
Red terdiam di depan ruang operasi dimana Ilena berada. Percuma saja berdebat dengan Dharma karena itu tidak akan membuat Ilena terbangun.
Berjam-jam Red menunggu dan tidak ada kata bosan disana. Dharma menatap Red yang dipenuhi dengan kesedihan di wajahnya.
Dharma tahu jika Red menyimpan cinta untuk Ilena. Sama seperti dirinya yang juga menyimpan cinta untuk gadis cantik itu.
Tiba-tiba datang Selena bersama dengan Blue. Selena menemui Red yang masih dengan kebisuannya.
"Red..." Selena menyapa Red namun pria itu bergeming.
"Dharma? Apa yang terjadi?" tanya Selena.
"Apa ini salahku?" tanyanya lagi.
Dharma menggeleng. "Bukan. Duduklah Selena! Kita tunggu kabar dari Andrew saja."
Selena duduk. Sementara Blue mengusap punggung kakaknya. Sudah setahun ini Red menderita karena harus kehilangan Ilena. Dan kini apakah mereka harus terpisah kembali?
Tapi Ilena memiliki Dharma di sisinya. Akankah Red kembali mengikhlaskan Ilena?
Di ruang operasi, White dan tim dokter masih berusaha untuk menyelamatkan Ilena. Gadis itu adalah gadis yang kuat.
White terus menggumamkan itu dalam hatinya."Kau harus kuat, Ilena. Kau harus kuat!"
"Dokter! Denyut jantungnya melemah!" seru perawat yang mengontrol pergerakan jantung Ilena.
"Tidak! Ilena! Tetaplah bersamaku!" White berusaha memompa denyut jantung Ilena.
Di alam bawah sadarnya, Ilena merasa sedang berada di hamparan padang pasir yang begitu luas. Hawa hangat mulai menyelimuti tubuhnya.
Ilena memakai dress panjang berwarna putih. Ia sendirian disana. Tak ada satu orang pun yang menemaninya.
Lalu sesosok wanita datang menghampirinya. Ilena masih belum bisa mengenalinya.
"Siapa dia?" gumam Ilena.
"Ilena..."
Wanita itu memanggil nama Ilena. Ilena mengenali wanita itu. Wanita yang tidak pernah ia lihat dan bayangkan.
"Ibu..." seru Ilena lalu memeluk sosok yang adalah Lorna, ibu kandung Ilena.
"Ibu... Aku sangat merindukan Ibu..."
Ilena terisak dalam dekapan Lorna.
"Jangan menangis, Putriku." Lorna menyeka air mata Ilena.
"Maafkan ibu, Nak. Karena Ibu hidupmu jadi menderita. Karena Ibu kau harus menerima kekerasan atas apa yang Ibu lakukan pada mereka. Maafkan Ibu, Nak."
Lorna mengatakan semua isi hatinya yang terpendam.
"Ibu... Jangan bicara begitu. Aku sudah mengikhlaskan semuanya. Aku sudah menerima semuanya."
"Tidak, Nak. Kau tidak pantas mendapatkan semua perlakuan buruk dari mereka. Kau adalah putri Ibu yang berharga. Maaf karena Ibu tidak bisa melihatmu tumbuh. Maaf jika Ibu tidak pernah memelukmu sebagai seorang Ibu. Maaf atas semua waktu yang sudah berlalu."
Ilena diam. Sungguh ia sangat senang bisa bertemu dengan ibunya.
"Ibu... Aku ingin bersama dengan Ibu. Sudah cukup semua penderitaan ini. Aku ingin hidup tenang bersama Ibu..." ucap Ilena terisak.
Lorna menggeleng. "Tidak, Nak. Kau tidak bisa tinggal dengan Ibu. Kau harus melanjutkan hidupmu dan meraih kebahagiaanmu. Berjanjilah kau akan bahagia, Nak."
"Ibu..."
"Kembalilah, Nak. Duniamu bukan disini. Kau harus menemukan duniamu sendiri. Dan kau harus mencari kebahagiaanmu dengan orang yang kau cintai."
