Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
82. Beraksi Kembali


__ADS_3

El dan kawan-kawan sedang menuju ke Pulau Jeju secara tersembunyi. Ia menyusun rencana dengan baik untuk misi penyelamatan Eryn kali ini. Yang dihadapinya ternyata bukanlah orang biasa. Melainkan psikopat gila yang bisa mencelakai Eryn jika dia tidak hati-hati dalam bertindak.


Caesar masih mencari titik dimana Se Hoon membawa Eryn. Pria itu sudah lama tidak melakoni profesi ini. Terlihat cukup kikuk karena dia tak ingin melakukan kesalahan sedikitpun.


"Dengar, kita akan menyerang malam ini juga. Kita tidak bisa menundanya lagi," jelas El.


"Baik, Black. Persenjataan kita juga sudah lengkap. Ditambah dengan bantuan anak buah Tuan Kim, aku rasa kita bisa mengalahkan anak buah Se Hoon," balas Carlos.


"Baiklah. Aku sangat berterimakasih karena kalian bersedia membantuku lagi."


"Jangan sungkan, Black. Bukankah kita sudah seperti saudara?" ucap Agli dengan memeluk bahu El.


Se Naa tersenyum dengan kehangatan yang tercipta dalam kelompok El. Mereka sangat kompak untuk saling bahu membahu.


#


#


#


Pukul tujuh malam, Eryn telah siap dengan gaun pengantin yang di pakainya. Ia menatap dirinya dari pantulan cermin.


"Aku harus bisa menggagalkan pernikahan ini. Tapi, bagaimana caranya?" batin Eryn terus berpikir keras.


Pintu kamar Eryn terbuka dan muncullah Se Hoon dari luar. Ia menatap Eryn yang sudah siap dengan gaun pengantinnya. Berwarna putih dan sangat indah.


Se Hoon menatap Eryn lekat. Senyum seringai kembali tergambar diwajah tampan dan dinginnya.


"Kau sangat cantik, Sully," puji Se Hoon.


Eryn memejamkan mata. "Sudah berkali kali aku katakan padamu jika aku bukanlah Sully!" Eryn sengaja berteriak.


Se Hoon hanya diam. Ia terus menatap Eryn yang sedang mengatur napas usai berteriak.


"AKU BUKAN SULLY!" teriak Eryn sekali lagi. "Dan aku tidak akan pernah menjadi Sully! Wanita malang yang akhirnya memilih mati karena harus hidup dengan orang sepertimu!" Eryn menunjuk Se Hoon dengan telunjuknya.


Se Hoon masih diam. Entah apa yang dipikirkan oleh pria itu.


"Kau harusnya sadar dan tidak menyalahkan orang lain. Kau sendirilah yang sudah menyebabkan Sully meninggal. Kaulah yang sudah membunuhnya!"


Air mata Eryn mulai mengalir. Ia bisa merasakan penderitaan seperti apa yang di alami oleh Sully. Eryn terisak dengan memukuli dadanya.


"Aku tahu..."


Dua kata yang akhirnya meluncur dari mulut Se Hoon. Eryn menatap pria itu. Ia menunggu kalimat apa lagi yang akan pria psikopat ini katakan padanya.


"Aku tahu kau bukanlah Sully. Dia sudah tiada. Dia tiada 10 tahun lalu."


"Hah?!" Eryn membulatkan mata. Ia benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran pria di depannya ini.


"Kau bilang dia meninggal karena aku? Begitu kan?"


Eryn melihat sorot mata rapuh yang Se Hoon tunjukkan. Pria ini memang suka berubah-ubah. Tidak ada yang tahu apa yang ada dalam hatinya.


"Itu benar. Mungkin saja Sully meninggal karena aku. Tapi..."

__ADS_1


Se Hoon lebih mendekat lagi pada Eryn dan membuat gadis itu juga mundur beberapa langkah.


"Tapi harusnya dia tahu jika aku sangat mencintainya. Dia harusnya bisa mengubahku menjadi pria jinak, bukan pria pembunuh seperti sekarang."


Eryn mulai merasakan hawa aneh di sekitarnya. Dan itu karena Se Hoon. Dia kembali berubah menjadi monster.


"Penjaga!" seru Se Hoon memanggil para penjaga.


"Iya, Pimpinan Kang!" Dua orang pria bertubuh besar muncul.


"Pegangi dia!" perintah Se Hoon.


"Hah?!" Eryn terkejut. Ia harus cari cara untuk kabur. Tapi dengan gaun pengantin yang besar ini, apa dirinya mampu berlari?


"Siap, Pimpinan!" Dua pria itu maju dan langsung memegangi lengan Eryn.


"Lepaskan aku!" teriaknya.


Se Hoon membuka sebuah kotak yang disimpan dalam saku jasnya. Ia membuka kotak itu dan terpampanglah sebuah jarum suntik yang entah berisi apa.


Mata Eryn membulat sempurna. Ia menggeleng dengan kuat.


"Tidak! Apa yang akan kau lakukan?" tanya Eryn dengan wajah yang sudah pucat.


"Kau tahu, ini adalah sebuah racun yang akan menghentikan denyut jantung dalam waktu 30 menit. Kau tidak akan merasakan sakit. Hanya terasa sedikit nyeri saja. Setelah 30 menit, jantungmu akan benar-benar terhenti dan kau tiada."


