Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
17. Permintaan Eryn - Permainan Black


__ADS_3

-Kediaman Keluarga Evans-


Eryn menyiapkan makan malam untuk seluruh anggota keluarganya. Setelah kemarin ia ketahuan tidak meminta izin pada ibu mertuanya untuk bekerja ke luar negeri, kini Eleanor lebih mendisiplinkan menantunya itu agar tidak berbuat sesuka hatinya. Eryn tak bisa menolak. Ia harus menuruti keinginan Eleanor.


Tak ada yang bersuara ketika makan malam tengah berlangsung. Hanya terdengar suara dentingan sendok dan piring yang beradu.


Eleanor menatap sinis kearah menantunya. Dalam hati ia berkata, "Lumayan juga masakan wanita ini!"


Eleanor melahap habis makanan di piringnya begitu juga dengan Erica. Wanita yang sudah berusia 40 tahunan ini tidak memiliki rencana untuk menikah sedikitpun. Ia tidak tertarik untuk memiliki seorang suami. Baginya, pernikahan hanyalah hal yang merepotkan.


Saat Eleanor memintanya untuk mencari pasangan, Erica hanya menjawab,


"Lihat saja menantu kakak itu! Setiap hari hanya melayani suami dan anaknya. Meski dia lelah bekerja, dia juga punya ibu mertua yang cerewet seperti kakak yang akan menegurnya jika dia melakukan kesalahan sekecil apa pun. Hidup macam apa itu? Seumur hidup hanya akan mengabdi pada keluarga suaminya. Tidak! Aku tidak akan hidup seperti itu!" tegas Erica.


"Kau ini! Berani sekali bicara begitu!"


Dan setelah hari itu, Eleanor tidak pernah membahas soal pernikahan pada Erica dan hanya membiarkan wanita itu hidup sesuka hatinya.


Kembali ke meja makan keluarga Evans, Eric sesekali menatap Eryn yang duduk disampingnya. Entah kenapa hatinya mulai khawatir sejak ia menyetujui kontrak kerjasama bersama EB Company siang tadi.


"Eryn, jadi kau sudah bertemu dengannya di Brazil? Lalu kenapa kau tidak mengatakan apa pun? Apa terjadi sesuatu diantara kalian disana?" batin Eric merasa sendu dan was-was.


"Eric, kau kenapa, Nak? Wajahmu terlihat kurang sehat." Hanya Eleanor saja yang boleh melanggar aturan yang dia buat sendiri.


"Tidak apa, Bu. Mungkin aku hanya kelelahan saja," jawab Eric dengan tetap berusaha mengulas senyum.


"Kau dengar itu, Eryn? Kau harus lebih memperhatikan suamimu. Kau mengejar karir tapi suamimu kau abaikan. Jika tidak bisa mengurus keluarga dan karirmu, sebaiknya kau pilih salah satu saja!" ketus Eleanor.


"Bu, sudahlah. Aku tidak apa-apa. Ini bukan karena Eryn. Setelah ini aku akan minum vitamin dan beristirahat. Besok pasti kembali pulih," ucap Eric.


Erica yang melihat perdebatan itu hanya bisa memutar bola matanya malas dan tetap melanjutkan santap malamnya. Sedangkan Elza, ia segera membawa Noah pergi karena tidak ingin bocah kecil itu mendengar Eleanor memarahi Eryn.


"Aku akan lebih memperhatikan Eric lagi, Bu. Maafkan aku," sahut Eryn.


"Hmm, baguslah. Putraku ini menjalankan banyak bisnis. Jika dia sampai sakit, siapa yang akan menangani semua perusahaan? Bahkan anak kalian saja masih kecil." Eleanor menyudahi makan malamnya dan berlalu menuju kamarnya.


Eric menggenggam tangan Eryn. "Jangan dengarkan apa yang dikatakan ibuku. Aku baik-baik saja."


"Dia sudah mendengarnya, Eric. Untuk apa kau mengatakan itu semua? Aku sudah selesai. Aku akan ke kamar. Selamat malam." Erica pun ikut pergi meninggalkan meja makan.


"Maaf sudah membuat suasana menjadi tidak enak," ucap Eryn.


"Tidak perlu meminta maaf. Sebaiknya kita juga masuk ke kamar. Kurasa kau juga lelah karena sudah memasak makan malam," balas Eric.


