
Pagi harinya, Eryn terbangun dari tidurnya dan tak mendapati Black ada disampingnya. Eryn duduk di tepi ranjang dan memikirkan banyak hal. Saat kemarin dia masih di rumah sakit, orang-orang suruhan ayahnya menemui dirinya.
"Tuan Kim ingin Nona ikut bersama kami ke Seoul."
Eryn tak langsung menjawab. Ia berpikir sejenak.
"Sampaikan pada ayahku jika aku belum bisa memutuskannya. Saat ini keluarga suamiku memerlukan aku. Aku tidak bisa pergi. Aku titip Noah pada ayahku untuk sementara. Jika waktunya sudah tepat, aku pasti akan memberikan jawaban pada ayahku."
Eryn memejamkan mata. Seumur hidup ia tidak pernah mengenal keluarga lain selain keluarga Albana. Bagaimana bisa sekarang Eryn harus meninggalkan mereka di saat mereka kini sedang dalam masalah? Terlebih lagi Rose. Dia sedang membutuhkan Eryn saat ini.
Usai membersihkan diri, Eryn keluar kamar dan menemui Black. Ternyata suami Eryn itu sedang bersama Rose di taman belakang. Mereka menikmati sejuknya pagi hari ini.
Black yang melihat sosok Eryn, langsung menghampiri istrinya itu.
"Selamat pagi," sapa Black.
"Selamat pagi. Bagaimana kabar Rose?"
"Seperti yang kau lihat. Dia mulai terbiasa dengan kegelapan."
"Aku akan siapkan sarapan untuk kalian." Eryn akan beranjak pergi.
"Tidak perlu! Tadi Santa sudah menyiapkannya."
Eryn mengangguk. "Baiklah."
"Eryn..."
"Ada apa?"
"Aku dan kawan-kawan akan pergi ke Meksiko. Ada hal yang harus kami lakukan disana."
Eryn menghela napas. "Apa ini tentang Eric?"
"Jangan khawatir. Aku tidak akan melukai mantan suamimu itu!"
Eryn memukul lengan Black pelan sambil mengerucutkan bibirnya. "Bagaimanapun juga dia adalah sahabatmu, El."
"Seorang sahabat tidak akan tega menyakiti sahabatnya sendiri. Dia bukan lagi sahabatku, Eryn. Dia sudah berubah. Atau memang sebenarnya dia tidak pernah berubah."
Eryn mengusap lengan Black. "Berhati-hatilah! Aku akan menunggumu disini."
"Iya. Jangan cemas! Aku akan membawa Rose masuk, kau tunggulah di meja makan."
Eryn mengangguk kemudian melangkah menuju meja makan. Disana sudah berkumpul tujuh orang tim Amigo milik Black.
"Selamat pagi, semuanya," sapa Eryn.
"Selamat pagi, Nyonya," balas Santa.
"Jangan memanggilku begitu, Santa. Kita disini adalah sama. Tidak ada bos dan anak buah. Oh ya, kenapa Luiz tidak ikut dengan kalian?"
"Luiz mengurus klub dan bisnis disana," balas Carlos.
"El sudah cerita padaku. Kudengar kalian akan mulai menyerang Eric."
"Yeah, begitulah. Kami akan menyerang dengan cara yang cantik, Nyonya," Sahut Agli dengan gaya kocaknya.
"Berhati-hatilah! Meski aku pernah mengenal Eric, tapi aku tidak bisa membenarkan apa yang sudah dia lakukan pada Rose," tutur Eryn.
__ADS_1
Usai sarapan pagi, Black dan timnya segera bersiap untuk berangkat ke Meksiko. Semua keperluan untuk rencana mereka sudah disiapkan dengan matang.
Eryn, Rose dan Santa mengantar para pria hingga ke depan rumah. Tak lupa Black memberikan pelukan perpisahan pada Rose. Dan sebuah kecupan panjang di bibir untuk Eryn. Sungguh kemesraan mereka membuat iri siapapun yang melihatnya.
