Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
38. Bos Mafia Baru


__ADS_3

Rio de Jeneiro,  Brasil


Pagi ini, Eric bersiap untuk menuju ke Sao Paulo untuk mengurus bisnisnya. Ia berpamitan pada Matilda untuk menyampaikannya pada Eryn.


"Aku pergi dulu, Bi. Tolong kau jaga Eryn. Dan ingat, jangan katakan apa pun padanya soal masa lalunya. Kau paham?"


"Iya, Tuan. Aku mengerti. Lalu, jika nona Eryn bertanya kemana Tuan pergi, aku harus menjawab apa?"


"Katakan saja aku sedang mengurus bisnis.  Aku tidak tahu kapan aku akan kembali kemari. Karena aku juga harus kembali ke Meksiko."


"Baik, Tuan. Hati-hati di perjalanan."


Eric segera memasuki mobilnya dan melesat pergi meninggalkan rumah itu. Matilda kembali masuk kedalam rumah dan bertemu dengan Eryn.


"Bibi, dimana Eric?"


"Eh? Nona sudah bangun? Kalau begitu Bibi akan siapkan sarapan untuk Nona."


"Bibi, aku tanya Eric kemana?"


"Oh, Tuan Eric sudah pergi tadi, Nona. Dia bilang ada urusan bisnis di luar kota. Dan sepertinya akan lama kembali kemari."


"Oh, begitu." Eryn duduk di meja makan.


"Nona ingin makan apa?"


"Apa saja, Bi. Buatkan yang sederhana saja."


"Baik, Nona. Tunggu sebentar!"


Eryn duduk dan memperhatikan sekitar rumah itu.


"Kenapa aku merasa asing di rumah ini? Ini ... Seperti bukan rumahku, Bi," cerita Eryn.


"Mungkin karena Nona mengalami amnesia, makanya Nona agak sedikit bingung."


"Mungkin saja, Bi.  Tiba-tiba aku terbangun disebuah rumah sakit dan aku tidak mengingat apa pun." Wajah Eryn berubah sendu.


"Nona, jangan bersedih. Ada Bibi yang selalu bersama Nona."


"Bi, apa Bibi sudah lama bekerja denganku?"


"Iya, Nona. Sudah sejak Nona masih kecil."


"Lalu, dimana keluargaku, Bi? Eric bilang dia adalah salah satu keluargaku."


"Ayah dan kakak Nona sudah meninggal."


"Kakak? Jadi, aku memiliki seorang kakak?"


Matilda tak ingin bercerita lebih banyak lagi. Ia tahu jika Eric pasti mengawasi dirinya.


"Sebaiknya Nona makan dulu. Setelah itu Nona bebas melakukan apa yang nona inginkan asal tidak melanggar aturan tuan Eric."


Eryn tertunduk sedih. "Kenapa aku merasa seakan hidup terpenjara?"


...🌿🌿🌿...


Sao Paulo, Brasil


Eric datang ke EB Company dan langsung disambut oleh Juan dan anak buahnya. Pria itu terus mengembangkan senyumnya.


"Selamat datang, Nak!" sapa Juan lalu menjabat tangan Eric.


"Terima kasih, Paman."


"Mari, Nak. Kita akan langsung mengangkatmu menjadi pemilik EB Company yang baru. Sekaligus kau juga akan memimpin Amigo," ucap Juan.


Eric mengembangkan senyum liciknya.


"Tapi, Paman. Aku ingin mengganti nama perusahaan ini, Paman."


"Ya, terserah padamu. Kau sudah berhasil merebutnya dari tangan sahabatmu sendiri."


"Aku akan menggantinya menjadi Evany Company. Kurasa itu lebih cocok denganku. "


Juan meminta beberapa orang hadir dalam rapat tertutup yang diadakan olehnya. Di dalam rapat nanti, ia akan mengumumkan Eric sebagai pemimpin baru Amigo.