"Siapa yang aku cintai, Bu?" tanya Ilena bingung.
"Tanyakan pada hatimu yang paling dalam. Siapakah yang kau cintai. Kau harus memilih takdirmu sesuai dengan hatimu."
"Apa aku bisa?" Ilena masih ragu.
Lorna menggenggam kedua tangan Ilena. "Kau sendiri adalah yang paling tahu apa yang hatimu inginkan. Sekarang, kembalilah. Ada banyak orang yang menyayangimu."
#
#
#
"Dokter! Denyutnya sudah kembali!" seru seorang perawat.
White bernapas lega. Ia menyeka keringat yang membasahi pelipisnya.
"Terima kasih, Ilena. Terima kasih karena kau sudah kembali," batin White.
White menyelesaikan pekerjaannya, kemudian keluar menemui orang-orang yang sudah menanti kabar tentang Ilena.
"White!" seru Red yang langsung menghampiri dokter tampan itu.
__ADS_1
"Bagaimana kondisi Ilena?" tanya Red panik.
White tersenyum. Wajahnya terlihat lelah setelah berkutat di meja operasi selama berjam-jam.
"Ilena sudah melewati masa kritisnya. Kita hanya bisa menunggu agar dia siuman," jelas White.
Red bernapas lega. Air matanya mengalir menunjukkan betapa Ilena begitu berharga untuknya.
"Red, kau harus beristirahat! Ayo kita pulang!" ajak Grey.
Red menggeleng. "Aku tidak akan pergi sebelum Ilena membuka matanya."
"Tapi, Red..." Grey tidak mau kondisi Red ikut menurun.
Blue memberi kode pada Grey untuk tidak memaksa Red. Blue tahu kakaknya itu memang keras kepala.
"Baiklah. Kau boleh disini. Ada Blue yang menemanimu. Aku akan mengurus pekerjaan dulu, setelah itu akan kembali lagi kemari." terang Grey.
"Tidak perlu! Aku bisa menjaga diriku sendiri. Jangan karena aku cacat, kalian jadi mengasihani aku!" ketus Red.
"Red, kau sangat keras kepala." Selena ikut menyahut.
White memberi kode pada Selena untuk jangan memprovokasi Red.
"Baiklah. Kami pergi, Red." pamit Blue dan Grey.
Kini Red bersama Dharma sedang menatap tubuh Ilena yang terbaring di ruang intensif. Tatapan sendu tergambar jelas di wajah dua pria yang sama-sama mencintai Ilena. Namun ketika nanti Ilena terbangun, cinta siapakah yang akan ia pilih?
Selena menatap kedua pria itu dengan menyilangkan tangannya. Ia tak habis pikir jika Red yang dingin kini bisa luluh hanya karena seorang Ilena. Gadis polos yang menyimpan banyak luka dalam hidupnya.
"Kau tidak pulang?" tanya White menghampiri Selena.
"Aku menunggumu, dokter cintaku..." balas Selena dengan mengedipkan matanya.
White tersenyum melihat kekasihnya yang selalu menggoda.
"Jangan menggodaku, aku sangat lelah setelah seharian menangani Ilena."
"Jika kau lelah, maka ... aku bisa bekerja untukmu," balas Selena.
Selena menarik tangan White lembut menuju ke ruangan pria itu.
"Sayang, kenapa membawaku kemari?" tanya White bingung. Ia pikir Selena akan membawanya pulang ke apartemen.
"Duduklah!" perintah Selena.
White menurut. Setelahnya, Selena duduk di pangkuan White. Tanpa menunggu waktu lagi, Selena langsung menyerang bibir White tanpa ampun. Padahal mereka sudah bercumbu semalaman. Namun rasanya tidak akan habis untuk bisa mengulang kegiatan menyenangkan ini.
Selena melepas jas kebesaran milik White dan melepas kancing kemeja pria itu satu persatu.
