
Enam tahun kemudian,
"Mommy, Mommy!"
Seorang pria kecil berseru sambil berlarian menghampiri ibunya yang sedang memasak di dapur.
"Mommy!"
"Ada apa, sayang?" balas sang ibu yang tak lain adalah Eryn.
"Hari ini Mommy belum memberikan aku sebuah pelukan dan sebuah ciuman!" rengek si bocah kecil itu pada Eryn.
Eryn tertawa kecil. Kemudian ia mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh putranya. Lalu ia mengecup kedua pipi bocah itu dan memberikan sebuah pelukan.
"Sudah! Sekarang kau temui Daddy ya!"
"Baik, Mommy." Bocah kecil itu segera berlari menuju ayahnya yang sedang membaca berita di tablet pintarnya.
"Daddy!" serunya.
"Halo, sayang. Wah, kau sudah rapi. Kau siap berangkat ke sekolah?"
"Tentu saja, Daddy. Daddy, berikan aku pelukan dan ciuman!"
"Oh, anak Daddy. Tentu saja!" Eric segera mengangkat tubuh kecil itu kedalam pangkuannya.
Dengan gemas Eric menciumi seluruh wajah Noah. Ya, Eryn memberi nama putranya dengan nama Noah. Entah kenapa ia menyukai nama itu.
"Hentikan, Daddy! Geli!" pinta Noah.
"Hei, kalian hanya bermain berdua saja! Kenapa kau tidak mengajak Bibi juga, huh?" sungut Elza yang baru turun dari lantai atas.
"Bibi Elza, aku juga mau dicium Bibi."
"Oh, tentu saja. Bibi bahkan akan memberikan hal yang lebih padamu." Elza mencium kedua pipi gembul Noah kemudian menggelitik pinggang bocah itu.
"Ampun, Bibi!"
Suara riuh gelak tawa terdengar di ruangan itu. Hingga akhirnya semua mendadak terdiam karena kedatangan Eleanor.
"Sudah! Sudah! Apa yang kalian lakukan? Cepat pergi ke meja makan! Bukankah sudah saatnya untuk sarapan. Elza, bukankah kau harus berangkat kuliah?"
"Iya, Bu. Ayo, Noah. Kita ke meja makan!" ajak Elza dengan menggandeng tangan mungil Noah.
"Ayo, Bibi."
.
.
.
Suasana sarapan pagi di kediaman keluarga Evans selalu khidmat. Eleanor adalah seorang ibu yang disiplin dan tegas. Tak ada yang berani membantah perintahnya di rumah besar itu. Ia menatap putra sulungnya yang nampak makan dengan tenang bersama dengan istrinya.
Sejak kematian Chris lima tahun lalu, Eric mengambil alih seluruh tanggung jawab perusahaan. Dan hal itu membuat Eric harus bekerja keras untuk menghidupi keluarga dan para karyawannya.
"Eh, Noah, apa kau tidak ingin memiliki seorang adik? Kau sudah berusia lima tahun, harusnya kau memiliki seorang adik. Cepat bilang pada Mommy dan Daddy agar memberimu seorang adik," celetuk Elza di sela-sela aktifitas makannya.
Sontak semua orang menoleh pada Eric dan Eryn.
"Benar, Bibi. Teman-teman sekolahku juga sudah memiliki adik. Mommy, Daddy, berikan aku adik!"
"Eh?" Eric dan Eryn saling pandang. Sejurus kemudian Eryn menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Eric tersenyum menanggapi permintaan Noah.
"Sayang, memiliki seorang adik tidak semudah yang kau pikirkan. Sekarang kau habiskan makananmu lalu kita berangkat ke sekolah. Mengerti?" sahut Eric.
"Iya, Daddy," jawab Noah terlihat kecewa.
Sementara Eleanor hanya tersenyum sinis sambil melirik kearah Eryn yang masih tertunduk sambil menyuap makanan kedalam mulut.
Usai sarapan, seperti biasa Eleanor menemui Eric di ruang kerjanya. Wanita paruh baya itu ingin meminta uang kepada Eric.
"Mau sampai kapan kalian begini, huh?!" ucap Eleanor.
"Siapa maksud Ibu?"
"Siapa lagi? Kau dan wanita itu!" kesal Eleanor.
"Bu, wanita itu adalah istriku!" balas Eric dengan masih bersuara lembut.
"Kalian sudah menikah selama enam tahun, tapi tidak sedikitpun aku melihat cinta dari sorot mata wanita itu. Kau lihat tadi? Dia bahkan tidak peduli saat putranya meminta seorang adik. Eric, sebenarnya apa yang terjadi?"
"Bu, tidak ada yang terjadi, kami baik-baik saja. Ada apa Ibu menemuiku? Apa Ibu butuh uang lagi?" Eric mengalihkan pembicaraan. Ia sangat paham Ibunya datang hanya untuk meminta sejumlah uang padanya.
Eleanor tersenyum manis di depan putranya. "Ibu dan Bibimu akan pergi ke luar kota. Ada perhiasan yang akan dipamerkan di sebuah gallery disana. Ibu harap kau bisa menanganinya jika Ibu membutuhkan bantuanmu."
"Baiklah, Bu. Aku akan mengurusnya." Hanya dengan cara ini Eric menutup mulut ibunya agar tidak mencampuri urusan rumah tangganya bersama Eryn.
Sepeninggal Eleanor, Eryn yang ternyata berdiri dibalik pintu hanya bisa terdiam. Ia mendengar semua pembicaraan antara ibu dan anak itu.
