
"Selamat pagi, Nyonya!" sapa Santa ketika Eryn berjalan menghampiri mereka berdelapan yang sedang duduk di lobi hotel.
"Selamat pagi, Santa. Selamat pagi, semuanya," balas Eryn.
"Pagi, Nyonya. Wah, Nyonya terlihat sangat berbeda hari ini," celetuk Caesar.
David segera menyenggol lengan Caesar agar tidak kebanyakan bicara. Eryn hanya tersenyum simpul mendengar pujian karyawannya.
Tak lama sebuah bus berhenti di depan lobi hotel. Muncullah Carlos dari dalam bus dan menemui mereka.
"Selamat pagi semuanya. Sudah siap untuk city tour hari ini?" tanya Carlos.
"Wah, jadi kita akan menaiki bus ini, Tuan Carlos?" Santa berbinar senang.
"Iya, kalau begitu ayo naik!" ucap Carlos.
"Yeay! Kita akan keliling kota!" jawab mereka kompak.
Santa dan ketujuh pria itu bergantian masuk ke dalam bus. Eryn menghampiri Carlos yang nampak menggunakan setelan santai hari ini.
"Selamat pagi, Nyonya," sapa Carlos.
"Selamat pagi, Carlos. Kau terlihat berbeda hari ini."
Carlos hanya tersenyum.
"Apa kau sendiri yang akan menjadi pemandu wisata kami?" tanya Eryn.
"Sesuai dengan perintah Tuan Black, Nyonya. Aku sendiri yang akan menjadi pemandu wisata kalian hari ini."
Eryn terperangah. "Wow! Sungguh mengejutkan, Carlos."
"Mari, Nyonya!" Carlos mempersilakan Eryn naik ke dalam bus.
Bus mulai melaju meninggalkan hotel dan mulai menyusuri jalan kota Sao Paulo. Di dalam bus, Santa menyiapkan kamera ponselnya dan berselfie ria bersama yang lain. Ia juga mengunggah aktifitasnya ke media sosial pribadi miliknya.
Eryn hanya diam melihat kebahagiaan yang tercipta di dalam bus. Ia hanya menatap jalanan kota dengan pikiran yang entah kemana.
"Nyonya, apa kau baik-baik saja?" Suara Carlos membuyarkan lamunan Eryn.
"Eh? Carlos? Iya, aku baik-baik saja. Mungkin aku hanya terlalu lelah kemarin."
"Apa Nyonya tidur dengan nyenyak?" tanya Carlos sengaja menyelidik Eryn.
"Eh? Aku? Aku ... tidur dengan nyenyak," jawab Eryn sekenanya.
"Baiklah. Nikmati perjalanan Anda, Nyonya. Aku akan menyapa yang lainnya."
"Iya, Carlos. Terima kasih."
Carlos meninggalkan Eryn dan menemui ke delapan turisnya.
"Hai, guys. Untuk destinasi yang pertama kita akan mengunjungi Parque do Ibirapuera. Itu adalah sebuah taman kota yang...."
Carlos bercerita panjang lebar tentang tempat-tempat indah di Sao Paulo. Para turis itu terlihat bersemangat dan ingin segera memulai petualan liburan mereka.
......***......
Kota Meksiko,
Eric datang ke kantor Eryn karena pagi ini ia belum mendapat berita apa pun dari istrinya itu. Ia menemui Lolita, sahabat baik Eryn sekaligus tangan kanan Eryn dalam mengurus bisnisnya.
"Mungkin Eryn lupa memberitahumu karena disana dia sangat sibuk," ucap Lolita sedikit gugup.
__ADS_1
Pagi ini Eryn sempat menghubunginya dan mengatakan jika ia dan timnya tidak bisa pulang ke Meksiko hari ini. Kliennya memberikan sebuah bonus berupa liburan singkat keliling kota Sao Paulo.
Lolita memperhatikan raut wajah Eric yang sedikit kecewa.
