Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
128. Penderitaan Ilena


__ADS_3

Ilena terdiam saat orang yang memanggil nama aslinya kian mendekat. Orang itu membuka kunci gembok ruangan jeruji besi Ilena dan berdiri tepat di depan gadis yang kini sedang meringkuk itu.


Ilena mendongak dan melihat wajah pria yang kini ia benci. Dengan tega pria itu telah menipu dan menjebaknya. Ternyata semua perhatian dan kehangatan yang diberikan kepada Ilena bukanlah hal yang tulus.


Ilena menatap tajam pria yang tak lain adalah Red. Pria yang kini juga menatapnya dengan penuh kebencian.


Ilena segera memutus kontak mata dengan Red.


"Untuk apa kau datang kemari? Apa kau belum puas sudah menjebakku?" tanya Ilena dengan nada dingin.


"Tentu saja aku belum puas!"


Jawaban Red membuat Ilena meradang. Ia berdiri dan berhadapan langsung dengan pria itu.


"Apa salahku padamu? Kenapa kau melakukan ini padaku? Aku bahkan tidak pernah mengenalmu sebelum kakakku membawamu ke rumah!" sungut Ilena.


"Wah, jadi kau mengakui jika dirimu adalah Ilena Adams?" Red menyilangkan tangannya.


"Iya! Aku adalah Ilena Adams! Dan aku tidak takut dengan pria pengecut sepertimu! Kau mau membunuhku? Bunuh saja aku! Aku tidak takut mati!" Teriak Ilena di depan wajah Red.


Red tertegun sejenak. Ia tak mengira jika gadis di depannya sungguh berani padanya.


Red mencengkeram dagu Ilena.


"Belum saatnya kau mati, Nona! Kau harus menderita sebelum kau bertemu dengan malaikat maut!" ucap Red dingin.


Ilena menatap tajam kedalam mata Red. Ia tidak takut apapun sekarang. Hatinya telah mati. Hatinya sudah sekuat baja sejak keluarganya sendiri tidak pernah mengakuinya.


Red kalah! Ia kalah dengan tatapan Ilena. Mata gadis itu membuatnya luluh. Ia segera menarik tangannya dan berbalik badan.


Ilena memegangi wajahnya yang terasa sakit setelah dicengkeram oleh Red.


"Pergilah! Dan jangan pernah datang kemari lagi!" ucap Ilena.


Red bergeming. Ia masih diam dengan membelakangi Ilena.


"Pergi!" teriak Ilena. Hatinya sudah terlalu sakit mengingat apa yang dilakukan Red padanya.


"Pergi!" Ilena mendorong tubuh Red keluar dari ruang jeruji besi yang kini menjadi tempat tinggalnya.


#


#


#

__ADS_1


Kabar mengenai Ilena yang dihukum di ruang bawah tanah, akhirnya sampai juga di telinga Selena. Gadis itu geram dengan tingkah adiknya yang benar-benar di luar batas.


Selena dengan menggebu mendatangi tempat Ilena di hukum. Ia ingin memberi pelajaran pada adiknya itu.


Dengan bantuan White, Selena bisa masuk ke ruang bawah tanah untuk menemui Ilena. Selena melihat adiknya itu sedang meringkuk di pojok ruangan.


"Dasar j@lang!" seru Selena masuk dan langsung menarik rambut Ilena.


"Aaaaa!" teriak Ilena.


"Kau benar-benar gadis murahan! Kau tidak pantas hidup!"


Selena menampar Ilena dan mendorong tubuhnya. Lalu menarik kembali rambutnya dan memukulinya.


"Berani sekali kau ingin merebut Red dariku, hah! Dasar j@lang! Pergi saja kau ke neraka!"


White yang merasa tidak tega dengan perlakuan Selena pada Ilena, segera menarik tubuh Selena menjauh.


Selena terus meronta dan berteriak. Ia mengutuki Ilena yang berkelakuan sama dengan ibunya.


"Sudah, Selena! Jangan gila! Kau bisa membunuhnya. Ayo pergi! Dia sudah mendapatkan hukumannya!" lerai White.


