Dendam Dan Hasrat Sang Mafia

Dendam Dan Hasrat Sang Mafia
36. Wajah Asli Eric


__ADS_3

Kota Meksiko, Satu hari sebelumnya


Eleanor mengundang Eric untuk makan siang di rumah. Sudah lama Eleanor tak makan bersama putranya itu setelah menikah dengan Lolita. Eric datang sendiri tanpa membawa Lolita bersamanya.


"Kau tidak mengajak istrimu, Eric?" tanya Eleanor saat menyambut Eric.


"Untuk apa Ibu menanyakan tentang dia. Biarkan saja dia makan sendiri di rumah."


"Astaga, Kakak! Meski kakak tidak mencintainya paling tidak hargailah dia. Kasihan kan dia. Aku akan meminta supir untuk menjemputnya." Elza datang menghampiri kakak dan ibunya.


"Tidak perlu, Elza!" Eric menatap tajam Elza.


"Ada apa dengan kakak? Dia adalah istri kakak!"


"Justru itu! Karena dia istriku maka kau tidak perlu ikut campur masalah ini!" Eric masih menatap tajam Elza.


"Terserah kakak saja!" Elza melenggang pergi meninggalkan mereka berdua.


"Astaga! Apakah aku bisa hidup dengan tenang, huh!" keluh Erica.


"Tentu saja, Bi. Maaf atas keributan tadi." Eric mencium kedua pipi Erica.


Eleanor menuju meja makan dan menata makanan yang sudah ia siapkan.


"Lain kali ajak istrimu kesini, Eric. Bagaimanapun juga dia sedang mengandung anakmu, cucuku. Dan juga pewaris keluarga ini. Lebih baik dia tinggal disini agar aku bisa memastikan jika bayi dalam kandungannya terjaga dengan baik," tutur Eleanor.


"Kami juga tinggal dengan baik, Bu disana. Kurasa dia akan lebih bahagia dari pada harus terkekang disini," balas Eric.


"Hei, aku tidak akan mengekangnya. Ini berbeda dengan dulu saat kau menikah dengan si j4lang itu. Ini adalah darah dagingmu. Ibu akan lebih menyayanginya."


"Sudahlah, Bu. Jangan membahas yang telah berlalu." Eric mengambil gelas yang berisi air putih.


"Kau ini! Jangan bilang kau masih memikirkan tentang wanita itu!"


Eric menggeleng pelan. "Aku tidak ingin berdebat dengan Ibu. Aku datang untuk makan siang disini sebelum aku pergi."


"Pergi? Kau mau pergi kemana?" tanya Eleanor terkejut.


"Ada sedikit urusan bisnis di luar negeri."


"Apa kau mengajak istrimu?"


"Tentu saja tidak!" tegas Eric.


"Aku akan memanggil Elza." Erica beranjak dari meja makan dan menuju kamar Elza di lantai dua.


"Kenapa kau meninggalkan istrimu yang sedang hamil?"


"Ayolah, Bu. Jangan berlebihan! Aku pergi untuk mengurus bisnis. Perusahaan baru mulai stabil setelah banyak insiden yang terjadi. Aku memiliki rekan bisnis baru dan aku harus mendatanginya," jelas Eric.


"Kalau begitu Ibu akan minta Lolita untuk tinggal disini selama kau pergi."


Eric mengedikkan bahunya. "Terserah Ibu saja."


Tak lama Elza datang bersama Erica.


"Syukurlah kalau kakak ipar akan tinggal disini. Dulu Ibu tidak pernah menghargai kak Eryn. Setidaknya sekarang ibu mulai membuka hati untuk menantu ibu yang baru," celetuk Elza.


"Astaga, anak ini!" Eleanor mengangkat tangannya seraya ingin memukul Elza.


"Meski ibu tidak menyukai kak Eryn, seharusnya ibu tidak melukai Noah. Kasihan anak itu. Tega sekali ibu membiarkan anak sekecil itu di jalanan tanpa makanan dan keluarga."


"Diamlah, Elza! Jangan merusak suasana makan siang rumah ini!"


Elza tak lagi berkomentar dan mulai memasukkan makanan ke dalam piringnya.


Sementara itu, Santoz merapikan ruang kerja Eric yang terlihat berantakan. Beberapa jam lalu bosnya itu mengamuk dan membanting barang-barang yang ada disana.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengannya? Mengerikan sekali dia telah menghancurkan tempat ini. Selama aku bekerja dengannya, aku tidak pernah melihatnya semarah ini. Apa ini adalah wajah aslinya?" Santoz menggeleng pelan.


