
Ilena masih berduka dengan kepergian Brian yang tiba-tiba. Sebenarnya Ilena curiga pada kakak dan ibu tirinya atas meninggalnya Brian. Namun ia juga tak punya cukup bukti untuk menjerat mereka berdua.
Kini Ilena harus kuat untuk menghadapi sikap dan perlakuan buruk dari kakak dan ibu tirinya. Sepanjang malam Ilena masih menangisi kepergian Brian. Ia memeluk erat foto Brian di dadanya.
Ilena masih berharap jika semua hal yang terjadi hari ini dan kemarin hanyalah sebuah mimpi buruk dan ia akan bangun dari mimpi itu.
Pagi kembali menyapa. Ilena bangun dari tidurnya karena mendengar suara ribut-ribut dari luar kamarnya. Ilena membersihkan diri lebih dulu sebelum keluar kamar.
Sepuluh menit kemudian, Ilena sudah rapi dan menemui kakak serta ibunya yang sedang bicara dengan seorang tamu, Ralph dan satu orang pria yang tidak Ilena kenali.
"Selamat pagi, Ilena. Aku adalah pengacara mendiang ayahmu, Emanuel Sanders." Pria bernama Emanuel itu mengulurkan tangannya.
Ilena menerima uluran tangan Emanuel. Pria 40 tahunan ini terlihat bersahabat.
"Duduklah, Ilena. Pengacara Emanuel akan membacakan surat wasiat ayahmu," ucap Sorena dengan nada lemah lembut. Sangat berbeda dari biasanya.
Ilena menurut. Dia duduk di samping Selena. Bahkan Selena pun bersikap hangat pada Ilena.
"Baiklah, karena semua orang sudah berkumpul. Saya akan mulai bacakan surat wasiat yang ditulis oleh tuan Brian Adams," buka Emanuel.
"Tunggu, Pengacara!" sergah Ilena.
"Ada apa, Nona Ilena?"
"Ayah baru saja meninggal, bahkan tanah makamnya masih basah. Kenapa kita malah membicarakan soal surat wasiat?"
"Ilena sayang, ini adalah wasiat dari ayah kalian. Bukankah sudah sepantasnya kita segera melaksanakannya jika ada yang diinginkan ayah kalian," balas Sorena masih dengan suara lembutnya. Padahal dalam hatinya ia begitu kesal karena Ilena menyergah Emanuel.
"Bagaimana, Nona Ilena? Bisa kita lanjutkan?"
Ilena mengangguk. Ia tahu jika ini tidak dilanjutkan maka ibu tiri dan kakaknya pasti akan membuatnya lebih menderita dari sebelumnya.
Emanuel mulai membacakan surat wasiat yang ditinggal oleh Brian untuj keluarganya. Semua orang terlihat serius mendengarkan setiap kata demi kata yang keluar dari mulut Emanuel.
Telinga mereka terasa gerah mendengar keputusan Brian yang sungguh tidak mereka duga. Terutama untuk Sorena dan Selena. Sedangkan Ilena hanya diam dan tak ingin berkomentar.
__ADS_1
"Demikian surat wasiat yang ditulis oleh Tuan Adams dan disahkan oleh saya selaku pengacaranya," tutup Emanuel.
"Tunggu dulu, Pengacara! Apa kau tidak salah membacakan surat wasiat suamiku? Mana mungkin Ilena dan Selena mendapatkan bagian yang sama? Harusnya mereka..."
Sorena mulai melakukan protesnya. Ilena sudah menduga jika ibu tirinya tidak akan setuju dengan keputusan ayahnya.
"Nyonya, saya hanya membacakan apa yang Tuan Adams amanatkan kepada saya. Mana mungkin saya berani mengubah isi surat wasiatnya. Sebaiknya kalian segera tanda tangani ini dan saya akan langsung mengurus pemindahan saham atas nama kalian."
Sorena dan Selena saling pandang. Tentu saja mereka tidak terima karena Ilena mendapatkan bagian yang sama dengan Selena.
"Nona Selena, silakan tanda tangan disini. Anda berhak mendapatkan 35 persen saham milik Adams Grup," ucap Emanuel.
Selena nampak mengernyitkan dahinya.
"Nona Ilena, silakan Anda juga tanda tangani. Anda juga mendapatkan bagian yang sama dengan Nona Selena. Yaitu saham Adams Grup sebesar 35 persen."
BRAK!
Sorena menggebrak meja. Akhirnya ia melayangkan protesnya secara nyata.
"Bagaimana bisa anak haram ini mendapatkan bagian yang sama dengan putriku! Dia bahkan tidak pernah terdaftar secara sah sebagai putri suamiku!" ucap Sorena berapi-api.
