
...Tak pernah kusangka jika hidupku akan terus berputar seperti ini...
...Menjalani kehidupan seolah takdir mempermainkanku...
...Baru saja kuraih sebuah kebahagiaan,...
...Namun Takdir kembali merenggutnya...
...πππ...
Eryn terbangun kaget dari tidurnya setelah mengalami sebuah mimpi buruk. Ia mengatur napasnya dan memperhatikan sekeliling.
Matilda datang menghampiri Eryn karena tadi mendengar suara Eryn merintih dalam tidurnya.
"Nona, apa Nona baik-baik saja?" tanya Matilda.
"Bibi? Apa aku tertidur disini?" Eryn ketiduran saat sedang menonton acara televisi.
"Iya, Nona. Nona ketiduran di sofa. Apa Nona butuh sesuatu? Bibi ambilkan minum dulu ya untuk Nona."
Eryn mengangguk. Ia menerima gelas berisi air dari tangan Matilda.
"Nona istirahat di kamar saja."
Eryn kembali mengangguk. Sudah satu bulan ia tinggal di rumah ini, semuanya masih terasa sama. Eric juga jarang datang ke rumah itu.
Eryn memperhatikan lagi semua hal di rumah itu.
"Kenapa aku tidak bisa mengingat sedikitpun tentang rumah ini? Apa benar aku tinggal disini?" batin Eryn.
"Apa aku memang sedekat itu dengan Eric?" Eryn memandangi foto dirinya bersama Eric yang terpampang besar di atas tempat tidurnya.
"Jika kami memang dekat, kenapa aku sama sekali tidak mengingat apa pun tentangnya? Bahkan tadi ... aku malah memimpikan orang lain yang tidak kukenal. Siapa orang itu?" monolog Eryn.
...πππ...
"Rose?"
"Duduklah, El. Kau masih belum pulih."
Rose mengajak pria itu duduk. Pria yang tak lain adalah Eldric atau Black segera mengikuti langkah Rose menuju sofa.
"Jadi, lagi-lagi kau yang menolongku?" tanya Black.
"Bukan! Bukan aku yang menolongmu, tapi Carlos," jawab Rose.
Tak lama muncullah beberapa orang ikut bergabung dengan Rose dan Black.
Itu adalah Carlos dan ke tujuh pria yang selama ini dicarinya.
"Tuan sudah bangun?" tanya Carlos.
"Kau ... menemukan mereka?" tanya Black yang masih bingung dengan situasi ini.
"Iya, Tuan. Aku menemukan mereka."
"Lalu, dimana Eryn?"
Carlos saling pandang dengan Rose.
"Kau pulihkan dulu kondisimu. Kita akan bahas ini nanti, El."
"Tidak! Katakan dimana Eryn? Terakhir kali aku bersamanya di kapal. Aku mendorongnya dan kepalanya terbentur. Dia terluka, Rose. Katakan dimana dia?!" desak Black.
"Kami tidak tahu dimana dia, Black." Sebuah suara ikut bergabung dengan mereka.
"Luiz? Dan Santa?" Black mengerutkan dahinya.
"Kami disini akan membantumu. Maka dari itu kau pulihkan dulu kondisimu dan kita akan susun rencana," lanjut Luiz.
"Eric! Ini semua pasti ulahnya kan?" Black mengepalkan tangannya.
__ADS_1
"Katakan semuanya padaku, Carlos! Aku ingin tahu apa yang terjadi setelah penyerangan di kapal itu," pinta Black.
Carlos menatap Rose terlebih dahulu seraya meminta persetujuan. Rose menganggukkan kepala. Semua orang mulai menyingkir satu persatu dari ruangan itu hingga tersisa Black dan Carlos saja.
"Pagi itu, Nona Rose menghubungiku. Dia bilang jika Eric ada di Italia dan menemui ayahnya. Dia memintaku untuk menolongmu dan juga nona Eryn. Aku menghubungi pihak kapal namun tidak ada yang merespon. Ternyata kapal kalian telah diserang."