Kemudian ia menghubungi office boy untuk ikut membantunya membereskan tempat itu. Tak lama ponsel Santoz berdering. Sebuah panggilan dari Eric.


"Halo, Tuan..."


"..........."


"Baik, Tuan."


Panggilan berakhir. Santoz masih memikirkan apa yang dikatakan Eric tadi.


"Ada urusan apa Tuan Eric pergi ke Italia? Setahuku ia tidak memiliki kolega disana." Santoz mengusap dagunya.


...๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ...


Sore harinya, Eric tiba di rumahnya. Ia langsung menuju ke kamar dan akan berkemas. Ia akan terbang malam ini juga ke Italia. Semua hal sudah tak bisa lagi ia tunda.


Lolita yang melihat suaminya berjalan tergesa segera menghampirinya.


"Eric, ada apa?" tanya Lolita ketika melihat Eric merapikan pakaiannya.


"Aku ada urusan bisnis di Italia."


"Hah?! Kenapa mendadak?"


"Ini bukan hal baru untuk seorang pebisnis. Aku harus pergi dengan segera jika ada hal yang mendesak. Begitulah jiwa seorang pebisnis. Tidak akan menunda waktu jika ada hal yang penting. Kuharap kau mengerti."


Lolita masih diam dan mencerna semuanya.


"Lalu bagaimana denganku? Apa kau akan meninggalkanku sendirian dengan kondisiku yang tengah hamil?"


"Aku tidak bisa mengajakmu. Sebaiknya kau ke rumah ibuku saja jika kau merasa kesepian disini. Aku sudah bilang pada ibuku jika kau akan datang."


"Eric!" Lolita menarik lengan Eric.


"Ada apa lagi?"


"Apa kau ingin menemui Eryn?" tanya Lolita dengan wajah sendu.


Eric tersenyum menyeringai. "Ini bukan urusanmu! Kau tidak perlu tahu apa yang kulakukan disana. Bukankah seorang istri harus menuruti perintah suaminya?"


"Tapi, Eric... Kita sudah menikah! Kenapa kau masih memikirkan wanita lain?"


"Sudah kubilang ini bukan urusanmu! Yang penting aku selalu memberikanmu uang dan kemewahan. Itu kan yang kau inginkan? Makanya kau menggodaku dan membuatku memiliki anak darimu! Kau sudah menyiapkan semuanya untuk mengkhianati sahabatmu sendiri."


Lolita menggeleng tak percaya dengan apa yang dikatakan Eric.


"Aku tidak menyangka jika kau akhirnya menampakkan wajah aslimu, Eric. Kau tidak sebaik yang kukira." Lolita meninggalkan Eric dengan perasaan yang hancur.


Eric hanya tersenyum puas karena sudah membuat Lolita mengerti dengan apa yang diambilnya. Menjadi istri Eric bukanlah hal seindah yang dia bayangkan tentunya.

__ADS_1


...๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ...


Roma, Italia


Eric telah tiba di kota ini sejak pagi tadi. Ia bersantai sejenak di hotel tempatnya menginap sebelum ia menemui seseorang yang akan membantunya.


Eric menuju ke tempat spa dimana dirinya ingin memanjakan tubuhnya yang terasa lelah. Eric meminta terapis memijat seluruh tubuhnya yang otot-ototnya terasa kaku.


"Ah, enaknya," gumam Eric merasakan pijatan lembut si terapis.


"Sudah berapa lama kau menjadi seorang terapis?" tanya Eric.


"Sudah hampir lima tahun, Tuan," jawab si terapis.


"Apa kau ingin uang lebih?"


"Eh?"


"Uang! Kau tidak butuh uang?"


"Te-tentu saja aku butuh uang, Tuan."


"Baguslah! Kalau begitu layani aku!"


"Eh?" Terapis itu terkejut. Memang hal seperti ini bukanlah hal baru baginya.


"Bagaimana? Kau bersedia?" tawar Eric.


"I-iya, Tuan. Aku bersedia."


"Bagus. Pukul lima sore nanti datanglah ke kamarku." Eric memberikan kunci kamarnya pada si terapis.


"Baik, Tuan." Si terapis melanjutkan pijatannya dengan tersenyum getir.


.


.


.


Pukul lima sore, si terapis benar-benar datang ke kamar Eric. Ia memakai dress seksi dengan ditutupi mantel panjang yang menutupi tubuh seksinya.


Eric yang sedang menyesap wine mendadak menoleh kearah tamunya. Ia memperhatikan dari atas hingga bawah. Bentuk tubuh terapis itu lumayan juga, menurutnya.


"Kemarilah! Dan lepas mantelmu!"


"Baik, Tuan."


