Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
23. Tinggalkan Dia!


__ADS_3

Beberapa jam sebelumnya...


Eleanor tiba di kediamannya dan langsung menuju ke kamar Eryn. Amarahnya sudah mencapai ubun-ubun setelah mengetahui semua kebohongan wanita itu. Ia menatap foto pengantin Eric dan Eryn yang terpajang di kamar itu.


Eleanor mengambil dan membantingnya. Bingkai foto itu pecah berserakan.


Mendengar suara keributan dari kamar Eryn, Matilda segera menuju kesana. Ia menutup mulutnya melihat Eleanor membuang semua barang-barang Eryn.


"Nyonya? Apa yang Anda lakukan?" tanya Matilda.


"Pelayan! Pelayan!" teriak Eleanor.


Dua pelayan datang menghampiri Eleanor.


"Iya, Nyonya," jawab si pelayan.


"Bereskan semua barang-barang wanita itu dan keluarkan dari sini!" perintah Eleanor.


Matilda terkejut dengan perintah nyonya besarnya itu.


"Ada apa ini, Nyonya?" tanya Matilda dengan masih tak paham dengan situasi yang terjadi.


"Kau! Apa kau tahu jika selama ini wanita j4lang itu membohongi kami?" Eleanor mencecar Matilda dengan mencengkeram kedua bahunya.


"Ibu! Apa yang Ibu lakukan?" Elza datang karena mendengar keributan dari kamar kakaknya.


"Lihatlah ini! Kakak ipar tersayangmu itu ternyata sudah membohongi kita semua! Noah bukanlah anak kakakmu!" cerita Eleanor.


Elza membulatkan mata. "Itu tidak mungkin, Bu!"


"Ini! Aku sudah melakukan tes DNA dan disitu tertulis jika Eric bukan ayah biologis Noah!" Eleanor memberikan hasil tes DNA pada Elza.


Matilda menggeleng pelan. Selama ini ia sendiri juga tidak tahu jika Eryn menyimpan rahasia sebesar ini. Dirinya memang dekat dengan Eryn, tapi ia tak pernah mencampuri urusan pribadi wanita itu termasuk urusan asmaranya.


Elza mematung tak percaya dengan apa yang dibacanya.


"Lalu, apa yang akan Ibu lakukan?" tanya Elza.


"Aku akan mengusir wanita itu dari rumah ini! Dia tidak berhak tinggal disini lagi!" tegas Eleanor.


Belum usai keributan yang terjadi di kamar Eryn, seorang pelayan dengan tergesa menghampiri Eleanor.


"Ada apa?" tanya wanita itu.


"Begini Nyonya, ada seorang wanita yang ingin bertemu dengan Nyonya," ucap si pelayan.


"Huh! Siapa lagi yang datang?" Eleanor berjalan keluar dari kamar. Tak lupa ia memberi pesan pada kedua pelayan untuk tetap membereskan semua barang-barang Eryn.


Eleanor menemui tamunya. Ia mengernyit heran melihat siapa yang datang menemuinya.


"Kau?"


"Selamat sore, Nyonya Eleanor. Aku Lolita," sapa wanita muda itu.


"Iya, iya, aku mengenalmu. Kau adalah teman kerja Eryn, bukan? Ada apa kau datang kemari?" tanya Eleanor menyelidik.


"Maaf jika aku mengganggu waktumu. Tapi, kurasa aku sudah tidak bisa menunggu lagi." Lolita menyerahkan sebuah amplop pada Eleanor.


"Apa ini?" tanya Eleanor sambil membuka amplop tersebut.

__ADS_1


Wanita paruh baya itu makin mengerutkan keningnya tak paham dengan maksud Lolita.


"Kau hamil? Lalu untuk apa kau datang kemari?" tanyanya.


"Anak yang kukandung adalah cucumu, Nyonya."


"Apa katamu?!"


Kemudian Lolita menceritakan semua yang terjadi padanya dan Eric. Eleanor menggeleng pelan tidak percaya.


"Ini tidak mungkin!" lirihnya.


"Tapi semua ini benar, Nyonya. Jika Nyonya tidak percaya, Nyonya bisa bertanya pada Eric," ucap Lolita.


"Bagaimana bisa Eric mengkhianati istrinya?" Eleanor menghela napas kasar. Tubuhnya terasa lemas menghadapi satu lagi masalah yang terjadi pada keluarganya.


...πŸ€πŸ€πŸ€...


Langkah gontai Eryn akhirnya tiba di sebuah rumah sederhana milik Santa. Sebelumnya ia menghubungi Santa dan meminta tolong pada gadis itu. Kebetulan gadis itu tinggal sendiri dan mengizinkan Eryn untuk tinggal disana.


"Terima kasih karena kau mau menampungku. Aku janji ini hanya sementara. Aku akan mencari tempat tinggal sendiri," ucap Eryn.


Santa hanya menatap iba mantan bosnya itu.


"Jangan sungkan, Nyonya. Selama ini Nyonya sudah banyak membantuku."


"Jangan memanggilku 'nyonya'. Aku bukan lagi bosmu."


"Bagiku Nyonya tetaplah bosku."


Eryn tersenyum mendengar kalimat Santa. Ternyata masih ada orang baik yang bersedia menolongnya.


.


.


.


Keesokan harinya, Eleanor menemui Ramoz dan meminta pria itu untuk mengurus proses perpisahan antara Eryn dan Eric. Eleanor sudah tidak tahan lagi dengan semua ini. Ia ingin segera mengakhiri semuanya.


