
"Sudah kuduga ini pasti ulahnya!" batin Eryn.
Petugas itu membukakan pintu untuk Eryn. Disana ia melihat Eric juga berada di ruangan itu.
"Eric!" seru Eryn menghampiri Eric.
__ADS_1
"Hai," sapa Eric yang langsung memeluk Eryn.
Eryn membalas pelukan Eric. Setelah beberapa saat, Eric melepas pelukannya.
"Maaf jika harus membuatmu datang kemari," ucap Eric.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Mereka menggeledah rumah kita," cerita Eryn.
"Semuanya akan baik-baik saja. Percayalah padaku!" Eric merangkum wajah Eryn.
"Ini semua salahku!" ucap Eryn.
"Tidak! Ini bukan salahmu! Dan jangan pernah menyalahkan dirimu," balas Eric.
Dari luar ruangan, seorang pria menggeram kesal melihat kemesraan Eric dan Eryn. Siapa lagi kalau bukan Black.
"Apa yang akan kita lakukan padanya?" tanya seorang petugas pada Black.
"Lakukan saja sesuai prosedur," jawab Black.
Didalam ruangan itu, Eryn mendapatkan beberapa pertanyaan dari seorang petugas. Sementara Eric sudah dibawa ke ruang lainnya.
.
.
.
Tiga jam kembali berlalu, hari sudah mulai gelap dan Eryn baru saja selesai diperiksa. Ia terbukti tidak terseret dalam kasus yang menimpa Eric.
Eryn berpamitan pada Eric sebelum ia pergi. Kembali Eric merangkum wajah Eryn dan memberikan sebuah kecupan di kening wanita itu.
"Tolong jaga keluargaku! Aku yakin semua ini akan segera berlalu," ucap Eric.
Eryn mengangguk. Eric memeluk Eryn dengan erat sebelum melepaskannya. Matanya menatap Black yang juga berada di sana menyaksikan pemandangan itu. Ia sengaja menunjukkan itu pada Black seakan memberitahu jika Eryn adalah istrinya dan ia berhak atas diri Eryn.
"Waktu sudah habis. Untuk sementara Tuan Evans tidak bisa bertemu dengan siapapun kecuali dengan pengacaranya," ucap seorang petugas.
"Jaga dirimu!" ucap Eryn.
"Kau juga!" balas Eric. Pria itu segera dibawa oleh beberapa petugas.
Eryn begitu berat melepas Eric. Pria itu sudah sangat baik padanya. Dan kini pria itu harus terkena masalah karena dirinya.
Eryn berjalan pelan keluar dari gedung itu. Tak nampak lagi para wartawan berjejer didepan gedung itu. Ia segera memanggil taksi dan menuju kembali ke rumah. Ia khawatir dengan kondisi orang-orang rumah yang terlihat sangat syok dengan kejadian hari ini.
Setelah beberapa lama, Eryn tiba di kediaman Evans dan menekan bel di depan pintu. Seorang pelayan membukakan pintu untuk Eryn.
Wanita cantik itu berjalan lesu memasuki rumah. Ia bertemu dengan Eleanor yang sudah menunggunya.
PLAK!
Sebuah tamparan dilayangkan Eleanor ke pipi kiri Eryn. Eryn yang terkejut memegangi pipinya yang terasa panas.
"Ini semua karenamu! Dasar pembawa sial!" teriak Eleanor.
__ADS_1
...B e r s a m b u n g...