Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
66. Cerita Sebenarnya


__ADS_3

Pagi ini, Rose mengundang semua orang untuk sarapan bersama. Ia ingin mengucap terima kasih pada orang-orang yang selama ini membantu dirinya dan Eldric. Meski sejauh ini tidak ada yang pernah membahas soal Eldric, namun Rose paham kenapa mereka melakukannya.


Apakah mereka memang tidak tahu yang sebenarnya? Atau mereka hanya berpura-pura? Entahlah. Rose tidak bisa membaca pikiran mereka.


Saat asyik mengolah makanan di dapur, tiba-tiba Rose dikejutkan dengan pelukan hangat seseorang di pinggangnya.


"Selamat pagi, sayang. Hmm, baunya harum sekali. Kenapa kau memasak banyak makanan?" tanya orang yang tak lain adalah Carlos.


"Aku mengundang semua orang untuk sarapan disini."


"Hmm?" Carlos mengerutkan dahinya.


"Aku hanya ingin berterimakasih karena mereka sudah bekerja keras selama ini."


Rose berbalik badan dan merangkum wajah Carlos.


"Mereka sudah mengisi hari-hariku dan kini mereka membantu bisnis juga. Tentu aku harus berterimakasih, bukan?"


Carlos mengangguk. Kemudian ia memberikan kecupan-kecupan kecil di bibir Rose.


"Masih terlalu pagi untuk sarapan, bagaimana kalau kita melakukan hal lain dulu?"


"Hmm?" Rose bingung.


Dengan sigap Carlos mengangkat tubuh Rose dan melingkarkan kedua kaki Rose di pinggangnya.


"Carlos!" pekik Rose.


"Kita akan bersenang-senang dulu!" Carlos membawa tubuh Rose pergi dari dapur. Beruntung Rose sudah mematikan kompor tadi.


"Carlos! Sebentar lagi mereka datang. Turunkan aku!" pinta Rose. Tapi Carlos tidak mendengarnya.


Carlos membawa Rose masuk ke dalam kamar. Carlos merebahkan tubuh Rose di ranjang. Ia melepas kaus yang melekat pada tubuh Rose dan membuangnya asal.


"Carlos!" Rose tak bisa protes lagi karena kini pria itu membungkam bibirnya.


Sebuah permainan bibir yang menggairahkan di pagi hari. Mungkin ini bisa disebut makanan pembuka untuk Carlos, hehehe.


Rose merasakan sebuah desiran aneh ketika tangan Carlos mulai menjelajah lebih intens. Rose tak bisa menolaknya. Ia mengangkat kaus yang melekat pada tubuh Carlos.


Kini tubuh bagian atas Carlos terlihat nyata di depan mata Rose. Kabut cinta dan hasrat mulai membara.


Carlos kembali membungkam Rose dengan lembut. Tangannya meraih pengait untuk melepas kaca mata berenda milik Rose.


"Carlos! Rose!"


Sebuah panggilan membuat mereka terhenti.


"Carlos, mereka sudah datang," ucap Rose dengan mendorong tubuh Carlos menjauh.


Rose segera bangkit dan mengambil kausnya yang dilempar Carlos ke lantai.


"Aku akan menyelesaikan masakanku. Kau segeralah menyusul." Rose memberikan kecupan singkat di bibir Carlos sebelum keluar dari kamar.


Sementara Carlos berdecak kesal karena teman-temannya harus datang di saat yang tidak tepat. Atau mungkin saja Carlos yang terlalu terburu-buru. Ini masih pagi, kawan. Hehe.


Rose menata makanan di meja makan yang kini kursinya telah penuh dengan tamu yang dia undang.


Agli, Bernard, Caesar, David, Frans, Luiz, Santa, dan tak lupa ia juga mengundang Dixon. Mereka menelan ludah melihat makanan lezat didepan mereka.


"Mana Carlos?" tanya Dixon.


"Masih di kamarnya. Sebentar lagi juga keluar," jawab Rose.


Tak lama Carlos muncul dengan wajah yang ditekuk. Hampir saja ia melakukannya dengan Rose jika saja mereka tidak datang lebih cepat. Tapi kemudian ia berpikir. Ini adalah pertama kalinya ia begitu berhasrat pada Rose. Sebaiknya ia bermain dengan hati-hati karena nanti Rose bisa saja terluka.


"Silakan dimakan!" ucap Rose.


Semua orang langsung melahap makanan dengan bersemangat. Tak biasanya mereka bisa sarapan bersama seperti ini setelah banyak hal terjadi.


Usai sarapan, mereka berbincang di ruang tengah rumah milik Black. Rumah ini kini ditempati Rose dan Carlos. Sementara yang lain tinggal di hotel agar lebih mudah mengontrol bisnis mereka.

__ADS_1


"Tuan Dixon!"


Rose menghampiri Dixon yang baru selesai menerima telepon.


"Ada apa, Nona Rose?"


Rose menatap Dixon tajam.


"Kumohon ceritakan yang sebenarnya padaku!"


Dixon mengerutkan dahi mendengar permintaan Rose.


"Dengar, Nona. Aku..."


"Aku tahu semuanya, Tuan Dixon. Kakakku belum meninggal! Dia masih hidup!" tegas Rose dengan suara bergetar.


Dixon menghela napas. Rasanya ia tak bisa berbohong lagi.


"Benar! Black memang masih hidup."


Rose tercengang mendengarnya. Akhirnya ia tahu kebenarannya.


"Lalu dimana dia?" tanya Rose penuh harap.


"Aku tidak tahu. Dia menghilang," jawab Dixon santai.