Eryn mengangguk kemudian bangkit dari duduknya. Mereka berdua masuk ke kamar dan bersiap untuk tidur.


Eryn membersihkan diri di kamar mandi terlebih dahulu lalu kemudian Eric. Saat Eric keluar kamar mandi, ia melihat Eryn masih terjaga dengan menatap layar datarnya. Seperti biasa Eryn mengecek jadwal pekerjaannya untuk besok.


"Eryn..." panggil Eric.


"Hmm, ada apa?" balas Eryn dengan tetap menatap tablet pintarnya.


"Apa kau sudah bertemu dengannya?"


Eryn terhenti dan terdiam. Ia menatap Eric.


"Bertemu siapa?" tanyanya.


"Eldric. Dia masih hidup, bukan?"


Eryn kembali diam.


"Jadi dia yang memintamu mengatur acara ulang tahunnya?"

__ADS_1


"Eric..."


"Aku tahu kau juga pasti sangat terkejut. Aku sendiri juga sangat terkejut."


"Eric..."


"Dia memang terlihat berbeda. Tapi dia tetaplah orang yang sama, bukan? Aku akan bekerjasama dengannya. Kau tidak keberatan kan?"


Eryn menatap Eric. "Dia bukanlah Eldric. Dia adalah El-Black. Jadi, tolong jangan membahas ini lagi."


Eryn meletakkan tablet pintarnya diatas nakas lalu merebahkan tubuhnya. Ia berusaha memejamkan matanya.


Eric masih belum puas dengan pembahasan mengenai kembalinya Eldric.


"Apa yang akan kau lakukan jika Eldric tahu Noah adalah putranya?"


Seketika Eryn kembali bangun dan menatap Eric.


"Aku minta satu hal padamu. Jangan katakan apa pun tentang Noah. Aku mohon!" Eryn menangkupkan kedua tangannya. Matanya sudah berkaca-kaca.


"Tapi, tetap saja..."


"Tidak! Noah bukan putranya! Noah adalah putraku, hanya putraku! Jangan membahas ini lagi, Eric. Tolonglah!"


Eric menghela napas. "Baiklah. Kita akan menyudahi pembicaraan ini. Maafkan aku. Sekarang tidurlah!"


Eryn mengangguk. Ia kembali merebahkan tubuhnya, berusaha memejamkan mata meski itu terasa berat.


Mereka berdua sama-sama tak bisa memejamkan mata. Pikiran mereka saling beradu memikirkan apa yang akan terjadi esok hari dengan kehidupan mereka.


...🌹 🌹 🌹...


Tiga bulan telah berlalu sejak Eric bekerja sama dengan Black. Bisnis Eric makin lancar. Dan yang paling senang tentang hal ini adalah Eleanor dan Erica.


Tak ketinggalan, Eleanor juga membelikan beberapa set perhiasan berlian untuk Elza. Gadis 20 tahun itu hanya memutar bola matanya malas.


"Ibu, untuk apa ibu membeli semua ini? Meski Kak Eric sudah menghasilkan banyak uang, tapi tetap saja jangan membeli barang yang tidak diperlukan. Uangnya kita simpan saja di bank," kesal Elza.


Eryn tidak ikut campur dalam urusan keluarga Evans. Ia sadar jika dirinya adalah orang luar.


"Sudahlah, Elza. Ibu membelikan ini juga bisa kau jadikan tabungan. Anggap saja begitu," nasehat Eryn pada Elza.


"Sepertinya hanya Kak Eryn saja di rumah ini yang bisa kuajak bicara. Terima kasih, Kak."


Eryn hanya tersenyum menanggapi kekesalan adik iparnya.


.


.


.


Siang itu, Eryn sedang berkutat dengan pekerjaannya ketika Lolita menginterupsi dan mengatakan jika ada seseorang yang ingin bertemu dengannya. Eryn terkejut karena ternyata Carlos lah yang ingin menemui dirinya.


"Kita bertemu lagi, Nyonya. Apa kabar?" sapa Carlos.


Eryn menghela napas. "Ada keperluan apa kau datang kemari?" tanya Eryn tak ingin berbasa-basi. Ia tahu jika kedatangan Carlos pasti menyangkut Black.