Carlos berpamitan pada Rose karena harus mengantar mereka semua ke bandara. Lagi-lagi Santa dibuat cemburu oleh sikap manis Carlos pada Rose. Kali ini Carlos kebagian tugas untuk menjaga para wanita dan dia tidak ikut dengan Black.
"Lebih baik aku ikut ke Meksiko daripada disini harus melihat perhatian Carlos pada Rose," batin Santa.
Mobil mulai melaju meninggalkan halaman rumah. Eryn melambaikan tangannya.
Setelah mobil tak terlihat, Eryn meminta Santa untuk membawa Rose masuk ke dalam rumah. Mereka tak menyadari jika sedari tadi ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dari kejauhan.
Melihat situasi yang sudah aman, orang itu mulai mendekati rumah keluarga Albana. Orang itu menekan bel rumah.
"Apa ada yang tertinggal?" Eryn yang membuka pintu amat terkejut melihat siapa yang datang. Ia kira itu adalah Black yang kembali karena ada barang yang tertinggal.
.
.
.
.
Black dan timnya sudah tiba di Meksiko. Mereka langsung menyiapkan misi untuk membalas apa yang Eric lakukan. Meski Black sudah berjanji pada Eryn tidak akan ada pertumpahan darah, namun jika itu memang diharuskan, maka tak ada jalan lain selain melawan.
Black datang sendiri ke kantor Eric. Ia memakai setelan jas rapi berwarna hitam khasnya. Sementara yang lain, sudah bersiap di tempatnya masing-masing.
Black berjalan masuk ke gedung Evans Grup. Beberapa orang cukup terkejut dengan kedatangan Black yang notabene adalah pemilik EB Company sebelum Eric.
Orang-orang Eric bersiap waspada menghadapi Black. Ini adalah pertama kali Black akan bertemu lagi dengan Eric setelah kejadian di kapal beberapa waktu lalu.
"Aku ingin bertemu dengan Eric. Apa dia ada?" ucap Black pada resepsionis.
Tiba-tiba telepon di meja resepsionis berdering. Black tersenyum mendengar bunyi dering telepon itu. Sepertinya Eric sudah mengetahui kedatangan Black.
Resepsionis menjawab telepon itu lalu bicara lagi dengan Black.
"Maaf, Tuan. Silakan langsung ke ruang pimpinan kami. Beliau sudah menunggu."
Black tersenyum tipis. "Baiklah. Terima kasih."
Black kembali berjalan menuju lift. Ia menekan tombol untuk naik ke ruangan milik Eric. Ia masih hapal dengan seluk beluk gedung ini.
Begitu lift terbuka, anak buah Eric sudah menyambut kedatangan Black.
"Silakan, Tuan. Sebelah sini," ucap seorang penjaga.
"Cih, hanya mendapat tamu satu saja kau sampai memperketat penjagaan, huh?" gumam Black.
Pintu ruangan Eric terbuka, Enrique yang menyambut Black. Pria yang dulu bekerja pada Black itu tak tahu malu dengan sengaja menyambut kedatangan mantan bosnya itu.
"Selamat datang, Eldric. Aku tidak menyangka kau akan datang ke kantorku," ucap Eric beranjak dari kursi kebesarannya.
"Aku juga tidak menyangka akan datang lagi ke kantor ini," balas Black.
Eric tersenyum sinis. "Aku baru menyadari kenapa orang-orang menyebutmu El-Black."
Black mendengarkan dengan baik apa yang coba dikatakan oleh Eric.
__ADS_1
"Ternyata kau selalu bisa bangkit dari kematian."
Black mengepalkan tangannya. Rasanya ia ingin sekali menghajar pria yang ada di hadapannya ini. Tapi dia tidak boleh gegabah. Anak buah Eric ada di dalam ruangan itu juga. Ada sekitar enam orang yang berjejer mengelilingi Black.
