Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
138. Diantara Dendam dan Hasrat


__ADS_3

Ilena datang ke rumah sakit ditemani Dharma yang selalu bersama dengannya. Ilena merasa lebih bahagia setelah tadi saling mengungkap rasa.


Perlahan namun pasti, Ilena akan menapaki kehidupan barunya bersama Dharma. Ia yakin jika Dharma adalah orang yang tepat untuknya.


Ilena tiba di depan ruang intensif dan melihat White sedang memeriksa kondisi Lidia. Ruangan berkaca transparan itu membuat Ilena bisa melihat pasien yang ada di dalam.


Matanya tertuju kearah Red yang juga masih terpejam.


"Ilena, aku ingin membeli minuman dulu," ucap Dharma dan diangguki oleh gadis itu.


Ilena duduk di bangku panjang rumah sakit. Ia membuka buku hariannya dan menuliskan cerita hari ini disana.


Ya, Ilena kini kembali ke rutinitas asalnya yang memang sangat suka menulis di buku harian miliknya. Ia bercerita jika rasa trauma yang di deritanya kini berangsur membaik berkat kehadiran Dharma disisinya.


Ilena tidak merasa takut lagi untuk disentuh dan itu adalah karena Dharma. Mungkin Ilena sudah mulai jatuh cinta pada pria itu.


"Baby!"


Seseorang memanggil nama panggilannya saat masih bekerja di klub milik Red.


"Blue?" Ilena mendongak dan menutup buku hariannya.


Ilena bangkit dari duduknya dan menyapa Blue yang datang dengan seorang wanita.


"Baby, bagaimana kabarmu?" tanya Blue.


"Aku baik. Kau sendiri?"


"Aku juga baik. Kenalkan, ini Yoona, dia istriku. Dia adalah adik Red."


Ilena terkejut karena ternyata Red memiliki adik perempuan. Dan dia adalah istri Blue sekarang.


"Kau datang untuk menjenguk kakakku?" tanya Blue.


"Bukan! Dia datang untuk bibinya!" tegas seorang pria dari arah belakang Ilena. Dia adalah Dharma.


"Steven?" Blue membulatkan mata.


"Yeah, ini aku. Aku adalah suami Ilena." tegas Dharma.


"Su-suami? Bagaimana bisa? Lalu siapa tadi yang kau sebut? Ilena? Apakah itu nama aslimu Baby?"


Ilena mengangguk.


"Dunia ini sempit, Blue. Sejauh apapun kaki melangkah pergi, ternyata jodoh kita ada di depan mata," ucap Dharma dengan merangkul pinggang Ilena mesra.


"Sayang, ayo duduk!" Dharma meminta Ilena untuk duduk kembali.


Sedari tadi Yoona memperhatikan gerak gerik Ilena yang membawa buku harian. Yoona membisikkan sesuatu ketelinga Blue.


"Hah?! Benarkah?" Blue melotot tak percaya. Yoona meyakinkannya.


Blue ikut menatap Ilena yang kini sedang mengobrol bersama Dharma. Blue juga masih tak percaya jika kawan lama kakaknyalah yang mendapatkan cinta Ilena.


White keluar dari ruang intensif dan menemui Blue juga Yoona. White menggeleng tanda jika masih belum ada respon dari kondisi Red.


"Bersabarlah!" White menepuk bahu Blue kemudian berlalu.


"Tunggu, White! Ada yang ingin kutanyakan padamu. Bisa kita bicara?" ucap Blue.


White mengangguk kemudian meminta kedua orang itu untuk mengikutinya di belakang White lalu menuju ruangannya.


"Kalian ingin bicara apa?" tanya White tanpa berbasa basi.

__ADS_1


"Baby.. maksudku, Ilena, apakah dia adalah gadis dari masa lalu Red?" tanya Blue.


White menghela napas. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak mengatakannya pada Red atau siapapun. Bahkan Ilena sendiri tidak mengetahuinya.


"Apa yang membuat kalian berpikir begitu?"


"Buku harian!" sahut Yoona cepat.


"Dia membawa buku harian tadi. Entah kenapa aku merasa itu adalah dia! Aku yakin kau pasti tahu sesuatu hingga kau membawa gadis itu pergi." cecar Yoona.


"Jikapun semua itu benar, sudah tidak ada gunanya lagi. Ilena sudah menikah. Jadi, kalian jangan mengganggu rumah tangganya." tegas White.


"Kumohon bantu kami!" pinta Yoona.


"Aku yakin dia bisa membuat kakakku kembali membuka matanya!" ucap Yoona dengan terisak.


"Tidak! Ilena bukan gadis dari masa lalu Red!" kukuh White. "Jika tidak ada lagi yang ingin kalian bicarakan, silakan keluar! Aku harus kembali bekerja!"


