
Carlos segera memimpin pergerakan teman-temannya. Dixon memimpin anak buahnya menuju daratan sekitar Terusan Panama. Sesuai dengan instruksi Caesar jika pesawat memang jatuh di titik ini.
Beberapa regu penyelamat sudah datang lebih dulu dari mereka. Ternyata pesawat itu tidak jatuh dengan posisi yang parah. Hingga masih bisa dipastikan jika korban-korban pun ada yang selamat. Meski ada juga yang telah tewas di tempat.
Dokter dan tenaga medis lainnya telah disiapkan. Memang belum ada konfirmasi lagi mengenai kondisi para korban dari pihak terkait. Dan entah kenapa kasus ini seakan di tutup-tutupi.
Carlos CS menelusuri jejak jatuhnya pesawat. Dixon merasa ada yang janggal disini.
"Tunggu Carlos!" Firasatnya merasa ada yang tidak beres disini.
Sudah lama juga ia tidak memegang kasus yang cukup rumit setelah kasus Eric terdahulu itu.
"Ada apa, Dixon?"
Dixon menggeleng pelan. "Ada yang aneh disini."
Carlos CS menatap Dixon penuh rasa penasaran.
"Sepertinya ini bukanlah suatu kecelakaan," ungkap Dixon.
"Lalu?" Carlos masih tak mengerti.
"Caesar! Kau bisa periksa?" tanya Dixon.
Caesar mengangguk. Ia duduk di sembarang tempat lalu membuka tablet pintarnya. Jari-jarinya bermain lincah disana.
Dixon memperhatikan sekitar dan menyiapkan senjatanya. Carlos membulatkan mata. Ia sama sekali tak menyangka jika akan seperti ini. Ia juga menyiapkan pistol kecil yang selalu disiapkannya.
"Ini jebakan!" seru Caesar. Sedetik kemudian sebuah peluru tertuju padanya dan membuat Caesar ambruk.
"Berlindung!" seru Dixon dengan mengeluarkan senjata dan mengarahkannya ke orang-orang yang menyerangnya.
Anak buah Dixon juga segera membidik orang-orang itu. Terjadilah baku tembak dengan orang-orang yang tak dikenalnya itu.
"Siapa mereka?" tanya Luiz di sela aktifitas menembaknya.
__ADS_1
"Aku juga tidak tahu!" jawab Carlos dengan juga mengarahkan senjatanya.
"Kita harus segera pergi dari sini!" seru David.
"Agli! Siapkan helikopter kita. Aku akan melindungimu!" seru Carlos.
Carlos membulatkan mata karena Agli sedang terkapar. Dirinya terkena tembakan.
"Sial!" Carlos mengumpat kesal. Dengan membabi buta ia menembaki komplotan tak dikenal itu.
Satu jam telah berlalu. Tak ada lagi suara adu tembak disana. Hanya ada deru napas memburu dan juga rintihan kesakitan dari dua orang yang sedang meregang nyawa.
"Caesar! Bertahanlah!" ucap Luiz dengan memangku kepala pria itu.
"Agli! Kau adalah pria yang kuat! Kau pasti bisa menghadapi ini!" David terus menguatkan Agli.
Dixon kembali dan mengatakan jika kendaraan sudah siap. Mereka harus segera pergi dari sana.
Dixon menatap Carlos dengan penuh cemas.
"Carlos, jika ini jebakan maka..."
Seketika Carlos teringat akan para wanita yang mereka tinggalkan di Meksiko.
"Tidak! Tidak mungkin!" teriak Carlos yang langsung berlari meninggalkan teman-temannya. Hanya satu yang ada di pikirannya sekarang. Ia harus segera tiba di Meksiko sebelum terjadi sesuatu di rumah keluarga Evans.
#
#
#
Di rumah keluarga Evans, Eryn sudah kembali bisa tersenyum karena ia tahu jika Eldric pasti masih hidup. Ia mengusap perutnya yang masih rata.
Ia amat bahagia dan tak sabar ingin memberitahu Eldric jika dirinya tengah mengandung anak kedua mereka. Rose ikut bahagia melihat Eryn yang tersenyum.
__ADS_1
"Kalau begitu kita akan melahirkan bersama-sama." Rose memeluk Eryn.
"Iya, aku tak menyangka jika kau juga sedang hamil. Apa Carlos sudah tahu?" tanya Eryn.
"Belum. Kita akan memberitahu mereka nanti. Ya?" Rose mengulas senyumnya.
"Wah, dua wanita hamil ini memang sangat kompak ya." Elza ikut bergabung dengan mereka.
"Maaf ya, pernikahanmu batal karena aku." Eryn kembali meminta maaf.
"Kak, jangan bicara begitu. Aku sangat senang karena kak Eldric masih hidup. Dengan begitu pesta pernikahanku akan berlangsung meriah."
Mereka bertiga saling berpelukan. Mengucap rasa syukur yang begitu dalam dengan semua kesakitan dan kebahagiaan yang telah mereka lalui.
Tak lama terdengar keributan dari arah luar kamar Eryn. Mereka bertiga saling pandang.
"Kak, kalian tunggulah disini! Aku akan periksa dulu!" Elza meminta Eryn dan Rose tetap berada di kamar.
Elza keluar dan menutup pintu. Ia melihat Bernard dan Frans sudah tergeletak di lantai dengan bersimbah darah.
"Aaaa!" teriak Elza histeris. Ia berlarian mencari ibunya dan Santa.
Kedua wanita itu telah terikat di kursi. Elza terkejut karena banyak orang memakai topeng dan memegang senjata. Ia ingin melawan namun tubuhnya langsung di cekal oleh dua pria yang memegangi lengannya.
Elza hanya bisa menurut karena ia ditodong dengan senjata yang mengarah pada kepalanya. Kini hanya tangisan yang terdengar dari bibirnya.
"Bos! Kita sudah mengamankan semua orang di rumah ini! Dan kedua pria yang menjaga mereka sudah tewas," ucap salah seorang pria bertopeng itu.
Suara langkah kaki mulai mendekat kearah tiga wanita yang kini tak berdaya terduduk di lantai dengan tangan dan kaki yang terikat.
Elza membulatkan mata melihat siapa sosok dibalik semua kekacauan ini.
"Kau!" teriak Elza dengan sorot mata tajam.
#
__ADS_1
#
#