
Black menutup pintu kamar Rose setelah memastikan gadis itu telah terlelap. Ia menemui orang-orang yang sudah menunggunya sedari tadi. Ia duduk di sofa dan masih belum bicara apa pun.
Mengetahui gelagat Black, Carlos segera meminta semua orang untuk beristirahat.
"Sebaiknya kita mengistirahatkan tubuh kita terlebih dahulu. Seharian ini kita sangat lelah dengan banyaknya hal yang terjadi," ucap Carlos.
Semua orang beranjak dari ruangan itu kecuali Dixon dan Lucy. Kedua orang itu memandangi Black yang terlihat frustasi.
"Hai, kawan. Kau bahkan belum memulai apa pun. Tegarkan hatimu! Kita hancurkan Eric lalu kau bisa terbebas." Dixon menepuk bahu Black.
"Jangan khawatir. Kondisi psikis adikmu masih stabil. Kurasa dia hanya mengalami syok saja," jelas Lucy.
"Terima kasih." Hanya itu yang diucapkan Black.
Untuk saat ini, Black masih belum bisa fokus menyusun rencana untuk Eric. Pikirannya masih terbagi dengan kondisi Eryn yang kini jauh darinya. Ia mengusap wajahnya kasar. Ingin sekali ia pergi menyusul Eryn, tapi bagaimana dengan Rose? Black juga harus memikirkan tentang Rose.
Tak lama, Black pun ikut beranjak dan menuju kamarnya. Rumah milik Luiz ini sengaja dibuat seperti asrama yang memiliki banyak kamar. Karena memang seringnya tempat ini dijadikan sebagai tempat persembunyian. Meski kenyataannya orang-orang Eric sudah mengetahuinya.
Sementara itu di tempat berbeda. Lolita masih diam menatap makan malam yang sudah dingin sedari tadi. Ia tak menyentuhnya sama sekali hingga malam mulai larut.
Maksud Lolita adalah memasak makan malam dan ingin makan bersama suaminya. Namun menunggu berjam-jam pun Eric tak kunjung datang.
Terkadang Lolita ingin sekali pergi dari rumah neraka ini. Menikah tapi tak mendapat cinta, sama saja hidup dalam kebohongan. Namun sekali lagi, ini adalah keputusannya sendiri memilih Eric. Ia bahkan yang mengikat Eric dengan kehamilannya meski kini tak ada gunanya lagi.
Suara langkah kaki mendekat dan membuat Lolita menoleh. Ia melihat Eric berjalan masuk dan menuju kamarnya di lantai dua. Lolita segera beranjak dan mengejar langkah Eric.
"Eric! Kau sudah pulang?" tanya Lolita dengan senyum di wajahnya.
Eric hanya diam. Ia melepas jasnya dan juga kemeja yang melekat di tubuhnya. Ia membuangnya ke sembarang arah.
"Apa kau ingin mandi? Aku akan siapkan air hangat untukmu!" Lolita segera menuju kamar mandi.
Namun langkahnya terhenti ketika Eric menarik lengannya dan menghempaskan tubuh Lolita ke lantai. Wanita itu mengaduh kesakitan.
Eric masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya dengan kencang. Lolita menutup mata ketika mendengar suara pintu dibanting.
Lolita segera bangkit dan menuju ke ruang ganti milik Eric. Ia mengambil setelan piyama untuk pria itu.
Dengan setia ia menunggu Eric keluar dari kamar mandi. Tak lama pria itu muncul dari dalam kamar mandi dengan hanya memakai handuk yang terlilit di pinggangnya.
Lolita menghampiri Eric dan menyerahkan baju ganti untuk Eric. Pria itu menatap tajam Lolita.
Lolita tahu jika saat ini Eric sedang dikuasai amarah. Entah apa lagi yang terjadi. Lolita tak ingin membuat suasana menjadi tambah runyam. Di saat seperti ini biasanya Eric akan berbuat...
"Ini! Gantilah bajumu!" Lolita masih bersuara lembut.
Eric membuang pakaian yang ada ditangan Lolita dan malah membawa tubuhnya ke atas ranjang. Eric menghempas kasar tubuh istrinya.
Ya, kilatan amarah ini membuat gairah juga ikut memuncak. Eric mencium kasar bibir Lolita. Merobek dress yang dipakai wanita itu hingga tak berbentuk. Disaat marah, melepaskan sebuah gairah adalah bisa jadi pilihan yang tepat.
Napas Lolita terengah karena Eric menyerangnya dengan kasar. Ia berusaha mengimbangi Eric, namun rasanya percuma. Pria itu selalu ingin lebih dominan.
__ADS_1
"Akh!" Lolita memekik kesakitan ketika ada yang melesak masuk dengan paksa. Air matanya mulai jatuh. Merasakan sakit dan nikmat secara bersamaan namun itu tak berarti baginya. Karena Eric melakukannya tidak dengan cinta.
Melihat Lolita menangis, Eric malah menampar pipi Lolita.
"Dasar j4lang! Untuk apa kau menangis? Aku adalah suamimu! Jadi aku berhak melakukan apa pun padamu!"
Sekali lagi Eric menampar wajah Lolita. Sungguh pedih hati Lolita saat ini. Hingga akhirnya ia hanya diam menerima semua perlakuan Eric padanya. Membiarkan pria itu memuaskan hasratnya sendiri tanpa memikirkan apa yang Lolita alami saat ini.
