Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
73. Jawaban Eryn


__ADS_3

Pagi ini Eryn menyiapkan sarapan untuk keluarga kecilnya. Sudah menjadi kebiasaan untuknya meski ia dan ayahnya sedang sedikit bersitegang karena urusan bersama Grup Se-Kang. Ia masih belum sepenuhnya percaya dengan semua yang dikatakan oleh Hyun Woo. Makanya Eryn ingin menyelidiki lebih dalam tentang Kang Se Hoon dan perusahaan miliknya.


Noah sudah siap dengan seragam sekolahnya dan duduk di meja makan.


"Anak pintar!" Eryn mengusap puncak kepala Noah. Anak itu kini sedang melahap sarapan paginya.


Namun hingga makanan Noah hampir tandas, belum nampak Tuan Kim keluar dari kamarnya.


"Kenapa ayah belum juga datang? Apa aku susul saja ke kamarnya?" batin Eryn.


"Sayang, habiskan makanmu ya! Mommy mau menemui kakek dulu."


"Iya, Mommy."


Eryn berjalan ke kamar Tuan Kim. Ternyata pria paruh baya itu membuka pintu dan membuat Eryn terkejut.


"Ayah?" Eryn membulatkan mata.


"Ada apa, Nak?"


"Ayah melewatkan sarapan," ucap Eryn yang merasa canggung karena di pergoki oleh ayahnya.


"Ayah tidak melewatkannya. Ayo, kita sarapan bersama."


Eryn mengangguk dan berjalan bersama ayahnya. Tiba di meja makan, Noah telah selesai makan dan akan berangkat sekolah.


"Mommy, Kakek! Aku berangkat ke sekolah dulu ya!" pamit Noah.


"Iya, sayang. Belajarlah yang rajin. Dan jangan nakal!"


"Siap, Mommy!"


Eryn mencium kedua pipi Noah. Lalu ia duduk berhadapan dengan sang ayah di meja makan. Masih belum ada percakapan yang berarti diantara mereka berdua.


Hingga akhirnya...


"Aku minta maaf, Ayah," ucap Eryn.


Tuan Kim tersenyum. "Tidak ada yang perlu dimaafkan, Nak. Ayah hanya mencemaskanmu saja."


"Ayah tenang saja! Aku akan menjaga diriku."


"Baiklah. Lakukan tugasmu sebagai pengatur acara lalu setelahnya jangan lagi berhubungan dengan Kang Se Hoon atau keluarganya."


Eryn mengangguk. Untuk sementara ia akan mengiyakan apa yang menjadi keinginan ayahnya hingga semua bukti benar-benar ia dapatkan.


#


#


#


Eryn masih di kantornya dan akan berangkat menuju ke gedung Se-Kang Grup. Saemi, sang asisten tiba-tiba datang dan menyampaikan sesuatu yang menggembirakan untuknya.


"Apa?! Kenapa kau baru mengatakannya sekarang? Kapan Rose menelpon?" Eryn yang ingin marah menjadi urung.


"Sekitar seminggu yang lalu, Nona. Maaf saya lupa, karena Nona juga sangat sibuk saat itu."


Eryn mengulas senyumnya. "Berikan nomor ponselku padanya jika ia menelpon lagi."


"Baik, Nona."


Setelah Sae Mi berlalu, Eryn pun segera pergi mengendarai mobilnya menuju Grup Se-Kang.

__ADS_1


Tiba disana, Eryn langsung meninjau lokasi tempat diadakannya perhelatan akbar tahunan di perusahaan itu. Grup Se-Kang memiliki aula yang cukup besar. Satu lantai ini memang sengaja digunakan untuk perayaan acara-acara perusahaan.


Eryn mengawasi sendiri bagaimana timnya bekerja. Semua harus sesuai dengan konsep yang diinginkan oleh pemilik acara.


Tanpa Eryn ketahui, sepasang mata tengah memperhatikannya dari sebuah kamera pengawas.


"Ternyata memang benar apa yang dikatakan oleh Se Naa, aku akan terbakar oleh permainanku sendiri," gumamnya.


Entah apa yang dirasakan pria matang itu hingga melangkahkan kakinya menuju tempat dimana Eryn berada.


"Tatapan matanya mengingatkanku pada Sully," gumamnya lagi. Siapa lagi kalau bukan Kang Se Hoon.


Eryn yang sibuk menyiapkan dekorasi dikejutkan dengan kedatangan Se Hoon di aula itu.


"Pimpinan Kang?" kaget Eryn.


"Hmm, konsep yang kau buat lumayan juga." Se Hoon melihat sekitar aula.


"Terima kasih. Ini adalah konsep yang diberikan oleh Nona Se Naa." Eryn menundukkan wajahnya.


"Baiklah. Lanjutkan pekerjaanmu. Aku permisi dulu."


"Silakan, Pimpinan Kang." Eryn membungkukkan tubuhnya ketika Se Hoon mulai melangkah pergi.


Eryn menatap punggung Se Hoon yang kian menjauh. Ia mengedikkan bahunya kemudian kembali bekerja.


Pukul delapan malam, Eryn baru menyelesaikan pekerjaannya. Ia keluar dari aula. Ia meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.


"Kau terlalu memaksakan dirimu, Nona Kim."


"Hah?!" Sebuah suara yang tak asing lagi-lagi memenuhi indra pendengaran Eryn.