Eric yang keluar dari ruang kerjanya dikejutkan dengan sosok Eryn yang sedang melamun di balik pintu.
"Eryn? Apa yang kau lakukan disini?" tanya Eric.
"Eh? I-iya. Aku ... Aku..." Eryn tergagap.
"Jangan pikirkan apa yang dikatakan ibuku!" ucap Eric.
"Eh?" Eryn pura-pura tak tahu.
"Ini, tolong pakaikan dasiku!" Eric menyodorkan sebuah dasi di depan Eryn.
Wanita itu tersenyum manis kemudian mengambil dasi dari tangan Eric. Eryn memakaikan dasi dengan gerakan lembut dan posisi yang begitu intim dengan Eric.
Eric yang merasakan hembusan napas Eryn seketika mematung. Ia memperhatikan wajah istrinya yang begitu dekat dengannya. Bibir tipis itu menggoda Eric. Tapi sekali lagi, ia tidak akan lancang menyentuh jika si empunya tidak mengizinkan.
Pernikahan yang berjalan enam tahun ini ia lalui dengan berat karena tak sedikitpun ia berani menyentuh Eryn. Namun rasa cinta yang amat besar membuatnya tetap bertahan dan masih bersabar untuk menunggu cintanya bersambut.
"Sudah enam tahun, Eryn. Tak bisakah kau mengeluarkan Eldric dari dalam hatimu dan menerima perasaanku?" batin Eric sendu.
"Oke! Sudah selesai!" seru Eryn.
Eric tersenyum kemudian mendaratkan sebuah kecupan di kening Eryn. Ya, hanya itu yang bisa Eric dapatkan selama mereka menikah. Mencium kening sebagai tanda cinta sebagai pasangan suami istri.
"Ayo! Noah pasti sudah menunggu!" ucap Eric kemudian berlalu.
Eryn yang masih terdiam merasakan sebuah penyesalan karena sudah membuat Eric dalam posisi yang sulit. Eryn mengikuti langkah Eric menuju ke halaman depan rumah dimana Noah sudah menunggu.
"Mommy, aku berangkat sekolah dulu!" Noah masuk kedalam mobil kemudian melambaikan tangan.
"Iya, sayang. Belajar yang rajin ya! Jangan nakal di sekolah!"
Eric pun ikut masuk ke dalam mobil dan melambaikan tangan pada Eryn.
"Bye! Hati-hati di jalan!" ucap Eryn.
__ADS_1
Setelah mengantar kepergian anak dan suaminya, Eryn akan kembali masuk kedalam rumah namun bertemu dengan Elza.
"Eh, kakak ipar? Apa kakak akan ke kantor?"
"Iya, Elza. Kau akan berangkat kuliah?"
"Iya, Kak. Kalau begitu aku pergi dulu ya!"
Eryn mengangguk.
"Eh, kak. Jangan lupakan permintaan Noah tadi, hehe."
Eryn tersenyum getir kemudian masuk ke dalam rumah. Ia menuju kamarnya. Ia duduk diam di tepi ranjang.
"Maafkan aku, Eric. Aku masih belum bisa membuka hatiku untukmu. Maafkan aku..."
......***......
Sao Paulo, Brazil
Seorang pria bertubuh tinggi tegap berjalan cepat keluar dari bandara bersama dengan asistennya yang setia mendampingi.
"Setelah ini, apa jadwalku selanjutnya, Carlos?" tanya pria itu.
"Tuan ada janji makan malam dengan nona Rose," jawab Carlos.
"Hmm, begitu ya! Dia pasti kesepian karena aku meninggalkannya cukup lama kali ini." Pria itu melirik jam tangannya.
"Kita pergi ke markas dulu! Bukankah ada hal yang harus kau laporkan, Carlos?" lanjutnya.
"Baik, Tuan."
Kedua pria itu berjalan menuju mobil yang sudah menanti kedatangan mereka. Kemudian mobil melaju menuju sebuah bangunan besar yang jauh dari kota.
Tiba di sebuah bangunan yang digunakan sebagai markas dari organisasi bernama 'Amigo', pria itu turun dan langsung disambut oleh anak buahnya yang berjaga di luar bangunan.
"Selamat datang, Tuan Black!" seru para anak buah pria itu.
Pria itu hanya mengangguk dan tetap berjalan masuk.
Tiba di sebuah ruangan khusus, pria itu duduk di kursi kebesarannya.
"Bagaimana? Apa lagi yang kau dapatkan?" tanya si pria.
"Masih sama, Tuan. Tak ada yang berubah," jawab Carlos.
"Hmm?" Pria itu mengusap dagunya.
"Aku rasa hubungan mereka tidak sejauh yang Tuan bayangkan!"
BRAK!
Pria itu menggebrak meja.
"Jangan berani berkomentar soal ini, Carlos! Sebaiknya kau keluar dan urus orang-orang yang tidak becus bekerja. Habisi mereka bila perlu!"
Carlos menghela napas. "Baik, Tuan. Aku permisi!"
Sepeninggal Carlos, pria berjuluk El-Black itu kembali memandangi foto yang dikirim oleh anak buahnya.
"Bersiaplah kalian! Kalian akan mendapat balasan atas apa yang kalian lakukan padaku!" gumam Black dengan meremaas foto itu dan membuangnya ke dalam tong sampah.
...B e r s a m b u n g...
__ADS_1
*Hmm, apakah Black adalah Eldric yang bangkit dari kematian? Lalu, apa yang di rencanakan olehnya?