Si terapis itu mendekati Eric dan duduk disampingnya.


"Siapa namamu?" tanya Eric.


"Monica, Tuan."


"Mau minum?" tawar Eric.


Monica menerima gelas dari Eric.


"Tubuhmu bagus juga. Kau merawatnya?"


"Iya, Tuan."


"Begitulah, Tuan."


"Kalau begitu, mulailah! Aku hanya akan diam hingga aku merasa terpuaskan," kerling Eric.


"Baik, Tuan."


Monica segera melepas jas yang melekat di tubuh Eric. Ia membuka kancing kemejanya satu persatu. Perempuan itu meraba dada bidang Eric yang sangat menggodanya.


Monica duduk dipangkuan Eric dan mulai mencumbu pria itu. Memainkan lidahnya di leher Eric dan memberikan jejak disana.


"Uuuhhhh," lenguh Eric pelan ketika merasakan tubuh Monica yang menggesek miliknya.


"Apa kau sudah menikah, Tuan?" tanya Monica di sela-sela aktifitasnya.


Monica membuka ikat pinggang milik Eric dan membuangnya asal. Di elusnya pangkal paha Eric dengan gerakan sensual.


Perlahan ia membuka resleting celana panjang Eric dan mengeluarkan sesuatu yang keras disana. Monica membungkukkan tubuhnya dan mulai bermain dengan benda keras itu.


"Argh!" Eric memejamkan matanya ketika lidah Monica bermain di senjata tempurnya.


Monica bergerak cepat agar Eric mencapai puncaknya.


"Aku sudah menikah, Monica. Tapi aku tidak mencintai istriku," racau Eric karena merasakan nikmat luar biasa.


"Kenapa tidak cinta tapi kau menikahinya?" tanya Monica menjeda sebentar.


"Aku terpaksa menikahinya. Dia menjebakku."


Monica terus bergerak hingga akhirnya Eric terkulai lemas. Monica membersihkan bibirnya yang penuh dengan cairan hangat Eric.


"Lalu untuk apa kau kesini, Tuan?"


Eric yang masih mengatur napasnya berusaha menjawab. "Aku ingin menjemput wanita yang aku cintai."


"Oh, begitu." Monica menganggukkan kepalanya.


Eric meraih dompetnya dan melemparkan sebuah cek pada Monica.


"Ambillah! Terima kasih sudah memuaskanku!"


"Terima kasih, Tuan." Monica tersenyum bahagia melihat nominal yang tertera di cek itu.


Eric berjalan tertatih menuju kamar mandi. Ia melepaskan sisa kain yang melekat di tubuhnya. Ia mengguyur tubuhnya di bawah shower dengan kembali membayangkan wajah Eryn.


"Tunggulah sebentar lagi, sayang. Aku akan membawamu kembali pulang..."


...๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ...


Pagi harinya, Eryn bangun lebih awal dan menikmati udara laut yang begitu sejuk. Sudah dua hari ia berada di tengah laut bersama Black untuk menikmati kebersamaan mereka.


"Sayang, kau disini rupanya..."


Black memeluk Eryn dari belakang.


"Kau sudah bangun?"


"Hmm, ayo kita sarapan. Aku sudah meminta chef untuk memasak sesuatu yang spesial untukmu," bisik Black.

__ADS_1


"Apa itu?"


"Ayo!" Black akan membawa Eryn masuk namun wanita itu menahannya.


"Ada apa?" Black mengerutkan dahi.


"Aku ingin sarapan yang lain dulu," goda Eryn.


Wanita itu sudah mulai berani beraksi. Ia menarik tengkuk Black dan mencium bibirnya. Sebuah ciuman ringan namun mulai menuntut ketika Black menarik pinggang Eryn dan memeluknya erat.


"Mmmhhh," Eryn menahan gejolak dalam dirinya. Baru semalam mereka bercinta dan kini ia merasa ketagihan dengan semua hal tentang Black.


"Sayang..." Black melepaskan pagutannya.


"Ayo kita sarapan!" ajak Eryn kemudian.


Black menggeleng pelan. Ia pikir istrinya akan mengajaknya pergi ke kamar lagi, hihihi.


Suasana sarapan di kapal terasa hangat karena matahari mulai menyinari bumi.


"Berapa lama lagi kita disini? Apa kau tidak pergi bekerja?" tanya Eryn.


"Aku bisa mengandalkan Carlos. Kau tenang saja!"


"Disini juga tidak ada sinyal ponsel. Apa kau sengaja memilih berlayar agar tidak ada yang mengganggu kita?"


"Yap! Tentu saja, sayang. Kita harus memiliki waktu kita sendiri sebelum kembali ke Brasil."


