Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
60. J E B A K A N


__ADS_3

Eryn terdiam setelah apa yang Noah lakukan tadi padanya dan juga Joon. Ia memilih untuk tidak berkomentar. Ia hanya membiarkan putranya tersenyum bahagia dengan keadaan yang sekarang sedang terjadi.


"Maafkan aku, El. Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa pada putra kita. Dia memilih orang lain sebagai ayahnya. Semoga kau segera datang dan membuat semuanya jelas," batin Eryn.


"Eryn..."


Suara Joon membuat Eryn menetralkan hatinya. Ia tak ingin membenci pria ini hanya karena posisinya yang menggantikan Eldric di hati Noah. Namun terkadang hatinya juga merasakan penyesalan kenapa harus ada orang lain diantara dirinya dan Noah?


"Jangan pikirkan apa yang dilakukan Noah. Dia masih anak-anak. Dia tidak mengerti dengan apa yang dilakukannya saat ini."


"Kau tidak perlu menjelaskannya, Joon. Aku mengerti."


Joon masih merasa tak enak hati dengan Eryn.


"Maaf, Eryn..."


"Bukankah kondisi Noah sudah membaik? Sebaiknya kau tidak perlu datang lagi menemuinya. Biarkan aku yang mengurus Noah. Dia adalah putraku," tegas Eryn.


Joon nampak menghela napasnya.


"Baiklah, jika itu maumu. Kalau begitu aku permisi." Joon membungkukkan badan kemudian berlalu.


Eryn memegangi dadanya. Sungguh ia tidak ingin menyakiti perasaan Joon. Namun ia harus mengambil langkah ini untuk kebaikan Noah. Ia tak ingin Noah bergantung pada Joon yang bukan siapa-siapanya.


"Tidak seharusnya kau berkata begitu pada Kang Joon. Bukankah Ayah sudah bilang kau harus hidup untuk anakmu."


Tuan Kim datang menghampiri Eryn.


"Ayah, apa yang ayah katakan? Hubungan Noah dan Joon sudah terlalu jauh. Dia hanyalah dokternya Noah, dan seharusnya hanya sebatas itu." Eryn merasa harus membantah apa yang dikatakan ayahnya.


"Kau tidak mengerti, Nak."


"Aku yakin Noah akan mengerti. Eldric sebentar lagi akan datang. Aku ingin Noah menerimanya sebagai Daddy nya. Sama seperti aku yang kini bisa menerima ayah menjadi ayahku!"


"Mungkin kau benar. Tapi, Noah masih anak-anak. Dia belum memahami semuanya."


"Aku juga belum memahami semuanya, Ayah! Tapi aku berusaha menerimanya." Eryn sedikit menaikkan nada bicaranya.


"Baiklah. Lakukan apa yang menurutmu benar. Tapi jangan salahkan siapapun jika terjadi sesuatu dengan Noah." Tuan Kim mengalah dan memilih pergi.


...#...


...#...


...#...


Black telah memiliki rencana untuk menghadapi Eric dan anak buahnya. Mereka akan menyerang markas Eric yang sudah diketahui keberadaannya berkat jasa Santoz.


Kini fokus Black tak boleh terbagi lagi. Setelah ini ia tak bisa bersantai lagi seperti sebelumnya.


Luiz dan Carlos selalu mendukung apa pun yang akan dilakukan Black. Ditambah kini ada Dixon yang siap membantunya.


"Oke! Kita akan membagi tugas kita saat mengepung markas Eric nanti. Agli, Caesar dan Santoz, kalian tetap disini dan memantau pergerakan kami. David dan Santa, kalian ikut dengan Dixon dan Lucy. Lalu aku, akan bersama Carlos dan David. Apa semua senjata sudah siap?" ucap Black menjelaskan.


"Semuanya sudah siap, Black," sahut Dixon.


"Baiklah. Malam ini kita beristirahat lebih awal agar besok kita bisa lebih siap saat penyerangan nanti."


Semua orang mengangguk paham. Kemudian mereka kembali ke kamar masing-masing.

