Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
45. Kenali Siapa Musuhmu


__ADS_3

Black sudah rapi dan akan bersiap menemui Eryn. Hatinya begitu senang karena sedikit demi sedikit, Eryn akan mulai mengingat tentangnya.


Tiba di depan hotel, Black bertemu dengan Carlos dan seluruh anggota tim yang menetap di Sao Paulo. Carlos terlihat panik ketika tiba disana.


"Carlos? Kau ada disini?" tanya Black.


"Ini gawat, Black! Eric sudah mengetahui tentang kita."


"Apa?! Bagaimana bisa?"


"Dia tahu jika kau masih hidup."


Black menatap Rose dan seluruh anggota tim.


"Eryn!" gumam Rose.


"Carlos, kita harus bersiap! Kita akan menjemput Eryn dari rumah itu. Kalian semua siapkan senjata kalian!" titah Black.


"Baik, Black."


"Kau tenang saja! Eryn pasti bisa kita selamatkan!" Rose menepuk pundak Black.


Black segera kembali ke kamar hotel dan mengambil senjata yang akan dipakainya nanti. Beruntung selama di Rio, Gilbert banyak merakit senjata. Diambah kedatangan Carlos juga membawa beberapa senjata dan juga bom.


Caesar dengan sigap meretas semua kamera pengawas dan mencari tahu apakah Eric ada di Rio atau tidak.


"Black!" panggil Caesar.


"Ada apa?"


"Eric tidak ada di Rio. Tapi..." Caesar memperlihatkan tablet pintarnya ada Black.


Rumah Eryn telah dikepung oleh banyaknya penjaga.


"Brengsek!" Black mengumpat.


"Itu adalah pengawal ayahku!" ucap Rose.


"Apa? Maksudmu ayahmu sekarang ada di Rio?" Tanya Carlos.


Rose mengangguk. "Maafkan aku. Harusnya aku tidak meninggalkan Eryn sendirian."


"Tapi kenapa ayahmu bisa ada di rumah Eryn?" tanya Carlos.


"Tentu saja untuk memancing kedatangan Black," jawab Rose. "Ayah pasti sudah tahu jika Black masih hidup. Kau tahu seperti apa ayahku. Tidak ada yang bisa luput dari pantauannya," lanjut Rose.


"Kau benar! Sekarang kita harus bagaimana, Black?" tanya Carlos.


Black berpikir sejenak.


"Kita akan menyerang. Dan membawa Eryn juga Matilda keluar dari rumah itu."


"Tapi, Black? Jumlah kita kalah dengan mereka. Kau lihat betapa banyaknya jumlah penjaga di rumah itu. Dan juga, aku yakin jika Eric pasti sedang menuju kemari." Carlos masih tidak yakin dengan keputusan Black.


Anggota tim yang lain juga ikut diam. Mereka belum pernah melawan mafia sekelas Don Juan Blanco. Taruhannya adalah nyawa.


"Aku ikut!" ucap Rose.


Yang lainnya menatap Rose.


"Aku juga ikut!" sahut David.


"Aku juga ikut!" sahut Santa.


Hingga akhirnya seluruh anggota yang berjumlah 9 orang itu ikut termasuk Carlos.


"Meski kita hanya ber sebelas orang. Aku yakin kita bisa mengalahkan mereka." Rose menyemangati mereka.


"Black, kau sudah lama bersama ayahku. Kau pasti tahu dimana letak kelemahan ayahku."


Black mengangguk. Kemudian mereka menyusun strategi untuk misi menyelamatkan Eryn.


...🌿🌿🌿...


Anak buah Tuan Kim tiba di Rio dan langsung menuju ke rumah Eryn. Ya, mereka akhirnya mendapatkan informasi jika putri bosnya di sembunyikan disebuah rumah di kota Rio.


Mereka tidak gegabah. Mereka juga sedang mengawasi rumah itu yang ternyata dipenuhi oleh banyak penjaga.


"Bagaimana ini?"


"Tenanglah! Kita tidak bisa bertindak ceroboh. Kita harus bisa membawa putri bos dengan selamat."


"Kita tunggu sebentar lagi!"


"Baiklah. Kita harus mengintai seluruh bangunan itu dulu."

__ADS_1


"Oke!"


