Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
65. Bayang Semu


__ADS_3

"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar servis area. Silakan coba beberapa saat lagi."


Berkali-kali Rose menekan nomor yang dulu pernah menghubunginya namun tidak pernah tersambung. Itu adalah nomor yang diduga adalah milik Eldric. Rose sangat mengenali suara kakaknya itu.


"Sejak saat itu kenapa kakak tidak bisa lagi dihubungi? Sebenarnya kau ada dimana, kak? Kenapa tidak menghubungiku lagi?" batin Rose cemas memikirkan Eldric.


Rose menatap nanar ke depan. Ia ingin memberitahu kakaknya jika kini ia sudah bisa melihat lagi seperti dulu. Namun rasanya Eldric memang tidak ingin menampakkan diri hingga waktunya tiba.


"Rose!" panggil seseorang yang adalah Carlos.


Rose tersenyum kearah Carlos yang menghampirinya.


"Ayo! Semua orang sudah menunggumu," ucap Carlos.


Rose mengangguk. Ia berjalan menghampiri Carlos dan melingkarkan tangannya di lengan Carlos.


"Apa semua orang sudah datang?" tanya Rose.


"Ya, mereka menunggumu untuk pemotongan pita."


Saat ini Carlos telah mengambil alih hotel milik Black yang masih bernama Black Diamond. Setelah lama tidak beroperasi, kini hotel itu akan kembali diresmikan oleh Rose selaku pewaris Black.


Hotel ini telah dilengkapi dengan bar, tempat karaoke dan juga cassino. Masing-masing tempat memiliki penanggung jawab yang berbeda.


Carlos menugaskan David untuk mengelola cassino. Frans mengelola bar, dan Agli mengelola tempat karaoke. Untuk Bernard dan Caesar adalah tenaga IT yang akan mengawasi semua pergerakan uang yang masuk ke dalam usaha mereka.


Santa mulai membuka usaha kecil-kecilan miliknya sebagai perancang acara. Sama seperti pekerjaannya dulu saat masih bersama Eryn.


"Satu, dua, tiga!" seru semua orang lalu Rose memotong pita sebagai simbol telah dibukanya hotel Black Diamond.


Semua orang bertepuk tangan untuk perayaan pembukaan hotel hari ini. Santa yang mengatur acaranya.


"Hai, Rose. Selamat atas pembukaan hotel barumu," ucap seorang pria yang adalah Dixon.


Rose mengerutkan dahi karena ini pertama kalinya ia bertemu dengan Dixon.


"Jadi, dia adalah..." Rose menunjuk Dixon, si pria bertubuh besar dan berotot.


"Darius Dixon, Maam." Dixon mengulurkan tangannya.


"Maaf, aku tidak mengenalimu. Aku hanya mendengar ceritamu dari Carlos."


"Yeah, tidak apa. Sekarang kalian bisa bernapas lega. Semuanya telah berakhir," ucap Dixon.


"Kapan rencana Eric akan dieksekusi?" tanya Carlos.


"Masih sekitar dua bulan lagi. Apa kalian ingin menyaksikannya?"


Rose menatap Carlos.


"Jadi, Eric mendapat hukuman mati?" tanya Rose.


"Iya, Nona. Dia harus menebus kesalahannya dengan mahal."


Entah kenapa Rose menjadi tak tega mendengar kondisi Eric. Jika diperbolehkan, Rose ingin menemui Eric untuk terakhir kalinya.


#


#


#


Malam ini adalah malam puncak acara hari jadi rumah sakit Gangnam tempat Joon bekerja. Eryn sudah memastikan segalanya berjalan dengan baik dan sempurna.


Eryn memiliki tim yang solid sama seperti dulu saat dia tinggal di Meksiko. Terkadang ia merindukan masa-masa bersama mereka. Bertahun-tahun mengenal mereka dan memang tak mudah melupakan orang-orang baik seperti mereka.