"Sekali jal4ng, tetaplah jal4ng!" Eric menghentak kasar hingga berkali-kali melakukan pelepasan. Ia tak khawatir karena istrinya ini tidak akan mungkin bisa hamil.
Keesokan harinya, Lolita terbangun dan merasakan sakit disekujur tubuhnya. Wajahnya penuh lebam karena pukulan Eric. Ia meringis kesakitan namun tak bisa bangun dari tempat tidur.
Terdengar suara seseorang memanggil namanya. Itu bukan Eric. Karena pria itu pastinya telah pergi meninggalkannya.
Diketuknya pintu kamar Lolita dan masuklah seorang wanita paruh baya yang sangat terkejut dengan keadaan kamar itu. Kain yang berserakan dan juga kondisi ranjang yang juga berantakan. Ditambah lagi melihat wanita muda yang tak berdaya diatas tempat tidur.
"Putriku!" teriak wanita itu.
"Ibu!" Lolita menangis ketika melihat sosok ibunya yang menghampiri dan memeluknya.
Hatinya hancur melihat kondisi putrinya yang memprihatinkan. Ia pun ikut menangis sambil terus mendekap putrinya.
...👍...
...👍...
...👍...
Sejak pagi tadi hingga hampir malam, Noah sama sekali tak ingin bertemu dengan Eryn. Wanita itu hanya bisa menangis.
"Sejak pagi kau belum makan apa pun, sekarang makanlah!" Tuan Kim meminta Ji Hyo membawakan makanan untuk Eryn.
"Aku tidak lapar, Ayah." Eryn menolaknya.
"Kau harus makan, Nona. Noah akan sedih jika kau seperti ini." Suara Joon membuat Eryn langsung beranjak dari duduknya.
"Bagaimana Noah?" tanya Eryn.
"Dia baik-baik saja. Seharian ini kami hanya berbincang. Dia anak yang cerdas. Dia akan mengerti dengan kondisi kalian. Tapi kau harus bersabar. Dia masih terlalu kecil untuk mengetahui masalah orang dewasa."
Eryn mengangguk.
"Perlahan saja, Nona. Kau jangan memaksanya."
"Panggil saja Eryn."
"Baiklah, Eryn. Kudengar kau belum makan, bagaimana kalau kau menemani aku makan. Aku juga belum makan malam."
"Tapi..."
"Ayolah! Anggap saja ini sebagai bayaranku karena sudah memberi pengertian pada Noah."
__ADS_1
"Baiklah."
Mereka berdua berjalan ke meja makan. Mereka makan dalam diam. Eryn terus menundukkan wajahnya. Dan Joon yang terus memperhatikannya.
"Seorang ibu harus memiliki hati yang besar dan lapang." Kalimat Joon membuat Eryn mendongak.
"Eh?"
"Beranjak dewasa anak-anak akan banyak melakukan kesalahan. Dan sebagai orang tua, kau harus bisa berbesar hati menerima dan memaafkan kesalahan putramu."
Eryn tersenyum. "Terima kasih, Dokter Joon."
"Joon saja."
"Baiklah, Joon Oppa." Eryn tersenyum kemudian melanjutkan makan malamnya.
Tuan Kim yang memperhatikan Eryn dan Joon tiba-tiba mengulas senyum di wajahnya.
"Kau lihat mereka, Hyun Woo. Sepertinya adikmu memang pintar mengambil hati Noah dan juga Eryn. Semoga dia segera melupakan pria itu dan membuka hatinya untuk pria lain." Tuan Kim berlalu setelah mengatakan itu pada Hyun Woo.
...💟...
...💟...
...💟...
Lolita duduk berhadapan dengan ibunya. Setelah drama tangis tadi, kini mereka lebih tenang dan mulai saling bicara. Garcia tidak menyangka jika rumah tangga putrinya tak seindah yang ia kira. Putrinya bagai hidup di neraka karena mendapat perlakuan buruk dari suami dan keluarganya.
"Berpisahlah dengannya, Nak," ucap Garcia.
Lolita menatap ibunya. "Tidak, Ibu. Aku tidak bisa melakukannya."
"Kenapa?" Garcia tampak kecewa dengan keteguhan hati putrinya.
"Aku adalah istrinya, dan aku akan berada di sisinya."
"Meski kau menderita dan dia terus memukulimu? Apa kau sudah tidak waras?" Napas Garcia tampak naik turun.
"Dia tidak meninggalkan aku di saat aku sudah tak lagi sempurna. Jadi, aku juga tidak akan meninggalkan dia di saat dia juga membutuhkanku." Sebisa mungkin Lolita menahan air matanya.
"Membutuhkanmu untuk apa? Menjadi pelampiasan hasratnya? Dia pria yang tidak waras, Lolita! Kau harus sadar itu!"
"Aku tahu! Aku tahu itu, Bu. Tapi dia akan semakin menjadi jika aku juga meninggalkannya. Aku yakin aku bisa mengubahnya menjadi lebih baik. Aku akan bertahan untuk itu!"
Garcia sudah tak tahu lagi harus berkata apa pada Lolita. Ia memilih untuk pergi dari rumah menantunya itu tanpa sepatah kata apa pun.
Air mata Lolita akhirnya luruh juga ketika melihat ibunya pergi dengan sebuah kekecewaan. Ia memukuli dadanya yang terasa sesak.
"Aku harus kuat! Aku harus kuat!" gumam Lolita berkali-kali.
#tobecontinued
__ADS_1