
Eryn menunggu kedatangan Hyun Woo di rumahnya. Biasanya pria itu memang selalu datang menemui ayahnya jika ada hal yang penting. Sekarang Eryn sudah tak mungkin mundur untuk menolak kerjasama dari Kang Se Hoon. Mau tidak mau Eryn harus merancang acara untuk hari jadi perusahaan pria itu.
Setelah cukup lama menunggu, akhirnya orang yang ditunggunya datang juga. Eryn segera berlari menemui Hyun Woo.
"Hyun Woo-Ssi, bisa bicara sebentar?" tanya Eryn.
"Ada apa, Nona? Saya harus menemui Tuan Kim."
"Sebentar saja! Aku mohon!" pinta Eryn dengan memelas.
Hyun Woo menghela napas dan mengikuti langkah Eryn menuju kamar Noah.
"Ada apa, Nona?" tanya Hyun Woo tak ingin berbasa-basi.
"Kau pasti mengenal Grup Se-Kang, bukan?"
Hyun Woo diam sejenak. "Memangnya ada apa, Nona?"
"Ada hubungan apa antara ayahku dan Kang Se Hoon?"
Hyun Woo kembali diam sambil berpikir.
"Katakan yang sebenarnya padaku! Pasti ada sesuatu diantara mereka, bukan?" desak Eryn.
"Itu adalah kisah masa lalu, Nona," ucap Hyun Woo.
"Meski itu masa lalu, tapi sepertinya masih terbawa hingga sekarang. Benar kan?" sarkas Eryn.
"Nona..."
"Katakan!" Eryn memohon.
"Pimpinan Kang menuduh Tuan Kim telah menyebabkan kematian istrinya 10 tahun lalu. Semua itu adalah kecelakaan. Dan sudah dibuktikan dengan pernyataan dari pihak kepolisian."
"Apa benar ayahku tidak bersalah?" tanya Eryn memicingkan mata.
"Nona! Apa Nona menuduh ayah Nona sendiri adalah pembunuh?"
"Mereka bersaing dalam hal bisnis. Hal seperti ini wajar terjadi, bukan? Aku mengetahuinya karena aku juga istri seorang mafia."
"Tapi, Tuan Kim tidak bersalah, Nona. Ini hanya salah paham. Percayalah, Nona!"
"Sejak pertama aku bertemu dengan Kang Se Hoon, aku tahu jika dia sudah merencanakan semua ini. Bahkan dia membayarku 20 juta Won untuk merancang acara hari jadi perusahaannya."
"Pimpinan Kang memang terkenal suka berfoya-foya, Nona. Jadi, Nona jangan heran. Itu masih belum seberapa untuknya."
Eryn terdiam. Kini ia sudah mendapatkan sedikit informasi mengenai ayahnya dan juga Kang Se Hoon.
"Jika tidak ada yang ingin Nona bicarakan lagi, maka saya permisi!" Hyun Woo membungkukkan badan lalu keluar dari kamar Noah.
Setelah Hyun Woo menutup pintu, ia bertemu dengan Tuan Kim yang sudah menunggu kedatangannya.
"Bagaimana?" tanya Tuan Kim.
"Sepertinya Nona Eryn percaya, Tuan."
"Baguslah. Mari ikut ke ruang kerjaku!" Tuan Kim berjalan lebih dulu lalu diikuti oleh Hyun Woo.
#
#
#
Eryn tiba di gedung Se-Kang Grup danย mulai melangkah menuju ruangan direktur yang akan bertanggungjawab untuk acara hari jadi perusahaan beberapa hari lagi. Eryn tak punya banyak waktu karena semuanya serba mendadak.
Eryn bernapas lega karena tidak harus menemui Kang Se Hoon. Kini ia sedang menuju lantai 17.
"Huft! Semoga saja direkturnya adalah orang yang baik."
TING
__ADS_1
Pintu lift terbuka. Eryn segera mencari dimana ruangan direktur berada.
Eryn melihat papan petunjuk dan segera berjalan kesana. Ia mengetuk pintu sebelum masuk.
"Permisi!" ucap Eryn.
"Wah, akhirnya datang juga. Halo, perkenalkan, namaku Kang Se Naa."
Eryn menatap wanita cantik yang ada di depannya. Dengan ramah wanita itu mengulurkan tangannya.
Eryn menyambutnya. "Eryana Kim," ucapnya.
"Maaf ya jika kakakku membuatmu susah."
"Kakak?" gumam Eryn.
"Se Hoon adalah kakakku."
"Ooh." Eryn mengangguk paham.
"Oh ya, apa kau sudah menyiapkan konsep yang aku inginkan?" tanya Se Naa.
"Sudah, Nona. Ini!" Eryn menunjukkan lembaran kertas yang ada di dalam map yang ia bawa.
Selama Eryn menjelaskan, Se Naa memperhatikan wanita itu. Entah apa yang ada di pikirannya.
"Nona tenang saja, aku sendiri yang akan memastikan semuanya berjalan dengan lancar. Nama perusahaanku menjadi taruhannya," ucap Eryn menutup pertemuan mereka hari itu.
"Baiklah, aku percaya padamu. Bagaimana kalau aku mentraktirmu makan siang?" tawar Se Naa.