__ADS_1


Acara mulai berjalan, Eryn memperhatikan seluruh tamu yang datang. Mereka semua adalah tamu penting dari pendiri rumah sakit, Seo Ji Hoon yang adalah ayah dari Ga Eun.


Pria paruh baya yang lebih muda dari ayah Eryn itu menyapa ramah seluruh tamunya. Dari kejauhan Eryn juga melihat jika ayahnya juga datang ke acara itu.


Eryn yang memantau dari atas panggung kini turun untuk melihat persediaan makanan dan yang lainnya. Tentu saja Eryn sangat berpengalaman dalam hal ini.


Tak lama terlihat Joon datang bersama dengan Ga Eun. Gadis itu selalu menempel pada Joon. Eryn yang melihatnya pun tidak mempermasalahkan hal itu.


Posisi Joon sebagai direktur di rumah sakit ini pastilah berkat bantuan dari keluarga Ga Eun. Gadis itu melihat Eryn sedang berbincang dengan kru EOnya. Ia menghampiri Eryn.


"Permisi, bisa bicara sebentar?" tanya Ga Eun terdengar sinis.


"Iya, ada apa, Nona?" Eryn berusaha bersikap sopan. Meski ayahnya adalah rekan dari pemilik rumah sakit ini, namun posisi Eryn kini adalah seorang penata acara dan orang lain. Sebisa mungkin ia bersikap profesional.


Ga Eun nampak memperhatikan Eryn dari atas hingga bawah.


"Aku tidak tahu apa hubunganmu dengan Joon Oppa, tapi kau harus tahu jika kami memiliki hubungan yang dalam lebih dari yang kau kira. Semua orang tahu itu. Posisi Oppa di rumah sakit ini sedikit banyak adalah berkat bantuan ayahku. Jadi, aku tidak akan membiarkan orang lain merebut Oppa dariku! Mengerti?"


Eryn hanya tersenyum mendengar penjelasan Ga Eun. Gadis itu lebih muda tiga tahun darinya. Ia tahu emosi gadis muda seperti Ga Eun sering meledak-ledak.


"Tenang saja! Aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Joon. Dia hanyalah dokter anakku." Eryn menjawab dengan santai.


"Baiklah! Aku simpan kata-katamu. Kau seorang janda kan? Kau sama sekali tidak cocok bersanding dengan Oppa. Kau harus tahu diri." Ga Eun pergi usai mengatai Eryn.


Eryn memejamkan matanya. Sebisa mungkin ia menahan tangisnya. Semua yang Ga Eun katakan memang benar. Ia seorang janda. Dan dia tidak pantas bersanding dengan pemuda cemerlang seperti Joon.


Eryn ingin membasuh mukanya di toilet, namun tiba-tiba ia mendengar suara gelak tawa dari arah belakangnya. Eryn berbalik badan dan melihat seorang pria membelakanginya.


Eryn hapal suara tawa itu. Hatinya kembali bergemuruh.


"Eldric..."


Eryn mengikuti langkah pria yang ternyata menuju keluar aula. Ia masih penasaran dengan pemilik suara itu. Jika firasatnya benar, maka...


"Hah?! Joon?" Eryn terkejut.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Joon.


"Heh?! Ah, tidak ada." Eryn salah tingkah. Ia mengedarkan pandangan mencari sosok pria tadi.


"Ayo, ayahmu mencarimu. Ia ingin mengenalkanmu pada rekan-rekan bisnisnya," ucap Joon.


Eryn tersenyum lalu mengikuti langkah Joon. Sementara pria yang dikejar Eryn bersembunyi dibalik dinding dan menatap kepergian Eryn.


"Belum saatnya kita bertemu, Eryn," gumam pria itu.


#


#


#


Eryn menemui Tuan Kim bersama Joon. Disana sudah ada Ga Eun dan ayahnya, Seo Ji Hoon.