Carlos menjeda ceritanya. "Ketika aku tiba dengan bala bantuan seadanya, kapal itu sudah terbakar. Tidak ada siapapun disana. Beberapa kru kapal juga sudah terkapar. Sebelum kapten kapal meninggal, dia bilang jika kau jatuh ke laut. Aku pun mengerahkan tenaga untuk mencari tubuhmu yang masuk ke air. Setelah lama mencari, akhirnya aku menemukanmu, Tuan. Kau terluka parah. Tapi aku yakin jika kau bisa bertahan. Karena kau adalah El-Black."
Black menghela napasnya. "Jadi, Eric membawa Eryn pergi?"
"Sepertinya begitu. Kami belum bisa menemukan jejaknya. Maafkan kami, Tuan."
"Jangan memanggilku 'tuan', Carlos. Aku bukan lagi tuanmu. Aku sangat berterimakasih karena berkatmu, aku kini bangkit dari kematian. Eric pasti mengira jika aku sudah mati, bukan?"
Carlos mengangguk.
"Bersiaplah, Carlos. Aku akan membalas semua yang Eric lakukan padaku. Kali ini, tidak akan ada ampun baginya." Black mengepalkan tangannya.
"Kau bersedia membantuku kan?" tanya Black.
"Tentu saja, Mr. Black."
"Yeah. Aku akan menjelma menjadi Mr. Black yang akan menghantui semua orang yang mengkhianatiku!" ucap Black penuh dengan kobaran dendam di matanya.
...πΏπΏπΏ...
Lolita lagi-lagi harus menelan pil pahit karena suaminya tidak ikut mengantar saat dirinya memeriksakan diri ke rumah sakit. Meski hatinya sakit, ia akan mulai menerima semuanya. Toh ia bisa hidup penuh kemewahan berkat Eric.
"Lolita!" Sebuah suara mengejutkannya.
"Ibu!" Lolita tidak menyangka jika Eleanor akan datang ke rumah sakit.
"Kau sendirian? Dimana Eric?" Eleanor celingukan mencari keberadaan putranya.
"Iya, Bu. Eric sepertinya sangat sibuk. Dia bahkan tidak punya waktu untuk menemaniku ke dokter."
"Astaga, anak itu! Ibu akan bicara dengannya perlahan. Kau tahu kan jika Eric tidak suka diatur. Dia hanya melakukan apa yang dirinya inginkan. Kau harus lebih bersabar," nasihat Eleanor.
Lolita hanya tersenyum getir mendengar penuturan Eleanor. Ini seakan sudah menjadi takdirnya untuk selalu diabaikan oleh Eric.
Tiba di rumah, Lolita melihat Eric sudah kembali. Ia segera menegur suaminya.
"Kau sudah kembali? Jika tahu kau pulang lebih awal, harusnya kau bisa mengantarku untuk menemui dokter. Banyak orang bertanya kenapa aku selalu sendirian," protes Lolita.
"Kau tidak perlu mendengarkan apa yang dikatakan oleh orang lain. Ingat! Kau dan keluargamu bisa hidup enak itu karena siapa? Karena aku! Jadi, jangan pernah meminta ibuku untuk membujuk diriku agar bersedia memperhatikanmu. Kau tidak akan bisa melakukan itu karena aku bukanlah boneka ibuku. Tapi justru ibukulah yang menjadi boneka bagiku."
Eric kembali merapikan pakaiannya dan memasukkannya kedalam koper.
"Eric, kau mau pergi?"
"Yeah. Begitulah. Kau baik-baiklah di rumah. Kau boleh menginap di rumah Ibuku jika kau kesepian disini."
"Apa kau ingin menemui Eryn?" tanya Lolita sendu.
"Kau tidak perlu tahu! Yang perlu kau tahu adalah kau bisa hidup enak dengan fasilitas nomer satu. Aku melakukan semua ini untuk keluargaku. Kau mengerti?"
"Eric! Bisakah kita menjadi pasangan suami istri yang normal seperti yang lainnya?" Suara Lolita terdengar pilu.
"Tidak bisa, Lolita. Kita tidak akan pernah seperti orang lain. Karena kita bukan mereka."
Eric menutup kopernya kemudian membawanya pergi bersama dengan dirinya. Lolita hanya diam melihat kepergian Eric. Ia hanya bisa meratapi nasibnya yang seakan tidak beruntung.
...πΏπΏπΏ...