"Sayang, bagaimana jika ada yang ingin menemuiku?" tolak White.
"Tidak akan ada yang datang! Aku juga sudah mengunci pintunya." bisik Selena sensual.
Kini tubuh bagian atas White sudah terpampang nyata di depan mata Selena. Gadis itu memberikan kecupan-kecupan dan tanda kepemilikannya di tubuh White.
Pria itu mengejang merasakan lembutnya bibir Selena yang mulai turun kebawah. Selena membuka resleting celana kain White dan mengeluarkan benda pusaka yang mulai mengeras itu.
"Kau sudah siap, Dokter? Sekarang aku akan menyuntikmu dengan kenikmatan tiada tara." Lagi-lagi kalimat Selena membuat White melayang.
Mata White terpejam dan memegangi kepala Selena yang bergerak maju mundur.
"Kau sangat hebat, sayang..." puji White dan membuat Selena makin bergerak cepat.
Kepala White melengkung ke belakang merasakan sesuatu tertahan akan meledak. Selena mengelap bibirnya yang penuh dengan c@iran cint@ milik White.
"Terima kasih, sayang." ucap White kemudian mendudukkan tubuh Selena dalam pangkuannya.
White menarik tali segitiga pengaman milik Selena dan melesakkan pusakanya masuk menyentuh dinding Selena yang masih terasa sempit.
Selena kembali bergerak naik turun. White membantu dengan memegangi kedua pinggang Selena. Peluh membasahi kedua insan yang dilanda gairah.
"Andrew, aku..."
Selena memejamkan mata merasakan pusaka White yang begitu memuaskannya. Selena terkulai lemas. Ia memeluk tubuh White.
"Masih ada permainan kedua, sayangku..." bisik White.
"Oh, no!" pekik Selena yang mulai kelelahan.
White beranjak dari duduknya dan membersihkan meja kerjanya dari berkas-berkas yang menumpuk. Ia baringkan tubuh Selena diatas meja dan kembali memasukinya.
"Andrew! Kau nakal!" seru Selena.
White yang tadi bilang lelah, ternyata masih memiliki tenaga untuk terus menggempur Selena.
Hingga dua jam berlalu, dan mereka kini saling berpelukan diatas sofa di ruang kerja milik White. Pria itu bertelanjang dada sedangkan kemejanya kini dipakai Selena.
"Kira-kira kapan Ilena bangun?" tanya Selena dengan memainkan jari-jarinya di dada bidang White.
__ADS_1
"Aku bukan Tuhan, Selena. Kita tidak tahu kapan manusia akan bangun dan kapan mereka akan menutup mata."
"Jadi, kapan kau ingin menikahiku?" tanya Selena penasaran.
"Hmm, mungkin setelah Ilena bangun."
Selena sedikit cemburu dengan perhatian White pada Ilena.
"Kau sangat peduli pada Ilena. Aku cemburu." Selena melepaskan pelukan White.
"Sayang, Ilena adalah adik sepupuku. Jadi, aku ingin memastikan dia bisa hidup dengan baik."
"Baiklah. Tapi, apa kau tidak pernah merasakan sesuatu padanya? Kalian tinggal bersama selama berbulan-bulan," cemburu Selena.
White tersenyum. Ia senang karena Selena cemburu padanya.
"Aku memang sempat mencintainya. Tapi, aku menyerah karena Ilena nampaknya masih menyimpan satu nama dalam hatinya."
Selena terperanjat. "Siapa?" tanyanya penasaran.
White kembali mengulas senyumnya. Ia merasa lega karena sepertinya Selena sudah mulai mengubah sikapnya terhadap Ilena.
"Kurasa Ilena masih mencintai Red."
Selena membulatkan mata. Itu berarti kedua insan itu memang saling mencintai, namun takdir belum mengizinkan mereka bersama.
...***...
Di ruang intensif, dua orang pria sedang duduk menatap Ilena yang masih terpejam. Bunyi alat-alat yang terpasang di tubuhnya menandakan jika Ilena masih bertahan hidup.
