
Noah menatap kepergian Ilena yang lagi-lagi harus ia relakan. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Noah? Kenapa ia hanya berpusat pada satu gadis saja?
Banyak gadis yang ingin bersama dengannya. Bahkan setelah kini dirinya menjadi seorang dosen, pamornya menjadi makin naik. Dunia hitam mulai ia tinggalkan perlahan.
Noah ingin menjadi lebih baik. Noah ingin menjadi abu-abu yang kemudian dipoles menjadi putih. Sama seperti harapan Ilena sewaktu mereka kecil dulu.
Noah menatap langit malam ini. Ia tak sendiri malam ini. Ada ratusan bahkan ribuan bintang yang menemaninya malam ini.
Namun nyatanya, hanya satu saja yang sangat ia inginkan dari banyaknya hamparan bintang dilangit.
Dialah Ilena. Bintang dalam hidupnya yang sudah ia lukai. Bintang yang akan menyinari hidupnya namun tak ingat siapa dirinya.
Noah mulai melangkah pergi dari bukit itu. Malam semakin larut dan pesta pernikahan kini telah usai. Para tamu mulai berpamitan pulang. Ia mengedarkan pandangan mencari bintan dihatinya. Namun tidak dia temukan. Mungkin bintangnya sudah lelah dan beristirahat. Begitulah pikir Noah.
#
#
#
*Flashback*
Dengan kursi rodanya setiap hari Noah menjenguk Ilena yang baru saja kembali dari komanya. Kondisi Ilena memang sudah lebih baik. Meski tidak ada yang tersisa dari memorinya.
Noah hanya memandanginya dari kejauhan. Ia takut jika akan mendapat penolakan lagi dari Ilena. Gadis itu sama sekali tidak mengingat tentang dirinya.
Andrew menemui Noah dan bicara dengan pria itu. Andrew meminta Noah untuk bersabar jika dirinya ingin mendekati Ilena.
Andrew sempat mendengar jika Ilena ingin melanjutkan pendidikannya. Ia ingin bisa berkuliah seperti teman-temannya yang lain meski kini usianya sudah tak lagi muda.
Entah kenapa Noah terpikirkan cara yang tak biasa untuk bisa mendekati Ilena. Noah mendaftar di salah satu universitas untuk mengikuti progam magister. Noah tak putus asa meski kondisi fisiknya masih belum pulih seperti sedia kala.
Di hari-hari berikutnya, Noah mengikuti kelas fisioterapi yang sudah di jadwalkan oleh Grey, sang asisten. Ia mengikuti semua anjuran dokter dengan baik. Ia harus segera pulih seperti dulu lagi. Ia ingin menemui Ilena dengan fisik yang bugar.
Satu bulan telah berjalan. Hasil fisioterapi mulai menunjukkan kemajuannya walau belum terlalu signifikan. Noah puas dengan semangat dalam dirinya.
Terkadang ia berpikir jika Ilena memang ingin melupakan masa lalunya yang pahit. Makanya mungkin saja Tuhan mendengar keinginannya. Itulah yang dipikirkan Noah.
Noah berjuang keras untuk bisa kembali berjalan, dan akhirnya ia berhasil setelah tiga bulan berusaha dan tak menyerah.
Noah juga mengikuti kelas perkuliahannya dengan semangat. Ia memiliki otak yang cukup cerdas. Ia cepat belajar dan membuat para pengajar kagum padanya. Semangat juangnya memang di dasari karena ingin bersama Ilena. Ilena adalah bintang hidupnya.
Dan hari itu, ia diminta untuk mengajar di kelas sastra milik Ilena menggantikan dosen yang pindah tugas. Mungkin ini adalah takdir yang di gariskan Tuhan untuknya dan juga Ilena. Ia berharap jika ini memang takdir miliknya.
#
__ADS_1
#
#
Beberapa hari kemudian,
Ilena berangkat ke kampus seperti biasa. Ia sangat bersemangat untuk bisa berkuliah. Ia sudah menginginkan hal ini sejak lama. Dan ini adalah impiannya.
Ilena berjalan menyusuri taman kampus menuju kelasnya. Beberapa orang membicarakan tentang dirinya. Sepertinya ada gosip yang sedang beredar.
"Ada apa ini? Kenapa orang-orang melihatku dengan tatapan begitu?" batin Ilena.
Ilena mempercepat langkah kakinya. Ia tiba di kelasnya dan lagi-lagi mendapat tatapan tak enak dari teman-temannya. Ilena menyapa Myra dan Mona.
"Hai, Myra, Mona!" sapa Ilena ramah.
Kedua sahabat Ilena tak menjawab sapaan Ilena dan malah menatapnya tajam.
"Berapa banyak rahasia yang kau sembunyikan, hah?!" tanya Myra.
"Rahasia? Rahasia apa?" tanya Ilena bingung.
"Sudahlah! Jangan sok polos dan lugu. Gosipnya sudah beredar. Ternyata kau tidak seperti yang kami kira, Lena. Wajah manismu itu menyimpan banyak racun!" lanjut Myra.
"Hah?! Kalian bicara apa?" Ilena meminta jawaban yang pasti dari ketidaktahuannya.
"Itu..." Ilena menutup mulutnya. "Aku bisa jelaskan semuanya! Ini tidak seperti yang kalian lihat!" jelas Ilena.
