
Eryn masuk ke dalam kamarnya dan mengatur napasnya. Sungguh ia tak tahu harus bicara dan berbuat apa. Pria yang selama ini dirindunya tiba-tiba hadir dengan kilatan amarah di matanya.
Ya, Eryn bisa melihat sorot mata Eldric kini telah berubah. Pria itu adalah Eldric, hanya itu yang ada di pikiran Eryn saat ini. Pria yang sudah dianggapnya mati namun ternyata ia masih hidup. Bagaimana mungkin?
Kesedihan yang selama ini Eryn rasakan karena kehilangan pria yang dicintainya, terbantahkan sudah dengan kehadiran pria itu. Eryn menangis sendiri dalam diam. Rasa terkejutnya masih belum usai.
Hingga akhirnya malam semakin larut. Eryn masih terjaga. Matanya tak bisa terpejam mengingat pertemuan mereka tadi.
"Kenapa dia menatapku begitu?" tanya Eryn dalam hati.
Eryn memutuskan untuk keluar kamar menuju balkon. Dari kamar Eryn yang berada di lantai dua, ia bisa melihat pemandangan malam dan juga sekitaran mansion yang ternyata sangat luas.
Eryn membawa selimut dan menutupi tubuhnya. Ternyata angin malam di Sao Paulo cukup dingin.
"Kau belum tidur, Nyonya?"
Sebuah suara membuat Eryn membulatkan mata. Ia langsung membalikkan badan dan melihat si pemilik suara. Eryn masih diam menatap lekat-lekat pria yang ada di hadapannya.
"Apa kau tidak bisa tidur saat di tempat yang baru?" tanya pria itu lagi.
Mata Eryn berkaca-kaca menatap pria yang selalu ia simpan dalam hatinya.
"Kau? Kau adalah Eldric? Bagaimana bisa? Polisi bilang jika mereka tidak menemukan jasadmu. Jadi, kau selamat? Kau tinggal disini selama ini?" Suara Eryn bergetar mengatakan semua pertanyaan itu.
"Aku mengundangmu kemari untuk merancang pesta ulang tahunku. Kau tidak perlu bertanya sebanyak itu. Sebaiknya kau tidur, Nyonya. Besok kau harus sudah memulai semua persiapan. Dan kau harus ingat, namaku adalah El-Black, bukan Eldric." Black berbalik badan kemudian pergi meninggalkan Eryn.
Eryn masih mematung tidak percaya dengan kalimat dingin yang dikatakan Black padanya.
"El..." lirih Eryn yang masih dapat di dengar oleh Black. Namun pria itu tetap melangkahkan kakinya keluar dari kamar Eryn.
Bagaimana bisa Black masuk ke kamar Eryn? Eryn sudah tahu seperti apa perangai Black di masa lalu. Pasti hal yang dulu selalu ia lakukan, kini ia lakukan kembali. Membuat pintu rahasia agar dia bisa diam-diam datang ke kamar Eryn. Begitulah kiranya.
Eryn menghapus air matanya kemudian merebahkan dirinya keatas ranjang. Sekuat tenaga ia memejamkan mata agar bisa menuju ke alam mimpi dan berharap esok akan lebih baik dari hari ini.
......***......
Di sisi lain, Black kembali ke kamarnya dan mengumpat kesal disana. Ia memukul tembok kamarnya hingga tangannya terluka.
"Apa yang membuatmu begitu kesal hingga harus melukai tanganmu?"
__ADS_1
Suara lembut Rose membuat Black menghentikan aksinya. Wanita cantik itu memegang tangan Black dan membawanya untuk duduk di sofa kamar itu.
Rose mengambil kotak obat dan membersihkan luka Black dengan telaten.
"Katakan apa yang terjadi? Apa kau sudah bertemu dengannya?"
Seketika Black menarik tangannya yang sedang diobati Rose. Rose menghela napas melihat tingkah Black.
"Ini kan yang kau inginkan? Hingga dua minggu ke depan kau akan melihatnya dari dekat." Ada rasa sesak dihatinya ketika Rose mengatakan itu.
"Aku butuh bantuanmu," ucap Black.
"Tentu aku akan membantumu. Bukankah sekarang pun aku sedang membantumu?"
"Baiklah, terima kasih." Black berjalan menuju tempat tidurnya dan merebahkan diri.
"Kuberi satu saran untukmu, El. Sebaiknya kau dengarkan apa yang ingin dia katakan sebelum kau melanjutkan aksimu. Selamat malam, El..." Rose berlalu dari kamar Black dan menuju pintu rahasia yang tak diketahui siapapun kecuali Black dan dirinya. Dari luar seolah-olah Rose tidur satu kamar dengan Black, namun pada kenyataannya tidak. Hmm, Black memang penuh dengan misteri.
