Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
11. Hari yang Kacau


__ADS_3

Matahari pagi telah turun ke bumi. Saatnya bagi para insan untuk memulai aktifitasnya. Namun tidak bagi sepasang manusia yang masih bergumul diatas tempat tidur.


Black masih terpejam dengan memeluk Eryn. Tangannya yang dijadikan sebagai bantal oleh Eryn tidak terasa pegal atau sakit. Ia malah menikmati kebersamaan yang tidak diketahui oleh Eryn.


Black mulai membuka mata karena merasakan hangatnya sinar mentari pagi menerpa wajahnya. Ia melihat disebelahnya ada Eryn yang masih terlelap.


Dipandanginya lekat wajah wanita yang ia cintai. Black akui jika dirinya masih mencintai Eryn. Selama enam tahun ini tak ada yang bisa menggantikan sosok Eryn dalam hatinya.


Black membelai lembut wajah cantik itu. Ia mengusap bibir Eryn yang terlihat merona.


"Apa hanya aku yang sudah mengecupnya? Atau ada orang lain?" tanyanya dalam hati.


Seketika bayangan kebersamaan Eryn dan Eric melintas dalam benaknya. Semua foto yang ia terima dari anak buahnya adalah foto kebersamaan Eryn bersama keluarga kecilnya. Mereka bahkan telah memiliki seorang putra. Begitulah pikir Black.


Black segera bangun dari tempat tidur Eryn dan mengusap wajahnya.


"Bagaimana bisa kau datang ke kamar seorang wanita yang sudah bersuami? Kau memang gila, Black. Tapi, bukankah ini rencanamu? Kau ingin menghancurkan hati wanita ini yang sudah menghancurkan hatimu! Hancurkan saja, Black. Hingga dia merasakan sakit seperti yang kau rasakan!" Sebuah suara berbisik ditelinga Black.


"Sudahlah, Black. Akui saja jika kau masih mencintainya. Jangan sampai kau menyesal jika kau kehilangan dia lagi. Tanyakan dulu padanya apa yang sebenarnya terjadi. Jangan berbuat gegabah! Bukankah kau lihat sendiri dia tampak menderita juga. Sama sepertimu!" Sebuah suara lain juga muncul di telinga Black.


Jika terus berada disini ia bisa jadi gila beneran. Black memutuskan keluar dari pintu rahasia yang terhubung dengan kamarnya.


Tiba di kamarnya, Black dikejutkan dengan kehadiran Rose yang sedang melipat tangannya.


"Jadi, semalam kau menghabiskan malam dengannya?" tanya Rose datar.


"Tidak! Aku tidak melakukannya!" jawab Black sedikit gugup.


"Lalu apa yang kau lakukan di kamarnya?"


"Tidak ada. Aku akan membersihkan diri dulu. Nanti kita sarapan bersama."


"Ini sudah mulai siang, Black. Waktu sarapan telah usai. Aku akan pergi ke kantor. Kau bisa menyusul nanti. Bye!"


Rose berlalu meninggalkan Black. Pria itu merutuki kebodohannya sendiri dengan bermalam di kamar Eryn.


Sementara itu, Eryn mulai mengerjapkan matanya. Ia terbelalak karena waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi.


"Astaga! Bagaimana bisa aku seterlambat ini?" Eryn bergumam sambil memperhatikan sekitarnya.


"Aku merasa semalam ada yang datang kemari. Itulah kenapa aku sampai terlambat bangun. Aku merasa nyaman dan tenang. Apa itu hanya perasaanku saja?" Eryn menggaruk tengkuknya.


Ia segera pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri. Ia harus segera bersiap untuk melanjutkan persiapan pesta nanti malam.


Beberapa menit kemudian, Eryn keluar kamar dan melihat persiapan yang sedang dilakukan oleh timnya.


"Hai, Santa. Maaf aku datang terlambat," ucap Eryn penuh sesal.


"Ah, Nyonya! Akhirnya nyonya datang juga."


"Kenapa kau tidak membangunkan aku? Aku sampai terlambat begini."


"Aku pikir Nyonya sedang tidak enak badan. Semalam Nyonya begadang untuk mengerjakan ini kan?"


"Ah, sudahlah. Lupakan! Bagaimana dengan kue ulang tahun? Kau sudah memesannya kan?"

__ADS_1


"Tentu saja, Nyonya. Jika Nyonya ingin mengeceknya, Nyonya bisa datang ke tokonya."


"Oke! Aku akan kesana sekarang. Kau bisa urus yang disini kan?"


"Iya, Nyonya. Sebaiknya Nyonya pergi dengan David saja. Kemarin aku pergi dengannya."


"Oke! Baiklah! David!" Eryn memanggil David dan memintanya datang.


"Iya, Nyonya," jawab David setelah menghampiri Eryn.


"Antar aku ke toko kue yang kemarin didatangi Santa."


"Baik, Nyonya."


......***......


Proyek ini adalah proyek terbesar yang pernah Eryn tangani. Sungguh Eryn tak ingin mengecewakan kliennya. Ia harus memastikan sendiri semua persiapan yang dilakukan oleh timnya. Ditambah lagi kliennya adalah orang berpengaruh di kota ini. Tentu saja Eryn tak ingin ada masalah dengannya.


Tiba di sebuah toko kue langganan Mr. Black, Eryn segera turun dari mobil dan menemui penjaga toko disana.


"Hai, aku dari kediaman Mr. Black ingin menanyakan tentang kue ulang tahun untuk acara nanti malam," ucap Eryn.