__ADS_1


Setelah semua orang kembali ke kamar masing-masing, Dixon mengajak Black untuk sedikit berbincang bersama Ray. Sementara itu, ada seseorang yang mengendap-endap dan masuk kedalam kamar Black.


Orang itu menuliskan sebuah pesan untuk Black. Kemudian orang itu tersenyum dengan senyum menyeringai.


"Kali ini kau harus masuk kedalam jebakanku, Black," lirih orang itu.


...#...


...#...


...#...


Pintu kamar Black terbuka. Pria itu melangkah menuju ke kamar mandi dan membersihkan diri terlebih dahulu.


Usai membersihkan diri, ia duduk di tepi ranjang dan melihat sebuah surat disana.


"Apa ini?" gumamnya.


Ia membuka surat itu dan membacanya. Dahinya berkerut. Ia segera keluar dari kamarnya dan menuju kamar yang tertulis di surat itu.


Pintu kamar itu tidak terkunci. Dengan bebas ia masuk dan menutup pintu kembali. Lampu kamar yang temaram membuatnya sedikit curiga.


Langkah kakinya berjalan perlahan. Lalu tiba-tiba ada yang menariknya dan mencium bibirnya dengan penuh gairah. Tanpa menolak ia pun membalas ciuman yang memang diberikan oleh seorang wanita.


Napas wanita itu terengah dan melepas ciumannya sebentar.


"Tolong aku, Black! Sepertinya ada yang aneh dengan tubuhku," ucap wanita itu.


Pria itu segera menuju pintu namun ternyata pintu tak berhasil ia buka. Ia terjebak. Pintu itu terkunci.


Wanita itu kembali menghampirimya dan kembali mencium pria itu dengan ganas dan pastinya membuat si pria juga ikut terbawa suasana.


"Kumohon tolong aku!" pinta wanita itu dengan mata yang berkabut.


Dalam cahaya temaram tentu saja membuat suasana makin terasa panas. Wanita itu menggeliat diatas tempat tidur.


Pria itu hanya memandanginya dengan bingung. Dia harus segera pergi dari sini.


Namun lagi-lagi wanita itu menariknya dan mereka kembali berciuman.


"Aku menginginkanmu, Black. Ayo sentuh aku sesukamu!" bisik wanita itu sensual.


Wanita itu membuka kaus ketat yang melekat pada tubuh pria itu. Di usapnya lembut tubuh liat dan menggairahkan itu.


Wanita itu melepas sendiri dress yang dipakainya dengan sekali tarik. Sepertinya semua memang sudah dipersiapkan.


Entah siapa yang menjebak dan terjebak. Semuanya terjadi begitu saja.


"Cepat lakukan, Black. Aku sudah tidak tahan..." Wanita itu terus meracau dengan tubuh yang membusung. Sepertinya gairahnya meletup-letup karena pengaruh obat perangsang.


Dengan cepat wanita itu membantu melepaskan celana yang melekat di tubuh si pria. Sungguh sesuatu yang menggoda telah terpampang nyata didepannya. Wanita itu menelan ludahnya.


Tak ingin menyia-nyiakan waktu, wanita itu segera meraih benda kenyal sedikit tebal dengan penuh hasrat. Pria itu juga tak lupa mengabsen setiap inci milik sang wanita.


"Aaah..." Suara lembut itu keluar ketika pria itu menjelajah di dua gundukan padat berisi lalu turun kebawah.


"Ah, kau sangat pintar memanjakan wanita, Black..." racau wanita itu yang merasa keenakan.


Berkali-kali ia mengalami pelepasan hanya karena pria itu menyentuh dan menyesap pelan bagian inti miliknya.

__ADS_1


"Cepat masukkan, Black. Kita akan melayang bersama," rintih wanita itu dengan terengah.


Pria itu tersenyum seringai. Ia mengarahkan senjata pamungkas miliknya kedalam peraduan yang entah apakah masih asli atau tidak.


