Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
111. Masalah Baru


__ADS_3

Usai perdebatan yang cukup sengit mengenai surat wasiat Brian, Ilena kini bisa bernapas lega karena Sorena mengizinkannya untuk tinggal di panti asuhan. Meski ia harus melepaskan embel-embel sebagai putri keluarga Adams, setidaknya ia akan hidup lebih bahagia bersama dengan anak-anak panti asuhan.


Mendengar keputusan Ilena, tentu saja Emanuel sangat kecewa. Ia gagal untuk menjalankan wasiat Brian yang menginginkan Ilena bisa hidup dengan tenang dari harta warisan miliknya.


Bahkan di hari yang sama, Ilena membereskan barang-barangnya dan berniat langsung pindah ke panti asuhan. Emanuel menawarkan diri untuk mengantar Ilena. Sekali lagi ia harus bicara dengan gadis ini. Siapa tahu ia akan berubah pikiran. Begitulah pikir Emanuel.


Ilena berpamitan dengan Sorena dan Selena, juga Ralph. Hanya ada senyuman bahagia dari wajah Selena yang akhirnya berhasil menyingkirkan Ilena dari hidupnya. Selena yakin dengan begini Ilena tidak akan bisa mengganggu hubungannya dengan Red.


Sebelum benar-benar pergi, Ilena berpamitan pada Monica dan Raff, juga Tom. Merekalah keluarga Ilena selama ia tinggal di rumah ini.


"Terima kasih atas kebaikan hati kalian selama ini," ucap Ilena.


"Bibi berharap bisa bertemu dengan Nona lagi," balas Monica.


"Tentu saja. Bibi bisa menemuiku di panti asuhan. Begitu juga dengan Paman Raff dan Tom."


Usai berpamitan, Ilena segera keluar dari rumah besar yang sudah memberinya banyak kenangan. Meski lebih banyak kenangan pahit, namun Ilena tetap bersyukur karena bisa memiliki kenangan bersama ayahnya.


Emanuel mengantarkan Ilena hingga tiba ke panti asuhan. Ilena tersenyum lega karena akhirnya ia bisa melakukan apa yang ia inginkan.


Ilena turun dari mobil Emanuel. Pria itu tampak melihat sekeliling panti asuhan. Tempatnya cukup luas namun seperti tidak terawat.


"Nona yakin akan tinggal disini?" tanya Emanuel sekali lagi. Ia masih berharap Ilena berubah pikiran.


"Aku yakin, Tuan Pengacara. Lagipula disinilah rumahku. Sejak kecil ibu mengasingkan aku disini. Tempat ini adalah rumah yang sesungguhnya dalam hidupku."


"Lalu, apa yang akan Nona lakukan dengan saham milik Nona?"


Ilena berpikir sejenak. "Bisakah aku menggunakannya untuk membangun panti asuhan? Maksudku bangunannya sudah tidak layak dan aku ingin merenovasinya."


"Bisa saja, Nona. Jadi, Nona akan menggunakannya untuk ini?" tanya Emanuel sekali lagi.


"Iya. Tolong di urus ya, Tuan Pengacara."


Emanuel menghela napas. "Baiklah, Nona. Oh ya, ini kartu nama saya. Jika Nona butuh bantuan apapun, silakan hubungi saya."


"Terima kasih, Tuan Pengacara. Kalau begitu aku masuk dulu ya!"


Ilena berpamitan dengan Emanuel dan masuk ke dalam bangunan panti. Suara teriakan anak-anak panti menyambut Ilena dengan gembira terdengar hingga keluar. Emanuel tersenyum lega karena Ilena menemukan kebahagiaannya.


...###...

__ADS_1


Keesokan paginya, Ilena menyiapkan makanan untuk anak-anak panti asuhan. Ilena sangat suka melihat ekspresi anak-anak panti yang terlihat gembira.


Namun ada hal aneh yang Ilena baru sadari. Sejak dia datang ke panti, Johan sama sekali tidak terlihat pulang ke panti. Ilena bertanya pada Jessie, anak tertua di panti, namun ia bilang tidak tahu soal keberadaan Johan.


Ilena mulai sedikit cemas. Ia takut jika pria itu membuat masalah lagi dengan cassino yang kemarin.


Saat Ilena bertanya pada Jessie apakah dua pria kembar berbadan besar datang lagi ke panti, dia menjawab tidak ada yang datang. Meski ia tak ingin berpikiran buruk tentang Johan, tapi tetap saja Ilena merasa cemas. Johan sudah banyak berubah sejak kematian Amelia.


