
...-Say Something-...
Saat raga bertemu, ada banyak kata yang ingin terucap. Namun rasa enggan terkadang menghinggapi. Tak tahu harus berkata. Tak tahu harus berbuat apa.
Hanya tatapan mata yang saling bicara. Saling mengungkap rasa dengan berjuta tanya. Saling memindai kata agar hati bisa mengerti.
Seperti apa rasanya kesakitan? Apakah saat belati menikam diri? Atau sepatah kata yang mengiris hati?
Kini Eryn berhadapan dengan Lolita. Sosok yang di cari akhirnya terlihat mata. Sosok yang Eryn sayangi. Sahabat yang dipuja selama muda.
Meski pernah berkhianat. Tak ada kata yang bisa membuatnya pergi. Hanya ingin dia disini. Kembali bersama mengikat janji.
Sahabat sejati tidak akan membenci. Sahabat sejati hanya bisa mengerti.
Jika semua terjadi karena sebuah arti.
Lolita mendekat dan hanya menatap Eryn dengan mata yang berkaca-kaca. Banyak kata yang ingin ia ucap. Banyak rasa yang ingin ia ungkap.
Apalah daya semua tak sampai. Hanya tercekal di pangkal tenggorokan. Tanpa kata seorang sahabat tetap bisa mengerti. Tanpa ucap orang dicinta akan bisa memahami.
Hanya sebuah pelukan hangat yang mengisi kekosongan hati. Dua buah tangan terulur untuk menyambutnya.
Menyambut rasa yang kian melebur. Meluluhkan kerasnya dinding hati akan sebuah keegoisan. Eryn tahu tanpa kata semuanya juga bisa terungkap. Tanpa bicara semua tetap bicara melalui hati.
"Tetaplah menjadi sahabatku," ucap Eryn.
Lolita hanya bisa mengangguk dalam sebuah dekapan hangat. Ia mengucap syukur dalam hatinya. Tak ada kemarahan di wajah sang sahabat. Seperti biasa, ia menganggap Eryn adalah seorang dewi. Hatinya begitu lapang dan besar.
"Terima kasih," balas Lolita tanpa ada kata lagi yang bisa terucap. Biarlah sunyi yang mengutarakan rasa.
#
#
#
Dua sahabat yang baru saja kembali bersama kini duduk saling berhadapan. Mereka hanya saling pandang tanpa bicara banyak.
Sejurus kemudian, Lolita menundukkan wajahnya. Ia merasa tak pantas menjadi teman wanita yang ada di depannya.
Wanita bermata coklat dengan rambut panjang tergerai indah, terus memandangi sahabatnya yang tertunduk.
"Apa kehidupanmu sulit?" tanya Eryn dengan suara yang ragu.
Lolita menggeleng. Ia hanya tak sanggup untuk menatap Eryn.
"Syukurlah. Kenapa kau pindah rumah? Apa orang-orang menyakitimu?"
Kembali Lolita menggeleng. Tangisnya telah reda. Tapi perasaannya masih bercampur menjadi satu.
__ADS_1
"Sekarang kau tinggal dimana? Dimana bibi Garcia?"
Kembali Lolita tak menjawab.
"Jika kau masih menganggap aku sebagai sahabatmu, maka biarkan aku membantumu. Aku tidak akan membiarkan kalian hidup menderita."
Lolita menitikkan air matanya. Ia merasa tak pantas untuk mengeluh pada Eryn.
"Lol, katakan ada apa?" Eryn mendesak Lolita.
"Tidak ada." Lolita mengulas senyum dan menyeka air matanya.
Eryn bernapas lega karena bisa menemukan Lolita. Ia terus bertanya dimana tempat tinggal mereka setelah pindah dari rumah lamanya.
"Aku baik-baik saja, Ryn. Sejak dulu kau selalu mengkhawatirkan orang lain dan mengabaikan kehidupanmu sendiri."
"Mulai sekarang hiduplah untuk dirimu dan keluargamu. Biarlah aku menjalani kehidupanku sendiri."
Eryn terdiam. Ya, mungkin karena sikapnya yang selalu ingin terlibat dengan masalah orang lain, itu yang membuatnya dijauhi oleh beberapa orang, termasuk Lolita.
"Terkadang menjadi pahlawan untuk orang lain tidaklah menjadikannya seorang yang berhati mulia. Tidak semua orang berpikir begitu, Eryn."
Eryn tersenyum dan mengangguk.
"Baiklah. Aku mengerti. Terima kasih karena kau sudah mengatakannya padaku."
"Tunggu!"
Eryn kembali menoleh.
"Jangan lupa jika aku tetaplah sahabatmu."
Eryn tersenyum kemudian melanjutkan langkahnya. Memang terasa berat. Tapi ini juga lebih ringan. Setidaknya Eryn tahu apa yang diinginkan sahabatnya.
...***---***...
...-Albana Grup Is Back-...
Sudah hampir tujuh tahun berlalu sejak hari terakhir berdirinya sebuah perusahaan besar yang cukup diperhitungkan di kota ini. Perusahaan yang dulunya berdiri selama puluhan tahun, berakhir hanya dalam satu hari dengan banyaknya masalah yang menimpanya.