"Pimpinan Kang?" Eryn memberi salam dengan membungkuk.


"Iya. Kalau begitu aku permisi dulu!" Eryn berpamitan karena tak ingin terlalu lama bersama dengan pria itu.


Eryn menuju mobilnya dan segera tancap gas meninggalkan gedung Grup Se-Kang. Hari ini ia ada janji dengan Joon untuk makan malam bersama.


Tanpa diketahui lagi oleh Eryn, sebuah mobil tengah membuntutinya. Pria didalam mobil menyilangkan tangan sambil menerka-nerka kemana Eryn akan pergi.


Tiba di sebuah taman yang tentunya sudah disiapkan oleh Joon, Eryn tercengang melihat betapa indahnya taman itu.


"Joon? Kau yang menyiapkan semua ini?" tanya Eryn yang melihat banyak lampu berkelap-kelip di taman itu.


"Kau pikir hanya kau saja yang bisa merancang acara? Aku juga bisa melakukannya." Joon membanggakan hasil kerja kerasnya seharian ini.


"Kau yang menyiapkan ini sendiri?" Eryn melongo tak percaya.


"Ayo duduk dulu. Kau pasti sudah lapar, bukan?"


Joon menarik kursi dan mempersilakan Eryn duduk.


"Terima kasih," ucap Eryn.


Eryn sangat menikmati suasana malam ini. Joon berlaku sangat manis malam ini.


Terdengar alunan musik yang mulai mengalun. Joon berjalan mendekati Eryn dan mengajaknya berdansa.


Eryn memutar tubuhnya mengikuti alunan musik yang menggema. Dan ketika musik berhenti, Joon berlutut dan mengeluarkan sebuah kotak didepan Eryn.


"Eryana Kim, maukah kau menikah denganku?"


"Joon..."

__ADS_1


"Tolong jawab, Eryn. Aku berjanji akan membahagiakanmu dan juga Noah."


Eryn bimbang. Kemarin ia sudah merasa yakin dengan Joon. Namun malam ini, ada sebuah keraguan yang tiba-tiba muncul. Lagi-lagi bayangan Noah muncul di benaknya. Kebahagiaan Noah adalah yang terpenting. Begitulah pikir Eryn.


"Iya, aku mau menikah denganmu."


Seketika Joon berdiri dan memeluk Eryn. Malam ini adalah malam yang membahagiakan untuknya.


"Terima kasih, Eryn. Terima kasih."


Sementara di luar taman, seorang gadis menggeram kesal melihat pemandangan kedua orang yang sedang memadu kasih itu.


"Sial! Kenapa Oppa harus melamar janda itu secepat ini?" sungut gadis yang tak lain adalah Ga Eun.


"Ehem!" Sebuah suara membuat Ga Eun terkejut.


"Kau? Apa yang kau lakukan disini?" tanya Ga Eun malas.


"Jangan marah, Nona. Aku tahu kau sakit hati dengan kebersamaan mereka."


"Apa maksudmu?"


"Bagaimana kalau kita bekerja sama?" tawar pria itu.


"Kang Se Hoon! Aku tahu siapa dirimu. Kau adalah pria licik yang tidak tahu diri. Untuk apa aku bekerja sama denganmu?" ketus Ga Eun.


Se Hoon tertawa. "Kau tahu bukan jika aku selalu bisa mendapatkan apa yang kuinginkan. Jadi, kau bisa percaya padaku. Kau menginginkan pria itu, dan aku menginginkan Eryn."


Ga Eun tersenyum mengejek. "Sejak kapan kau dekat dengan keluarga Kim? Bukankah keluarga kalian saling bermusuhan?"


"Jangan banyak bicara, Nona. Kau menerima tawaran ini atau tidak? Aku yakin kau tidak ingin skandal ayahmu mencuat ke publik, bukan? Aku bisa saja menyebarkannya ke wartawan karena hanya aku yang memegang kartu As ayahmu," ancam Se Hoon.


Ga Eun mendelik. "Kau? Apa maumu?" Ia mengepalkan tangannya.


"Mudah saja. Kau dapatkan apa yang kau inginkan, dan aku mendapat apa yang aku mau. Bagaimana?"


"Jadi, kau akan membantuku untuk mendapatkan Joon Oppa?"


Se Hoon tersenyum seringai. "Ya, tentu saja."


Ga Eun kembali menatap pasangan yang sedang berbahagia itu. Mereka terlihat akan meninggalkan taman.


"Baiklah. Aku terima tawaranmu!" balas Ga Eun dengan mengulurkan tangannya.


Se Hoon membalas uluran tangan Ga Eun.


"Yang harus kau lakukan hanyalah percaya dengan semua rencana yang telah kubuat. Kau mengerti, Nona?"


Ga Eun mengangguk. "Baiklah. Aku percaya denganmu, Kang Se Hoon. Kau selalu punya berbagai cara licik untuk mencapai tujuanmu," sarkas Ga Eun.


#


#


#


Eryn masih terjaga di dalam kamarnya. Ia memikirkan keputusannya untuk menerima Joon menjadi ayah sambung Noah.


Eryn memejamkan mata. Bayangan Eldric kembali hadir.


"Maafkan aku, El... Aku tidak bisa bersikap egois dengan hanya memikirkan diriku. Anak kita butuh sosok seorang ayah. Dan Joon adalah pria yang tepat untuk menjadi ayah Noah."


#tobecontinued

__ADS_1


__ADS_2