Eric melirik ke jari tangan Black. Ada sebuah cincin melingkar disana. Itu adalah cincin pernikahan Black dan Eryn. Wajah Eric berubah marah.
"Kau pikir aku tidak tahu. Anak buah amatiranmu pernah menyusup ke kantorku hanya untuk mengambil dua unit komputer. Itu sangat tidak penting, Eldric. Aku tahu kau memiliki rencana lain selain hal itu. Kau ingin mengambil alih lagi EB Company milikmu?"
Eric berjalan maju dan berhadapan langsung dengan Black. Jarak mereka kini begitu dekat karena Eric akan membisikkan sesuatu ke telinga Black.
"Aku bisa memberikannya lagi padamu. Asal kau serahkan Eryn padaku," bisik Eric.
"Brengsek kau!"
Black tak bisa lagi menahan amarahnya. Ia tak terima karena istrinya harus terseret ke dalam masalah dirinya dan Eric.
Black mengayunkan tangannya ke tubuh Eric. Satu pukulan mendarat di perut Eric. Serangan dadakan itu membuat Eric terjengkang ke belakang.
Anak buah Eric segera angkat senjata dan menodongkannya kearah Black. Bunyi klik terdengar di setiap pistol yang siap membidik mangsanya.
Black memperhatikan sekeliling dan melihat enam orang itu membidik kearahnya.
"Cih, kau selalu melakukan kecurangan, Eric. Bagaimana bisa aku yang tak bersenjata melawan anak buahmu yang bersenjata ini? Sekali-kali berlakulah adil, Eric," ejek Black.
"Turunkan senjata kalian!" perintah Eric.
Mendapat kesempatan menyerang, Black segera menendang anak buah Eric yang ada di sebelah kanannya. Terjadi adu hantam antara Black dan keenam anak buah Eric.
Sementara itu tanpa diketahui oleh Eric, Bernard dan Caesar sedang menyalin data-data milik Evans Grup. Sebelumnya Black pernah memerintahkan Agli dan David untuk masuk dan menyusup ke Evans Grup. Dan sekarang mereka tinggal meretas semua datanya saja.
Diluar gedung, David dan Frans sudah siap dengan senjata canggihnya yang akan menembak ketika Black memberikan perintah.
"Wah, sepertinya Black sudah mulai berkelahi," ucap Frans.
"Benar. Kita tunggu saja perintah Black. Tapi rasanya, aku sudah tak sabar ingin membidik Eric Evans sekarang juga," kesal David.
"Jangan gegabah! Jika kita tidak menunggu perintah Black, bisa saja Black celaka didalam sana," lerai Frans.
Black berhasil melumpuhkan anak buah Eric. Namun secara tak terduga, Eric telah memegang pistol di tangannya. Ia membidik Black. Beruntung Black segera menghindar.
Melihat hal itu, David segera meluncurkan serangan bertubi kearah kaca ruang kerja Eric. Ya, sedari tadi Frans dan David menunggu diatap gedung sebelah.
Suara tembakan beruntun membuat kaca ruangan Eric pecah berantakan. Black segera keluar dari ruangan itu. Namun Eric juga berhasil keluar dan mengejar Black.
"Sialan kau, Eldric!"
Terjadi kehebohan di kantor Eric. Adu tembak antara Black dan Eric pun tak terelakkan.
DOR!
Enrique meminta para karyawan untuk menunduk dan melindungi diri mereka.
DOR!
Satu peluru berhasil menembak tubuh Enrique. Tubuhnya terjatuh namun masih sadar.
Black harus segera keluar dari tempat itu sebelum anak buah Eric yang lain datang. Ia berlari keluar dengan tetap beradu tembak dengan Eric.
Agli sudah menunggu Black di belakang gedung. Hingga akhirnya, Black terlihat keluar dari gedung dan segera masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Sedang Frans dan David turun dari gedung sebelah Evans Grup lalu pergi menggunakan sepeda motor.
#tobecontinued