
Red yang baru saja tiba di klub miliknya langsung menuju ke ruang kerjanya. Ia merebahkan dirinya disana. Ia memijat pelipisnya pelan. Masalah demi masalah tak jua pergi dari kehidupannya.
"Red!" panggil Grey.
"Ada apa?" tanya Red dingin.
Grey agak takut untuk mengatakan berita ini kepada Red. Dilihatnya wajah pria ini sedang tidak bersahabat.
"Grey! Cepat katakan ada apa?!" geram Red.
"Em begini, Red. Mengenai uang cassino kita yang dicuri oleh pria bernama Johan..."
BRAK!
Red menggebrak mejanya. "Apa kalian tidak bisa mengurus masalah itu tanpa harus melibatkan aku, hah?! Dimana Blue? Dia harusnya yang menyelesaikan masalah ini!"
"Kami memang belum menemukan Johan, tapi seorang gadis dari panti asuhan miliknya bersedia untuk bekerja pada kita. Madam Jane sudah melatihnya dan Blue sepertinya menyukai gadis itu."
Red memijat pelipisnya pelan. "Gadis lagi? Suruh Blue datang sekarang juga! Kita harus mendapatkan kembali uang itu!" titah Red.
Sementara di dalam kamar, Blue yang belum memulai aktifitas apapun bersama Ilena merasa kesal karena ketukan berkali-kali di pintu kamarnya.
"Sial! Siapa yang mengganggu kesenanganku?" Dengan geram Blue beranjak dari sofa dan membuka pintu.
Nampaklah sosok Grey berdiri di depan pintu.
"Ada apa? "
Grey mengangkat tangannya. "Sorry! Red yang memintaku datang! Sebaiknya kau segera datang. Sepertinya mood Red sedang tidak bagus malam ini."
"Yeah! Dan kini moodku yang berubah buruk, Grey!"
Dengan kesal, Blue masuk ke dalam kamar dan berpamitan pada Ilena.
"Baby, kau kembalilah ke kamarmu! Ada urusan yang harus kulakukan."
Ilena mengangguk paham. Ia berjalan sambil tetap menunduk. Ia melewati tubuh Grey yang masih menunggu di depan pintu.
"Ayo, Grey!" ucap Blue.
"Jadi, dia gadis itu? Yang dari panti asuhan?" tanya Grey penasaran.
"Hmm." Blue hanya menjawab dengan sebuah dehaman.
Di sisi lain, Ilena yang mendengar Blue memanggil pria tadi dengan panggilan Grey, seketika membuatnya teringat dengan pria masa lalunya dulu. Seorang pemuda putus asa yang memutuskan menyukai warna abu-abu agar jika ingin menjadi putih tidak terlalu sulit seperti warna hitam.
Ilena menatap kedua punggung pria yang berjalan membelakanginya.
"Grey? Apa jangan-jangan..." Ilena menggeleng cepat.
"Sudahlah, Ilena. Jangan memikirkan apapun. Sebaiknya aku kembali ke kamar saja," gumam Ilena.
Tiba di depan kamarnya, Ilena langsung membuka pintu tanpa mengetuknya. Keempat gadis yang ada di dalam kamar menatap heran kearah Ilena.
"Baby? Kenapa kau sudah kembali?" tanya Blondy antusias.
"Iya, Blue tidak akan melepaskanmu semalaman, Baby," sahut Sweety.
Ilena menatap mereka berempat.
"Entahlah. Aku juga tidak tahu. Tapi tadi ada seseorang yang menjemput Blue di kamarnya. Dia bilang ada urusan penting yang harus dia urus."
Barbie dan Darla menghela napas lega. "Syukurlah, Baby. Kau masih bisa selamat."
__ADS_1
Ilena tersenyum getir. Mungkin malam ini ia bisa lolos, tapi malam-malam berikutnya? Apakah Ilena masih bisa lolos?
"Oh ya teman-teman, apa aku boleh menanyakan sesuatu?"
