Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
43. Terbongkar (2)


__ADS_3

Lolita memandangi langit-langit kamar rumah sakit dengan tatapan kosong. Setelah semalam ia ditolong oleh pihak 911, pihak rumah sakit menghubungi Eleanor dan wanita itu langsung datang ke rumah sakit.


Sayup-sayup terdengar suara orang bicara didepan kamar rawatnya. Itu adalah suara Eleanor yang sedang bicara dengan seorang dokter.


Lolita bisa menangkap apa yang mereka bicarakan meski tidak terlalu jelas. Setidaknya ia tahu apa yang tengah terjadi dengan dirinya.


Buliran bening itu keluar dari sudut matanya. Runtuh sudah semua hal yang sudah ia pertahankan. Ia kehilangan bayi dalam kandungannya. Dan besar kemungkinan jika dirinya tidak akan bisa memiliki anak lagi.


Tangis Lolita tertahan. Ia tak ingin terlihat lemah didepan Eleanor sekarang. Wanita itu pasti akan makin menekannya jika ia terlihat lemah.


Pintu kamar terbuka. Masuklah Eleanor yang baru saja selesai bicara dengan dokter. Eleanor tak bicara apa pun dan hanya menatap Lolita datar.


"Aku akan menghubungi suamimu dan memintanya segera pulang." Hanya itu yang dikatakan Eleanor kemudian keluar dari kamar Lolita.


*


*


*


"Eric!"


Suara yang biasanya terdengar halus itu kini bernada tegas di telinga Eric. Ia segera memundurkan tubuhnya dan menghadap si pemilik suara.


"Hai, Eryn. Kau sudah bangun? Aku sengaja datang pagi-pagi sekali karena aku ingin sarapan denganmu," sapa Eric panjang lebar.


"Bisa kita bicara?" ucap Eryn tanpa berbasa-basi.


"Oke, baiklah."


Eryn membalikkan badan dan menuju kamarnya. Eric pun mengikutinya.


Matilda yang baru datang ke dapur bertanya pada Rose. Sementara Rose hanya mengedikkan bahunya. Ia tidak tahu apa yang akan dibicarakan oleh Eryn dan Eric.


Tiba di dalam kamar, Eryn berdiri di depan foto besar dirinya dan Eric yang sudah ia turunkan dari atas di dinding. Eric cukup terkejut kenapa Eryn menurunkan foto itu.


"Kenapa kau menurunkan fotonya, Eryn?" tanya Eric.


"Entahlah. Aku merasa ada yang aneh dengan foto ini," jawab Eryn.


"Eh? Aneh? Apanya yang aneh?" Eric mengernyitkan dahinya. Ia merasa Eryn tidak seperti biasanya.


"Foto ini dibuat sekitar enam tahun yang lalu. Benar kan?"


Eric diam. Untuk saat ini ia hanya akan mendengarkan apa yang dikatakan Eryn.


"Didalam foto ini aku melihat kita berdua tersenyum. Terlihat sangat bahagia."


Eric masih tidak mengerti dengan apa yang coba Eryn katakan.


"Aku juga tersenyum. Tapi... Aku merasa itu bukanlah senyum kebahagiaan, Eric. Itu adalah sebuah senyum keterpaksaan."


"Eh? A-apa maksudmu?" Eric mulai ketakutan. Ia takut jika ingatan Eryn mulai kembali.


"Kita tidak sedekat itu untuk bisa membuat foto ini, Eric. Meskipun memang dekat ... aku tetap merasa aneh dengan foto itu."


Eric menelan ludahnya. Ia berusaha tenang menghadapi Eryn.


"Dimana kalung itu, Eric?"


"Ka-kalung? Kalung apa?" Eric mulai gugup.


"Kalung yang kupakai di foto itu! Kalung itu selalu kupakai, bukan? Aku tidak pernah melepasnya selama enam tahun terakhir. Dimana kalung itu, Eric?" teriak Eryn.


"A-ku tidak tahu! Mungkin saja sudah hilang!" jawab Eric terbata.


Eryn menggeleng. "Tidak! Kau yang menyimpan kalung itu, bukan?"


"Tidak! Aku tidak tahu. Sungguh!"


Dering ponsel Eric membuyarkan ketegangan diantara dirinya dan Eryn. Eric meraih ponselnya dan melihat nama ibunya tertera di layar.

