Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
90. Kebesaran Hati


__ADS_3

"Eryn...?"


Eleanor mematung melihat wanita yang pernah menjadi menantunya itu datang bersama dengan suami dan putranya.


"Ibu..." ucap Eryn mencoba menyadarkan Eleanor ke alam nyata.


"Kau? Ada apa kau datang kemari?" tanya Eleanor bingung.


"Aku hanya ingin tahu kabar ibu," balas Eryn dengan mengulas senyum.


Eleanor tak percaya dengan apa yang dikatakan Eryn. Ia lalu menatap bocah kecil yang bersembunyi dibalik tubuh ayahnya.


"Masuklah!" ucap Eleanor kemudian.


Eryn dan Eldric masuk kedalam rumah besar yang nampak sunyi itu. Eldric menggendong Noah karena bocah itu sedikit ketakutan dengan memori di rumah itu.


Eleanor mempersilakan tamunya duduk di sofa yang terlihat berdebu. Mungkin sudah lama tidak dibersihkan.


"Ibu, dimana Elza?" tanya Eryn.


"Dia sedang kuliah. Bagaimanapun juga, aku ingin dia melanjutkan studinya," ucap Eleanor sendu. Tentunya ia tahu jika Elza sudah menunggak biaya kuliah semester ini.


"Tunggu sebentar ya! Aku buatkan teh dulu untuk kalian." Eleanor beranjak pergi namun Eryn menahannya.


"Tidak perlu, Bu. Aku hanya ingin melihat keadaan ibu."


"Kau masih bersikap sopan padaku padahal aku selalu bersikap kasar padamu. Hatimu terbuat dari apa, Eryn?" tanya Eleanor dengan berkaca-kaca.


"Jangan bicara begitu, Ibu. Sejak kecil aku tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Ketika aku memutuskan untuk masuk ke dalam keluarga ini, aku sangat senang karena aku memiliki seorang Ibu."


"Aku minta maaf karena selalu berbuat kasar padamu dan juga ... Putramu."


"Semua sudah berlalu, Bu. Aku datang kesini untuk berdamai dengan masa laluku."


Eryn menatap lekat Eleanor yang juga sedang menatapnya.


"Oh ya, dimana bibi Erica?" tanya Eryn yang tak melihat adik dari mendiang suami Eleanor.


"Erica sudah tidak tinggal disini lagi. Dia memutuskan menikah dengan pria kaya dan tinggal bersama dengan pria itu. Yah, setidaknya bebanku jadi berkurang karena dia tidak ada," cerita Eleanor dengan wajah kembali sendu.


Eryn menatap Eldric seakan meminta persetujuan. Eldric mengangguk. Eryn beranjak dari duduknya dan menghampiri Eleanor.


"Ibu..." Eryn menggenggam kedua tangan Eleanor. Wanita paruh baya itu menatap Eryn.


"Bagaimana jika ibu dan Elza tinggal bersama kami saja? Ibu tidak perlu memikirkan biaya apapun nantinya."


Eleanor tercengang mendengar penawaran Eryn.


#


#


#


Di tempat berbeda, Elza yang baru saja keluar dari kelasnya segera menuju ruang administrasi. Ia ingin membayar uang kuliahnya yang belum ia bayar. Setelah kemarin ia menyetujui untuk menjadi kekasih Luiz, ia mendapat suntikan dana dari pria itu.


Elza sendiri masih tidak yakin dengan keputusannya menerima Luiz. Tapi ini lebih baik dari pada ia harus menjual diri untuk bertahan hidup.


Tiba di ruang administrasi, Elza dikejutkan dengan penuturan petugas loket pembayaran yang menyatakan jika semua biaya kuliah Elza sudah dibayarkan hingga lulus kuliah nanti.

__ADS_1


Tentu saja Elza melongo tak percaya. Siapa pula yang sudah membayar seluruh biaya itu? Karena tak ada alasan untuk menggunakan uangnya, akhirnya uang itu kembali ia simpan dalam dompet.


