
"Mungkinkah ini..."
Black berasumsi mungkin saja ini ada hubungannya dengan ayah kandung Eryn, yaitu Tuan Kim.
"Ada apa, Black?" tanya Carlos.
"Tidak. Bukan apa-apa. Sebaiknya kau beristirahat, Carlos. Kau pasti lelah."
"Aku tidak akan lelah hingga Rose kembali membuka matanya."
Black tersenyum. Ia tahu jika Carlos menaruh hati pada Rose sejak dulu. Namun ia sendiri tidak memaksa temannya itu untuk mengutarakan perasaannya pada Rose. Biarlah Rose menyadari jika Carlos memang mencintainya. Semoga saja Rose segera sadar dan bisa berkumpul bersama kakak kandungnya.
Carlos bangkit dari duduknya dan melihat Eryn tertidur di samping brankar Rose.
"Sepertinya kau harus memindahkan istrimu, Black. Pasti karena pengaruh obat makanya dia tertidur seperti itu.
Black masuk kedalam kamar Rose dan mengangkat tubuh Eryn. Ia memindahkan tubuh Eryn ke kamar rawat miliknya sendiri.
"Engh?" Eryn membuka mata merasakan dirinya berpindah tempat.
"Kau mau kemana?" Eryn mencegah Black yang akan pergi.
"Kau tidurlah lagi. Aku akan berjaga di luar."
Eryn menggeleng. "Aku ingin bersamamu." Eryn memberikan sebuah kode untuk Black.
"Sayang, kau baru pulih. Aku tidak ingin menyakitimu."
"Justru ini akan mengobatiku, El. Aku sangat merindukanmu..." ucap Eryn dengan tatapan penuh damba.
Tentu saja Black tidak bisa menolaknya. Ia juga merindukan istrinya itu.
Black naik keatas ranjang dan memulai aksinya. Setiap jengkal tubuh istrinya menjadi hal yang memabukkan untuknya.
Eryn memejamkan mata merasakan setiap sentuhan yang telah lama dirindunya.
"Kau yakin akan melakukannya, sayang?" Black terlihat ragu karena Eryn baru saja pulih dari amnesianya dan juga masih dalam perawatan dokter.
"Iya, aku baik-baik saja. Lakukanlah! Aku menginginkanmu, El..." Eryn menarik tubuh Black agar lebih dekat dengannya.
Black melakukan penyatuannya dengan sangat hati-hati. Saat ini ia hanya memikirkan kenyamanan Eryn saja.
Hingga akhirnya kegiatan menyenangkan mereka telah usai dan kini Black memeluk tubuh Eryn dan menyelimutinya.
"Maaf..." lirih Black.
"Tidak, El. Kau tidak perlu meminta maaf."
"Aku minta maaf soal pamanmu."
Seketika Eryn diam. Meski dirinya membenci pamannya, tapi tak bisa dipungkiri jika hubungan darah diantara mereka tidak akan bisa terputus.
"Paman hanya menuai apa yang dia lakukan, El. Jadi, kau jangan meminta maaf."
"Besok kita ke pemakaman. Kita akan memberi penghormatan terakhir untuk teman-teman kita."
Eryn mengangguk kemudian makin merapatkan tubuhnya ke tubuh Black.
"Maaf juga untuk Rose," lirih Eryn.
"It's okay. Kau sudah menyemangatinya. Dia pasti akan segera bangun dari komanya."
...πΏπΏπΏ...
Keesokan harinya,
Eryn, Black dan anggota tim yang lain datang ke sebuah pemakaman untuk memberi penghormatan terakhir untuk Elbo, Gilbert dan Matilda. Eryn yang masih memakai kursi roda hanya bisa menangis dalam diam ketika meletakkan bunga di atas makam Matilda.
__ADS_1
Wanita paruh baya yang sudah membuatnya merasakan kasih sayang seorang ibu kini telah tiada. Meski tak ada hubungan darah diantara mereka, namun Eryn sangat menghormati Matilda.
Satu persatu orang meletakkan bunga di makam Elbo dan Gilbert. Santa tak kuasa menahan tangisnya. Kenangan akan kebersamaan mereka di masa lalu akan selalu ia simpan dalam hati.
Luiz yang selama ini menetap di Meksiko pun ikut hadir dalam penghormatan terakhir ini. Ya, sejak memutuskan membagi kelompok, Black memerintahkan Luiz untuk kembali ke Meksiko dan mengurus klub malam Black Devil. Hanya itu sisa aset Black yang tidak diambil oleh Eric juga beberapa hotel dan tanah. Black merasa harus tetap menjaga asetnya untuk keberlangsungan hidupnya dan anggota timnya kelak.
"Aku tahu mungkin aku tidak berhak bicara begini di depan kalian. Tapi, untuk menghormati semua perjuangan Elbo dan Gilbert, marilah kita tetap bersemangat dan jangan menyerah. Kita akan lanjutkan perjuangan mereka. Kita akan membalaskan dendam atas kematian mereka." Black memberikan sedikit pidatonya.
Semua orang menundukkan kepala. Sebenarnya mereka tak ingin ada pertumpahan darah lagi. Tapi mengingat apa yang terjadi pada rekan mereka dan juga Rose. Tak pantas rasanya jika mereka hanya berdiam diri dan menatap kemenangan musuh.
"Aku akan mendukungmu, Black. Demi Rose!" seru Carlos.
"Demi Rose!" ucap Santa, Agli, Bernard, Caesar, David, Luiz dan Frans serempak.
Usai mengucap janji, mereka pun meninggalkan area pemakaman. Black mendorong kursi roda milik Eryn. Black melihat masih ada raut kesedihan di wajah Eryn.
"Ada apa? Apa masih ada yang mengganjal?" tanya Black.