"Sudahlah! Apa yang mau kau jelaskan? Semuanya sudah jelas! Kau bilang kau tidak tertarik dengan dosen baru itu. Tapi nyatanya kau malah berdua-duaan dengannya dan berdansa dengan mesra bersama Sir Noah!" sungut Mona.
Ilena menghela napas. Percuma saja menjelaskan pada mereka yang sedang di penuhi api kecemburuan.
"Sir Noah adalah teman kakakku. Dia datang ke pernikahan kakakku karena undangan dari kakakku." jelas Ilena.
"Lalu bagaimana dengan dansanya? Apa kau menggoda Sir Noah untuk berdansa denganmu?" cecar Myra.
"Hah?! Menggodanya? Mana ada! Itu hanya tidak sengaja saja. Aku hanya menyapanya agar lebih sopan. Terserah kalian mau percaya atau tidak!" kukuh Ilena.
Myra dan Mona terdiam. Tapi rasanya semua orang masih belum percaya pada Ilena.
"Tidak perlu menjelaskan apapun pada mereka!"
Tiba-tiba Noah datang dan menghampiri Ilena. Ia mendengar rumor yang kini beredar di kampus. Dan ia tahu pasti Ilena akan di cecar oleh teman-temannya.
"Yang meminta Ilena untuk berdansa adalah saya. Jadi, jangan menuduh Ilena yang bukan-bukan lagi! Cepat duduk di tempat kalian masing-masing. Dan ingat! Jangan ada yang membicarakan masalah pribadi di dalam kelas. Paham?" tegas Noah.
__ADS_1
Noah tahu jika masalah kemarin tidak akan selesai begitu saja. Belum lagi dirinya harus menghadapi dewan kampus yang akan menanyakan soal ini.
Sebisa mungkin Noah bersikap profesional di depan para mahasiswanya. Noah menatap Ilena yang terlihat sedih. Lagi dan lagi dirinya membuat Ilena terluka.
"Apa yang harus aku lakukan, Tuhan? Kenapa aku hanya bisa menyakitinya saja?" batin Noah menggeram.
Kelas mengajar Noah pun usai, ia keluar dari kelas dan menemui beberapa anggota dewan kampus yang ingin mengklarifikasi mengenai berita yang sedang beredar. Ternyata menjadi seorang pengajar bukanlah hal yang main-main.
Kehidupan Noah sebelum ini sangat berbeda dengan yang sekarang. Dulu ia memang sangat suka di sorot, tapi sekarang sekali di sorot, ada hal yang harus ia pertaruhkan.
Noah duduk di depan beberapa orang yang akan mengajukan beberapa pertanyaan kepadanya. Ia duduk dengan tenang karena di kehidupan sebelumnya ia sudah terbiasa menghadapi masalah yang lebih berat.
Noah menjawab dengan baik setiap pertanyaan yang diajukan oleh para petinggi universitas itu. Disini memang beginilah aturannya. Jika ada rumor yang beredar apalagi mengenai dosen dan mahasiswa, maka sang dosen harus di sidang dan bisa saja di berikan sangsi tegas.
Beruntung kali ini Noah tidak mendapatkan sangsi karena memang ia tidak melakukan kesalahan. Secara terang-terangan ia mengakui jika dirinya menyukai Ilena dan bahkan mencintainya.
Kisah cinta murid dan guru memang bukanlah hal yang asing. Tapi pihak dewan universitas berharap jika kelak Noah tidak akan membuat keributan lagi atau membuat gosip yang bisa membuat citra universitas menjadi buruk.
Noah keluar dari ruang sidang itu dan mendapat sorak sorai tepukan tangan dukungan dari para mahasiswa yang menjadi penggemarnya.
"Terima kasih atas dukungan kalian semua. Saya sangat menghargai apa yang kalian lakukan. Tapi, ada hal yang harus saya akui di depan kalian semua."
Para mahasiswa menatap Noah tak percaya. Tak terkecuali Myra dan Mona juga Ilena yang memang berdiri agak jauh dari kerumunan. Ilena sengaja menjauh karena tak ingin suasana bertambah runyam.
"Apa yang dikabarkan di media itu benar adanya. Saya dan Ilena..."
Semua orang mulai berbisik-bisik. Bahkan Ilena membulatkan mata tak percaya.
"Apa yang sedang dia lakukan?" gumam Ilena mulai resah.
"Saya menyukai Ilena. Tidak! Saya mencintainya. Jadi, jangan pernah membenci atau mengolok Ilena karena sayalah yang pertama menyukainya!" tegas Noah.
Semua orang terperangah dengan mulut yang terbuka. Noah berjalan membelah lautan orang yang berkerumun. Ia melangkah menuju pusat hidupnya saat ini. Dialah bintang hidup Noah. Dialah Ilena.
Noah berdiri berhadapan dengan Ilena.
"Aku serius dengan apa yang kukatakan. Jadi, mulai sekarang kau tidak perlu khawatir."
Ilena hanya diam. Sungguh ia tidak tahu harus berkomentar apa. Semua orang menatapnya. Ia sendiri juga tak berani menatap Noah.
"Ayo! Sebaiknya kita pergi dari sini!" Noah meraih tangan Ilena dan membawanya pergi dari banyaknya kerumunan orang yang ada disana.
#
#
__ADS_1
#