
Black dan timnya duduk di ruang tengah sambil memikirkan rencana selanjutnya yang akan mereka lakukan pada Lucy. Rencana penyerangan yang akan dilakukan hari ini terpaksa harus tertunda karena pastinya Lucy sudah membocorkan semuanya kepada Eric.
Lalu, bagaimana Luiz bisa berada dikamar itu bersama Lucy dan bukannya Black?
Beberapa hari ini, Luiz memperhatikan ada gelagat aneh pada Lucy. Wanita itu selalu mencari perhatian Black secara tak sengaja. Luiz yang memang hapal dengan gerak gerik wanita, akhirnya mulai mengawasi pergerakan Lucy.
Dan benar saja, di malam itu Luiz melihat Lucy masuk ke dalam kamar Black dengan mengendap-endap. Black yang sedang bersama dengan Dixon, Carlos dan Ray tak memahami situasi yang terjadi.
Luiz sengaja membuat Black tak kembali ke kamarnya, tentunya dengan bantuan Dixon juga. Luiz tak ingin gegabah. Ia menceritakan semua kecurigaannya pada Dixon.
Hingga akhirnya, Luiz lah yang mengorbankan dirinya untuk dijebak bersama Lucy. Semua itu semata-mata hanya untuk membuktikan jika memang benar Lucy adalah mata-mata Eric yang menyusup dalam organisasi US-SS.
Saat itu Luiz tahu jika Lucy memasang kamera di beberapa titik kamar untuk merekam aktifitas yang rencananya ia lakukan bersama Black. Namun ternyata Luiz membalikkan situasi. Justru Lucy lah yang akhirnya terjebak dengan permainannya sendiri.
Luiz berjalan santai menghampiri orang-orang yang sedang berkumpul di ruang tengah.
"Bagaimana dia?" tanya Dixon.
"Tenang saja. Dia tidak akan bisa kabur dari sini," balas Luiz.
"Hei, Luiz. Apa kau yakin kau baru pertama kali melepas keperjakaanmu semalam?" goda Caesar yang disambut gelak tawa dari Agli.
"Tidak, Caesar! Apa kau percaya itu? Dia hanya mendramatisir saja agar perempuan itu takut padanya, hahaha."
"Sialan kalian! Kenapa mengejekku?" Luiz mengarahkan kepalan tangannya pada Agli dan Caesar.
"Sekali lagi terima kasih, Luiz. Jika kau tidak menyadarinya mungkin aku..." Black tidak melanjutkan kalimatnya.
Bayangan wajah kecewa Eryn menghiasi pikirannya. Istrinya itu pasti sangat kecewa jika sampai ia melakukan itu dengan Lucy.
"Kau tenang saja! Aku tidak akan membiarkan ada orang yang ingin merusak rumah tanggamu dengan Eryn." Luiz mengedipkan matanya.
Disaat semua orang sedang asik bercengkerama, David melihat jika Carlos membawa Santa berjalan jauh dari mansion Ray. Karena penasaran ia pun mengikuti kemana mereka pergi.
Carlos memang sengaja membawa Santa menjauh dari mansion, karena ia takut Santa akan melukai Lucy. Dengan sikapnya yang kadang bar-bar ada kemungkinan jika Santa akan menghabisi Lucy saat ini juga. Santa adalah orang yang setia kawan. Ia amat menyayangi Eryn dan pastinya ia akan membela sahabatnya itu.
"Carlos, lepaskan aku! Harusnya kau jangan mencegahku tadi! Akan kuhabisi wanita j4lang itu! Berani sekali dia ingin menggoda Black!" ronta Santa yang lengannya masih digenggam oleh Carlos.
Mereka kini tiba di taman belakang mansion. Carlos melepaskan Santa.
"Jangan bertindak gegabah! Jika kau membunuhnya, maka kita tidak bisa mencari bukti tentang kejahatan Eric. Lucy bisa kita jadikan senjata. Apa kau tahu itu? Kau selalu saja menggunakan emosimu. Bisakah kau bersikap lebih tenang?" bentak Carlos.
"Maaf, aku hanya tidak suka dia menggoda suami sahabatku," sesal Santa.
__ADS_1
Carlos melunak melihat penyesalan di wajah Santa. "Baiklah, maafkan aku!"
Santa menatap Carlos yang juga sedang menatapnya. Seketika mata mereka beradu. Entah apa yang sedang mereka berdua pikirkan.
Dengan secuil keberaniannya, Santa malah meraih wajah Carlos kemudian mendaratkan sebuah ciuman di bibir pria itu. Santa memainkan bibir Carlos dengan gerakan yang pelan.
Tentu saja Carlos sangat terkejut mendapat serangan mendadak dari Santa. Namun sebuah ketulusan mulai dirasakan Carlos. Ia pun membalas setiap pagutan Santa.
Bahkan kini tangannya menarik pinggang Santa agar lebih dekat dengannya. Ciuman mereka semakin intens dengan gairah yang mulai meletup.
Sadar semua ini akan semakin membuainya, Santa mulai menarik diri dan tangannya. Napasnya tersengal. Begitu juga dengan Carlos. Kening mereka saling beradu. Wajah Santa sudah merona ketika ia mendongak menatap Carlos.