__ADS_1


"Aku harus mengangkat panggilan ini. Kita bicara lagi nanti."


Eric segera keluar dari kamar Eryn dan mencari tempat untuk mengangkat panggilan dari Eleanor.


"Halo, Bu. Ada apa?"


"Dimana kau sekarang? Apa benar kau sedang bersama wanita j4lang itu?"


Eric menjauhkan ponselnya karena suara Eleanor yang memekakkan telinganya.


"Ibu, apa maksud ibu?"


"Pulang sekarang juga! Apa kau tahu apa yang terjadi dengan istrimu? Dia mengalami pendarahan. Cepat kembali!"


"Apa?! Pendarahan?"


"Suami macam apa kau, hah?! Cepat kembali dan jangan temui wanita j4lang itu lagi!" tutup Eleanor dengan sebuah penekanan yang menakutkan.


Eric mengusap wajahnya. "Masalah apa lagi ini? Aarrgghh!" kesal Eric.


Kemudian ia segera keluar dari rumah Eryn dan bersiap kembali ke Meksiko.


Rose yang sedari tadi menguping pembicaraan Eric dan ibunya hanya bisa tersenyum puas.


PRANG!


Terdengar bunyi benda pecah dari dalam kamar Eryn. Rose segera berlari dan melihat kondisi Eryn.


"Nona! Apa yang kau lakukan?"


Rose tertegun melihat Eryn membanting bingkai foto besar dirinya bersama Eric.


Eryn mengatur napasnya yang terengah. Ia memecahkan semua foto dirinya bersama Eric. Tak ada satupun yang tersisa.


Matilda yang baru saja datang langsung terkejut dengan kondisi kamar Eryn yang berantakan. Ia segera membawa tubuh Eryn keluar dari kamar.


"Nona, ayo keluar! Nanti Nona terluka!"


"Apa yang dia bicarakan dengan Eric tadi? Kenapa Eryn jadi emosional begini? Mungkinkah dia ... Mulai mengingat masa lalunya?" gumam Rose.


...🌿🌿🌿...


Hari telah berubah gelap, Eric tiba di rumah sakit dan langsung menemui Lolita yang masih terbaring lemah. Terlihat Eleanor dan Elza yang juga ada di dalam kamar Lolita.


"Ada apa? Kenapa bisa begini?" Eric menunjukkan perhatiannya karena melihat wajah pucat Lolita.


"Kakak! Sebenarnya kakak kemana saja? Kenapa kakak meninggalkan kakak ipar sendirian di rumah?" sungut Elza. Ia rasa ia tak bisa mentolerir perbuatan kakaknya terhadap Lolita.


"Istrimu kehilangan bayinya," celetuk Eleanor.


"Apa?! Bagaimana bisa? Lolita!" Eric menatap Lolita seakan meminta penjelasan.


"Jangan memaksa kakak ipar seperti itu, Kak! Dia masih dalam tahap pemulihan," lerai Elza.


"Kita bicara diluar!" ucap Eleanor menatap Eric.


Eric memberikan sebuah kecupan singkat di kening Lolita. Sebagai tanda jika ia juga peduli pada kondisi istrinya itu.


Eleanor mengajak Eric ke sebuah lorong rumah sakit yang terlihat sepi.


"Ada apa, Bu? Kenapa harus bicara diluar?" tanya Eric.


"Istrimu mengalami keguguran. Dan dia divonis tidak akan bisa memiliki keturunan lagi," jelas Eleanor.


"Apa?!" Eric terkejut dan syok.


"Dia sudah tidak berguna lagi untuk keluarga kita. Sebaiknya kau ceraikan saja dia!"


"Ibu!"


"Jangan membantah, Eric. Satu-satunya alasan ibu bersedia menerima dia adalah karena dia sedang mengandung pewaris keluarga Evans. Tapi sekarang? Dia kehilangan pewaris itu dan juga tidak akan bisa memberikanmu keturunan. Untuk apa kau masih menikahi wanita seperti itu?"

__ADS_1


"Cukup, Ibu! Aku tidak akan menceraikan Lolita."


"Apa katamu?!"