"Mulai hari ini, Eric Evans akan menjadi pemimpin baru kalian. Dan ingat, kalian harus mematuhi semua perintahnya sama seperti kalian mematuhi perintahku. Kalian mengerti?"


"Baik, Tuan."


Gemuruh suara tepuk tangan memenuhi ruangan itu. Eric pun menjabat satu persatu orang-orang penting di perusahaan. Setelahnya, Eric menuju ke ruang kerjanya dan menduduki kursi kebesarannya.


Enrique masuk dan memberi hormat.


"Tolong kau ganti papan nama itu, Enrique. Juga buang semua barang-barang bekas milik Eldric. Aku tidak ingin melihat barang-barang itu lagi disini! Ini adalah tempatku sekarang! Hahaha!" Eric tertawa puas.


"Baik, Tuan." Enrique meminta seorang cleaning service untuk membersihkan ruangan itu, termasuk kamar pribadi milik Black.


Setelah semuanya kosong, Eric menyusun lagi barang-barangnya yang sudah ia beli tadi.

__ADS_1


"Hmm, tampak mengagumkan!" Eric mengusap dagunya.


"Tuan, ada hal yang harus aku sampaikan," ucap Enrique.


"Apa itu, Enrique?"


"Aku tidak menemukan keberadaan Carlos, Tuan."


Eric terperanjat. "Apa katamu?! Lalu dimana pria kepercayaan Eldric itu?"


"Aku juga tidak tahu, Tuan. Sejak insiden yang menimpa Black, ia juga ikut menghilang."


"Sial! Dia pasti bersembunyi di suatu tempat. Hanya dia satu-satunya orang kepercayaan Eldric. Kita harus mencari dan mendapatkannya. Dia harus berada di pihak kita juga. Kau cari dia sampai dapat! Mengerti?"


"Baik, Tuan."


...🌿🌿🌿...


Kota Meksiko


Eleanor dan Erica sedang menonton berita televisi yang menayangkan tentang Eric yang kini menjabat sebagai pemilik EB Company dan mengganti namanya menjadi Evany Company. Tentu saja Eleanor sangat bangga pada putranya itu. Sekarang keluarga Evans memiliki kekuasaan yang tak terbatas.


Elza yang mendengar hal itu tak serta merta bahagia dengan euforia yang dirasakan oleh ibu dan bibinya.


"Kenapa kakak sampai melakukan hal seperti ini? Apa menjadi kuat dan terkenal itu sangat menyenangkan meski harus merebut dari hak milik orang lain?" pikir Elza.


Elza juga menatap Lolita yang seakan membeku melihat kesuksesan suaminya. Elza memutar bola matanya malas.


"Mereka bertiga sama saja. Mereka hanya mementingkan uang diatas segalanya." Elza malas dan memilih masuk ke dalam kamarnya. Ia sama sekali tak ingin bergabung dengan kesenangan yang dirasakan oleh ibu dan bibinya.


Sementara itu, di pinggiran kota Meksiko, Tuan Kim mendatangi satu rumah yang diduga ditinggali oleh cucunya. Seorang pria paruh baya membukakan pintu dan menyapa dengan ramah.


"Selamat sore, apa ada yang bisa kubantu, Tuan?"


Tanpa Menjawab Tuan Kim dan anak buahnya masuk kedalam rumah.


"Hei, siapa kalian?" Pria tua itu ingin menghalangi namun seorang pria muda assiten Tuan Kim menahannya.


Tuan Kim menghampiri seorang anak kecil yang sedang makan di ruang makan.


"Cucuku... Akhirnya aku menemukanmu..." Tuan Kim langsung memeluk bocah lelaki itu.


"Kakek ini siapa?" tanya bocah kecil itu.


"Aku kakekmu, Nak. Aku kakekmu!" seru Tuan Kim.


"Hah?! Kakek?" Bocah lelaki itu mengernyit bingung.


"Begini, ini adalah Tuan Kim Hyun Jeong. Dia kemari karena ingin mencari anak dan cucunya yang menghilang," jelas asisten Tuan Kim yang bernama Lee Hyun Woo.