"Brasil?" Eryn membulatkan mata.


"Iya, kenapa? Bisnisku ada disana. Jadi, kuharap kau bisa ikut denganku kesana."


"Tentu saja aku akan ikut denganmu." Eryn mencubit pipi Black.


"Astaga, Nyonya Albana." Black memegangi pipinya.


"El, apa kau sudah memaafkan Eric?"


Wajah Black berubah masam. "Kenapa kau membahas soal dia di saat kita sedang berbulan madu?"


"Bukan begitu. Aku hanya ingin kau bisa memaafkannya. Aku tahu dia salah, tapi aku juga salah. Akulah yang sudah membuatnya jadi seperti ini. Dia mengkhianatiku karena aku juga telah mengkhianatinya."


Black menghela napasnya. "Kau tahu, alasan kenapa aku melepaskannya adalah ... karena aku masih sangat menghargai pertemanan kami. Dia adalah sahabatku, Eryn. Kau tahu itu sejak dulu."


Eryn mengangguk paham. Ia menggenggam tangan Black.


"Eric telah menikah dengan Lolita. Dan kita juga sudah menikah. Maka, lupakan semua dan kita jalani hidup kita masing-masing. Oke?"


Black mengangguk. "Satu hal yang harus kita lakukan adalah mencari Noah. Aku yakin dia pasti ada di tempat yang aman."


"Semoga saja," harap Eryn.


Tiba-tiba terdengar suara ledakan dari arah depan dek kapal. Black dan Eryn terkejut.


"Ada apa ini, El?" tanya Eryn takut.


"Kau tunggu disini. Aku akan mengeceknya!"


"Tapi, El..."


"Jangan kemana-mana! Oke? Aku akan segera kembali."


Black berjalan menuju depan kapal. Ia bertemu dengan kapten kapal.


"Ada apa ini?" tanya Black.


"Tuan, sepertinya kita diserang!"


"Apa?!" Black mengepalkan tangan. "Kurang ajar! Siapa yang melakukan ini?"


Black menyiapkan pistolnya dan mulai mengendap-endap untuk membalas serangan.


DOR!


Suara tembakan menggema. Sang kapten kapal terkena tembakan. Beberapa awak kapal juga bersiap menyerang. Tapi sepertinya ia kalah jumlah dengan kapal si penyerang.


"Sial! Siapa dalangnya?" Black terus mengumpat.


Black menunduk tiap kali ada bunyi tembakan ke arahnya. Sambil mengintip ia juga melepaskan tembakan ke arah kapal penyerang.


Sementara Eryn masih diam di meja makan dengan perasaan was-was.


"Ya Tuhan! Ada apa ini? Kenapa jadi begini?" Eryn berdoa agar Black segera kembali.


Bunyi tembakan saling menyahut. Black akhirnya menampakkan diri dan berhadapan dengan kapal penyerang.


DOR!


Sebuah timah panas berhasil menembus tubuh Black. Tubuhnya mulai limbung.


"Sial! Jumlah mereka banyak sekali! Aku tidak bisa melawan mereka sendirian!"


Black memegangi dadanya yang kini bersimbah darah.


"Eryn! Aku harus menyelamatkannya!" Black berdiri dan akan kembali masuk kedalam kapal namun sebuah tembakan kembali menyasar tubuhnya.


"Argh!" Black merintih kesakitan. Tubuhnya ambruk dan berusaha bersembunyi di dek depan.


Merasa terlalu lama menunggu Black kembali menjemputnya, Eryn memutuskan untuk datang mencari Black. Ia tak bisa tinggal diam melihat Black melawan musuhnya sendiri.


Eryn mengambil apa pun yang bisa ia jadikan sebagai senjata. Ia berjalan perlahan menuju dek depan kapal. Dilihatnya Black telah terkapar disana dengan luka tembak di tubuhnya.


"Eldric!" teriak Eryn.


Black memberi isyarat untuk tidak datang padanya dan bersembunyi hingga bantuan datang. Namun sepertinya Eryn tidak memahami apa yang dikatakan Black. Ia tetap melangkah maju dan ingin menolong Black.


Eryn keluar kapal dan menoleh kearah kapal penyerang yang menyerang mereka.


Sejenak Eryn saling tatap dengan orang yang ada disana. Orang itu mengacungkan senjatanya kearah Eryn.


Eryn terkejut karena ia mengenali orang yang ada disana.


"Eric...?"


...๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ...


*panjang ya wak episodnya๐Ÿ˜ฌ๐Ÿ˜ฌ


Sengaja, biar kalian terpuaskan, hehehehe

__ADS_1


__ADS_2