Tanpa mereka duga, tiba-tiba sebuah mobil van berhenti tepat di depan rumah. Suara tembakan bersahutan memenuhi tempat itu.


"Apa itu? Siapa mereka?"


"Sepertinya mereka menyerang rumah itu!"


"Bagaimana ini?"


"Kita tunggu dulu saja!"


Gilbert dengan senjata penuh amunisi menyerang tanpa ampun semua penjaga yang berjaga di depan rumah.


Black masuk dari pintu belakang bersama Rose. Carlos, David, Elbo dan Frans masing-masing dari samping rumah. Sedangkan Santa dilindungi oleh Agli dan Gilbert. Ia masuk dari depan. Bernard dan Caesar tetap berada di mobil dan memantau dari kamera pengawas. Mereka berdua juga menyiapkan mobil agar nanti mudah untuk melarikan diri.


Eryn yang mendengar suara tembakan hanya bisa meringkuk untuk melindungi diri. Ia berhasil lolos dari sekapan Juan saat tembakan mulai terdengar tadi. Sedangkan Juan juga berusaha untuk kabur dari tempat itu.


"Tuan, kita harus segera pergi dari sini!" ucap salah seorang penjaga.


Suasana diluar dan didalam rumah sudah kacau balau. Matilda pun bersembunyi agar terhindar dari peluru nyasar. Ia mencari keberadaan Eryn yang ternyata tidak ada di kamarnya.


Penjaga yang mengawal Juan ternyata berhasil dilumpuhkan oleh Black. Kini Juan berhadapan langsung dengan Black. Pria yang sudah di didik Juan menjadi bos mafia paling berpengaruh kini menjadi musuh bagi Juan.


"Akhirnya kita bertemu juga, Paman Juan!"


Juan mulai ketakutan. Ia tak menyangka jika Black kini terlihat lebih menyeramkan dibanding dulu.


"Kau memang telah menolongku, tapi kau juga yang membuatku dekat dengan kematian. Sekarang, kita akan mengakhiri semuanya, Paman."


Black membuang senjatanya dan berhadapan satu lawan satu dengan Juan.


.


.


.


"Eryn!" Rose berteriak memanggil nama Eryn.


Rose menyisir kamarnya namun tidak menemukan Eryn. Suara tembakan masih saling bersahutan. Rumah besar itu sudah dipenuhi kekacauan yang tak berujung.


Santa menemukan Matilda dan akan membawanya keluar. Namun nahas, tubuh Matilda terkena peluru dari anak buah Juan.


Beruntung Gilbert sigap dan berhasil menembak orang itu yang akan membidik Santa.


"Cepat cari nona Eryn! Dia pasti ada di kamar belakang," lirih Matilda.


"Tapi, Bibi. Aku harus membawa Bibi juga!" ucap Santa.


"Tidak, Nak. Cepat selamatkan nona Eryn. Cepat!" Kemudian Matilda menutup mata untuk selamanya.


"Santa, cepat!" ucap Gilbert. Ia tak bisa lagi menahan serangan bertubi dari anak buah Juan. Rasanya mereka semakin lama semakin bertambah.


Santa berlari mencari Rose. Mereka akhirnya bertemu. Santa mengatakan jika Eryn pasti ada di kamar belakang.


Kamar yang biasa digunakan Eryn untuk merenung dan melukis.


"Kau cari nona Eryn! Aku akan menemui yang lain!" ucap Santa.


"Baiklah."


Rose berjalan mengendap-endap menuju kamar belakang. Pintunya tidak terkunci.


"Eryn!" teriak Rose.


Rose melihat begitu banyak lukisan yang ada disana.


"Hah?!" Sejenak Rose terpaku melihat lukisan karya Eryn. Semuanya adalah wajah Black.


"Jadi, Eryn sudah mengingat tentang Black?"


SREK!


Rose mendengar suara benda bergerak.


"Eryn! Ini aku!" seru Rose lagi.


Eryn keluar dari persembunyiannya dan menatap Rose.


"Rose!"


"Eryn! Kau mengenaliku?" Rose menghampiri Eryn. Eryn langsung memeluk tubuh Rose.


"Syukurlah kau sudah mengingatku. Ayo! Kita harus segera pergi dari sini!" Rose menggenggam tangan Eryn.

