
Red berjalan cepat untuk mencari keberadaan White. Setelah tadi Red mendapat panggilan dari Yoona, niatnya untuk menginap di klub menjadi urung karena diberitahu mengenai kondisi ayahnya.
Mata Red memindai setiap pengunjung klub yang semakin ramai ketika malam kian larut. Bahkan sosok Blue sudah tak ada di tempatnya tadi.
Red tidak peduli dengan apa yang akan dilakukan adiknya itu. Saat ini yang terpenting adalah menyelamatkan ayahnya, Eldric.
Red mencoba menghubungi nomor ponsel White namun tak dijawab.
"Sial!" umpatnya dengan masih mencari keberadaan White.
White adalah seorang dokter. Pasti ia bisa menangani kondisi ayah Red saat ini. Begitu pikir Red.
Dan ketika akhirnya White muncul dari dalam sebuah kamar, Red langsung menarik tubuhnya agar ikut dengannya.
"Hei, bung. Ada apa?"
White masih tak memahami situasi ini. Red masih bungkam dan terus menariknya menuju keluar klub.
"Ikut denganku!" titah Red singkat.
White tahu pasti ada sesuatu yang terjadi. Ia menurut dan masuk kedalam mobil Red.
Mobil sport Red melaju dengan kecepatan yang tak main-main. Ditambah lagi dengan jalanan yang mulai lengang.
"Oke, Red. Bisakah kau katakan apa yang terjadi?" tanya White ditengah kepanikan yang berusaha ia tutupi.
White memang tak suka harus kebut-kebutan di jalanan meski itu mendesak sekalipun. Baginya keselamatan itu lebih penting dan utama dari pada waktu tempuh yang lebih cepat dari biasanya.
"Yoona meneleponku."
Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Red.
"Lalu?"
White tak sabar ingin mendengar apa kelanjutan ceritanya.
"Ayahku mengamuk lagi."
White akhirnya terdiam. Ia sangat tahu dengan kondisi keluarga Red yang cukup memprihatinkan. Meski harga Red melimpah, tapi ia tak bisa membeli kebahagiaan dengan sejumlah uang. Apalah arti uang yang banyak jika hati tidak bahagia.
White sudah mengenal Red sejak pria itu memutuskan pindah ke kota ini. Menjalani hidup dengan keras sebagai preman jalanan, hingga akhirnya bisa membangun bisnisnya sendiri. Semua itu bukanlah hal yang mudah bagi Red.
Red harus mengesampingkan cibiran orang karena keluarganya bangkrut. Tidak ada yang tersisa dari kejayaan keluarga Albana dan juga Kim. Semua orang hanya memuaskan keserakahan mereka sendiri saja.
Mobil Red akhirnya tiba di mansion miliknya. Red berlarian bersama White menuju kamar isolasi milik Eldric.
Yoona menunggu di depan kamar. Wajah kepanikan tergambar disana.
"Kakak!" seru Yoona.
__ADS_1
"Dimana Daddy?" tanya Red.
"Ada di dalam. Dia masih mengamuk, Kak!" cerita Yoona.
"Baiklah. Kakak akan masuk dengan dokter White," jelas Red.
Di dalam ruangan itu nampak Eldric yang sedang melemparkan barang-barang. Sudah lama Eldric tidak mengalami hal seperti ini. Kenapa sekarang terjadi lagi?
White menyiapkan sebuah jarum suntik yang berisi obat penenang untuk disuntikkan pada Eldric. Red memegangi tubuh renta Eldric.
"Cepat, White!" perintah Red.
White segera mencari titik yang tepat untuk ia suntikkan obat penenang itu. Dan tak berapa lama tubuh Eldric mulai limbung dan lemah.
Red memegangi tubuh Eldric dan memanggil beberapa pelayan untuk membantunya. Perlahan Eldric mulai kehilangan kesadarannya.
Sebuah brankar membawa tubuhnya ke sebuah kamar yang disediakan khusus untuknya. Red memijat pelipisnya pelan. Sorot tajam Yoona mengarah padanya.
"Harusnya kakak membawa pria tua itu ke rumah sakit jiwa saja! Untuk apa merawatnya dirumah? Dia hanya bisa mengamuk dan membuat panik semua orang! Aku benar-benar sudah tidak tahan lagi, Kak!" sungut Yoona.
"Hentikan, Yoona! Bagaimanapun juga dia adalah ayah kita! Kita harus menjaganya!" tegas Red.
"Ayah? Dia adalah ayah kita? Tapi aku sama sekali tidak pernah merasakan kasih sayang darinya sebagai seorang anak! Selama bertahun-tahun dia hanya bisa meratapi nasibnya yang ditinggal mati oleh istrinya! Aku sudah muak dengan semua ini!" teriak Yoona.
PLAK!
"Bagaimana bisa kakak melakukan ini padaku? Aku membencimu, Kak!" kesal Yoona kemudian berlalu dengan memegangi pipinya yang terasa panas ulah tamparan Red.
