Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
89. Kesalahan Satu Malam


__ADS_3

Di sebuah klub malam yang cukup terkenal di kota Meksiko, seorang gadis terlihat sedang menunggu seseorang. Matanya terus menelisik mencari seseorang yang berjanji menemuinya di klub ini.


Malam kian larut, suasana klub pun mulai memanas. Beberapa pasangan mulai berani saling cumbu tak peduli jika mereka sedang berada di tempat umum.


Gadis itu bergidik ngeri melihat pemandangan yang menurutnya tak senonoh itu. Ia baru pertama kali datang ke klub malam dan langsung disuguhi aktifitas yang memicu adrenalin itu.


Gadis itu menenggak habis es jeruk miliknya. Ia sengaja tak meminun alkohol agar kewarasannya tetap terjaga.


"Hai, kau pasti Elza kan?" Seorang pria tiba-tiba datang dan merangkul bahu gadis itu.


"I-iya, aku Elza. Kau adalah Romanov?" tanya gadis yang tak lain adalah Elza Evans.


"Iya, aku Roman. Ayo kita langsung ke kamar!" ajak pria itu.


"Tu-tunggu!" Elza menolak.


Pria itu mengernyit bingung. "Ada apa? Bukankah kau butuh pekerjaan?"


"I-iya. Tapi kenapa harus di kamar? Bicara saja disini!" jawab Elza yang merasa sudah tak beres dengan pekerjaan yang akan dilakoninya.


"Tentu saja harus dikamar, Baby... Apa kau mau aku menelanjangimu disini?" bisik Roman dengan sensual yang membuat Elza menelan air liurnya sendiri.


"Sebenarnya pekerjaan apa yang akan kulakukan? Kau bilang hanya menemani mengobrol saja."


"Iya, itu hanya selingan saja. Tapi yang sebenarnya adalah lebih dari itu."


Elza melotot. "Tidak! Aku tidak mau!"


"Apa katamu?! Aku sudah membayar mahal untuk ini dan kau menolaknya? Kurasa kau memang harus dikasari, huh!" Roman menarik lengan Elza dan membuat gadis itu meronta.


"Tidak! Lepaskan aku!" berontak Elza dengan sekuat tenaga. Ia meminta tolong pada orang di sekitarnya namun tak ada yang mau mendengarnya. Sudah biasa kejadian seperti ini terjadi.


Si wanita pura-pura menolak dan memberontak. Tapi setelah berada di atas ranjang, tentu saja ia akan mengerang nikmat dengan permainan mereka.


"Jangan bawa aku! Aku mohon!" Elza memohon belas kasihan dari Roman.


"Aku sudah membayar mahal untuk ini, kenapa aku harus melepaskanmu? Jangan membantah atau aku akan berbuat kasar padamu!"


Elza menangis terisak. Ia tak menyangka malam ini ia akan berakhir disini. Tubuhnya terus ditarik oleh Roman dan membuatnya limbung hingga menabrak tubuh tegap seorang pria.


"Ada apa ini?" tanya pria itu.


"Tidak ada apa-apa, Bung. Kau urusi saja urusanmu! Aku akan bersenang-senang dengan gadisku!" ucap Roman pada pria yang berpapasan dengannya.


Entah kenapa Elza tak melepaskan pandangannya pada pria itu. Ia menatap pria itu dengan wajah memohon. Ia meminta belas kasihan dari pria itu.


"Tunggu!" cegah pria itu.


"Ada apa?" tanya Roman dengan wajahnya sudah menahan amarah.


"Sebaiknya kau lepaskan dia!" ucap pria itu santai.


"Apa katamu?! Kau pikir kau siapa?" Roman mulai tersulut emosi.


"Aku sudah membayar mahal untuk gadis ini! Jadi aku berhak melakukan apapun pada gadis ini. Jika kau mau, kau sewa saja seorang j4lang untuk memuaskanmu!"


Pria itu menggeram kesal. "Berapa kau membayar gadis ini?"

__ADS_1


"Kenapa kau ingin tahu?" tantang Roman dengan membusungkan dada.


"Aku akan membayarmu dua kali lipat!" ucap pria itu enteng yang membuat Elza membulatkan matanya.


"Hahaha." Roman tertawa.


"Aku tahu siapa dirimu. Jadi, jangan salahkan aku jika aku melaporkan ini kepada ayahmu..." balas pria itu asal.


"A-apa katamu?!" Roman mulai ketakutan.


Pria itu meraih dompetnya dan menuliskan selembar cek lalu memberikannya pada Roman.


"Apa masih kurang?" tanya pria itu.


"Luiz Fernandez? Jadi, kau adalah Luiz Fernandez pemilik klub ini?"


"Hmm, benar. Ada lagi yang kau butuhkan?"


"Ti-tidak ada. Ini sudah lebih dari cukup untuk mengganti rugi." Roman segera berlalu dari hadapan Luiz dan Elza.


Setelah kepergian Roman, Luiz menatap Elza. "Ikut denganku!" titahnya.


"Heh?!"


"Aku sudah membayar mahal pada pria tadi. Jadi, kau harus ikut denganku. Ayo!" ucap Luiz kemudian berlalu.


Dengan perasaan tak tentu, Elza mengikuti langkah Luiz yang ternyata menuju ruang kerjanya. Elza masuk dan memperhatikan sekeliling ruangan itu.


"Duduklah!" ucap Luiz dengan menunjuk sofa.