Ilena terduduk lemah dengan penampilan berantakan. Rambut yang acak-acakan dan wajah memar dengan sudut bibir yang terluka karena tamparan Selena.


Sebelum pergi, White menatap Ilena dengan iba. Sungguh ia kasihan pada gadis itu. Namun saat ini ia harus menjauhkan Selena dari Ilena. Bisa-bisa gadis ini kalap dan benar-benar menghabisi Ilena.


White tahu jika semua yang terjadi pada Ilena adalah karena ulah Red. Ia tak menyangka jika Red akan menyakiti Ilena dengan cara seperti ini. Padahal jelas-jelas gadis itu tidak tahu apapun mengenai masa lalu orang tuanya.


White kembali ke ruang bawah tanah dengan membawa kotak obat di tangannya. Ia menyapa Ilena ramah.


Ia mendekati gadis yang kini masih terus meringkuk di bawah.


"Baby... Jangan takut! Aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya ingin mengobatimu."


White merapikan rambut Ilena yang berantakan.


"Maafkan aku. Harusnya aku tidak mengatakan hal ini pada Selena. Tolong maafkan aku!" batin White penuh sesal.


"Aku sudah terlanjur terikat kontrak dengan kakakmu itu! Maafkan aku!" lanjutnya dalam hati.


Dengan telaten White mengobati luka Ilena. Gadis itu masih diam dan tak mengatakan apapun.


"Untuk apa dokter membantuku? Jika Red tahu dokter menolongku, dia pasti juga akan menghukum dokter!" lirih Ilena.


"Aku tidak peduli! Aku hanya tidak suka dengan sikap mereka semua. Aku tahu kau tidak bersalah. Jadi, bertahanlah, Baby!"

__ADS_1


Tangis Ilena pecah mendengar kalimat White yang mengatakan percaya kepadanya. Rasa sakit di tubuhnya memang tak sebanding dengan rasa sakit hatinya yang tercabik. Tapi mendapat satu orang yang mendukungnya, ia merasakan sebuah kelegaan.


#


#


#


Ilena sedang tertidur ketika seseorang mendatangi ruang jeruji besi tempatnya berada. Orang itu memperhatikan raut wajah Ilena yang nampak mengerutkan dahi. Sepertinya Ilena sedang bermimpi buruk.


Orang itu melihat ada bekas luka di sudut bibir Ilena. Orang itu berjongkok untuk dapat melihat wajah Ilena lebih dekat.


Diusapnya lembut wajah pucat Ilena yang tampak lusuh. Wajah orang itu sendu menatap Ilena yang masih terpejam.


Ilena merasakan ada sesuatu yang menyentuh wajahnya. Ia terbangun dan mengerjap menatap orang yang ada di kamar tahanannya.


Orang itu terkejut karena Ilena tiba-tiba terbangun. Orang itu segera menarik dirinya dan menjauh.


"Kau! Apa yang kau lakukan disini?" tanya Ilena terbata. Ia takut jika orang itu akan mencelakai dirinya.


Orang itu berbalik badan karena merasa sudah terlalu malu pada Ilena.


"Tunggu!" cegah Ilena.


"Ada yang ingin kutanyakan padamu!" lanjut Ilena meski hatinya juga takut orang itu akan marah padanya.


"Berikan alasan kenapa kau melakukan ini padaku? Katakan apa salahku padamu?" tanya Ilena memberanikan diri.


Ya, orang yang sedari tadi mendatangi ruang tahanan Ilena adalah Red. Pria itu mematung dengan masih membelakangi Ilena.


"Katakan apa alasanmu!"


Ilena berjalan menghampiri Red dan bertatapan dengannya.


"Apa salahku padamu?" ulangnya dengan lirih.


Hatinya sudah lelah menghadapi hidupnya yang selalu penuh dengan penderitaan. Jika memang Red menginginkan dirinya mati, maka ia sudah siap mati dari pada harus terus menderita.


Red menatap Ilena.


"Kau ingin tahu kenapa aku melakukan ini?"


"Iya!" jawab Ilena mantap.


"Baiklah, akan kukatakan semuanya padamu!"

__ADS_1


#bersambung


__ADS_2