Red merutuki dirinya sendiri. Semua hal yang sudah ia coba pertahankan hancur dalam sekejap. Ssmuanya lenyap dalam semalam.
"Aku harus bagaimana lagi, White?!" tanya Red frustasi.
White menepuk bahu Red. "Jangan terlalu keras pada Yoona. Dia masih terlalu muda untuk memahami semua ini, Red. Tenangkan dulu pikiranmu, setelahnya kau baru bicara dengannya dan meminta maaf."
Red mengangguk. Rasanya malam ini ia lelah sekali. Ia mengantarkan White hingga ke depan rumah. Ia meminta supir untuk mengantarkan White kembali ke klub.
"Terima kasih karena sudah membantuku," ucap Red.
"Jangan sungkan, kawan! Kapanpun kau butuh aku, aku selalu ada untukmu."
Red mengangguk.
"Apa rencanamu selanjutnya?" tanya White.
"Entahlah. Aku masih belum memikirkan lebih jauh. Oh ya, jika kau melihat Blue, suruh dia untuk kembali ke rumah."
White mengangguk paham. "Aku permisi dulu, Red."
White masuk ke dalam mobil kemudian supir segera melaju meninggalkan mansion keluarga Albana yang megah itu.
__ADS_1
Sepanjang malam Red memikirkan tentang apa yang akan ia lakukan ke depannya. Banyak hal yang terlintas di pikirannya.
Bayangan kisah kelam dirinya dalam menjalani kehidupan hingga berada di titik ini membuatnya makin bersemangat. Ia harus bisa membalas perbuatan orang-orang yang sudah membuatnya berada di situasi ini.
Dulu ia ingat jika pernah melakukan sedikit penyelidikan. Namun memang belum usai karena harus mengurus klub malam miliknya.
"Iya, aku akan menyelidiki semuanya dari awal lagi. Besok aku akan pergi ke Kolombia untuk menuntaskan masalah ini," gumam Red.
#
#
#
Red tiba di Kolombia dan langsung menuju ke rumah sakit dimana dulu ibunya melahirkan Yoona. Sudah 20 tahun silam dan ia tak yakin jika masih bisa mendapatkan informasi dari sana.
Tak banyak yang bisa Red dapat dari rumah sakit. Hanya nama dokter yang dulu melakukan malpraktek saja yang ia dapatkan.
Dokter Lorna Matthews. Dia melakukan malpraktek karena di duga depresi dengan kehidupannya.
Red tidak mengerti bagaimana bisa ada seseorang yang mengalami depresi hingga tega melenyapkan beberapa nyawa orang yang tak berdosa.
Setelah dari rumah sakit, Red menuju ke pengadilan dimana dulu dokter itu diadili. Red mencoba mengingat memori masa lalunya ketika dirinya ada disana menyaksikan persidangan itu.
Red tak bisa mengingat dengan sempurna kepingan puzzle itu. Ditambah saat itu ia memutuskan untuk keluar dari persidangan.
"Ah iya, benar. Aku keluar lalu aku mendengar dua orang sedang berbicara!"
Red kembali mengulik semuanya dengan detil dengan mengandalkan uang miliknya. Ia berhasil mendapatkan informasi jika dokter Lorna memiliki seorang putri yang akhirnya diambil alih oleh pihak dinas terkait.
"Putri?" Red memejamkan mata mencoba menjelajah ingatannya ke 20 tahun lalu.
Red mendatangi dinas sosial tempat putri dokter Lorna dirawat. Ia menemui seorang petugas. Lagi lagi Red harus mengeluarkan uang untuk bisa mendapatkan sebuah informasi.
Red di persilakan masuk ke ruang berkas dan mencari sendiri bukti terkait peristiwa 20 tahun silam yang sangat menggemparkan dunia medis. Waktu Red hanya satu jam untuk bisa menemukan bukti itu.
Matanya membaca dengan teliti setiap berkas yang di ambilnya. Rahangnya mengeras ketika akhirnya ia berhasil mendapatkan apa yang ia cari.
"Ini dia!" gumam Red.
Red membaca kembali dengan seksama berkas milik dokter Lorna. Mata Red membulat sempurna ketika membaca berkas itu.
"Putri dokter Lorna Matthews, yang bernama Ilena, dibawa oleh keluarga ayah kandungnya yang bernama Brian Adams. Mereka tinggal di Rio de Jeneiro, Brazil."
Red menutup catatan itu dengan hati yang bergemuruh. Banyak sekali pertanyaan yang ada di benaknya.
"Ayahnya Selena? Jadi ... apakah itu Selena? Tapi tidak! Usia putri dokter Lorna adalah 1 tahun ketika dibawa ke Brazil. Itu berarti ... Selena memiliki seorang adik?" gumam Red dengan mencoba menggabungkan kepingan puzzle yang mulai ia temukan.
#bersambung...
__ADS_1