Pasangan paruh baya itu saling pandang. Hyun Woo memberikan sebuah foto pada kedua pasangan itu.


"Kalau boleh tahu, siapa nama Nyonya dan Tuan?" tanyanya.


"Aku Zack, dan ini istriku, Zoey. Kami memang menemukan anak ini saat kami pulang dari pasar beberapa bulan lalu. Dia bilang jika neneknya ingin membuangnya ke sebuah panti asuhan dekat sini. Tapi dia berhasil kabur. Jadi, Tuan adalah kakek dari anak ini?"


"Jika Tuan adalah kakeknya maka yang ingin membuangnya adalah istri Anda, Tuan?" sahut Zoey.


"Tidak! Saya tidak memiliki istri," bantah Tuan Kim.


"Tuan Kim benar. Beliau tidak menikah selama ini."


"Lalu siapa yang dia maksud dengan nenek?"


"Itu adalah nenek Eleanor," sahut si bocah lelaki yang tak lain adalah Noah.


"Kakek, jika benar kakek adalah kakekku, lalu dimana Mommy?" tanya Noah dengan mata berkaca-kaca.


"Kakek juga sedang mencarinya, Nak." Tuan Kim merangkum wajah Noah.


"Terima kasih karena kalian sudah merawat cucuku. Aku janji akan menjaganya dengan baik."


"Apa kakek mengenal nenek Eleanor? Jika iya, aku tidak akan ikut dengan kakek. Aku lebih baik tinggal disini saja bersama kakek Zack dan nenek Zoey."


"Eleanor? Siapa dia?" Tuan Kim melirih Hyun Woo.


"Daddyku bernama Eric Evans. Dia memiliki ibu bernama Eleanor. Dan dia tidak menyukaiku. Bahkan dia sering memarahi Mommy," cerita Noah dengan polosnya.


Tuan Kim mensejajarkan tinggi badannya dengan Noah.


"Dengar, Nak. Kakek tidak mengenal nenek Eleanor. Kakek janji akan menemukan Mommymu dan kita akan berkumpul bersama. Kakek tinggal di Seoul, Korea selatan. Itu jauh dari sini. Dan disana tidak ada nenek Eleanor. Jadi, kau tidak perlu khawatir."


Setelah cukup lama bernegosiasi dengan Zack dan Zoey, akhirnya Tuan Kim berhasil membawa pulang Noah bersamanya. Tak lupa ia memberikan sejumlah uang kepada pasangan paruh baya itu.


Tuan Kim meminta assitennya untuk mencari tahu lebih detil tentang masa lalu putrinya.


...🌿🌿🌿...


Usai selebrasi untuk merayakan pengangkatan Eric sebagai pemimpin Amigo yang baru, Juan kembali ke Roma sesuai dengan janjinya yang akan berlibur bersama dengan Rose.


Juan tak mengira jika semua hal akan berubah seperti ini. Dulu ia sangat membenci keluarga Albana hingga akhirnya menghancurkan keluarga itu. Namun putrinya menemukan Black yang adalah anak dari Edward Albana, musuhnya di masa lalu.

__ADS_1


Juan mengusap wajahnya kasar. Entah apakah keputusannya untuk membantu Eric dalam mencapai tujuannya adalah benar atau tidak. Hanya karena seorang wanita bernama Eryn, Eric mampu melakukan segala cara untuk mendapatkannya.


Juan tiba di kediamannya dan disambut oleh wajah panik Brigitta.


"Ada apa, Brigitta?" tanya Juan.


"Itu Tuan..."


"Katakan yang jelas, ada apa?"


"Nona Rose..."


"Ada apa dengan Rose?" Juan segera berlari meninggalkan Brigitta yang tak kunjung mengatakan maksudnya.


Juan masuk kedalam kamar Rose. Kosong. Tak ada siapapun disana kecuali kesunyian.


"Rose? Dimana kau, Nak?"