"Tuan Adams sudah mengesahkan Nona Ilena sebagai pewaris dan putri yang sah beliau," sahut Emanuel.
"APA?!" Sorena dan Selena sangat terkejut dengan kenyataan yang tidak pernah mereka tahu.
"Tidak! Ini tidak mungkin! Bahkan pernikahan suamiku dan Lorna tidak sah di mata hukum." Sorena masih menyuarakan protesnya.
"Nyonya, tolong hargai keputusan mendiang suami Nyonya. Kedua putri tuan Adams mendapatkan bagian yang sama. Karena mereka sama-sama putri kandung tuan Adams. Lalu sisa 30 persern dibagi untuk Nyonya 10 persen, dan Ralph 10 persen, sisanya untuk seluruh karyawan Adams Grup. Itu semua keputusan final tuan Adams. Jika Nyonya tidak terima, maka Nyonya berhak melakukan gugatan kepada pengadilan."
Sorena terdiam. Ia berpikir sejenak.
"Bagaimana bisa aku hanya mendapatkan 10 persen? Aku menjadi istrinya selama puluhan tahun. Aku tetap setia mendampinginya meski tahu dia sudah berkhianat dariku. Dia lebih memilih wanita j4lang itu dari pada diriku dan putriku!" Kalimat Sorena mulai melemah. Ia merasa sudah kalah.
Emanuel tersenyum sinis. "Untuk masalah itu harusnya Nyonya sendiri yang tahu apa alasannya. Begitu juga dengan Anda, Tuan Ralph. Anda sudah banyak membantu tuan Adams namun Anda hanya mendapat bagian 10 persen saja. Apa Anda juga akan melayangkan protes?" cecar Emanuel.
__ADS_1
Sudah bukan menjadi rahasia lagi untuk Emanuel jika Sorena dan Ralph diam-diam menjalin kasih dibelakang Brian.
"Kau! Berani sekali kau bicara begitu padaku, huh?! Kau hanya seorang pengacara yang dibayar suamiku dan kau tidak berhak ikut campur urusan keluarga kami!" Sorena sudah dikuasai amarah.
"Ibu! Kenapa ibu bicara kasar pada pengacara?" Selena yang tak tahu menahu soal hubungan gelap ibunya dan Ralph berusaha menenangkan ibunya. Ia tak ingin citra keluarga Adams tercoreng hanya karena sebuah wasiat.
"Diam kau, Selena! Apa kau tidak ingin protes juga, hah?! Kau mendapat bagian yang sama dengan anak haram ini! Apa kau menerimanya? Kau adalah putri sah keluarga Adams. Tidak ada yang boleh menggeser posisimu itu, Nak!"
"Ibu! Hentikan semua ini! Meski aku tidak menganggap dia sebagai adikku tapi di mata hukum kami tetaplah kakak beradik."
"Tidak, Nak! Ibu tidak akan pernah menerimanya menjadi bagian keluarga ini! Tidak!"
"Hentikan! Berhenti semuanya!" Ilena yang sudah muak dengan semua ini akhirnya angkat bicara.
"Aku tidak pernah menginginkan apapun dari harta peninggalan ayah. Apalagi saham perusahaan. Jika Ibu dan Kakak ingin mengambilnya, maka silakan saja. Tapi, aku hanya minta satu hal pada kalian. Aku ingin kebebasanku! Aku ingin kalian tidak lagi mengangguku!" ucap Ilena dengan terengah. Akhirnya ia bisa menyuarakan isi hatinya.
Selena dan Sorena membulatkan mata tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.
"Kau serius, Ilena?" tanya Sorena dengan nada rendah.
"Iya, Bu. Aku serius! Aku tidak menginginkan saham itu. Tapi izinkan aku untuk bebas. Aku ingin mengurus panti asuhan."
Selena dan Sorena saling pandang. Mereka merasa menang sekarang.
"Nona Ilena! Apa Anda benar-benar ingin melakukan ini?" tanya Emanuel tak percaya.
"Iya, Tuan Pengacara. Aku tidak menginginkan apapun selain bisa mengurus anak-anak panti. Dan untuk saham perusahaan ... balik saja atas nama ibu Sorena. Biarkan aku mendapat 10 persen saja."
Sorena berbinar senang. "Benarkah, Nak? Ah, terima kasih banyak." Sorena memeluk Ilena. Untuk pertama kalinya Ilena merasakan kehangatan pelukan seorang ibu.
Meski dalam hati Ilena merasa miris dengan kondisi keluarganya, namun ini lebih baik dari pada harus terjadi perdebatan yang tak berujung diantara mereka.
Memilih pergi dari rumah yang bagai neraka, adalah keputusan yang baik menurut Ilena.
#
__ADS_1
#
#