"Eh? Terima kasih, Nona. Tapi aku harus segera pergi," tolak Eryn.
"Ayolah, jangan menolaknya."
Eryn berpikir sejenak, kemudian ia mengiyakan penawaran Se Naa.
"Baiklah, ayo!" Se Naa berjalan lebih dulu diikuti Eryn.
"Kakak!" sapa Se Naa.
"Se Naa? Kau mau kemana?" Se Hoon melirik Eryn sekilas.
"Aku akan makan siang dengan Eryn. Kakak tahu, dia punya konsep yang bagus untuk acara nanti. Aku yakin kakak pasti menyukainya."
Se Hoon menatap Eryn. "Benarkah? Aku menantikan kejutan darimu, Nona Kim."
Eryn menundukkan wajahnya.
"Kak, ikutlah bergabung dengan kami. Kami akan makan siang di restoran Jepang. Bukankah kakak suka makanan Jepang?"
Se Hoon tersenyum. "Maaf, tapi aku masih ada pekerjaan. Mungkin lain kali. Benar kan, Nona Kim?"
"Eh?" Eryn mendongakkan kepalanya menatap Se Hoon. Sejenak mata mereka beradu dalam sebuah keheningan.
Tak lama mobil milik Se Naa datang bersama seorang supir. Se Naa langsung mengajak Eryn masuk ke dalam mobil. Kemudian mobil melaju meninggalkan area gedung Se-Kang Grup.
#
#
#
Usai makan siang, Se Naa menemui kakaknya yang sedang berkutat dengan pekerjaannya. Se Naa tersenyum penuh arti menatap Se Hoon.
Se Naa menghampiri Se Hoon yang tidak menggubrisnya sama sekali.
"Kak, kurasa wanita itu cukup menarik." Se Naa sengaja memancing Se Hoon.
Dan benar saja, pria itu langsung menghentikan aktifitasnya dan menatap Se Naa.
"Siapa yang kau maksud?"
__ADS_1
"Tentu saja, Eryn. Siapa lagi? Kurasa kami bisa menjadi teman baik."
"Kau harus ingat tujuan kita, Se Naa. Kau akan membantuku kali ini. Benar kan?" tegas Se Hoon.
"Kakak tenang saja! Oh ya, hari ini aku ingin mengunjungi ibu di rumah sakit. Apa kakak akan ikut?" ajak Se Naa.
"Tidak! Untuk apa kau menemui wanita tua itu? Dia yang sudah menyebabkan semua hal buruk terjadi pada kita."
Se Naa menggeleng pelan. "Kak, bagaimanapun dia adalah ibu kandung kita. Jangan sampai kau menyesal karena kau sudah menyakiti hatinya."
Se Naa keluar dari ruangan Se Hoon dan kembali menuju ruangannya.
"Dasar keras kepala! Mau sampai kapan dia terus menyalahkan semua orang atas apa yang menimpa dirinya?" gumam Se Naa.
"Nona!" panggil Kim Beom.
"Beom, ada apa?"
Pria itu nampak salah tingkah di depan Se Naa.
"Beom, ada apa? Aku harus kembali ke ruanganku. Jika tidak kakak pasti akan membunuhku karena aku bersantai terus sedari tadi."
"Umm, apa Nona ada waktu nanti malam?"
"Eh? Waktu? Kenapa?"
"Bagaimana kalau kita makan malam?"
Se Naa tersenyum. "Boleh. Aku akan menemuimu usai aku menjenguk ibuku."
"Terima kasih, Nona." Kim Beom memberi hormat setelah mengatakan maksudnya.
Se Naa tersenyum tersipu malu mendengar undangan makan malam dari asisten kakaknya itu. Selama ini mereka hanya berteman baik dan tidak pernah ada yang aneh dengan hubungan mereka.
#
#
#
Tiba di rumah sakit Gangnam, Se Naa menemui ibunya yang masih terbaring lemah di ruang ICU.
"Masih belum ada perkembangan apapun, Nona," ucap seorang dokter menghampiri Se Naa.
Se Naa mengangguk. "Aku mengerti, Dokter. Dia hanya akan bangun jika putra kesayangannya datang kemari menemuinya."
Dokter itu menepuk bahu Se Naa kemudian berlalu. Se Naa merasakan sebuah kesedihan amat mendalam melihat kondisi ibunya.
"Bersabarlah, Se Naa. Aku yakin kau bisa melewati ini."
Sebuah suara mengejutkan Se Naa. Gadis itu melirik ke arah pria yang berdiri disampingnya.
"Kau datang? Tapi maaf, malam ini aku ada janji dengan Beom."
"Tidak apa. Kau bisa mendapatkan informasi dari pria itu."
"Ck, kau ini!"
"Aku doakan semoga ibumu lekas membuka mata kembali, Se Naa." Pria bertopi dan bermasker itu ikut mendoakan kesembuhan ibu Se Naa.
"Terima kasih."
"Kalau begitu aku pergi dulu. Aku takut ada mata-mata kakakmu disini."
"Hmm, berhati-hatilah, El-Black..."
#tobecontinued
Terima kasih utk kalian yg sudah mendukung karya receh satu ini. Terima kasih juga utk semua inspirasinya ๐๐๐
Kalianlah semangatku ๐ช๐ช
__ADS_1