"Apa, Baby?"
"Apa disini tidak ada yang menggunakan nama asli mereka sendiri?" tanya Ilena polos. Ia agak risih dengan panggilan 'baby' yang disematkan padanya.
Mereka berempat tertawa kecil.
"Wajar jika kau menanyakan itu, tapi nanti kau juga akan tahu apa alasannya. Dan jangan pernah menyebutkan nama aslimu disini. Kau mengerti?" jelas Blondy.
Ilena mengangguk. Sepertinya tempat ini menyimpan banyak misteri. Begitulah pikir Ilena.
#
#
#
Red menatap Blue dengan tatapan sengit. Sepertinya Red mulai tak suka dengan perilaku Blue yang suka membawa perempuan naik ke atas ranjangnya.
Blue tidak mau ambil pusing dengan tatapan dingin kakaknya. Dia sangat tahu seperti apa sifat seorang Red.
"Aku yakin Grey sudah menceritakannya padamu. Kenapa menyuruhku untuk tetap datang kesini?" ucap Blue malas.
"Ya, aku memang sudah tahu dari Grey. Tapi kau harus tetap mencari pria itu dan memberinya pelajaran. Untuk apa memelihara seorang gadis, huh? Apa kau ingin menjadikannya seorang istri?" tegas Red.
"Ya, aku akan menjadikannya istriku! Dia berbeda dengan gadis yang selama ini kukenal."
Red mencebik. "Kau tidak bisa hidup dengan satu wanita, Blue. Aku tahu siapa dirimu!"
"Yeah, aku tidak sepertimu yang hanya hidup untuk satu wanita yang belum tentu benar dia adalah orangnya. Kau bisa saja salah, Red!" ucap Blue sarkas kemudian keluar dari ruangan Red.
Blue berbalik badan dan menatap Red.
"Tolong kau urus masalah ini! Dan aku tidak akan membebanimu dengan urusan pencuri uang cassino lagi. Bagaimana?"
Blue merasakan sebuah penawaran yang bagus. "Oke! Aku akan bawa anak buah kita untuk ikut denganku!"
Blue keluar dari ruangan Red dengan hati yang cukup lega. Urusannya tidak sebanding dengan mencari pria yang bernama Johan itu. Uang yang diambilnya sebenarnya tidak banyak. Hanya saja Red adalah tipe orang yang menghukum orang lain jika melakukan kesalahan. Sifatnya sangat mirip ayahnya yang memang sangat suka dengan kata 'eksekusi'.
#
#
#
Malam itu, adalah malam yang cukup mendebarkan untuk Ilena. Pasalnya malam ini dirinya akan tampil di depan banyak orang bersama dengan keempat temannya.
Meski sudah berlatih, tetap saja Ilena mengalami demam panggung. Ia tak pernah menunjukkan kemampuannya di depan siapapun.
"Dengar, Baby. Rileks saja! Jangan tegang! Aku yakin kau pasti bisa. Ada aku dan yang lainnya." Sweety memegangi kedua bahu Ilena dan menenangkannya.
"Ayo! Sebentar lagi kita harus keluar!" ucap Blondy.
Kelima gadis itu hari ini memakai kostum ala kelinci majalah dewasa yang terkenal itu. Dengan memakai bando berbentuk telinga kelinci dan stoking hitam ketat. Rambut mereka di kuncir dua yang menambah kesan seksi dan imut.
Mereka berlima berbaris sesuai dengan yang sudah diatur saat latihan. Ilena berdiri di tengah. Blondy dan Sweety di sebelah kanan, lalu Barbie dan Darla berada di sebelah kiri.
Tirai mulai dibuka dan tepukan tangan serta sorakan memenuhi ruang yang berlampu remang itu. Suara siulan pria-pria hidung belang mulai bersahutan.
Ilena memejamkan mata seraya berdoa dalam hati. "Tuhan, semoga aku bisa melakukan ini. Tolong bantu aku! Ini adalah kali pertama aku melakukan hal seperti ini."