Santa melepas tangan Carlos. "Ma-maaf..." Satu kata terucap dari bibir Santa kemudian ia berlari meninggalkan Carlos. Sungguh saat ini ia sangat malu karena sudah berani mencium Carlos.
Carlos hanya diam melihat kepergian Santa. Dari jarak yang tidak terlalu jauh, David melihat semua kejadian tadi. Wajahnya berubah sendu mengetahui Santa telah mengungkapkan perasaannya pada Carlos.
"Sepertinya cinta segitiga yang rumit akan segera terjadi," gumam David.
...#...
...#...
...#...
"Bodoh kau, Santa! Bodoh!" Santa memukuli kepalanya yang tidak berpikir jernih.
"Pasti akan sangat canggung saat bertemu dengannya nanti. Aarrgghh!" Santa frustasi.
Sementara Carlos, ia juga terlihat banyak diam seharian ini. Mungkin bagi sebagian orang, berciuman dengan teman sendiri adalah hal wajar. Tapi baginya, hal-hal semacam ini harusnya hanya dilakukan oleh dua orang yang saling memiliki rasa.
Tapi kenapa tadi Carlos juga membalas ciuman Santa? Apakah ia juga merasakan sesuatu terhadap Santa? Lalu bagaimana dengan perasaannya terhadap Rose? Carlos sudah menyukai Rose sejak dulu. Dan itu sulit untuk menggantikan posisi Rose. Mengingat ia juga belum mengatakan apa pun pada Rose.
"Ah, sial! Kenapa jadi seperti ini? Apa aku harus bicara dengan Santa?" gumam Carlos dengan menarik rambutnya. Biasanya saat menghadapi musuh, Carlos adalah orang yang tenang dan penuh percaya diri. Lalu ini? Seperti bukan Carlos saja. Cinta memang bisa membuyarkan semua hal, hihi.
...#...
...#...
...#...
Suasana terasa canggung ketika Santa kembali di pertemukan dengan Carlos. Ada yang menyadarinya ada juga yang tidak.
Santa terus menunduk ketika jamuan makan malam telah disiapkan. Carlos juga tak banyak bicara seperti biasanya.
__ADS_1
Black merasa ada yang tak beres dengan dua orang ini. Sebenarnya Black sudah tahu perasaan Santa terhadap Carlos, tapi sebisa mungkin ia bersikap profesional agar tidak terjadi kecanggungan diantara mereka berdua.
Usai makan malam, Black menemui Carlos dan berkata pada pria itu, "Selesaikan urusanmu dengan Santa. Jika kau memang mencintai Rose, maka kau harus memilih salah satu, Carlos"
Carlos cukup tertegun mendengar kalimat Black. "Tapi, Black. Aku dan Santa..."
"Sudah! Sana temui Santa dan jangan menggantung perasaannya. Katakan yang sebenarnya dan jangan membuat dia berharap padamu jika kau tidak memiliki hati padanya."
Semua kata-kata Black mulai Carlos cerna. "Baiklah. Aku akan menemuinya."
Carlos mengetuk pintu kamar Santa. Tak lama gadis itu membuka pintu. Matanya membola ketika melihat pria yang ada didepannya.
"Carlos?"
"Bisa kita bicara?"
"Masuklah!" Santa mempersilakan Carlos masuk.
Carlos duduk di tepi ranjang. "Umm, maaf jika kedatanganku mengganggu waktumu."
"Oh, tidak. Santai saja." Santa terlihat gugup. Sepertinya dia tahu apa yang akan dikatakan oleh Carlos.
"Santa, aku... Aku minta maaf atas apa yang terjadi dengan kita pagi ini. Aku rasa apa yang kita lakukan salah."
"No, no. Akulah yang salah. Aku yang lebih dulu menciummu. Aku yang harusnya minta maaf." Suara Santa terdengar bergetar.
"Baiklah. Kita akan saling memaafkan. Dan ... kejadian seperti tadi tidak akan terjadi lagi. Aku mencintai Rose. Aku tidak bisa mengkhianati dia. Meski kami belum memasuki tahap apa pun, tapi... Aku akan menyatakan perasaanku setelah kembali dari sini. Kuharap kau mengerti."
Santa tertegun. Sejenak ia mencerna apa yang dikatakan oleh Carlos. Itu adalah sebuah penolakan. Meski tadi mereka sama-sama menikmati ciuman tak sengaja itu, tapi kini semuanya sudah jelas.
"Sekali lagi aku minta maaf..." Carlos beranjak dari duduknya dan keluar dari kamar Santa.
Santa terduduk lemas di tepi ranjang. Air matanya mulai mengalir. Ia menutup mulutnya agar tak ada yang mendengar isak tangisnya.
"Mulai sekarang aku harus melupakannya. Cinta pertamaku berakhir dengan tragis..." batin Santa kemudian ia merebahkan diri diatas ranjang.
Di luar kamar, David masih terdiam. Ia bingung apakah harus mengetuk pintu kamar Santa atau tidak. Ia tahu apa yang terjadi dengan gadis itu. Sebuah penolakan pastinya tetap membuat hati sedih.
Tangan David terulur untuk mengetuk pintu namun kembali ia urungkan.
"Sebaiknya kubiarkan saja dia sendiri dulu. Semoga esok ia bisa membuka hatinya untuk pria lain," gumam David dalam hati.
#tobecontinued
__ADS_1