Penjaga itu mengernyitkan dahi.


"Maaf, Nyonya. Tidak ada pesanan dari rumah Mr. Black."


"Apa?! Jangan bercanda!" Eryn membulatkan mata.


"Iya, Nyonya. Itu benar."


"Astaga!" Eryn memijat pelipisnya pelan dan keluar dari toko. Ia menemui David.


"Te-tentu saja, Nyonya. Mana mungkin aku salah. Aku dan Santa pergi kesini kemarin."


"ARGH! Masalah apa lagi ini?" Eryn kembali masuk dan bertanya lagi.


Namun jawaban dari penjaga toko tetaplah sama. Tidak ada pesanan untuk hari ini dari kediaman Mr. Black.


Eryn memutar otaknya. Tidak mungkin tak ada kue tart dalam sebuah pesta ulang tahun. Apalagi ini adalah pesta seorang Mr. Black.


"David! Antarkan aku ke toko bahan kue yang paling terkenal disini!" seru Eryn.


"Eh?!"


"Cepat! Kita tidak punya banyak waktu!"


"Ba-baik, Nyonya. Aku akan mencarinya lewat pencarian di internet."


David segera melajukan mobil begitu menemukan sebuah toko bahan pembuat kue.


"Nyonya, apa yang akan Anda lakukan disini?" tanya David.


"Tentu saja membeli bahan-bahan untuk membuat kue!"


"Apa?!"

__ADS_1


"Ah, sudahlah. Tidak ada waktu untuk berdebat!" Eryn segera masuk ke dalam toko dan memilih bahan-bahan terbaik untuk membuat kue ulang tahun Black.


......***......


Di kantornya, Black tersenyum puas karena berhasil mengerjai Eryn. Semua ini adalah rencana Black untuk mengacaukan pesta ulang tahunnya sendiri.


"Kita lihat seperti apa kau bisa bertahan, Nyonya Evans," ucap Black dengan seringainya yang mengerikan.


Kembali ke rumah besar, Eryn segera menuju dapur dan menyiapkan semua bahan-bahan yang sudah dibelinya. Sudah lama Eryn tak melakukan ini, namun sebisa mungkin ia tidak mengecewakan kliennya.


Dengan telaten Eryn membuat kue ulang tahun sesuai dengan yang Black inginkan. Hingga akhirnya 3 jam telah berlalu dan Eryn berhasil membuatnya.


"Nyonya!" seru Santa.


Eryn yang merasakan kegembiraan langsung memeluk Santa.


"Nyonya, maafkan aku," sesal Santa.


"Tidak. Kau tidak perlu meminta maaf.. Sekarang kita harus bersiap. Sisa dua jam lagi sebelum pestanya di mulai. Suruh yang lain juga bersiap. Jangan ada lagi hal yang kacau hari ini."


"Baik, Nyonya!"


......***......


Pukul tujuh malam, para tamu undangan mulai berdatangan. Gemerlap lampu taman dan juga musik mulai berdentum di ruang terbuka itu.


Eryn memeriksa seluruh keadaan dan tak ingin hal buruk kembali terjadi.


"Huft! Sepertinya semua aman! Terima kasih, Tuhan! Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa jika terjadi kekacauan lagi," gumam Eryn.


Tibalah saatnya di acara puncak dimana Black akan memotong kue ulang tahunnya. Ia mengernyit heran karena kue tartnya benar-benar sesuai dengan keinginannya.


"Lumayan juga dia!" batin Black.


Usai memotong kue ulang tahunnya, ia mencicipi sedikit lalu ia suapkan kepada Rose, wanita yang dekat dengannya.


"Perhatian semuanya!" Black mulai bicara.


Seluruh tamu undangan melihat kearah Black dan Rose.


"Malam ini adalah malam yang bersejarah untukku. Di malam ini, aku merasa telah terlahir kembali menjadi orang baru. Dan di malam ini juga, aku ingin membuat sebuah sejarah baru juga untukku dan juga kekasihku, Rose."


Semua tamu sontak berbisik-bisik. Diantara kerumunan orang, Eryn memperhatikan dengan serius apa yang akan dikatakan oleh Black.


"Malam ini aku secara resmi di depan kalian semua ... Melamar Rose Blanco sebagai tunanganku!"


Sontak semua orang bereaksi dengan pernyataan Black. Ditambah lagi pria itu mengeluarkan sebuah kotak cincin dan memakaikan cincin itu di jari manis Rose.


Rose hanya bisa diam dan menerima semua yang dikatakan oleh Black.


"Terima kasih," ucapnya sambil tersenyum lalu memperlihatkan cincin itu kepada semua tamu undangan.


Suara tepuk tangan memenuhi tempat itu. Setelahnya dengan tanpa rencana tiba-tiba saja Black menarik tubuh Rose mendekat padanya dan mendaratkan sebuah ciuman di bibir Rose. Mata Rose membulat mendapat serangan mendadak dari Black. Pria itu memainkan bibir kenyal Rose hingga tanpa sadar Rose juga mulai membalasnya. Mereka berdua saling memagut dengan penuh gairah.


Pemandangan romantis itu membuat seseorang memegangi dadanya yang terasa sesak. Dia adalah Eryn. Ia begitu terkejut melihat Black mengumumkan pertunangannya. Merasa tak tahan dengan semua hal yang dilihatnya, Eryn segera menyingkir dari tempat itu dan menjauh.

__ADS_1


...B e r s a m b u n g...


*Astaga, Black! Apa kau harus menyakiti Eryn seperti itu? 😤😤😤


__ADS_2