__ADS_1
Musik mulai mengalun. Satu persatu gerakan mereka mulai dengan kompak. Semua mata tertuju pada mereka yang sedang meliukkan tubuhnya diatas panggung.
Entah apa yang ada di pikirannya, tiba-tiba mata Ilena menangkap sosok yang pernah dilihatnya. Sosok itu menatap tajam kearah Ilena.
"Astaga! Itu kan... Red!"
Konsentrasi Ilena mulai buyar. Sorot tajam itu masih mengarah padanya. Ilena berusaha menghalau semua perasaan gugupnya.
"Ini demi anak-anak panti! Ya ini semua untuk mereka!"
Kepercayaan diri Ilena mulai bangkit. Dia bergerak dengan lincah. Membuat semua orang berdecak kagum padanya.
Musik terhenti. Kelima gadis itu masih berada diatas panggung. Tatapan mata itu masih menyorot pada Ilena. Dengan sisa keberaniannya, Ilena balik menatap Red.
Ya, dia baru menyadari jika tempat ini adalah milik Red, tunangan kakaknya. Tapi itu tidak masalah. Toh tidak ada yang tahu mengenai identitas asli Ilena. Dan Red tidak pernah tahu jika Selena memiliki seorang adik.
Ilena dan keempat gadis itu memberi hormat kemudian turun dari panggung. Beberapa pengunjung VIP ada yang sudah memesan mereka untuk sekedar menemani berbincang dan juga minum. Ya, inilah pekerjaan mereka sebenarnya.
Blondy dan Sweety sudah duduk bersama pria-pria di meja yang bertuliskan VIP. Lalu Barbie mendatangi pria tambun yang katanya adalah seorang pejabat negara. Lalu Darla juga sama. Kini tinggal Ilena yang belum mendapatkan seorang pelanggan.
"Madam Jane, aku ingin si gadis baru itu. Siapa namanya?" ucap seorang pria pada Jane.
"Oh, dia adalah Baby. Apa Tuan berminat dengannya? Tapi, dia sudah dipesan oleh Blue," balas Jane.
"Ayolah! Blue tidak ada di tempat ini. Berikan saja padaku!" desak pria yang usianya sudah mendekati kepala 4 itu.
"Aku yang sudah memesannya!" Sebuah suara membuat pria itu membeku. Siapa yang berani menantang seorang Red?
Jane tersenyum pada Red. "Kau yakin jika ingin memesannya, Red?"
"Iya! Suruh dia ke ruanganku sekarang juga!" titah Red dan segera pergi dari sana.
Pria itu menggeram kesal. Jane hanya mengedikkan bahunya. Dia tidak berani melawan Red.
Jane mendekati Ilena yang sedang duduk sambil menyesap jus jeruk. Ilena tak terbiasa dengan alkohol. Bisa-bisa ia langsung tak sadarkan diri jika meminumnya.
"Baby, ayo ikut denganku! Ada yang memesanmu!"
Ilena menelan ludahnya. "Lagi?!" pikirnya dengan putus asa. Ia hanya mengangguk mengikuti langkah Jane.
"Kenapa kita kesini, Madam Jane?" tanya Ilena bingung.
"Sudahlah! Kau masuk saja. Jangan lupa ketuk pintu dulu sebelum masuk!" perintah Jane.
Jane meninggalkan Ilena mematung di depan pintu ruangan yang entah ada siapa di dalamnya.
Tok tok tok
Usai mengetuk pintu Ilena masuk dan mengucap salam.
"Permisi!" ucapnya.
Pria yang berdiri membelakanginya kini berbalik badan.
"Hah?!" Ilena sangat terkejut siapa orang yang sudah memesannya. Ia berusaha menetralkan detak jantungnya.
Red semakin mendekat tanpa melepas tatapan tajamnya. Mata mereka beradu di ruangan yang temaram itu.
"Siapa namamu?"
#
#
__ADS_1
#