"Tuan Black ingin bertemu Nyonya. Bisakah Nyonya ikut denganku?"


"Aku tidak ingin bertemu dengannya atau bahkan punya urusan lagi dengannya. Katakan itu padanya!" tegas Eryn.


Carlos tersenyum seringai. Ia dan tuannya sama saja. Sama-sama pemaksa dan tidak menerima penolakan.

__ADS_1


Carlos menunjukkan layar ponselnya yang memperlihatkan foto Noah, putra Eryn.


"Hah?! Kalian!" Eryn mengepalkan tangannya.


"Ayolah, Nyonya. Jangan mempersulit diri Anda sendiri. Ikutlah denganku!" ucap Carlos.


Merasa tak memiliki pilihan, akhirnya Eryn ikut bersama Carlos untuk menemui Black.


Mobil yang dibawa Carlos memasuki sebuah hotel yang terlihat seperti bangunan baru. Eryn terbelalak.


"Mau apa kau membawaku kesini?" tanya Eryn.


"Tuan Black menunggu Anda, Nyonya. Ini kunci kamarnya." Carlos menyerahkan sebuah kartu pada Eryn.


Eryn berjalan memasuki bangunan baru itu. Seingatnya dulu disini adalah hotel terbengkalai yang sudah lama ditinggalkan pemiliknya karena bangkrut.


"Bagaimana bisa bangunan ini berdiri lagi? Dan didalamnya juga lebih mewah dari yang sebelumnya," batin Eryn.


Eryn tiba di sebuah kamar dengan nomor yang sama dengan yang tertera di kartu. Ia menempelkan kartu itu kemudian pintu pun terbuka.


Black dengan merentangkan tangannya menyambut kedatangan Eryn.


"Selamat datang, Senorita..."


Eryn masih mematung di depan pintu.


"Masuklah!" perintah Black dengan mengulas senyumnya.


Karena mendapat sambutan yang hangat, Eryn pun masuk kedalam kamar itu. Black langsung memeluk Eryn. Mendekapnya erat untuk melepaskan kerinduannya.


"I really miss you, Eryn..." ucap Black. Eryn tak membalas pelukan Black ataupun membalas kalimatnya.


Black mengurai pelukannya dan menatap wanita cantik itu. Pria itu merangkum wajah Eryn.


"Kau sangat cantik. Semakin kau beranjak dewasa, kau semakin cantik." Black mendekatkan wajahnya untuk mengikis jarak diantara mereka.


Namun ternyata Eryn bereaksi lain. Ia memalingkan wajahnya ketika Black ingin menciumnya. Pria itu tak menyerah. Ia terus mencoba, namun Eryn juga terus menghindar.


Black mundur lalu duduk di sofa. Ia mengambil remote control dan menyalakan televisi.


Eryn terbelalak ketika melihat apa yang ditampilkan di layar TV. Itu adalah rekaman dimana dirinya dan Black sedang berciuman di kamar hotel beberapa waktu lalu. Eryn yang dengan tangan terbuka menerima cumbuan Black secara nyata terpampang disana.


"Apa maumu?!" teriak Eryn. Air matanya sudah hampir tumpah namun sebisa mungkin ia tahan.


"Aku menginginkanmu, Nyonya Evans..."


Eryn menggeleng. "Kau gila! Kau bukanlah, Eldric!" teriak Eryn lagi.


Kakinya melangkah pergi dari kamar itu.


"Jika kau keluar dari pintu itu, maka ... video ini akan kukirimkan kepada suamimu dan juga keluarganya," ancam Black.


Eryn berbalik badan dan menatap tajam Black.


"Meski kita tidak melakukan apa pun didalam rekaman itu, tapi apa yang orang pikirkan jika melihat ini? Seorang Nyonya muda keluarga Evans ternyata berselingkuh dengan pria yang lebih kaya dari suaminya..."


"Kau! Apa maumu?!" Tangis Eryn akhirnya pecah.


"Aku ... ingin menghancurkanmu, Eryn Evans. Kau dan suamimu itu ... akan kuhancurkan!" Black berdiri dan menghampiri Eryn.


"Bersiaplah, Eryn! Penderitaanmu akan segera dimulai..."


...B e r s a m b u n g...

__ADS_1


*Aaarrgggghh! Gak tega bikin lanjutannya euy 😭😭😭


__ADS_2