Sekali hentak senjatanya berhasil membobol gawang si wanita. Wanita itu memekik pelan ketika merasakan seuatu yang besar dan berotot memasukinya.


Gerakan lambat pun dilakukan agar mereka bisa saling menikmati. Perlahan lalu menjadi cepat dan semakin cepat.


"Ah, Black! Faster, please!" racau wanita di bawah kungkungan si pria yang tubuhnya kini berguncang.


"Oh, No... Kau memang hebat, Black."


Pria itu tanpa lelah terus mengguncang tubuh wanita dibawahnya. Entah berapa kali mereka melakukannya.


Pagi harinya, ranjang itu telah berantakan bekas percintaan yang terjadi semalam suntuk. Wanita itu terlelap karena kelelahan melayani si pria. Bukan salah si pria karena ia hanya memainkan perannya saja.


Hingga matahari beranjak naik, wanita itu masih betah dibawah selimut dengan keadaan yang masih polos. Seseorang menghampiri wanita itu dan...


BYUUR!


Orang itu menyiram wajah si wanita dengan air agar bangun dari tidurnya.


"Hei, bangun!" seru seseorang.


Wanita itu mulai membuka mata karena mendapat siraman air dingin oleh orang yang tak diketahuinya. Ia mulai mengerjapkan mata dan menyesuaikan cahaya yang masuk.


Ia membelalakkan mata ketika melihat beberapa orang berada di kamarnya. Ia yang tak berpakaian segera merapatkan selimut ke tubuh polosnya.


"A-ada apa ini?" tanya wanita itu bingung.


Seorang pria mendekatinya dan berkata, "Kau tidak ingat dengan apa yang terjadi semalam?"


"Luiz? Ada apa memangnya?" tanya wanita itu entah berpura-pura lupa atau memang dia lupa.


Luiz memperlihatkan rekaman video permainan semalam kepada si wanita. Suara kenikmatan dari kedua insan yang bergelut diatas tempat tidur itu adalah dirinya. Wanita itu membulatkan matanya.


"Ba-bagaimana bisa? Jadi, kalian menjebakku? Dan kau Luiz?" Wanita itu menunjuk Luiz.


Luiz memijat pelipisnya pelan. "Ya aku! Aku harus melepas keperjakaanku karenamu, hah!" sungut Luiz.


"Tapi, kau benar-benar hebat diatas ranjang, Lucy. Apakah kau sering melakukannya bersama Eric?" tanya Luiz dengan mengintimidasi.


Wanita yang tak lain adalah Lucy hanya bisa tertunduk pasrah dan malu. Semua kedoknya telah terbongkar.


Dixon menatap rekan kerjanya itu dengan helaan napas panjang.


"Kau dipecat, Lucy!" ucap Dixon kemudian keluar dari kamar itu.


"Dasar j4lang! Berani sekali kau ingin menjebak Black, huh?!" Santa maju dan ingin menjambak rambut Lucy namun dicegah oleh Carlos.


Tak ingin suasana makin runyam, Carlos membawa Santa keluar dari kamar itu.


Luiz menatap Lucy dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kau cantik, Lucy. Tapi sayang kau melakukan kesalahan dengan berbuat begini. Aku tidak tahu apakah aku harus berterimakasih padamu atau tidak karena sudah memberikan kenikmatan padaku. Tapi yang jelas, aku tidak akan mengkhianati Black. Sekarang kau bersihkan dirimu dan pakai bajumu. Kau sudah tertangkap basah. Kau tidak akan bisa lari dari semua ini."


Usai mengatakan semua itu, Luiz keluar dari kamar yang sudah menjadi saksi bisu percintaan hangat mereka semalam. Lucy hanya bisa menangis meratapi kebodohannya. Ia tak menyangka jika anak buah Black akan mencium semua rencananya. Kini ia harus menerima hukuman atas apa yang telah diperbuatnya.


#tobecontinued


*Wew tegang 😆😆😆

__ADS_1


ternyata bukan Black lah yaw. Yakin si Luiz masih perjaka tong tong?😅😅kayaknya sih kagak yak hihihi


__ADS_2