Brigitta menghampiri Juan. "Nona Rose sudah pergi, Tuan."


Juan terduduk lemas di tepi tempat tidur Rose. Ia melihat sebuah surat diatas nakas.


..."Untuk Ayah,...


...Saat ayah membaca surat ini, itu artinya aku sudah tidak ada di rumah ini lagi. Maaf jika aku harus pergi dengan cara seperti ini. Aku sudah tahu semuanya, Ayah. Karena itu aku tidak bisa lagi menjadi putri Ayah....


...Sekali lagi maaf, dan terima kasih atas semua cinta yang telah ayah berikan padaku selama ini....


...Kuharap Ayah selalu melakukan hal yang benar meski ayah adalah seorang bos mafia....


...Salam,...


...Putrimu, Rosalinda Blanco."...


Juan meremass surat yang ditulis oleh Rose.


"Aku kehilangan putriku..." Juan tertunduk sedih.


...🌿🌿🌿...


Satu bulan kemudian,


Eric melakukan bisnisnya dengan sangat baik. Kini ia berkuasa di wilayah Amerika Latin. Ia tak memiliki julukan apa pun seperti dulu yang tersemat pada Eldric. Eric masih bersikap biasa-biasa saja meski padahal ia juga tak kalah bengis dengan Black ketika memimpin dulu.


"Selamat datang, Paman. Terima kasih sudah menyempatkan untuk datang ke perusahaan," sambut Eric atas kedatangan Juan.


Juan manggut-manggut merasakan banyak hal berbeda dengan perusahaan setelah Eric mengambil alih kepemimpinan.


"Kau boleh juga," ucap Juan.


"Hahahah, ini semua berkat dukungan Paman juga."


"Ya, aku banyak melakukan banyak hal untukmu. Tapi, apa yang kau lakukan? Kau membuatku kehilangan putriku," sarkas Juan.


"Jangan bicara begitu, Paman. Lagipula dia bukan putri kandung Paman. Untuk apa Paman memikirkan tentang dia?" Eric menuangkan segelas wine untuk Juan.


"Tapi aku menyayanginya seperti putriku sendiri, Eric. Dan dia sudah menjadi putriku selama 25 tahun ini."


Eric tertawa. "Bukankah lebih baik Paman memiliki seorang putra saja dibanding seorang putri? Aku bisa menjadi seorang putra untuk Paman."


"Kau ini!" Juan menyesap pelan wine pemberian Eric.


"Apa perlu aku mencari jejak Rose?"


"Tidak perlu, Eric. Biarkan dia bebas."


Eric mengedikkan bahunya kemudian menyesap wine miliknya. Pikirannya menerawang entah kemana seolah-olah banyak hal terlintas dalam benaknya.


.


.


.


Cali, Kolombia


Di sebuah rumah kecil yang agak jauh dari kota, seorang pria dengan beberapa luka ditubuhnya kini membuka mata. Ia tak ingat kapan terakhir ia membuka matanya. Kepalanya terasa pening.


Bekas luka di tubuhnya sudah mulai mengering dan sembuh. Pria itu turun dari tempat tidur dan berjalan pelan keluar kamar.


Pria itu melihat seorang wanita sedang membelakanginya. Mendengar ada langkah yang mendekat, wanita itu berbalik badan.


"Kau sudah bangun?" tanya wanita itu dengan mengulas senyumnya.


"Rose?" Pria itu mengernyitkan dahi.


...🌿🌿🌿...


*Terima kasih atas dukungan kalian pada karya receh yg satu ini. Seperti apapun alur yg kubawakan, ini adalah ciri dari nopel yg selalu kutulis. Penuh intrik dan terkesan tidak biasa karena banyak bumbunya. Dan semua hal pasti akan berakhir bahagia nantinya. Jadi, jangan cemas kalo banyak konflik. Toh kalo datar2 aja tidak akan seru. 


Hope you understand, thank U 🙏

__ADS_1


__ADS_2