
Tubuh Eryn masih terduduk di lantai dengan berderai air mata. Usai sudah semua yang ia sembunyikan selama enam tahun ini. Semua telah berakhir dengan terbongkarnya identitas Noah.
Para karyawan mulai berbisik-bisik membicarakan tentang wanita cantik itu. Santoz yang merasa iba pada Eryn, ia menghampiri wanita itu.
"Nyonya... Apa Anda baik-baik saja?"
Sedari tadi ia hanya bisa diam. Meski ingin membantu ia tak mungkin ikut campur urusan keluarga bosnya. Barulah kini ia menyadari jika Eryn telah menjadi tontonan seluruh karyawan kantor.
"Kembalilah bekerja!" seru Santoz yang membuat orang-orang kembali melanjutkan aktifitas mereka.
"Nyonya, bangunlah!" Santoz membantu Eryn.
Wanita itu mulai tersadar dari kesedihannya.
"Santoz, bisakah kau mengurus yang disini? Aku harus pergi," ucap Eryn dengan menyeka air matanya.
"I-iya, Nyonya."
"Terima kasih."
Eryn segera berlari mengejar keberadaan Eleanor. Namun wanita paruh baya itu telah melesat pergi dengan mobilnya.
Secepat kilat Eryn berlari mencari taksi. Dengan harap-harap cemas ia segera menuju ke rumah keluarga Evans.
Setengah jam berlalu, Eryn tiba di kediaman Eric. Ia segera berlari mencari keberadaan Noah. Ia bertemu Matilda dan bertanya dimana putranya.
"Tuan Kecil masih ada di sekolahnya, Nyonya," ucap Matilda.
Eryn melupakan hal itu. Ia kembali berlari meninggalkan rumah. Ia harus bisa menemui putranya sebelum Eleanor.
Namun lagi-lagi ia terlambat. Noah telah dibawa oleh Eleanor.
"Tidak!" Eryn terduduk lemas di bangku sekolah Noah. Air matanya tak mau berhenti mengalir.
.
.
.
"Nenek, kita mau kemana?" tanya Noah polos ketika mobil Eleanor mulai melaju jauh dari kota.
"Kita akan ke tempat dimana kau seharusnya berada," jawab Eleanor dengan seringai mengerikan.
Eleanor memberi kode pada supir untuk mengantarnya ke tempat yang sudah disepakati. Mobil terus melaju menjauhi kota.
Hingga satu jam berlalu, mobil tiba di sebuah tempat yang bertuliskan panti asuhan. Eleanor turun terlebih dahulu dan meminta Noah menunggu di mobil.
"Sayang, Nenek masuk dulu ya! Kau tunggulah disini sebentar dengan Paul."
Noah mengangguk. Ia memperhatikan neneknya yang disambut oleh seorang wanita paruh baya juga yang seumuran dengannya.
Noah memperhatikan sekeliling tempat itu. Bocah lima tahun itu cukup cerdas untuk mengetahui tempat apa yang didatangi oleh neneknya.
"Paman Paul, apa itu panti asuhan?" tanya Noah polos pada si supir.
"Panti asuhan adalah tempat anak-anak yang tidak memiliki rumah dan orang tua," jawab Paul.
__ADS_1
"Kenapa nenek membawaku kemari?"
"Aku tidak tahu, Tuan Kecil."
"Aku memiliki rumah dan orang tua. Aku tidak akan tinggal di tempat seperti ini."
Paul terkekeh mendengar celotehan bocah kecil itu. Mendengar Paul tertawa, Noah merasa ada yang janggal dengan sikap neneknya. Tidak seperti biasa neneknya menjemputnya pulang sekolah.
Melihat kelengahan Paul, Noah segera turun dari mobil dan berlari sekencang yang ia bisa. Tepat ketika Noah berlari, Eleanor keluar dari panti dan melihat bocah itu berlari kabur darinya.
"Paul! Cepat tangkap bocah itu! Dasar bodoh!" teriak Eleanor.
Namun tubuh gempal Paul tentunya akan sulit untuk mengejar lari seorang bocah kecil. Secepat itu Noah menghilang dan Paul kehilangan jejaknya.
"Maaf, Nyonya. Aku tidak menemukan jejak Tuan Kecil," ucap Paul sambil terengah.
"Bodoh! Mengejar anak kecil saja kau tidak becus! Kau harus menurunkan berat badanmu!" umpat Eleanor. Ia memegangi kepalanya.
"Sekarang kita harus bagaimana, Nyonya?"
Eleanor tersenyum seringai. "Bukankah aku datang kesini untuk menyingkirkan anak itu? Sekarang dia sudah menghilang, jadi itu mempermudah pekerjaanku. Kita kembali ke rumah, Paul. Sekarang aku tinggal membereskan wanita j4lang itu saja!"
...🌿🌿🌿...
Hari sudah mulai gelap, seharian ini Eryn pergi dari satu tempat ke tempat yang lain untuk mencari Eleanor yang membawa putranya. Ia mendatangi tempat-tempat yang sering didatangi ibu mertuanya itu. Ia bahkan bertanya pada teman sosialita Eleanor. Namun nihil. Eryn tak mendapatkan apa pun.
Eryn juga terus menghubungi ponsel Eleanor namun tak pernah dijawab. Tentu saja Eleanor menghindari panggilan dari Eryn.
