Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
131. Pergi Tidak Untuk Kembali


__ADS_3

White meyakinkan Ilena untuk bersedia ikut dengannya. Tidak ada waktu lagi jika Ilena menolaknya. Jika Ilena tidak memberi jawaban, maka ia akan menderita terpenjara di jeruji besi yang dingin itu.


Ilena berpikir sejenak. Ia tidak begitu Mengenal White, tapi ia rasa jika pria ini adalah orang yang baik.


Sorot mata White menunjukkan sebuah ketulusan. Ilena setuju untuk pergi bersama White.


"Pakai ini!" White melepas jasnya dan menyerahkannya pada Ilena.


"Nanti akan kubawakan pakaian ganti untukmu. Tidak mungkin kau memakai pakaian robek ini."


Ilena hanya diam dan tidak menjawab. Ia hanya menuruti apa yang dikatakan oleh White.


White sudah menyiapkan suntikan obat bius untuk para penjaga tahanan bawah tanah itu. Begitu obat bereaksi, Whitw segera membawa Ilena pergi dari sana.


"Ayo! Kita lewat jalan belakang saja!"


White meraih tangan Ilena dan menggenggamnya. Mereka tiba di bagian belakang bangunan besar itu.


"Kau tunggu disini, aku akan ambil mobilku," pesan White pada Ilena.


Ilena diam menunggu kedatangan White. Ia menatap langit yang mulai beranjak gelap.


"Tuhan... Semoga ini adalah pilihan yang baik. Meski aku tidak tahu apa alasan dokter White menolongku, tapi kurasa aku bisa percaya padanya."


Suara deru mobil membuyarkan lamunan Ilena.


"Ayo masuk!" seru White dari dalam masuk.


Ilena mengangguk lalu masuk kedalam mobil White. Mobil itu melaju dengan kecepatan penuh hingga benar-benar sudah jauh dari tempat itu.


Selama perjalanan, Ilena terus menatap keluar kaca mobil. Ia masih belum bicara sepatah katapun dengan White.


Sesekali White melirik Ilena yang terus melamun. Ia merasa bersalah. Hati Ilena pasti sudah hancur berkeping menghadapi semua ini.


"Apa kau lapar?" tanya White untuk memecahkan kecanggungan.


Ilena menggeleng. White hanya bisa menghela napas. Ia harus mencari jalanan yang tidak terpasang kamera pengawas karena Red pasti bisa melacaknya dengan cepat.


Empat jam perjalanan hanya dilalui dengan kesunyian di antara keduanya. Tiba di sebuah villa yang cukup jauh dari kota, White melihat Ilena sudah terlelap.


"Ilena! Bangun!" White mengguncang pelan tubuh Ilena.


Ilena terlonjak kaget. Sepertinya ia mimpi buruk.


"Hei, ini aku! Jangan takut! Kita sudah sampai. Ayo turun!"


Ilena mengangguk. Ia menatap rumah yang cukup besar dan memiliki halaman yang luas.


"Ayo masuk!" ajak White.


"Ini ... rumah siapa?" Akhirnya Ilena bersuara juga.


"Ini rumahku. Tapi tidak ada yang tahu aku memilikinya. Kakekku yang memberikannya."

__ADS_1


Ilena mengangguk.


"Kau istirahatlah dulu! Besok kita baru bicara lagi."


Ilena kembali mengangguk. Ia masuk ke sebuah kamar yang ditunjukkan oleh White. Sebuah kamar yang nyaman dan cukup luas.


"Kuharap kau bersedia tinggal disini untuk sementara waktu," ucap White sebelum menutup pintu kamar Ilena.


Ilena duduk di tepi ranjang. Ia menatap kamar yang bernuansa biru langit itu.


Ilena ingin membersihkan diri terlebih dulu sebelum kembali memejamkan mata. Ia menuju lemari yang ada dikamar itu.


Ia cukup kaget karena White seakan sudah menyiapkan semuanya. Ia akan bertanya pada White besok pagi saja.


#


#


#


Keesokan harinya, Ilena terbangun dan mencium aroma lezat dari arah lantai bawah. Ia membasuh mukanya lalu menuruni anak tangga.


Ilena melihat White sedang memasak sesuatu untuknya.


"Kau sudah bangun? Duduklah! Kita sarapan bersama," sapa White.


Ilena menurut lalu duduk berhadapan dengan White.


White tersenyum. "Mulai sekarang jangan merasa sungkan denganku. Anggap saja ini juga rumahmu."


"Kenapa kau menolongku? Lalu, apa kau memang sudah menyiapkan semua ini?"