......***......
Pagi harinya, Eryn telah selesai membersihkan diri lalu menemui para karyawannya. Kejadian semalam sebisa mungkin ia lupakan. Meski Black adalah orang yang pernah ia kenal, namun kini pria itu adalah kliennya.
"Selamat pagi, Nyonya. Bagaimana kabar Nyonya? Apa sudah baikan?" tanya Santa.
"Iya, Santa. Aku sudah lebih baik," jawab Eryn dengan mengembangkan senyumnya.
"Selamat pagi semuanya!" seru Carlos mendatangi semua orang yang akan sarapan di meja makan.
"Selamat pagi, Tuan Carlos," sapa Santa dengan tersipu malu.
"Selamat pagi, Nona Santa," balas Carlos datar.
Eryn melotot tajam kearah Santa. Ia meminta Santa agar tidak genit pada Carlos.
"Selamat pagi semuanya!" Suara bariton seorang pria berhasil membuat semua orang yang ada di meja makan mendadak berdiri, tak terkecuali Eryn.
Eryn melihat sosok Black yang berdiri bersama dengan seorang wanita cantik. Meski bertanya-tanya tentang siapa yang berada disamping Black, namun sebisa mungkin Eryn menahan gemuruh didalam hatinya.
"Silakan lanjutkan sarapan pagi kalian. Aku akan pergi. Dan aku sudah menyerahkan semuanya pada Carlos. Ayo, Rose!" Black memeluk mesra pinggang Rose dan membawanya pergi.
__ADS_1
Eryn memalingkan wajah melihat dua sejoli itu. Carlos juga bisa melihat ada raut kesedihan di wajah Eryn saat melihat Black bersama Rose.
......***......
Eryn dan timnya sedang menyiapkan dekorasi seperti yang diinginkan oleh Mr. Black. Tak terasa ternyata sudah satu minggu Eryn berada di mansion milik Black.
Pesta ulang tahun Black akan diadakan di taman mansion yang tentunya sangat luas. Sesuai permintaan Black jika pestanya diadakan di luar ruangan. Ia juga tidak mengundang banyak orang namun ia ingin pestanya bernuansa mewah dan berkesan. Sebisa mungkin Eryn mewujudkan keinginan Black karena ia juga dibayar mahal untuk ini.
Eryn menata sendiri dekorasi taman agar sesuai dengan konsep yang diberikan Carlos. Hari sudah malam namun Eryn masih sibuk bekerja. Ia memang suka lupa waktu jika sudah menyangkut pekerjaan.
Hingga ia kurang hati-hati dan akan terjatuh dari tangga tempatnya berdiri. Beruntung ada seseorang yang menolongnya dan menangkap tubuh Eryn yang kurang keseimbangan.
Eryn menatap orang yang menolongnya.
"Tuan Black?" lirih Eryn.
Sejenak Eryn saling bertukar tatap dengan Black yang begitu dekat mendekapnya. Eryn segera sadar dan melepaskan diri.
"Ma-maaf, Tuan." Eryn menundukkan kepalanya.
"Apa kau harus mengerjakan ini sendiri?" tanya Black.
"Iya, Tuan. Karena aku harus memastikan semuanya sempurna," jawab Eryn.
"Oh, begitu. Ini sudah malam. Sebaiknya kau istirahat. Besok saja kau lanjutkan. Lagipula masih ada waktu." Black kembali pergi meninggalkan Eryn.
"Tunggu!" Eryn menahan langkah kaki Black.
"Bukankah ini bukan hari ulang tahunmu? Kenapa tanggal lahirmu berubah jadi tanggal 31 oktober?" tanya Eryn.
Black tidak menoleh. Ia memilih membelakangi Eryn lalu menjawab,
"Orang yang dulu kau kenal sudah mati. Kini orang itu bangkit dari kematiannya bertepatan dengan pesta Halloween. Kurasa itu cocok untukku. Makanya kupilih tanggal itu."
Eryn menghela napas mendengar jawaban Black.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa semuanya jadi begini? Apa yang terjadi denganmu, El?" Eryn hanya mampu mengatakan itu didalam hatinya.
...B e r s a m b u n g...
__ADS_1
*Hmm, masih abu2 ya genks. Okey, kita lanjut dengan apa sih yg sebenarnya direncanakan oleh Black?kenapa dia begitu marah pada Eryn?