"Jangan khawatir! Eryn pasti menghubungimu juga saat dia sudah senggang. Mungkin sekarang mereka sedang pergi berjalan-jalan." Lolita kembali menenangkan Eric.
"Baiklah. Terima kasih, Lolita."
"Noah baik-baik saja kan?" tanya Lolita berbasa-basi.
"Iya, dia baik. Kalau begitu aku permisi. Aku harus pergi ke kantor."
"Ah, iya. Hati-hati di jalan, Eric."
Lolita mengantarkan Eric ke depan hingga pria itu menghilang bersama mobilnya. Lolita segera meraih ponselnya dan menghubungi Eryn.
"Ah, sial! Dia mematikan ponselnya. Pantas saja wajah Eric sedih begitu. Dasar anak ini!" sungut Lolita sambil mengetik pesan untuk Eryn.
"Segera hubungi Eric jika ponselmu aktif. Kenapa kau sampai lupa menghubungi suamimu sendiri, huh!" tulis Lolita di pesannya yang segera ia kirim meski Eryn tidak bisa membacanya sekarang.
......***......
-Hotel Black Diamond-
Black membuka matanya dan melihat Rose sedang duduk di sofa sambil menatapnya. Wanita cantik itu melirik jam tangannya lalu melirik Black.
"Apa kau akan terus berada di atas tempat tidur, El?" ucap Rose.
Black sepertinya masih dalam mode belum sadar dari mabuknya. Ia memegangi kepalanya.
"Jadi, aku tidur di kamar Eryn?" gumamnya.
Rose menghampiri Black dan duduk di tepi ranjang.
Black memutar kembali memori semalam saat ia menggedor pintu kamar Eryn.
"Dimana dia?" tanya Black.
"Dia sudah pergi bersama Carlos dan kedelapan anak buahnya. Sebaiknya kau cepat bersiap! Kau ada rapat penting siang nanti." Rose menunjukkan ponsel Black yang penuh dengan panggilan dari Enrique.
"Kau mau kemana?"
"Aku seorang desainer, El. Tentu saja aku akan ke butikku. Kita bertemu setelah kau selesai rapat. Bye!" Rose melangkah keluar dari kamar Eryn.
Di depan pintu, Rose berhenti dan kembali mengingat apa yang terjadi tadi sebelum Eryn pergi.
Rose sadar jika semalam Black tidak akan kembali lagi ke kamarnya. Wanita cantik itu mencari keberadaan Black hingga akhirnya ia melihat pria itu masuk ke dalam kamar Eryn. Meski hati Rose bergemuruh, sebisa mungkin ia tidak menganggu apa yang ingin dilakukan Black. Ia tahu itu adalah keinginan hati Black.
Esok paginya, Rose bangun dari tidurnya dan memang tidak mendapati Black tidur di kamar itu. Ia segera membersihkan diri kemudian keluar dari kamar dan menuju kamar Eryn.
Tiba di depan kamar Eryn, Rose ragu apakah ia harus melakukan ini atau tidak. Tapi secara teknis, Rose adalah tunangan Black.
Lama Rose mematung di depan pintu hingga akhirnya pintu itu terbuka dan menampilkan sosok Eryn disana.
"Rose?" Eryn bergumam.
"Hai, Eryn," sapa Rose.
Eryn hanya diam. Ia merasa bersalah karena sudah bermalam bersama Black dan melupakan wanita cantik yang menjadi tunangan pria itu.
"Apa El ada di dalam?" tanya Rose kemudian.
"Iya, dia ada di dalam. Kau masuk saja. Aku harus segera berangkat bersama timku," balas Eryn.
__ADS_1
"Baiklah." Rose melewati tubuh Eryn dan langsung menuju ke tempat tidur dimana Black masih terlelap.
Ada sedikit rasa cemas yang melanda, namun seketika semuanya sirna. Rose tercengang karena melihat Black masih berpakaian lengkap seperti saat dia meninggalkan kamarnya. Secercah senyum terbit di bibir tipisnya.
......***......