__ADS_1


Begitu mereka keluar suara dentuman keras menggema dan mengakibatkan banyaknya barang yang pecah. Tubuh Rose dan Eryn terpental karena serangan sebuah rudal.


"Akh!" jerit Rose dan Eryn.


Anak buah Eric ternyata telah datang. Carlos yang melihat Rose tergeletak segera menghampirinya.


"Eryn! Kau baik-baik saja?" tanya Carlos.


Eryn mengangguk. "Tapi, Rose..." Air mata Eryn sudah membasahi pipinya.


Carlos segera mengangkat tubuh Rose. Saat ada ledakan tadi, Rose sengaja melindungi Eryn agar wanita itu selamat.


"Kita lewat belakang!" ucap Carlos.


Eryn mengikuti langkah Carlos dengan terseok-seok. Tubuhnya juga mulai lemah. Semua anggota tim memakai alat komunikasi, sehingga mereka bisa tetap saling berkoordinasi meski ditengah situasi genting.


"Eryn!" seru Black yang melihat sosok yang dicintainya muncul.


Black langsung memeluk Eryn.


"Eldric..." Eryn menumpahkan segala emosinya dalam pelukan Black.


"Kita harus cepat pergi dari sini! Tempat ini akan meledak!" seru Caesar.


"Siapa orang-orang itu?" tanya Carlos yang sudah masuk kedalam mobil.


"Entahlah! Mereka bukan anak buah Eric ataupun Don Juan," jawab Caesar.


"Santa, cepat masuk!" ucap David.


Santa menangis. "Elbo dan Gilbert..."


Black merasa bersalah. Elbo dan Gilbert terkena tembakan dan tidak bisa diselamatkan. Mereka terpaksa meninggalkan kedua orang itu bersama Matilda.


Setelah semua orang masuk ke dalam mobil, Bernard segera tancap gas dan meninggalkan tempat itu.


.


.


.


Eric tiba di Rio dan langsung menuju rumah yang kini tak berbentuk seperti rumah. Rumah itu hampir runtuh dengan banyaknya mayat disekitarnya.


Eric juga melihat tubuh Juan telah terbujur kaku dengan luka lebam di sekujur tubuhnya. Ia tahu jika Black yang sudah menghabisi Juan.


Eric menghela napas kasar. Semuanya telah hancur. Ia kembali kehilangan Eryn.


"Tuan!" Enrique menghampiri Eric.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Eric.


"Maafkan aku, Tuan. Sepertinya tuan Juan memang memiliki hubungan dengan nona Eryn. Dia adalah paman nona Eryn."


Eric memejamkan matanya. "Bagaimana dengan Evany dan Amigo?"


"Begini, Tuan. Markas Amigo juga diserang, Tuan. Semua barang telah habis terbakar."


"Argh! Sial! Kenapa semuanya jadi begini? Apa ini adalah ulah Eldric?"


"Sepertinya bukan, Tuan. Ada orang lain yang menyerang kita."


"Kurang ajar! Siapa yang berani main-main denganku, hah?!" Eric mengepalkan tangannya.


.


.


.


.


Tuan Kim mendapat laporan dari anak buahnya jika putrinya telah berhasil diselamatkan oleh Black dan kawan-kawannya. Tuan Kim sudah tahu jika cucunya adalah putra dari Eldric Albana, anak dari pria yang mengadopsi Eryn.


Setelah tahu jika Eldric dikhianati oleh sahabatnya sendiri, Eric, Tuan Kim memutuskan untuk membantu Eldric dan orang-orangnya. Bahkan Tuan Kim memerintahkan anak buahnya untuk membakar gudang milik Amigo yang kini menjadi milik Eric.


"Bagaimana?" tanya Tuan Kim pada Lee Hyun Woo, asistennya.


"Nona sudah selamat, Tuan. Tapi, kenapa Tuan membiarkan Nona bersama dengan orang-orang itu?"


"Biarkan saja dulu. Aku pasti akan membawa putriku kembali kemari. Kita tunggu waktu yang tepat!"


Hyun Woo hanya menganggukkan kepala.


"Sekarang kau tinggal awasi mereka. Mengerti? Aku tidak ingin putriku kembali terluka."

__ADS_1


"Baik, Tuan." Hyun Woo memberi hormat kemudian berlalu dari ruang kerja Tuan Kim.


#tobecontinued


__ADS_2