Elza menurut. Ia memperhatikan gerak gerik Luiz yang sedang menuju meja kerjanya. Ia menuang segelas wine lalu meneguknya.


Elza mengangguk.


"Kenapa kau melakukan pekerjaan seperti itu? Kau adalah putri keluarga Evans yang terhormat."


"Kau mengenal keluargaku?" tanya Elza yang merasa jika Luiz adalah orang yang baik.


"Tentu saja. Aku adalah sahabat Eryn dan Eldric."


Elza membulatkan matanya. Ia menundukkan wajahnya karena sangat malu.


"Katakan apa masalahmu? Jika ibumu tahu soal ini, dia pasti akan sedih." Luiz duduk di kursi kebesarannya dan menyalakan sebatang rokok.


"Aku ... aku butuh uang untuk membayar uang kuliahku. Aku tidak mungkin meminta uang pada ibuku. Aku tahu diri karena kami memang sedang kesulitan keuangan."


Luiz menyesap rokoknya dan menatap Elza lekat. Satu kata yang terlintas di benaknya. Cantik.


"Lalu kau menjual dirimu. Begitu?"


"Tidak!" Elza membantah dengan menatap Luiz.


"Aku bukan gadis seperti itu! Seorang temanku menawariku pekerjaan, dia akan memberiku sejumlah uang jiku aku bersedia menemui seorang pria bernama Romanov. Aku pikir itu pekerjaan biasa, karena temanku tidak menjelaskannya dengan detil. Aku tidak tahu jika ternyata pekerjaan yang harus kujalani adalah..." Elza kembali terisak.


Luiz tak tega melihat gadis itu menangis terisak. Ia mematikan cerutunya dan menghampiri Elza.


"Dengar, hidup itu sangat keras. Dunia malam juga lebih keras. Jika kau ingin melawan dunia, kau harus berani. Kau tidak boleh lemah, Elza. Dunia ini kejam!" nasihat Luiz.

__ADS_1


Elza menghentikan tangisannya. Gadis yang masih berusia 21 tahun ini pastinya masih belum mengerti dengan cara kerja dunia.


"Terima kasih karena kau sudah menolongku," ucap Elza dengan menyeka sisa-sisa air matanya.


"Hanya itu saja?" Luiz tersenyum seringai.


"I-iya, memangnya apa lagi?" tanya Elza masih tidak mengerti dengan arah pembicaraan Luiz.


"Apa kau tahu, Eryn sudah kembali kemari bersama Eldric dan putra mereka," cerita Luiz.


"Heh?! Kak Eryn kembali?"


"Iya, baru saja kami mengadakan pesta untuk penyambutan mereka."


"Syukurlah jika kak Eryn baik-baik saja," ucap Elza penuh rasa syukur.


"Ehem! Kita kembali ke bisnis kita!"


"Eh?!" Elza menatap Luiz tak paham.


"Dengar, Nona. Aku sudah membayar pria tadi dengan uang yang tidak sedikit. Jadi ... Aku butuh balasan atas apa yang sudah kulakukan."


Elza menelan ludahnya dengan susah payah. "Ma-maksud Anda?"


"Kau harus membalas kebaikanku yang sudah menolongmu!"


Elza menghela napas. Ternyata semua pria sama saja, pikirnya. Ia menguatkan hati dan mendekati Luiz.


Luiz merasa bingung ketika Elza tiba-tiba mencium bibirnya. Gadis itu bermain cukup liar untuk menggoda Luiz. Pria itu hanya diam dan tak membalas ciuman Elza.


Elza menarik diri. Ia menatap Luiz dengan napas yang memburu.


"Kenapa kau tidak membalasnya?" tanya Elza.


Luiz menatap Elza bingung. "Kau bilang itu sebuah ciuman?"


Elza tersentak. Kini ia yang membulatkan mata ketika Luiz memainkan bibirnya dengan sangat lihai. Ia mengerjapkan mata merasakan sensasi yang mendebarkan.


"Eumh..." Entah kenapa Elza bersuara ketika tangan Luiz mulai berkelana.


Elza merasakan gelenyar aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Sepertinya malam ini ia harus siap menghabiskan malam dengan pria yang baru ditemuinya ini.


Dengan berani Elza membuka kancing jas milik Luiz. Tangannya melingkar di leher Luiz dan memberikan pijatan lembut pada rambut Luiz.


Ketika semuanya mulai berubah panas, Luiz segera menghentikan aksinya. Napas mereka memburu dengan mata yang berkabut.


Luiz menggeleng. "Tidak! Bukan ini yang aku inginkan!" ucap Luiz yang sebenarnya mulai dikuasai napsu b1rahi.


"Lalu apa? Bukankah semua pria sama saja? Mereka menginginkan ini?" tanya Elza dengan mata berkaca-kaca. Entah kenapa dirinya rela disentuh lebih oleh Luiz. Namun hatinya juga sakit karena harus melakukan hal seperti ini hanya demi uang.


"Tidak! Aku tidak ingin begini! Aku tidak bisa melakukannya." Luiz menggeleng kuat.


"Lalu, bagaimana aku bisa membalasmu, Tuan?"


"Jadilah kekasihku!" ucap Luiz cepat.


"Eh?" Mata Elza membola. Sungguh sebuah pernyataan cinta yang aneh setelah terjadi sebuah ciuman panas beberapa saat lalu.

__ADS_1


#tobecontinued


__ADS_2