"Ah, ini dia Tuan Seo. Ini adalah putriku, Eryn." Tuan Kim memperkenalkan Eryn pada Seo Ji Hoon.


"Halo, Nona. Aku Seo Ji Hoon. Kudengar kau yang merancang acara malam ini. Ini sungguh mengesankan," puji Seo Ji Hoon.


Eryn tersenyum. "Terima kasih, Tuan Seo. Sungguh sebuah kehormatan untuk bisa merancang acara pada malam hari ini."


"Ah, iya kenalkan. Ini Ga Eun, dia putriku satu-satunya."


Eryn menyapa Ga Eun. Gadis itu hanya menatap sinis pada Eryn.


"Oppa!" Ga Eun malah mendekati Joon dan memeluk lengannya.

__ADS_1


Eryn hanya diam.


"Oppa, temani aku makan. Aku ingin makan sushi." Ga Eun menarik lengan Joon dan membawanya pergi.


Eryn pun ikut berpamitan karena harus mengawasi semua kinerja timnya.


#


#


#


Malam mulai larut, Eryn pulang dari rumah sakit dengan mengendarai mobilnya sendiri. Karena jalanan cukup lengang, Eryn menyetir sambil memikirkan banyak hal. Terutama tentang suara tawa yang didengarnya tadi.


"Siapa dia? Apa benar itu adalah Eldric? Lalu kenapa dia tidak menemuiku jika dia memang masih hidup?"


Eryn bertarung dengan pikiran dan hatinya. Hingga ia tidak berhati-hati dan menabrak mobil didepannya.


BRAK!


Suara keras terdengar dan akhirnya menyadarkan Eryn.


"Astaga! Apa yang aku lakukan? Aku menabrak mobil! Ya Tuhan, aku harus bagaimana?"


Eryn turun dari mobil karena melihat seseorang juga turun dari mobil yang ditabraknya.


"Maafkan saya, Pak," ucap Eryn penuh penyesalan.


Orang itu menatap lampu belakang mobilnya yang pecah.


"Aduh, bagaimana ini? Nona, apa kau bisa menyetir? Kenapa tidak lihat jika ada lampu merah?" marah pria 50 tahunan itu pada Eryn.


"Maaf, Pak. Saya benar-benar minta maaf. Saya janji saya akan ganti rugi." Eryn menangkupkan kedua tangannya.


"Pak Ji!"


Sebuah suara terdengar dari dalam mobil.


"Iya, Tuan!"


"Ada apa?" tanya pria yang berada didalam mobil.


"Nona ini menabrak mobil Tuan. Lampu belakang mobil pecah, Tuan. Dan ada beberapa bagian yang penyok. Tapi, nona itu bilang dia akan membayar ganti ruginya, Tuan," jelas si supir yang dipanggil Pak Ji itu


"Ya sudah. Suruh dia datang ke kantor besok untuk membayar ganti rugi." Pria di dalam mobil memberikan sebuah kartu nama pada Pak Ji.


"Baik, Tuan."


Pak Ji kembali menemui Eryn.


"Nona, Tuan saya bilang nona besok datang ke kantor saja untuk membayar ganti rugi. Ini kartu nama Tuan saya. Kalau begitu saya permisi. Lain kali menyetirlah dengan lebih hati-hati."


Eryn menerima kartu nama itu dan kembali meminta maaf.


"Baik, Pak. Sekali lagi saya minta maaf." Eryn membungkukkan tubuhnya.


Mobil itu kembali melesat pergi. Eryn menatap kartu nama yang ada di tangannya.


"Se-Kang Grup?" gumam Eryn sambil menatap mobil yang kian menjauh dari pandangannya.


#tobecontinued


*Walaaaa, Eryn Eonni/Noona gimana sih pake nabrak segala. Lalu, siapakah pemilik mobil yg ditabrak Eryn Eonni/Noona ya? Apakah dia......?


Hehehehe tebak tebak ayooooo😬😬😬

__ADS_1


__ADS_2