Hari sudah mulai sore, Eryn dan timnya masih asyik menjelajahi pusat perbelanjaan yang cukup terkenal disana. Mereka membeli beberapa cindera mata dan juga oleh-oleh untuk keluarga mereka nanti.
Eryn hanya membeli beberapa barang saja untuk Eric dan Noah. Niat hati ingin membeli sesuatu untuk ibu mertuanya. Namun ia takut jika Eleanor tidak menyukai selera Eryn. Lalu ia membeli untuk Elza saja, sang adik ipar.
Mata Eryn tertuju pada Carlos yang sedang berbincang di telepon.
"Siapa yang meneleponnya? Sedari tadi Carlos sibuk bicara di telepon," gumam Eryn.
Wanita 25 tahun itu kemudian menghampiri Carlos.
"Hai, kau mau eskrim?" Eryn membawakan satu cup eskrim untuk Carlos.
Dengan gugup Carlos mengakhiri panggilannya.
"Nyonya? Kau sudah selesai berbelanja?"
"Yeah, begitulah. Aku tidak membeli banyak barang."
Carlos menerima cup eskrim pemberian Eryn. "Terima kasih."
"Maaf ya hari ini sudah merepotkanmu. Sepertinya kau sangat sibuk. Harusnya kau tidak perlu menjadi pemandu wisata kami. Sewa saja seseorang untuk menjadi tour guide. Bukankah bosmu itu sangat kaya, haha," canda Eryn.
Carlos hanya tersenyum tipis dan tidak menanggapi kata-kata Eryn.
"Apa dia tidak sadar? Aku berada disini karena dirinya! Tuan Black tidak percaya pada siapapun selain diriku untuk mengawasimu, Nyonya," batin Carlos.
"Oh ya, sudah berapa lama kau bekerja pada Tuan Black?" tanya Eryn menyelidik.
"Sudah cukup lama. Kenapa, Nyonya?"
"Tidak ada. Aku hanya ingin tahu saja. Apa kau juga tahu jika dia sebenarnya adalah..."
"Nyonya, sebaiknya kita menyusul mereka. Sebentar lagi waktunya makan malam dan kita harus segera kembali ke hotel." Carlos langsung memotong kalimat Eryn dan berjalan meninggalkan wanita itu.
"Astaga! Sudah kuduga jika hal ini akan terjadi! Kenapa Tuan Black harus membuatku berada di posisi ini?" sungut Carlos sambil terus melangkah mencari Santa dan kawan-kawannya.
Eryn hanya memandangi kepergian Carlos. Ia sudah menduga jika Carlos tidak akan mengatakan apa pun padanya.
"Banyak sekali rahasia. Sebenarnya apa yang terjadi?" batin Eryn.
......***......
Eryn kembali ke hotel pukul sembilan malam setelah makan malam bersama. Hari ini terasa melelahkan baginya. Tapi ia juga senang karena bisa memberikan satu pengalaman liburan yang berbeda dari biasanya kepada para karyawannya.
Eryn berjalan menuju ke kamarnya. Ia celingukan mencari seseorang. Namun ia tak mendapati siapapun disana.
Dengan langkah gontai ia masuk ke dalam kamarnya. Ia menatap nanar kearah tempat tidur. Semalam baru saja terjadi sesuatu yang hangat disana meski hanya sesaat.
Eryn segera membersihkan diri kemudian naik keatas ranjang. Ia mengusap bantal di sebelahnya. Semalam Black tidur disana bersama dengannya. Tak ada mimpi buruk yang menghantui ketika ia tidur bersama Black.
Mata beningnya tiba-tiba meneteskan kristal putih sebagai tanda untuk meluapkan perasaannya.
"Kau meninggalkanku lagi, El..."
Tubuh Eryn mulai bergetar. Sebuah ungkapan kesedihan dan juga rasa kehilangan.
...B e r s a m b u n g...
__ADS_1
*Silakan tinggalkan jejak, kesayangan 😘😘😘