Blue dan Yoona keluar dari ruangan White dengan perasaan kecewa. Sementara itu, sedari tadi, Dharma mencuri dengar obrolan White bersama Blue dan Yoona tadi.


Dharma mengetuk pintu dan masuk ke ruangan White.


"Kau! Ada apa?" tanya White heran.


"Aku sudah dengar semuanya!"


White menatap Dharma. "Lalu?"


"Apa tidak sebaiknya Ilena tahu jika dirinya dan Red..."


"Jangan gila, Steven! Kau adalah suami Ilena. Untuk apa Ilena masih memikirkan masa lalunya? Lagipula, Ilena sangat membenci Red karena sudah menghancurkan hidup dan masa depannya!"


Dharma terdiam sejenak. Sebenarnya ia ingin Ilena melupakan Red sepenuhnya. Tapi rasanya masih sulit karena ada masa lalu yang belum selesai diantara mereka.


White menatap Dharma. Apa yang dikatakan Dharma ada benarnya juga. Red dan Ilena terikat oleh masa lalu yang tidak akan pernah usai karena tidak pernah dimulai. Tapi, jika mereka memulainya sekarang dan juga mengakhirinya sekarang, mungkin itu adalah hal terbaik untuk mereka berdua.


"Baiklah, Steve. Jika menurutmu ini adalah hal baik, maka lakukanlah!" putus White.


#


#


#


Satu bulan kemudian,


Ilena berjalan di tepi pantai dengan suara debur ombak yang cukup membuatnya terlena. Ilena melihat ada seseorang di ujung sana yang menunggunya.


Ya, Ilena memang ingin menemui orang itu. Dia sedang duduk sambil memandangi pantai di sore hari.


Ilena mulai mendekat. Dan kedatangan Ilena tentu saja diketahui oleh orang yang menunggunya itu.


"Kukira kau tidak akan datang," ucap orang itu.


"Tidak! Aku pasti datang. Bukankah kita harus menyelesaikan semuanya?" balas Ilena.


Orang itu menekan tombol di kursi rodanya dan menghadap Ilena.


"Maaf... Selama ini aku menunggu saat seperti ini untuk bisa meminta maaf padamu."


Ilena terdiam.


"Begitu banyak luka yang sudah aku torehkan padamu, Ilena. Kutukan darimu sudah aku dapatkan seumur hidupku. Bahkan kini aku tidak lagi bisa berjalan seperti dulu lagi."

__ADS_1


"Aku turut prihatin," ucap Ilena.


"Ilena, apa kau bersedia memaafkanku? Aku akan mengucapnya beribu kali atau berjuta kali agar kau mau memaafkanku!"


Ilena kembali diam.


"Aku... Aku memang pernah mengatakan jika aku tidak akan pernah memaafkanmu. Tapi... tidak ada gunanya menyimpan dendam. Tidak ada gunanya bertahun tahun aku menderita karena ingin membalas apa yang kau lakukan padaku. Aku tidak akan seegois itu, Red."


Ya, pria itu adalah Red. Pria yang dulu begitu mempesona dengan tatapan elangnya, kini hanya bisa duduk tak berdaya diatas kursi rodanya.


"Lupakan semuanya, Red. Aku sudah memaafkanmu. Mulailah hidupmu dari awal, karena aku juga sudah memulai kehidupanku yang baru."


Red mengangguk paham.


"Terima kasih, Purple. Kau sudah memberiku banyak pelajaran dalam hidup. Ini, kukembalikan padamu!"


Red menyerahkan buku harian milik Ilena yang dulu diambil oleh Selena.


Mata Ilena menghangat. Buku harian itu sudah lama sekali tidak ia lihat. Tangan Ilena terulur dan menerima buku harian itu.


"Aku pergi. Jaga dirimu, Red!"


Ilena berbalik badan dan melangkah meninggalkan Red. Ia berjalan menuju seseorang yang sudah menunggunya dengan setia.


Dia adalah Dharma. Masa depan Ilena. Dharma memeluk Ilena.


"Selesai! Semuanya sudah selesai!" ucap Dharma dengan mendekap erat Ilena.


Dharma mengurai pelukannya dan menghapus air mata Ilena.


"Setelah ini kita akan selalu bahagia!" ucap Dharma lalu mengecup bibir Ilena.


Sementara Red hanya memegangi dadanya yang terasa sakit ketika melihat Ilena kini telah dimiliki oleh orang lain. Itu adalah salahnya. Dia sendiri yang membuat Ilena menjauh dan pergi.


Tidak ada gunanya lagi menyesal, karena semua tidak akan pernah terulang.


#bersambung


*Bonus visual 😍😍


...-Noah Albana/ Red-...



...-Ilena Adams-...



...-Steven Dharma-...



...-Rue Sanchez/Blue-...



...-Andrew White-...



...-Selena Adams-...


__ADS_1


__ADS_2