Entah kenapa Dharma tiba-tiba keluar dari ruangan itu dan menghirup udara sebanyak-banyaknya. Rasanya begitu sesak melihat wanita yang ia cintai berada diantara hidup dan mati.
Red yang sedari tadi diam kini tangannya terulur dan menggenggam tangan Ilena. Ia mengecup punggung tangan Ilena berkali-kali.
"Maafkan aku, Ilena. Maaf karena aku tidak mengenalimu. Maaf karena aku sudah memberikan luka yang dalam padamu. Kumohon bangunlah! Kau boleh menamparku, kau boleh menghukumku. Bahkan jika kau ingin aku mati, maka..."
Suara Red tertahan. Suara penuh dengan nada penyesalan. Suara penuh kesedihan dari seorang Red.
"Jika saja aku mengenalimu lebih awal ... semua kesakitan ini tidak akan pernah terjadi. Maafkan aku... Maafkan aku, Ilena..."
Ruangan yang sunyi itu berubah pilu karena terdengar suara isakan tangis dari seorang pria yang menginginkan belahan jiwanya membuka mata.
...***...
Tiga hari kemudian,
Dharma memutuskan untuk bicara dengan White dan Lidia. Ia rasa ia sudah tak bisa lagi melanjutkan pernikahannya dengan Ilena.
Sejak kejadian di kantor kejaksaan waktu itu, Dharma cukup tahu jika Ilena masih menyimpan rasa terhadap Red. Meksi pria itu adalah orang yang banyak memberinya luka, tapi pria itu adalah penyembuh bagi Ilena. Dan Dharma rasa ia tidak akan bisa bersaing dengan orang yang begitu berpengaruh dalam hidup Ilena.
"Kau yakin akan melakukan ini?" tanya White.
"Iya! Aku akan menceraikan Ilena."
White mengepalkan tangannya. Ia menarik baju Dharma.
"Tega sekali kau meninggalkannya di saat Ilena sedang terbaring koma?" kesal White.
"Tidak! Bukan aku yang kejam, tapi kalian! Bagaimana bisa kalian memisahkan dua orang yang saling mencintai? Aku memang mencintai Ilena, tapi aku tahu dia tidak mencintaiku. Maka dari itu, lebih baik aku melepasnya." ujar Dharma panjang lebar.
White dan Lidia hanya bisa diam. Dharma pergi meninggalkan ibu dan anak itu usai mengatakan maksudnya.
Di rumah sakit, Red terpekik senang karena untuk kesekian kalinya akhirnya Ilena merespon genggaman tangannya.
Ilena mulai sadar. Matanya yang telah tertutup lama kini akhirnya mulai terbuka.
Samar-samar Ilena melihat seseorang ada disampingnya.
"Ilena! Ilena!" panggil Red dengan suara lembut.
Ilena membuka matanya sempurna. Ia menatap pria yang ada di samping kirinya.
"Kau siapa?" ucap Ilena lirih.
Red tertegun mendengar pertanyaan Ilena. White datang dan segera memeriksa kondisi Ilena.
"Tolong kau keluar dulu, Red! Aku akan memeriksanya!" titah White.
Red menurut dan menekan tombol kursi rodanya. Ia menunggu kabar baik dari White. Hatinya gundah memikirkan pertanyaan Ilena padanya.
White keluar dari ruang intensif dan menemui Red. Wajahnya menyiratkan sebuah rasa kekecewaan.
"Bagaimana, White? Ilena baik-baik saja kan?" tanya Red cemas.
"Aku minta maaf, Red. Ilena mengalami amnesia. Ia kehilangan ingatannya akibat benturan keras saat kecelakaan kemarin. Aku harap kau bersabar untuk bisa membuat Ilena mengingat tentangmu." jelas White.
Tubuh Red meremang. Ia tak percaya dengan apa yang terjadi. Namun ia harus tetap percaya, jika memang Ilena adalah sebuah takdir untuknya.
#
__ADS_1
#
#