Elza keluar dari ruang administrasi dengan masih memasang ekspresi bingungnya. Secara tak sengaja, seorang mahasiswa memanggil Elza dan bicara padanya.


"Elza, ada yang mencarimu di parkiran kampus. Cepatlah datang kesana!"


"Eh? Siapa?"


"Aku tidak tahu. Kau temui saja langsung." Mahasiswa itu segera berlalu.


Belum usai keterkejutannya kini Elza harus kembali syok karena melihat sosok yang tidak asing di matanya. Dari kejauhan sosok itu sangat mencolok. Ditambah dengan warna mobilnya yang amat mencolok juga. Membuat heboh seluruh isi kampus itu.


Elza berlari kecil menghampiri sosok itu.


"Luiz?" Entah Elza bertanya atau menyapa pria itu.


Pria itu segera melepas kacamata hitam yang bertengger di hidungnya.


"Hai, sayang. Kau sudah selesai kuliah?" tanya Luiz santai.


Elza celingak celinguk melihat sekitaran tempat mereka berdiri sekarang. Ia amat malu karena diperhatikan oleh teman-temannya.


"Apa yang kau lakukan disini? Lihatlah! Kau sudah membuat heboh para mahasiswi disini!" Elza menunjuk teman-teman gadisnya yang terlihat kagum pada ketampanan Luiz dan berteriak histeris.


Luiz melirik para gadis yang menatapnya dengan tatapan lapar.


"Hei, dengar kalian semua! Aku adalah kekasih Elza. Jadi, kalian jangan pernah menatapku begitu. Karena aku tidak akan pernah menatap gadis lain selain Elza," seru Luiz yang dapat di dengar oleh para gadis itu.


Sontak para gadis langsung membubarkan diri setelah mendengar pengumuman dari Luiz. Elza menundukkan wajah karena malu dengan ulah Luiz.


"Sayang, kau kenapa?" tanya Luiz dengan menjimpit dagu Elza hingga membuat mata mereka bertemu.


"Kenapa kau melakukan ini?" lirih Elza.


"Ah, sudahlah. Bicara denganmu percuma saja. Aku mau pulang!"


"Baiklah, aku akan mengantarmu. Ayo masuk!" Luiz membukakan pintu mobil untuk Elza.


Tak lama mobil Luiz melesat pergi dari parkiran kampus Elza. Selama perjalanan tak ada yang bicara. Baik Elza maupun Luiz, sama-sama diam.


Sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang ingin Elza tanyakan pada Luiz. Sejak pertemuan mereka malam itu, Elza mencari informasi mengenai Luiz.


Elza penasaran kenapa pria itu bersedia membantu Elza tanpa embel-embel apapun. Hanya sebagai kekasih saja. Elza tahu jika Luiz terkenal sebagai cassanova ulung yang suka bermain wanita. Namun kenapa kemarin Elza masih berstatus perawan dan Luiz tidak mengambil keuntungan darinya?


"Ini!" Luiz menyodorkan sebuah kertas pada Elza hingga membuat gadis itu sadar dari lamunannya.


"Apa ini?"


"Kau buka saja sendiri!"


Luiz masih fokus menyetir. Elza membuka kertas itu dan membaca isinya.


Elza menutup mulutnya. "Jadi kau yang sudah membayar semua biaya kuliahku? Bahkan sampai lulus?" Elza menatap Luiz.


"Kenapa kau melakukannya? Bukankah kau sudah memberiku uang? Kenapa harus membayarnya lagi?"


"Kau ternyata cerewet juga ya! Sudahlah, aku tidak perlu menjawab pertanyaanmu. Uang yang kemarin kuberi, kau simpan saja untuk biaya sehari-hari. Dan ingat! Jangan pernah berpikir untuk menjual dirimu lagi. Karena kau adalah milikku!"