Malam itu, udara cukup dingin di sebuah kota yang bernama Cali. Kota terbesar ke tiga di Kolombia ini menjadi destinasi persembunyian bagi Rose dan juga Carlos. Rose memutuskan pergi dari rumahnya dan membantu Black. Hanya ini yang bisa ia lakukan setelah apa yang dilakukan ayahnya pada Black.
"Rose! Udara malam cukup dingin. Kenapa kau masih diluar?" Black menghampiri Rose.
"Maafkan aku, El. Maaf untuk semuanya."
"Kenapa kau harus meminta maaf?"
__ADS_1
"Aku tidak tahu jika ayahku akan melakukan semua ini. Dia membantu Eric dan membuatmu kehilangan segalanya. Aku tidak bisa menerima itu, El."
"Itu sebabnya kau pergi dari rumah?"
Rose memalingkan wajahnya. Ia menerawang jauh. Keputusannya sudah bulat. Ia ingin bisa membantu Black membalaskan dendamnya.
"Eric sudah mengambil alih perusahaan dan juga Amigo. Apa rencanamu, El?"
"Aku ingin memastikan jika Eryn dalam keadaan baik-baik saja."
Rose mengangguk paham. "Kita akan mulai bergerak, El. Kita punya tim yang hebat."
Ke tujuh pria menghampiri mereka berdua.
"Jangan khawatir, Black. Kami akan siap membantu," ucap Agli percaya diri.
"Aku baru mengetahuinya, El. Jika ternyata Agli, Bernard dan Caesar adalah ahli di bidang IT. Sedangkan David, Elbo, dan Frans. Dia ahli bela diri. Lalu si gempal Gilbert, dia sangat ahli dalam hal merakit senjata. Bagaimana? Kita memiliki tim yang hebat kan?" ucap Rose.
"Dan jangan lupakan Santa yang cantik dan baik hati ini." Santa ikut bergabung.
Gelak tawa terdengar renyah disana.
"Jangan lupakan aku, Black. Aku tetap menjadi kawanmu." Luiz datang dan menepuk bahu Black.
"Terima kasih. Aku sangat berterima kasih pada kalian." Black menatap satu persatu anggota timnya.
...πΏπΏπΏ...
Sao Paulo, Brasil
Black dan orang-orangnya akhirnya memutuskan untuk pindah ke Sao Paulo. Ia ingin lebih dekat mengawasi pergerakan Eric dan anak buahnya karena pusat Amigo ada di kota ini.
"Bagaimana, Caesar? Kau sudah meretas riwayat perjalanan yang dilakukan oleh Eric?" tanya Black.
Pria berkacamata itu masih mengotak atik benda pipih di tangannya.
"Tenang, Black. Sebentar lagi pasti ketemu."
Rose menyediakan sebuah rumah yang cukup luas untuk tempat mereka tinggal. Kini yang lain sedang belajar merakit senjata. Mereka mendapat pemasok dari kenalan Black.
"Bagaimana, mudah kan?" ucap Gilbert yang seperti sedang melakukan pelatihan kepada teman-temannya.
Agli, Bernard, David dan Frans mengangguk paham. Sedangkan Elbo dan Carlos sedang melatih bela diri Santa dan Rose.
Luiz yang notabene pemilik klub malam, ia sedang menyiapkan makan malam untuk anggota timnya. Sedikit banyak ia pandai mengolah makanan.
"Hei, ayo makan dulu! Makanan telah siap!" seru Luiz.
Semua orang berbinar senang mendengar kata makanan.
"Ketemu!" teriak Caesar yang membuat semua orang menoleh kearahnya dan Black.
"Ada apa, Caesar?" tanya Carlos.
"Aku berhasil meretas riwayat perjalanan Eric Evans. Beberapa kali dia pergi ke Rio de Jeneiro," ucap Caesar.
"Tapi, bukankah disana tidak ada apa pun?" sahut Luiz.
"Sepertinya ada sesuatu dengan tempat itu," timpal Rose.
"Eryn..." gumam Black.
"Eh?" Semua orang menoleh kearah Black.
"Eryn pasti ada disana," lanjut Black.
"Jadi, kita akan terbang ke Rio?" seru Santa senang.
Mereka semua saling pandang satu sama lain.
"Yeah. Kita akan bergerak lagi, kawan-kawan. Kalian siap?" tanya Black.
__ADS_1
"Pasti, kami siap!" seru semuanya serempak.
...πΏπΏπΏ...