
Black berlari mencari ruangan dokter yang memeriksa kondisi Rose. Ia berteriak seakan dirinya sedang dikuasai oleh hal lain.
"Dokter!" teriaknya.
Seorang dokter keluar dari ruang periksa dan menemui Black. Tanpa ba bi bu Black langsung menarik kerah jas putih milik dokter itu.
"Apa yang terjadi dengan adikku? Kenapa dia tidak bisa melihat?" tanya Black dengan tatapan sengitnya.
"Tolong lepaskan! Aku akan menjelaskannya, Tuan," balas dokter itu.
Merasa akan ada hal yang tak beres terjadi, Carlos pun menyusul Black. Dan benar saja, posisi Black sudah mengancam si dokter. Dengan cepat Carlos melerai emosi Black.
"Black, lepaskan tanganmu! Jangan seperti ini!" ucap Carlos.
"Dia harus mengembalikan penglihatan adikku! Dia harus menyembuhkannya!" teriak Black lagi.
Orang-orang yang ada di sekitar pun menjadi takut karena melihat kemarahan Black.
"Hentikan, Black! Biarkan dokter itu menjelaskan dengan benar kondisi Rose."
Setelah mendengar kata-kata Carlos, akhirnya Black melepaskan tangannya dari kerah si dokter.
"Sekarang katakan padaku! Apa yang sebenarnya terjadi dengan adikku?" tanya Black dengan suara yang mulai pelan.
"Nona Rose mengalami kebutaan sementara karena ada saraf di bagian mata yang terputus. Tapi, semua ini hanya sementara. Bisa disembuhkan dengan adanya donor mata. Tuan Carlos sudah mendaftarkan nona Rose sebagai penerima donor. Kita tinggal menunggu waktu saja," jelas dokter.
Black mulai tenang. Ia meminta maaf pada dokter dan beberapa perawat disana. Ia berjalan gontai hendak menuju kembali ke kamar Rose.
"Tolong jangan begini, Black. Penting bagi Rose mendapat kekuatan dari orang-orang disekitarnya. Jika kau menyayanginya, maka kau harus kuat agar Rose juga kuat menghadapi ini semua."
"Maafkan aku, Carlos."
"Sekarang apa yang ingin kau lakukan?"
"Kita kembali ke Meksiko dan temui Caesar dan kawan-kawan. Aku harus tahu siapa yang sudah mencelakai Rose."
"Kurasa itu bukan ide yang bagus, Black. Jarak dari sini ke Meksiko memakan waktu 3 jam menggunakan pesawat. Penting bagi Rose untuk memilikimu disampingnya saat ini."
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Kita hubungi Caesar lewat panggilan video saja. Kita minta dia untuk mengecek semua rekaman kamera pengawas yang ada di tempat kejadian. Bagaimana?"
Black mengangguk. Ia akhirnya mengalah. Setelah ketegangan antara Black dan Carlos mereda, Santa datang menghampiri mereka berdua.
"Rose ingin bertemu denganmu," ucap Santa.
Carlos menepuk bahu Black dan memberi kode untuk segera menemui Rose.
Santa menatap Carlos yang terlihat sangat mengkhawatirkan kondisi Rose.
"Aku ingin membeli makanan untuk semuanya, kau ingin apa?" tanya Santa.
"Samakan saja dengan yang lain," jawab Carlos datar. Kemudian ia berjalan meninggalkan Santa.
Hati Santa terasa tercubit melihat Carlos yang begitu perhatian pada Rose. Bahkan sebelum memulai, cintanya sudah layu lebih dulu.
.
.
.
Black masuk ke dalam kamar dan melihat Eryn sedang menyuapi buah apel untuk Rose. Ia menghampiri mereka berdua. Tahu dengan posisinya, Eryn segera menyingkir dan mempersilakan Black untuk bersama dengan Rose.
"Hai..." sapa Black.
"Black?" Rose mengulurkan tangannya dan meraih wajah Black.
__ADS_1
"Apakah wajahmu masih sama?" tanya Rose.
Black terkekeh. Ia menyentuh tangan Rose yang berada di wajahnya.
"Carlos sudah cerita semuanya padaku. Apa kita perlu melakukan tes DNA?" lanjut Rose.
Black menggeleng. "Tidak perlu. Aku tahu kau adalah adikku."
Mata Rose menghangat. Mata teduh yang selalu menenangkan itu merasakan keharuan karena akhirnya ia bertemu dengan keluarga kandungnya.
"Kakak..." lirih Rose.
Black memeluk tubuh ringkih Rose dan mendekapnya erat. Sebuah kerinduan tergambar jelas disana.
Eryn juga ikut terharu melihat pemandangan itu. Ia menyeka air matanya. Sebenarnya ini adalah momen membahagiakan bagi Rose dan Black. Tapi berubah sendu karena kondisi Rose yang tak dapat melihat.
.
.
.
.
Di kediaman keluarga Eric dan Lolita,
Saat ini mereka sedang menyantap makan malam mereka berdua. Hanya berdua saja. Sejak mengetahui Lolita keguguran, Eleanor sama sekali tak pernah menganggap wanita itu sebagai menantunya lagi.
Lolita sadar diri siapa dirinya. Bahkan Eric tidak menceraikannya pun sudah merupakan anugerah yang baik untuknya.
Tak ada yang bicara selama makan malam berlangsung. Lolita yang ingin bertanya macam-macam pun jadi enggan. Ia sudah tahu meski dirinya bicara, Eric tidak akan peduli lagi padanya.
Ditambah sepertinya kondisi perusahaan sedang tidak bagus. Dan juga kematian Juan Blanco yang membuat Eric jadi kehilangan arah dalam memimpin Amigo.