Kini, penerus Grup Albana, Eldric Albana kembali ingin memulai kejayaan yang pernah diraih oleh ayahnya. Ia kembali membangun perusahaan peninggalan ayahnya itu dan memperbaiki sistem yang ada.
Dengan bantuan dari beberapa pihak termasuk ayah mertuanya, dalam tiga bulan Eldric telah berhasil kembali mendirikan Albana Grup. Eldric adalah pria pekerja keras yang memiliki tekad besar.
"Selamat ya sayangku," ucap Eryn terengah karena masih berada dalam kungkungan Eldric.
"Sama-sama, sayangku." Eldric mempercepat tempo gerakannya karena merasa sesuatu akan segera meledak dalam dirinya.
Sebuah erangan keras keluar dari bibir Eldric yang kembali menumpahkan benih ke dalam rahim Eryn agar istrinya itu cepat hamil.
__ADS_1
Eryn memeluk erat tubuh liat suaminya yang basah akibat peluh. Ia sangat bahagia karena bisa membuat Eldric melayang ketika mereka bersama.
Eldric menjatuhkan tubuh lemasnya di samping Eryn. Dipeluknya wanita yang selalu memberinya kenikmatan duniawi.
"Aku lelah, Ryn. Aku tidur sebentar ya!"
"Sayang! Bukankah sebentar lagi acara pembukaan gedung Albana Grup yang baru? Bagaimana jika kau terlambat?" Eryn menghadap tubuh suaminya dan mengusap rahang kokohnya.
"Ayahmu pasti mengerti."
"El..."
"Mereka pasti mengerti." Eldric memejamkan matanya. Bergulat diatas ranjang bersama Eryn biasanya tak pernah membuatnya lelah. Tapi tak tahu kenapa kali ini ia merasa kelelahan. Mungkin karena banyaknya pekerjaan akhir-akhir ini ditambah dengan banyak hal yang ia pikirkan untuk pembangunan Albana Grup.
Eryn pasrah dan hanya mendesah pelan ketika melihat suaminya telah terlelap. Dengan hati-hati Eryn turun dari ranjang lalu menuju ke kamar mandi. Setidaknya ia harus bersiap lebih dulu dan menyapa sang ayah.
#
#
#
Pukul tujuh malam, semua orang berkumpul di depan gedung Albana Grup yang baru. Eldric siap menggunting pita sebagai simbolis dibukanya kembali perusahaan yang telah mati itu.
Eldric mengucap sepatah dua patah kata sebelum melakukan pemotongan pita. Ia berterimakasih kepada orang-orang yang sudah mendukungnya. Meski ia sempat pergi dan menghilang lalu kembali, tapi kini ia tak akan pergi lagi. Ada keluarga kecil yang menantikan kepulangannya.
Eldric menatap Eryn dan ayah mertuanya bergantian. Lalu dengan hati yang mantap, ia memotong pita itu hingga terputus.
Suara riuh tepuk tangan menggema. Para sahabat datang untuk memberikan selamat kepada pria yang masih mereka panggil sebagai 'Black'. Nama itu sangat melekat di hati dan sulit untuk dihilangkan.
Eldric menyambut para tamu undangan dalam sebuah jamuan makan malam. Tentu saja lagi-lagi ini semua tak lepas dari campur tangan sang istri, Eryn. Wanita itu kini kembali menjalankan bisnis perancang acara. Itu adalah impian dan kesukaannya. Menurutnya melihat orang tersenyum bahagia karena acara mereka berlangsung meriah adalah suatu kebanggaan tersendiri untuknya.
"Terima kasih, Ayah. Berkat Ayah, aku bisa kembali membangun bisnis ini," ucap Eldric pada Tuan Kim.
"Jangan begitu, Nak. Bukankah dulu kita sudah sepakat untuk menjalin kerjasama? Tapi banyak hal terjadi hingga akhirnya kita batal memulai," balas Tuan Kim.
"Terima kasih, Istriku. Orang yang sudah setia menantiku. Bertahun-tahun kau tidak mengkhianatiku, dan selalu menjaga hatimu untukku." Eldric menatap Eryn dengan penuh cinta. Ia menggenggam tangan wanita yang sangat ia cintai itu.
"Terima kasih juga karena kau masih hidup, El. Aku harap setelah ini tidak akan ada lagi cobaan yang menerpa cinta kita."
Eldric mengangguk. "Dan untuk adikku, Rose. Juga untuk seluruh sahabat-sahabatku. Kalianlah yang terbaik. Kalian menemaniku saat aku terpuruk dan menemaniku saat aku kembali sukses. Aku bukanlah siapa-siapa tanpa adanya kalian di sisiku."
Eldric mengangkat gelas dan menatap satu persatu sahabatnya.
"Untuk Albana Grup!" seru Eldric.
"Untuk Albana Grup!" seru semua orang dengan mengangkat gelas mereka.
#tobecontinued
__ADS_1