"Apa yang sebenarnya terjadi hari itu?" tanya Rose menggebu.


Dixon memilih kata yang tepat untuk Rose.


"Kakakmu tidak bisa bebas hanya karena dia telah membantu menangkap Eric."


Rose terdiam. Ia masih mencerna apa yang coba dijelaskan oleh Dixon.


"Dia juga banyak melakukan kejahatan dan juga transaksi ilegal."


Rose masih diam.


Rose masih berusaha memahami semuanya.


"Jadi, kakakku ada di penjara?"


Dixon menggeleng.


"Aku tahu kakakmu adalah orang baik meski dia juga seorang penjahat. Aku memutuskan membantunya di saat-saat terakhir."


Rose mengerutkan dahi.


"Aku memintanya berpura-pura mati dan meninggalkan barang bukti. Black meninggalkan cincin kawinnya sebagai bukti jika dirinya memang tewas dalam ledakan gudang itu."


"Lalu dia..." Rose tak sabar mendengar lanjutannya.


"Dia pergi. Menghilang. Hanya itu yang bisa dia lakukan hingga kasus ini mereda. Setidaknya hingga Eric menjalani hukuman matinya."


Rose terduduk lemas.


"Kau jangan khawatir. Dia pasti baik-baik saja."


"Lalu dimana Eryn sebenarnya?" tanya Rose yang tak pernah mendengar kabar wanita itu.


"Kudengar Eryn telah kembali pada keluarga kandungnya bersama dengan putranya. Mereka sudah hidup tenang."


"Mungkinkah kakak menemui Eryn?" terka Rose.


"Entahlah. Mungkin saja. Black sangat mencintai istrinya."


Rose tidak menjawab lagi dan hanya terdiam. Setidaknya kini ia tahu jika kakaknya memang benar masih hidup dan tinggal di suatu tempat.


#


#

__ADS_1


#


Malam ini, Rose memasak makan malam untuk Carlos. Meski selalu sibuk dengan pekerjaannya, Carlos selalu menyempatkan diri untuk makan malam di rumah. Ia tak ingin menyia-nyiakan masakan Rose yang enak itu.


Rose telah selesai menata makanan di meja makan. Ia masuk ke kamar untuk berganti baju karena mencium aroma tak sedap dari tubuhnya.


Rose membersihkan diri sejenak kemudian kembali ke meja makan. Tak ia duga ternyata Carlos telah tiba di rumah.


"Kau sudah pulang?" tanya Rose dengan senyum bahagia.


"Iya. Kau baru selesai mandi?" Carlos mencium aroma segar dari tubuh Rose.


"Iya. Kau mandilah dulu lalu kita makan malam." Rose melepas jas di tubuh Carlos. Ia menyiapkan semua keperluan Carlos layaknya seorang istri.


Tak lama Carlos keluar kamar dan menuju meja makan. Rose sudah menunggunya disana.


"Hmm, sepertinya sangat enak."


"Makanlah!"


Mereka berdua memulai acara makan malamnya. Diam-diam Carlos memperhatikan Rose yang menyantap makanan dengan tenang.


"Eh? Apa ini?" Rose mengeluarkan sesuatu yang keras dari dalam mulutnya.


Matanya membulat karena melihat cincin disana. Ia menatap Carlos.


"Itu untukmu!" Carlos menghampiri Rose.


"Menikahlah denganku, Rosalinda Albana..."


Mata Rose berkaca-kaca mendengar pernyataan Carlos.


"I do," balas Rose. Lalu memeluk Carlos.


Carlos memakaikan cincin itu di jari manis Rose.


"Aku mencintaimu, Rose."


Rose tersenyum. "Aku juga mencintaimu, Carlos..."


Sebuah ciuman panjang pun terjadi sebagai saksi dua orang berniat mengikat janji dihadapan Tuhan.


Carlos membawa Rose masuk ke dalam kamarnya. Tak Rose sangka jika kamar itu telah berubah menjadi kamar yang penuh dengan kelopak bunga mawar.


"Carlos?" Rose mengernyit bingung namun ia juga senang.


"Ini hadiah untukmu..."


Carlos kembali meraih bibir Rose dan menciumnya lembut. Hingga ciuman itu berubah menjadi lebih intens dan dalam.


Carlos merebahkan tubuh Rose diatas ranjang dengan semerbak wangi bubga mawar. Mereka memulainya pelan dengan melepas satu persatu kain di tubuh mereka.


Rose mendekap erat tubuh Carlos yang berada diatasnya. Getaran hawa panas memenuhi tubuh mereka berdua. Carlos memberikan beberapa tanda kepemilikannya di tubuh Rose.


Wanita itu hanya bisa memejamkan matanya dan merasakan sentuhan hangat dari Carlos. Sesuatu yang berdiri tegak itu meminta masuk ke peraduannya. Meski terasa sulit namun Carlos terus mencoba sampai berhasil.


Rose meringis kesakitan. Tangannya memegang lengan Carlos erat.


"Apakah sakit?" tanya Carlos.


Rose mengangguk pelan. Ia tak ingin merusak momennya dengan Carlos. Sebisa mungkin ia menahannya.


"Aku akan bergerak pelan. Tahanlah sebentar!"


Rose mengangguk dan mulai merasakan jika gerakan yang dibuat Carlos membuatnya begitu melayang.


#tobecontinued


*Wakwaaaww, lanjutkan sendiri ya genks adegannya, hihihi


*Gimana lanjutan kisah Eryn dan orang yang mobilnya di tabrak? sabar yes, kita menuju kisah tegang Rose dan Carlos dulu, hehehe 😃😃🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2