"Aku ingin ke makam ibuku..."
Black tersenyum. "Baiklah. Paman Juan juga di makamkan di samping makam ibumu. Mungkin kau sekalian ingin berkunjung kesana."
.
.
.
Black mengantar Eryn kembali ke Meksiko untuk mengunjungi makam Joana, ibu kandung Eryn. Joana dan Juan lahir dan dibesarkan di Meksiko. Namun ketika Juan mulai berkuasa, ia mulai menjelajah ke berbagai negara dan memilih Roma sebagai tempat dirinya pulang.
Sudah lama sekali Eryn tak pernah datang ke makam ibunya. Ingatan masa kecilnya memudar setelah ia mengalami trauma usai dititipkan di panti asuhan oleh Juan. Dan kenangan itu kembali ketika Eryn bertemu lagi dengan Juan sebelum pria itu meninggal.
"Ibu... Maaf karena menunggu terlalu lama. Maaf karena paman Juan juga kini ikut pergi bersamamu." Eryn menyeka air matanya.
"Aku sudah menjadi wanita yang kuat, Ibu. Aku menghadapi semuanya. Aku menjalani kerasnya kehidupan ini. Maaf karena aku tak mengingatmu selama ini. Sekarang, aku sudah bahagia dengan orang yang kucintai. Dia adalah Eldric, Ibu. Dia suamiku. Kau pasti senang memiliki menantu seperti dia. Dia sudah berkali-kali mati tapi dia kembali hidup. Mungkin kau memang mengirimkan Eldric untukku. Agar aku tidak sendiri di dunia ini."
Black merangkul bahu Eryn. Kini ia beralih ke makam milik Juan. Eryn meletakkan seikat bunga disana.
...πΏπΏπΏ...
"Kau ingin pergi kemana lagi?" tanya Black saat sedang mengendarai mobilnya.
"Kita kembali saja ke Rio, El."
Black menggeleng. "Tidak! Kita akan kembali ke Kolombia. Aku akan memindahkan Rose kesana. Dia akan dirawat disana."
"Oke. Terserah kau saja. Aku akan ikut kemanapun kau pergi."
"Eryn..."
"Ya?"
"Tentang Noah..."
Eryn langsung menatap Black. "Ada apa dengan Noah?"
"Ayah kandungmu membawa Noah ke Seoul."
Eryn terdiam. Ia menghela napasnya.
"Eryn..."
Eryn kembali menoleh.
"Jika ayahmu ingin membawamu pergi, apa kau akan ikut dengannya?"
Eryn masih diam. Ini adalah pilihan yang sulit untuknya.
__ADS_1
"Aku tidak bisa meninggalkan semuanya disini sebelum aku membalas atas apa yang terjadi padaku dan Rose."
"Aku tahu," lirih Eryn.
Eryn memilih tak bicara lagi. Ia memalingkan wajahnya dan menatap jalanan kota Meksiko yang mulai beralih gelap.
.
.
.
.
Black memindahkan perawatan Rose ke kota asalnya di Bogota, Kolombia. Ia juga membeli kembali rumah lama mereka yang dulu di jual oleh Eryn.
Eryn kembali menapakkan kakinya di rumah yang penuh kenangan itu. Senyum Edward yang menyambutnya ketika pulang sekolah, lalu ada Matilda yang selalu menyiapkan makan siang untuknya. Semua kenangan itu tak bisa Eryn lupakan.
Wanita itu terjatuh duduk di lantai. Ia menangis mengingat semua itu. Enam tahun telah berlalu. Dan semua tidak akan pernah lagi sama. Tubuh Eryn bergetar merasakan kesedihan yang teramat dalam.
Sementara Black, ia menjelajah ke kamarnya yang dulu. Semua masih terasa sama sejak terakhir ia meninggalkan rumah itu.
"Ayah... Ibu... Aku akan membawa adikku kembali ke rumah ini. Aku janji!" gumam Black.
Tiba-tiba ponselnya bergetar. Sebuah panggilan dari Carlos.
"Halo, Carlos. Ada apa?"
"Rose sudah siuman, Black. Dia bangun dari komanya."
"Apa?! Kau serius?"
"Iya, cepatlah kemari."
"Baiklah!"
Black segera berlari mencari keberadaan Eryn. Ia memberitahu jika Rose sudah kembali sadar. Eryn begitu bahagia. Ia pun berjalan cepat mengikuti langkah Black.
Tiba di rumah sakit, Black dan Eryn memang melihat Rose sudah membuka matanya. Ia sedang duduk di brankar rumah sakit ditemani Carlos dan Santa.
"Ada apa ini?" tanya Black yang bingung dengan raut wajah Carlos dan Santa.
"Black? Apakah itu kau?" ucap Rose dengan tatapan yang luruh ke depan.
"Rose?" panggil Eryn.
"Eryn! Kau disini juga?" tanya Rose.
"Ada apa ini, Carlos?" Black menarik kerah baju Carlos.
"Maafkan aku, Black," lirih Carlos.
Eryn berjalan mendekati brankar Rose.
"Rose, ini aku..."
Tangan Rose terulur dan meraba wajah Eryn. "Eryn... Kau selamat!"
Tangis Eryn pecah melihat kondisi Rose.
"Maaf, Black. Rose mengalami kebutaan. Dia tidak bisa melihat," jelas Carlos.
Tubuh Black limbung ke belakang. Sungguh ia tak sanggup melihat wanita yang disayanginya mengalami hal seperti ini.
Black berlari keluar dari kamar. "Aku akan menemui dokter!"
#tobecontinued
__ADS_1
*mewek lagi π₯π₯
*akankah Eryn akan ikut pergi dengan ayahnya untuk bertemu Noah? Atau dia akan tetap Memilih Black?