Eryn menggeleng. Ia bahkan tidak mengira jika Se Hoon akan melenyapkannya dengan cara seperti ini.


"Tidak! Jangan lakukan ini, Se Hoon. Kau masih bisa sembuh dan menjadi pria normal. Kau masih bisa..."


Suara Eryn tercekat ketika Se Hoon menarik satu tangan Eryn dan memeriksa nadinya.


Tangisan Eryn makin pilu. Bayangan Noah dan juga Eldric mulai memenuhi otaknya. Juga bayangan sang ayah yang baru dikenalnya beberapa bulan terakhir. Ia memejamkan mata ketika Se Hoon mulai mengarahkan jarum suntik itu ke lengan Eryn.


Dengan hati-hati dan perlahan Se Hoon akhirnya berhasil menyuntikkan seluruh racun itu kedalam tubuh Eryn. Dibuangnya jarum suntik itu ke sembarang arah.


"Baringkan dia di atas tempat tidur!" titah Se Hoon.


Eryn masih sadar ketika terdengar suara keributan yang terjadi di luar villa milik Se Hoon. Ia juga melihat Se Hoon dan kedua pria itu keluar dengan terburu-buru dari kamar itu.


Eryn tersenyum. Ia merasa jika Eldric telah datang untuk menolongnya. Tapi, apakah waktunya cukup untuk menyelamatkan Eryn?


#


#


#


Di luar villa, terjadi baku tembak antara anak buah Se Hoon dan anak buah Tuan Kim. Seperti biasa, Eldric menyuruh timnya untuk berpencar.


Santa dan David berhasil menerobos masuk. Suasana mulai kacau. Santa melihat beberapa pelayan wanita meringkuk ketakutan karena mendengar suara senjata yang bersahutan. Santa mendekati mereka dan meminta mereka untuk keluar dari villa dan mencari tempat berlindung.


"Kau tahu dimana kamar Nona Eryn?" tanya Santa.


"Disebelah sana." Seorang pelayan menunjuk sebuah kamar.

__ADS_1


"Baiklah. Terima kasih. Dave, kau bawa mereka keluar. Aku akan ke kamar nona Eryn."


David mengangguk. Ia melindungi para pelayan yang tak bersalah. Ia juga sigap menembak saat ada anak buah Se Hoon yang menembak kearah mereka.


Santa berjalan mengendap-endap menuju kamar yang di maksud. Beruntung pintunya tidak terkunci. Santa mengedarkan pandangan dan melihat Eryn terbaring diatas ranjang.


"Nona Eryn!" Santa berlari dan melihat kondisi Eryn.


"Black, aku sudah menemukan Nona Eryn," seru Santa dari alat komunikasi yang terpasang di telinganya.


"Nona! Bangun, Nona!" Eryn menepuk pipi Eryn pelan. Ia tertegun karena Eryn tak juga bangun.


Tak lama David masuk dan melihat Santa masih berusaha untuk membangunkan Eryn.


"Santa, ada apa?" tanya David.


"Nona Eryn tidak mau bangun juga. Bagaimana ini?"


David memeriksa denyut nadi Eryn. "Denyut nadinya hampir hilang, tapi dia masih hidup."


David mengedarkan pandangan dan melihat sebuah jarum suntik. Ia memungutnya.


"Sialan! Dia sudah menyuntik Nona Eryn dengan racun. Hanya butuh 30 menit untuk membuat jantungnya berhenti."


"Apa?! Lalu, kita harus bagaimana?" Santa mulai panik.


"Kita bawa Nona Eryn keluar lebih dulu."


Santa mengangguk.


"Naikkan tubuhnya ke punggungku!" perintah David.


David menggendong tubuh Eryn dan keluar bersama Santa. Mereka menuju ke sebuah mobil van besar yang di kemudikan oleh Agli.


David membaringkan tubuh Eryn di sofa mobil. David memegangi kedua bahu Santa.


"Dengar, Santa. Kau harus melakukan pertolongan pertama pada Nona Eryn. Kita tidak punya waktu untuk membawanya ke rumah sakit."


Santa menganggukkan kepala. Meski ia juga panik, namun ia harus tetap tenang.


"Kau tekan bagian dadanya, dan berikan napas buatan untuknya."


"A-apa?"


"Hanya kau yang bisa melakukannya! Tidak mungkin aku atau Agli yang memberinya napas buatan kan?" David mulai frustasi.


"Ah, iya. Baik baik."


"Kau bisa kan? Tekan disini dan beri napas buatan. Semoga kita tidak kehilangan nona Eryn. Waktu kita tidak banyak. Aku harus membantu Black untuk menangkap b4jingan itu."


Santa kembali mengangguk. Ia mengatur napas sebelum memulai aksinya.


"Bertahanlah, Nona!"


Santa menekan bagian dada Eryn dan memberinya napas buatan. Berkali-kali Santa melakukannya namun belum juga ada pergerakan dari Eryn.

__ADS_1


"Nona, bangunlah! Nona! Kumohon bangunlah!" ucap Santa berkali-kali dengan air mata yang sudah mengalir.


#tobecontinued


__ADS_2