Dengan sangat terpaksa Eryn kembali ke rumahnya dengan langkah lemah. Ia berharap jika Noah berada di rumah bersama Matilda.
"Nyonya..." panggil Matilda.
Eryn melihat ada beberapa orang disana. Eleanor, Erica, Elza, dan satu orang lagi yang sangat ia kenal.
"Lolita? Kau disini? Kemana saja kau beberapa hari ini?" Eryn menghampiri Lolita dan memeluknya.
Lolita hanya diam mendapat pelukan hangat dari sahabatnya.
"Kau kemana saja? Apa kau tahu semuanya kacau. Aku membutuhkanmu, Lol." Eryn memegangi kedua bahu Lolita.
Dengan kasar Lolita menepis tangan Eryn.
"Hentikan sandiwaramu, Eryn," ucap Lolita.
Eryn menatap tak percaya pada Lolita. "Lol, apa maksudmu?"
"Aku sudah muak denganmu, Eryn. Maaf, aku harus melakukan ini. Saat ini aku mengandung anak Eric." Lolita menunjukkan sebuah kertas hasil USG kepada Eryn.
"A-apa?!" Dengan tangan gemetar Eryn menerima kertas itu. Ia menggeleng pelan.
"Ini tidak mungkin!" lirih Eryn.
"Sudah cukup kau menipu kami! Sekarang pergilah dari rumahku!" ucap Eleanor.
"Dimana Noah? Kemana ibu membawa Noah?!" Eryn menunjukkan amarahnya. Ia mengguncang tubuh Eleanor.
"Dasar jal4ng! Berani sekali kau menyentuhku! Kau pasti tidur dengan banyak pria, hah! Dan kau membuat putraku menjadi ayah dari anak harammu itu! Menjijikkan! Penjaga! Usir wanita ini dari sini!" teriak Eleanor.
__ADS_1
Dua orang pria memegangi lengan Eryn dan membawanya keluar dari rumah. Ia terus berontak minta dilepaskan. Ia harus tahu dimana putranya saat ini.
"Ibu! Katakan dimana Noah! Ibu!" teriak Eryn.
Elza merasa iba pada Eryn. Namun ia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Ia tak menyangka jika Eryn sudah membohongi keluarganya.
"Ibu! Katakan dimana Noah!" Eryn masih berteriak ketika ia sudah berada di luar rumah.
Eleanor menghampiri Eryn yang terhempas di tanah.
"Aku tidak tahu dimana putramu. Dia melarikan diri saat aku akan membawanya ke panti asuhan. Dan kau! Bersiaplah untuk berpisah dengan putraku! Aku tidak sudi memiliki menantu jal4ng sepertimu!"
Eleanor berlalu dan menutup pintu rumah itu dengan kasar. Eryn bangkit lalu menggedor pintu rumah itu. Namun tak satu orangpun membukakan pintu untuknya. Ia kembali terduduk lemas. Air matanya sudah membanjiri wajah cantiknya.
"Bagaimana bisa? Lolita? Kau mengkhianatiku!" Eryn memukuli dadanya yang terasa sesak.
Dari kejauhan sebuah mobil mewah sedari tadi mengikuti kemanapun Eryn pergi. Seseorang yang berada di dalam mobil tersenyum puas seolah bertepuk tangan untuk kemalangan Eryn.
"Jalan! Kita kembali pulang!" ucap tuan si pemilik mobil pada supir.
Mobil itu melaju menuju sebuah mansion mewah di pinggiran kota. Siapa lagi kalau bukan El-Black si mafia.
Ia berjalan menyusuri lorong-lorong mansion besarnya kemudian menuju sebuah mini bar yang ada disana. Ia duduk di meja bar dan menuangkan anggur kedalam gelas.
Black menyesap pelan anggur didalam gelas. Matanya mulai berkabut mengingat apa yang terjadi hari ini.
Satu gelas tandas, dua gelas tandas, dan begitu juga gelas-gelas yang lainnya. Black mulai mabuk.
Rose mendatangi Black yang masih terus menuang anggur.
"Hentikan, El! Tidak ada gunanya kau meminum semua ini!" Rose mengambil botol anggur dari tangan Black.
Black tertawa kecil. "Anak itu bukan anak Eric, Rose. Anak itu bukan anaknya," racau Black.
Rose hanya diam mendengar racauan Black.
"Dia pasti tidur dengan lelaki lain, Rose. Siapa? Siapa pria itu?!" teriak Black.
"Aku akan membunuh pria itu!" teriaknya lagi.
"Apa kau tidak pernah berpikir mungkin saja anak itu adalah anakmu? Kurasa Eryn bukanlah wanita seperti itu," ucap Rose yang sudah merasa kesal dengan Black kemudian meninggalkannya.
Black kembali meneguk anggur memabukkan itu sambil memikirkan apa yang dikatakan oleh Rose.
...B e r s a m b u n g...
*Hmm, kira2 mas Black bakalan sadar gak ya?
*Buat kalian yg suka dgn novel versi audio book, bisa kunjungi audio emak ya, hihi, dengarkan suara receh emak yg ala kadarnya, hahahaha.
ada audio book, Anak Sultan Milik CEO karya bucin fi sabilillah,
dan yg terbaru ada Jodohku Seorang Janda Kembang karya Rahutia,
jangan lupa tinggalkan jejak ya kesayangan😘😘
...terima kasih...
__ADS_1