"Aku tidak bisa menceraikan Lolita karena ini menyangkut citraku di depan orang banyak, Bu. Apa jadinya jika seorang Eric Evans melakukan kawin cerai? Itu akan berdampak buruk bagi perusahaan."


Eleanor berpikir sejenak. Apa yang dikatakan Eric ada benarnya juga. Ia mengusap dagunya.


"Jadi, kau benar-benar akan mempertahankan wanita itu disisimu?"


"Iya, Bu. Dia akan tetap menjadi istriku!"


"Lalu, si j4lang itu? Kenapa kau masih berhubungan dengannya, huh? Kau pergi ke Brasil untuk menemui dia kan?" bentak Eleanor.


"Sudah kubilang ibu tidak akan bisa mengaturku! Akulah yang mengatur segalanya! Apa Ibu mengerti?"


"Eric..."


"Jika ibu tidak suka dengan caraku, maka ibu bisa keluar dari rumah itu! Asal ibu tahu, itu adalah rumahku!"


"Eric! Tega sekali kau bicara begitu pada ibumu!"


"Jika ibu masih ingin hidup dalam kemewahan, maka jangan pernah mencampuri urusanku. Mengerti?!"


Eric berjalan meninggalkan Eleanor yang masih mematung. Ia menuju kembali ke kamar Lolita.


"Kakak sudah kembali? Dimana Ibu?" tanya Elza.


"Entahlah. Kakak tidak tahu. Kakak lelah sekali, ingin tidur." Eric masuk ke kamar penunggu pasien dan merebahkan tubuh lelahnya. Hari ini terasa menguras emosi untuk dirinya.


Elza mendekati brankar Lolita dan berpamitan padanya.


"Kak, aku harus pulang. Kakak istirahat saja. Besok aku akan kembali lagi."


"Terima kasih, Elza. Kau sangat baik. Maaf jika selama ini aku berlaku kasar padamu," ucap Lolita dengan berkaca-kaca.


"Sudahlah, Kak. Jangan memikirkan yang telah lalu. Kalau begitu, aku pergi dulu."


Lolita mengangguk dan keluar dari kamar. Ia menghubungi nomor ibunya. Ternyata Eleanor sudah menunggu di dalam mobil. Elza segera mempercepat langkahnya.


Tiba di lobi rumah sakit, Elza melihat dua orang yang sepertinya membuntuti dirinya. Ia kembali menghubungi ibunya dan meminta dijemput di depan lobi rumah sakit.


Elza celingukan memastikan dua orang itu tidak melakukan apa pun kepadanya. Tak lama mobil berhenti didepan Elza. Ia segera masuk dan meminta supir untuk tancap gas.


...🌿🌿🌿...


Setelah sekian lama melakukan pencarian Noah, akhirnya Carlos mendapat informasi dari anak buahnya. Tidak semua yang dulu menjadi pengikut Black kini beralih menjadi pengikut Eric. Ada juga yang akhirnya memilih keluar dan menjadi anggota gangster kelas teri di kotanya.


Sebenarnya informasi ini tidak sengaja di dapat oleh anak buah Carlos, karena ternyata mereka kini hidup di Meksiko dan bertemu dengan orang yang menemukan Noah.


Kabar gembira sekaligus sedih ini tentu saja langsung Carlos beritahu pada Black karena pria itu kini telah mengakui jika Noah adalah putranya.


"Maaf, jika semuanya telah terlambat, Black," ucap Carlos di sambungan telepon.


"Terlambat bagaimana?"


"Noah sudah dibawa pergi lagi."


"APA! Bagaimana bisa?"


"Seorang pria mengaku jika dia adalah kakek Noah, dan pasangan yang menemukan Noah mengizinkannya untuk membawa anak itu. Begitulah info yang kudapat dari sisa anak buah kita."


"Jadi, maksudmu orang itu adalah ayah Eryn?"


"Aku belum tahu pasti. Tapi pasangan itu mengatakan jika nama pria itu adalah Tuan Kim. Bukankah itu sama dengan nama belakang Eryn?"


"Hah?!" Black terbelalak tak percaya. "Lalu kemana tuan itu membawa Noah?"


"Menurut pasangan itu Tuan Kim membawa Noah ke negara asalnya yaitu Korea Selatan."


"APA?!"

__ADS_1


#tobecontinued


__ADS_2