White kembali mengulas senyumnya.


"Iya, aku memang sudah menyiapkan semua ini. Kau tahu Ilena, kita memiliki nasib yang sama."


"Eh?" Ilena tak paham.


"Aku ... juga seorang putra dari wanita simpanan. Keluargaku selalu menganggapku sebagai parasit. Aku dikucilkan dan menjalani kehidupan dunia hitam bersama Red. Ilena, sejak pertama melihatmu, aku mencari tahu semua tentangmu. Aku punya orang-orang yang bisa kusuruh untuk melakukan pekerjaan semacam ini."


Ilena diam. Akhirnya ia tahu alasan White mau menolongnya.


"Maaf jika aku harus membiarkanmu menderita tanpa bisa mencegahnya. Aku tahu jika Red ingin membalas dendam padamu."


Ilena mendesah pelan.


"Mungkin ini sudah menjadi takdirku, Dokter White. Aku sudah tidak bisa menyesalinya lagi."


White tahu Ilena adalah gadis yang kuat.


"Makanlah! Setelah ini kau harus jadi gadis yang tangguh. Untuk sementara kita akan tinggal disini."


Ilena mengangguk paham.

__ADS_1


#


#


#


Red yang mengetahui Ilena menghilang langsung mengamuk dan memarahi semua penjaga disana. Bahkan dia hampir saja membunuh kedua penjaga jika Grey tidak mencegahnya.


Sudah satu minggu Ilena menghilang bersama White dan Red tidak bisa menemukan jejaknya. Red uring-uringan. Entah karena apa dia begitu kehilangan Ilena.


Bahkan sentuhan Selena tak bisa membuatnya luluh. Ia selalu menolak Selena yang datang menawarkan kehangatan. Ya, karena Selena juga butuh kehangatan. Perjanjiannya dengan White telah berakhir karena pria itu telah pergi bersama Ilena.


Selena pikir itu adalah hal yang baik. Dengan begitu Red tidak akan lagi bertemu dengan Ilena. Dan adiknya itu tidak akan mengganggu hubungannya dengan Red.


Namun di malam Red mabuk, pria itu malah menggumamkan sebuah nama.


"Ilena..."


Selena meradang mendengar Red bahkan mengingat Ilena di alam bawah sadarnya. Padahal selama ini Selena selalu menemaninya. Bahkan pernikahan juga sudah mereka susun.


Selena mengepalkan tangannya. Ia harus menghapus bayang-bayang dari pikiran Red. Selena ingin menggunakan cara licik, tapi Red tidak bisa ia bohongi.


#


#


#


"Apa kau serius dengan pernikahan kita?" tanya Selena ketika Red dalam keadaan sadar.


Red terdiam menatap makan malamnya. Sudah satu bulan sejak Ilena menghilang, dan Red selalu menggila di tengah malam.


"Jika kau tidak serius, sebaiknya kita akhiri saja. Aku masih punya karir yang bagus dari sekedar harus menikahimu," ucap Selena.


"Sejak awal kau memang tidak mencintaiku, Selena. Aku adalah obsesi bagimu. Jika kau memang ingin pergi, maka pergilah. Aku tidak akan menjadi penghalang lagi untukmu."


Red meninggalkan Selena yang terdiam dan tak menjawab pernyataan pria itu. Apa yang dikatakan Red memang ada benarnya. Selama ini Selena hanya terobsesi dengan Red. Ia ingin mengalahkan Ilena. Namun kini apa gunanya menunjukkan pada Ilena tentang keberhasilannya? Ilena bahkan telah jauh pergi dari sisi Red dan tidak akan pernah kembali.


Sementara di tempat berbeda, Blue setiap hari selalu meyakinkan Yoona jika dirinya akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu dengannya.


Blue sudah memberitahu Yoona jika mereka bukanlah kakak adik sedarah. Blue berjanji akan menikahi Yoona. Pria itu mulai menunjukkan keseriusannya.


Lambat laun Yoona mulai membuka hatinya untuk Blue. Masa lalu yang kelam memang menyertai keduanya. Bahkan Blue yang sempat ingin membalaskan dendamnya kini luluh.


Semuanya melebur menjadi satu.


"Yoona, menikahlah denganku!" ucap Blue.


Yoona terharu dan menjawab iya. Setelah malam kelam itu, terjadi sesuatu yang aneh dengan tubuh Yoona. Ia hamil, dan itu adalah anak Blue.


Lalu bagaimana dengan Ilena? Apakah ia juga hamil anak Red?


#bersambung

__ADS_1


__ADS_2