"Aku akan ke Sao Paulo malam ini juga. Mungkin tidak akan kembali dalam beberapa hari," ucap Eric pada akhirnya.
Lolita meletakkan sendoknya diatas piring.
BRAK!
Eric menggebrak meja makan.
"Jangan melebihi batasmu, Lolita. Kau tahu siapa dirimu!"
"Aku tahu! Makanya aku tidak berkata apa pun. Asal kau tidak melakukan hal yang dilarang hukum, aku akan tetap bersama denganmu, Eric."
"Apa kau pikir aku melakukan kejahatan?"
"Entahlah. Hanya kau yang bisa menjawabnya. Terakhir kali kau bilang kau akan pulang tapi kau tidak pernah datang. Jadi, jangan menyalahkanku jika kau kehilangan semuanya, Eric. Karena memang semua itu bukanlah milikmu!"
"Sudahi semua pembicaraan ini! Jangan mencoba mencari tahu tentang bisnisku atau apa pun juga. Karena kau sendiri tahu apa akibatnya jika melawanku!"
Eric membersihkan dengan kain lap kemudian melempar kain itu kasar ke meja. Lolita hanya bisa memejamkan matanya melihat kepergian Eric.
Lolita meraih ponselnya dan segera menghubungi Santoz. Hanya pria itu yang bisa memberitahunya tentang apa yang sebenarnya terjadi.
.
.
.
.
Black melakukan panggilan video dengan Caesar dan yang lainnya yang ada di Meksiko. Untuk saat ini mereka sedang dipisahkan oleh jarak yang membentang.
Black memutuskan agar Agli, Bernard, Caesar, David dan Frans ikut bekerja dengan Luiz di klub malam miliknya. Ya itu adalah pekerjaan samaran selain pekerjaan asli mereka yang seorang hacker dan anggota mafia.
__ADS_1
Caesar sedang mengotak atik alat-alat canggihnya untuk bisa mengetahui siapa yang sudah meledakkan rumah milik Eric di Rio. Ya, rumah itu atas nama Eric.
"Anak buah Tuan Kim memakai setelan gelap yang cenderung agak ke biruan. Sedangkan anak buah Eric memiliki pin Amigo di bagian kanan jasnya. Jelas yang melakukan pengeboman adalah anak buah Eric. Anak buah Tuan Kim tidak memakai senjata seperti itu. Juga dilihat dari senjata yang digunakan, jelas ini milik organisasi. Tidak semua orang memilikinya atau bahkan merakitnya," jelas Caesar.
"Brengsek! Jadi, Eric lah yang memerintahkan untuk membakar rumahnya sendiri?" tanya Black.
"Apa kita tidak bisa melaporkan hal ini pada polisi?" celetuk Santa.
"Dalam hal ini polisi tidak bisa campur tangan, Santa. Kita di Rio saat itu. Kau tahu seperti apa Rio?" timpal Agli yang ikut menyahut.
Santa mengedikkan bahunya.
"Kau wanita, sebaiknya kau jaga nona Eryn dan nona Rose saja. Jangan mengurusi masalah pria," sahut David.
Santa mengerucutkan bibirnya kemudian berlalu. Ia tak ikut lagi dalam panggilan video bersama Black dan Carlos.
"Agli, David, kurasa aku butuh bantuan kalian," ucap Black.
"Bantuan apa, Black?" tanya David.
"Aku akan siapkan balasan yang indah untuk sahabatku itu," seringai Black.
.
.
.
.
.
Eric tiba di Sao Paulo keesokan harinya dan langsung menuju ke markas Amigo yang sudah terbakar habis. Tak ada lagi yang berjaga disana. Bahkan anggota Amigo pun satu persatu memilih mundur setelah mendengar kematian Juan Blanco.
Eric menatap bangunan yang telah rata dengan tanah itu.
"Enrique!" panggil Eric.
Hanya Enrique saja yang masih setia mendampingi Eric dalam bisnis ini.
"Ada apa, Tuan?"
"Apa kau yakin jika Eldric dan komplotannya yang melakukan ini?"
"Aku tidak yakin, Tuan. Siapa yang berani membumihanguskan markas Amigo jika dia tidak memiliki kekuasaan yang besar?"
"Jika memang bukan Eldric. Maka, aku akan tetap membalasnya, Enrique. Dia sudah mengambil apa yang harusnya jadi milikku. Kita akan susun rencana untuknya. Aku yakin dalam waktu dekat dia akan datang menyerang. Karena adik kesayangannya mengalami kebutaan."
Eric melangkah pergi meninggalkan markas Amigo yang sudah tak berbentuk.
.
.
.
.
Tuan Kim menyesap cerutunya perlahan. Asapnya ia kepulkan ke udara. Matanya menerawang jauh mendengar apa yang sedang di rencanakan oleh orang-orang di luar sana. Tepatnya di luar negaranya.
"Tuan!" panggil Hyun Woo.
"Hmm, ada kabar lagi?"
"Sepertinya akan ada pertumpahan darah lagi, Tuan. Apa kita akan ikut andil dalam masalah ini?"
Tuan Kim tertawa. "Tidak! Kita tidak perlu ikut campur dalam masalah anak-anak itu. Tapi, kau tetap awasi putriku. Jika terjadi sesuatu dengannya, maka suruh orang-orangmu bergerak dan segera bawa pergi putriku dari sana. Mengerti?"
__ADS_1
"Baik, Tuan." Hyun Woo membungkukkan tubuhnya kemudian pamit undur diri.
#tobecontinued