Dan benar saja, kecurigaan Ilena dan rasa tak tenang dalam hatinya memang benar adanya. Johan kembali membawa masalah baru untuk anak-anak panti.


Satu minggu Ilena tinggal di panti asuhan, satu minggu pula ia tidak melihat Johan dan kini dua orang pria kembar berbadan besar kembali datang ke panti asuhan.


"Cepat katakan dimana Johan?" tany pria berbadan besar itu.


Ilena benar-benar tidak tahu perihal keberadaan Johan. Ia mencoba menjelaskan dan sebisa mungkin tidak membuat kedua orang itu marah.


"Apa masalah yang dibuat oleh tuan Johan kali ini?"


Satu pria besar itu mendekati Ilena dan memindai penampilan Ilena dari atas sampai bawah.


"Tuanmu itu sudah membawa kabur uang cassino kami. Dan dia mengatakan jika panti asuhan ini adalah jaminan untuk membayar hutang-hutangnya."


"Tidak! Itu pasti tidak benar!"


"Jika kau tidak percaya kami punya buktinya!"


Salah seorang pria bertubuh besar itu menyerahkan selembar kertas pada Ilena. Itu adalah surat perjanjian yang di tandatangani oleh Johan. Memang benar jika pria itu sudah menjadikan bangunan panti asuhan sebagai jaminan atas hutang-hutangnya.


Namun ternyata Johan juga tidak bodoh. Dia menjaminkan panti asuhan, tapi dia juga berhasil kabur dengan uang yang dicurinya dari cassino. Dia mengorbankan anak-anak panti sebagai penebus hutangnya.


Tubuh Ilena beringsut ke tanah. Tega sekali Johan melakukan ini pada anak-anak panti yang sangat disayangi oleh mendiang istrinya. Ilena ingat pesan Amelia sebelum dia menutup mata. Amelia meminta Ilena untuk mengurus panti asuhan. Hanya Ilena saja yang ia percaya.


Tangis Ilena pecah. Ia tak sadar jika orang-orang itu mulai mengusir anak-anak dari bangunan panti. Ilena tak boleh lemah sekarang. Dia harus bisa mempertahankan bangunan ini.


"Hentikan!" teriak Ilena.


Ilena menatap tajam kedua orang pria yang membawa beberapa anak buah untuk mengosongkan panti asuhan.


"Jangan ambil panti asuhan ini! Aku akan membayar semua hutang Tuan Johan pada kalian," tegas Ilena.


Kedua pria itu saling pandang kemudian tertawa. Diikuti oleh pria bertubuh besar lainnya. Mereka menertawakan Ilena yang kini dalam posisi lemah.

__ADS_1


"Gawat! Bagaimana ini? Apa aku harus menghubungi tuan Emanuel? Tapi jika senua sahamku untuk membayar hutang tuan Johan, lalu anak-anak panti makan apa untuk kedepannya?" batin Ilena berusaha berpikir keras.


Salah satu si pria kembar menghampiri Ilena.


"Aku rasa aku punya solusi untuk masalahmu, Nona," bisik pria itu ke telinga Ilena.


Ilena membulatkan matanya. Ia menatap pria itu dengan sorot mata tajamnya. Ya, Ilena memang memiliki sorot mata tajam yang seakan bisa menusuk mata orang yang menatapnya.


"Kau sudah tidak punya pilihan, Nona. Ikuti saja saran dariku," tawar pria itu lagi.


"Apa saran darimu?" tanya Ilena dingin.


"Kau bekerjalah pada klub kami. Kau bekerja disana hingga kau bisa melunasi hutang-hutang si Johan itu. Bagaimana?"


"A-apa?! Bekerja di klub?" Ilena menelan ludahnya kasar. Seumur hidup ia tak pernah melakukan pekerjaan seperti itu.


"Pekerjaan seperti apa yang ada di klub?" tanya Ilena polos.


Pria itu tersenyum seringai. "Banyak. Nanti biar Madam Jane yang menentukannya."


Ilena mengepalkan tangannya. Sungguh ia tak memiliki pilihan lain. Ia memejamkan matanya sejenak.


"Baiklah. Aku terima tawaranmu!"


#


#


#


Mampir juga ke karya emak yg lain genks 👇👇👇👇






__ADS_1




__ADS_2