Elza menelan ludahnya. Ia menunduk sedih. Ia pikir Luiz melakukan ini karena memiliki perasaan padanya, tapi ternyata ia salah. Luiz tetaplah membeli tubuhnya. Cepat atau lambat Elza harus siap jika Luiz meminta imbalannya.

__ADS_1


"Eryn sedang berkunjung ke rumahmu!"


Kalimat Luiz kembali membuat Elza menatap pria itu. "Kau serius? Kak Eryn sedang berada di rumahku?"


"Hmm, Eryn sangat ingin bertemu dengan keluarga Evans. Ia pikir ia perlu berterimakasih pada keluargamu."


Elza tersenyum. "Kak Eryn adalah wanita yang baik. Hatinya begitu besar dengan mau menemui kami setelah apa yang sudah menimpa dirinya. Padahal ibuku selalu bersikap kasar padanya dan Noah."


Elza menitikkan air mata. Dengan sigap Luiz menawarkan sapu tangan miliknya pada Elza.


"Terima kasih," ucap Elza.


#


#


#


Tiba di kediaman keluarga Evans, Elza segera turun dari mobil Luiz dan berlari ke dalam rumah. Ia sangat ingin bertemu dengan mantan kakak iparnya itu.


"Kak Eryn!" seru Elza yang membuat semua orang menoleh kearahnya.


Eryn bangkit dari duduknya dan menyambut kehadiran Elza. Gadis itu berlari dan memeluk Eryn.


"Kakak..." Gadis itu terisak dalam pelukan Eryn.


"Hei, jangan menangis. Apa begini wajah adikku untuk menyambut kedatangan kakaknya?" Eryn merangkum wajah Elza dan menghapus air matanya.


"Kau pulang dengan siapa?" tanya Eryn yang tadi sempat mendengar deru mobil yang cukup keras.


"Dia pulang bersamaku!" seru Luiz tiba-tiba masuk ke dalam rumah tanpa permisi.


"Luiz?!" Eryn dan Eldric membulatkan mata.


"Kalian jangan kaget begitu! Aku ini kekasih Elza. Wajar saja aku mengantar kekasihku pulang," ucap Luiz santai.


"Hah?!" Eldric tak percaya dengan apa yang dikatakan Luiz.


"Jika tak percaya tanyakan saja pada Elza." Luiz menatap Elza.


Gadis itu mengangguk pelan.


"Bagaimana bisa? Apa kau merayunya, huh?!" Eldric masih tidak percaya dengan semua ini.


"Bagaimana bisa kau memacari adik kami, hah?!" Eldric sepertinya tidak terima dengan hubungan ini. Karena ia tahu seperti apa sifat Luiz. Luiz seorang pemain wanita dan ia tak ingin Luiz mempermainkan hati Elza.


"Tentu bisa! Kau saja menikahi adik angkatmu sendiri, kenapa aku tidak bisa memacari adik kalian, hah?!"


Eldric makin tersulut emosi dan menarik kerah baju Luiz. Eryn hanya menggeleng pelan dengan pertengkaran kecil dua sahabat ini.


"Sudah sudah! Apa kalian tidak malu pada bibi Eleanor?" lerai Eryn.


Luiz menggaruk tengkuknya. Begitu juga dengan Eldric.


"Bibi, aku serius dengan ucapanku! Aku adalah kekasih Elza. Aku ingin meminta restu darimu, Bi." Luiz menghampiri Eleanor dan meminta restu pada wanita itu.


"Heh?! Jika mengenai masa depan Elza, aku menyerahkan semuanya padanya. Biar dia yang menentukan mana yang baik untuk dirinya," balas Eleanor.


Luiz menatap Elza. Entah apa yang dirasakan pria ini terhadap Elza. Yang jelas, ia ingin melindungi gadis ini. Gadis bermata bening yang membuatnya luluh dan memilih menjadi pria baik.

__ADS_1


Apakah Elza akan menjadi pelabuhan cinta yang terakhir untuk Luiz?


#tobecontinued


__ADS_2