Tak butuh waktu lama, semua berkas telah siap untuk ditandatangani oleh Eric. Siang itu juga Eleanor menemui Eric di kantor kejaksaan.


Tanpa berbasa-basi, Eleanor menyodorkan berkas untuk ditandatangani oleh Eric.


"Apa ini, Bu?" tanya Eric.


"Mau sampai kapan kau terus membohongi ibumu, hah?! Demi wanita itu kau rela membohongi keluargamu! Sekarang tidak ada lagi maaf baginya. Cepat tandatangani berkas perpisahan kalian!"


"Ibu! Ada apa sebenarnya?"


"Kau masih berani bertanya? Noah bukan anakmu kan? Selama ini kita dibohongi oleh wanita itu!" geram Eleanor.


"Aku sudah tahu, Bu. Dan aku tidak mempermasalahkan itu."


"Tidak bisa begitu, Eric. Pokoknya Ibu tetap tidak setuju kau masih bersama dengannya. Tinggalkan dia, Eric! Kau bahkan sudah mengkhianati pernikahanmu!"


"Apa maksud Ibu?" Eric mengernyit tak paham dengan ucapan ibunya.


"Ini! Seorang wanita bernama Lolita datang dan mengatakan jika dirinya mengandung anakmu. Apa kau mengenalnya?" Eleanor menyodorkan sebuah hasil USG pada Eric.

__ADS_1


"Apa?!" Eric menutup mulutnya tak percaya.


"Maafkan aku, Bu. Aku tidak sengaja melakukannya. Aku benar-benar diluar kendali saat itu," jujur Eric.


"Astaga!" Eleanor memijat pelipisnya pelan. "Ujian macam apa lagi ini?"


Eric tertunduk lesu melihat kilatan amarah di wajah ibunya.


"Kau harus bertanggungjawab pada wanita itu! Dia mengandung anakmu!"


"Tapi, Bu..."


"Tidak ada tapi! Belajarlah menjadi pria sejati, Eric! Kau bahkan bertanggungjawab pada bayi yang bukan milikmu. Dan sekarang ini adalah darah dagingmu sendiri. Kau harus menerima itu!"


"Apa Ibu menyetujuinya?"


Eleanor menghela napas. "Huft! Dengan sangat terpaksa iya. Dia mengandung cucuku. Apa boleh buat! Cepat tandatangani dan kami akan mengurus kebebasanmu dari sini!"


"Baiklah. Aku akan menandatanganinya. Tapi ... Bisakah aku bertemu dengan Eryn? Suruh dia datang kemari, Bu!"


"Tidak bisa! Wanita itu sudah kuusir! Kau tidak perlu lagi berhubungan dengannya!"


Eleanor melenggang pergi setelah mengatakan hal yang ingin ia sampaikan. Eric menatap nanar lembaran kertas yang ada di depannya.


"Maafkan aku, Eryn. Aku benar-benar tidak bermaksud menyakitimu..." Eric mengambil bolpoin diatas meja kemudian membubuhkan tanda tangannya dikertas itu.


...🌿🌿🌿...


Lolita menghubungi Eryn dan meminta untuk bertemu dengannya. Ya, sepertinya ada yang harus diluruskan dalam persahabatan mereka.


Eryn setuju dan meminta Lolita menemuinya di sebuah kafe. Mereka duduk saling berhadapan.


Masih belum ada yang bicara di antara mereka berdua. Eryn menatap tubuh Lolita yang memang sedikit berisi karena kehamilannya. Ia sendiri bingung kenapa selama ini ia tidak memperhatikannya?


"Kenapa? Kau baru menyadarinya, huh? Tubuhku banyak berubah semenjak mengandung anak Eric," ucap Lolita pada akhirnya.


"Karena kau memang tidak pernah peduli pada siapapun, Eryn. Kau hanya peduli pada dirimu sendiri," sarkas Lolita.


"Oh ya, aku menemuimu karena aku diminta nyonya Eleanor untuk memberikan ini padamu." Lolita menyodorkan sebuah map kearah Eryn.


"Eric sudah menandatangani berkas perceraian kalian. Jadi, sebaiknya kau juga cepat tandatangani dan jangan pernah muncul lagi di hadapan kami!"


Eryn menatap sendu berkas-berkas itu. Meski dirinya tidak memiliki rasa terhadap Eric, namun bukan seperti ini akhir yang ia inginkan.


"Kenapa, Lol? Kenapa kau melakukan ini?" Akhirnya Eryn bersuara.


"Kau tanya kenapa? Kau sendiri tahu jawabannya."


Eryn mengernyit bingung.


"Apa kau pernah memberikan apa yang Eric inginkan? Selama enam tahun kau tidak pernah mengizinkan Eric untuk menyentuhmu. Kau pikir dia tahan?"


Eryn terdiam.


"Aku rela menggantikanmu karena aku melihat ketulusan cinta dari dalam matanya. Dia tulus mencintaimu, Ryn. Tapi kau tidak pernah melihat itu. Kau selalu dihantui bayangan masa lalumu yang telah menghilang. Dan apa? Apa sekarang kau akan menyalahkan aku? Tidak! Kau tidak menyalahkan aku! Ini semua adalah salahmu!" tunjuk Lolita dengan berapi-api.


"Sekarang tinggalkan dia, Ryn! Biarkan aku yang mencintainya meski dia selalu menyebut namamu. Aku rela hanya sebagai pengganti dirimu!"


Eryn tertegun. Buliran bening itu akhirnya luruh juga. Dengan tangan gemetar ia menerima bolpoin dari tangan Lolita.

__ADS_1


...B e r s a m b u n g...


__ADS_2